Enam

2632 Words
Matahari kembali dengan sinarnya yang hangat, namun tidak bisa menghangatkan dinginnya perasaan Kinan hari itu. Semalaman suntuk dipaksanya untuk terlelap, tapi tidak ada hasil yang membuatnya tertidur. Kedua matanya dihiasi lingkaran hitam, menjadikan mata lelah itu semakin terlihat lesu.Terlebih dari itu, mata sembab akibat tangisnya semalam turut menghiasi wajah Kinan. Jika saja hari ini tidak ada ulangan tiga mata pelajaran, Kinan malas untuk masuk sekolah. Toh, bolos sehari tidak akan berefek apa, pun. Namun, Kinan juga tidak tahu apa yang akan ia lakukan ketika berdiam diri di rumah. Tanpa bisa tidur atau sekedar bersantai menonton televisi. Sementara pikirannya terus bekerja, memikirkan hal yang seharusnya belum dipikirkan olehnya. Atau Kinan harus berdiam diri di rumah demi membangun kembali benteng pertahanannya agar lebih kokoh, atau lebih tepatnya Kinan harus kembali memperbaiki benteng pertahanannya yang terlihat kokoh namun begitu rapuh. Karena terlalu banyak luka, dan retakan dimana-mana. Karena tanpa sadar Kinan terlalu sering membangun sebuah kekuatan hampa tanpa penyangga, lalu roboh begitu saja ketika badai datang membawa luka yang mematikan rasa. Menguap kembali untuk yang kesekian kalinya. Kinan melirik jam yang tergantung di dinding kamar, matanya yang terasa berat ia kerjapkan lagi berkali-kali. Dan pagi ini Kinan benar-benar merasakan lelah diseluruh tubuhnya. Bukan hanya mata, tapi seluruh fisik. Juga hati, pikiran, emosi, perasaan, yang seringkali datang bersamaan. Kinan mendesah, disambar handuk berwarna abu-abu dan segera menuju kamar mandi. Mungkin setelah itu, rasa lelah yang mendera akan sedikit lebih baik dari sebelumnya. Setidaknya sedikit lebih baik, dari pada nggak sama sekali. *** Pagi ini seperti biasa Kinan sudah meneriakinya untuk mandi. Berpesan untuk segera turun dan sarapan, sementara Kinan akan berangkat ke sekolah lebih cepat. Gadis itu berdecak kesal bahkan sampai ketika Kian sudah berada di gedung sekolahnya. Sampai gadis cantik berambut panjang itu tidak menyadari kedatangan Susi yang merangkul bahunya tiba-tiba. "Muka lo kusut banget, deh. Kenapa lo?" tegur Susi. "Kesel banget gue sumpah!"jawab Kian sarat dengan raut masam. “Hape gue disita sama dia!" jawabnya dengan dengusan berapi-api. "Kakak lo?" "Menurut lo siapa!?" ucap Kian retoris. Susi terkekeh pelan, dilepaskan rangkulan tangannya dari bahu adik kelasnya tersebut. "Cuma, gara-gara pulang kemaleman?" terka Susi yang penuh keyakinan. Kian mengangguk sambil terus melangkah diikuti Susi. "Kakak lo, tuh, nggak asik ya? Nggak bisa ngeliat orang seneng dikit. Lo, kan, udah gede masa pulang telat dikit aja pakai acara sita Hape segala. Itu, kan, privasi lo." "Makannya gue benci banget sama dia!" "Lo lawan dong, ambil sendiri, kek?" "Kemarin gue langsung minta, tapi, ya, gitu. Kalau ngambil secara paksa, gimana caranya. Orang Hape gue dibawa kemana-mana sama dia." "Ribet banget, sih, hidup lo!" Susi mengejek Kian. "Jadi, gimana? Nanti, lo ikutan, 'kan?" Kian mengendikkan bahu acuh. "Nggak tau, deh! Liat, aja, nanti." Susi mengangguk dengan tawa yang membuat Kian semakin jengkel. Kemudian dilambaikan tangannya ke arah Susi saat ia sudah tiba di depan pintu kelasnya. Gadis itu masuk ke dalam kelas dengan raut wajah yang sangat jauh dari kata riang. Harapannya sepulang sekolah nanti, semoga kakaknya segera berbaik hati dan mengembalikan ponselnya. *** Putri menatap Kinan yang berada di sebelah kirinya. Teman se-mejanya itu sudah berada dalam posisi khusu-nya ketika berada di kelas. Menyembunyikan kepala yang sudah ditutupi jaket berukuran besar berwarna hitam di antara lipatan tangan yang berada di atas meja. Putri tidak berani bertanya pada Kinan melihat kondisi Kinan yang jauh dari kata baik-baik saja pagi itu. Ia hanya mengikuti intruksi Kinan untuk berpindah ke bangku paling belakang di pojokan kelas dan bersiaga ketika jam pelajaran di mulai, Putri wajib menjadi alaram untuk Kinan. Cuma ini yang bisa Putri lakukan sebagai teman. Lagi pula, Kinan juga nggak pernah mau berbagi cerita pada Putri. Tepat saat pandangannya beralih ke arah pintu kelas, ketika suara nyaring bu Atma, guru sejarah memberikan pengumuman bahwa ulangan sejarah akan dilakukan pada jam pertama nanti. Ibu guru yang usianya sudah lewat setengah abad itu memberikan intruksi pada muridnya agar belajar terlebih dahulu sebelum ulangan dimulai. "Kamu Beno! Jangan cuma jadi penyamun di pojokan. Belajar! Ibu nggak mau liat jawaban kamu yang asal-asalan, di kertas ulangan nanti!" teriak bu Atma galak. Beno yang sudah menjadi langganan mendapat nilai jeblok itu menghentikan aktifitasnya di pojok kelas bersama beberapa temannya. "Saya, kan, cuma pengen tampil beda, Bu. Biar punya temen-temen nilainya item. Saya merah sendiri, biar keren, Bu." serunya sambil memasukkan ponsel ke dalam saku celana. "Iya, setelah itu Ibu kasih kamu SP, biar Bapak kamu datang lagi ke sekolah!" "Eh, jangan dong Bu! Iya..., ini saya belajar Bu. Janji, kali ini serius, Bu!" sahut Beno cepat setelah mendengar ancaman dari bu Atma. Cowok itu memang badung, tapi sebenarnya masih dalam batas wajar, kok. Hal lucu dari Beno ini adalah, meskipun kelakuannya yang jauh dari kata murid teladan. Tapi, kalau sudah diancam akan dipanggil bapaknya ke sekolah, sikap Beno bakalan berubah seratus delapan puluh derajat lebih baik. Cowok badung yang begitu takut pada bapaknya. Beno yang tadinya malas-malasan dengan perintah bu Atma, kali ini dengan cepat menyambar buku paket fisika milik Dea, yang masih dibaca oleh pemiliknya. Tak ayal membuat Dea melotot ditambah bonus melayangkan lemparan stip berwarna putih tepat di kepala Beno. "Anjir!" umpat Beno sambil memungut benda kecil berwarna putih tersebut."Thank's, De. Tau, aja, lo, gue nggak punya benda yang satu ini." kata Beno menyeringai lebar yang dibalas tatapan membunuh oleh Dea. Bu Atma yang menyaksikan hal tersebut menghela napas pelan. Kemudian berniat ditinggalkannya kelas 12-IPA-2 tersebut. Tapi, satu langkah mundur kembali membuat bu Atma geleng-geleng kepala. "Putri, bangunin Kinan! Masih pagi udah tidur di kelas." teriak bu Atma lagi. Putri hanya mengangguk patuh, lalu bu Atma memilih untuk segera kembali menuju ruang guru. Mempersiapkan bahan untuk ulangan hari ini. Sedangkan, Putri yang sedikitnya mengerti posisi Kinan pagi itu, memilih untuk membangunkan teman sebangkunya itu nanti ketika bel masuk sudah berbunyi. Setidaknya Kinan bisa tertidur walau hanya sebentar. *** "Lo yakin nggak apa-apa, Ki? Muka lo pucat banget sumpah." tanya Putri penuh kekhawatiran. Kinan menggeleng pelan, direbahkan kembali kepalanya yang terasa berat ke atas meja. Kali ini tidak terpejam, karena sejujurnya sejak tadi Kinan hanya menutup mata tanpa terlelap. Tidak ada yang berubah, meski ditempat yang ramai sekalipun, Kinan pikir ia tidak akan merasa kesepian lagi. Tapi, nyatanya jauh di dalam lubuk hatinya masih sangat kosong, dingin, dan perlahan membeku bersama kesepian. Ditatapnya Putri yang terlihat cemas dengan senyum kecil di bibirnya. "Lo nggak pernah liat orang yang punya gangguan tidur malem?" tanya Kinan pelan. "Namanya juga nggak tidur semalaman suntuk, jadi yang gini." sambung Kinan jujur. Ya, walaupun tidak sepenuhnya. "Tapi, mata lo bengkak Ki. Nggak mungkin kalau cuma nggak bisa tidur." jawab Putri gemas. Kinan tertawa kecil menatap Putri. Bel masuk juga sudah berbunyi sejak satu menit yang lalu. Kelas yang tadinya ramai mendadak sepi ketika derap langkah sepatu bu Atma mulai terdengar di ambang pintu. Kinan sudah siap dengan kertas ulangan serta pensil berwarna biru di tangannya. Begitu, pun, juga dengan semua murid di dalam kelas 12-IPA-2 itu. "Bu, ulangannya di tunda, ya? Rafa, kan, lagi ada pertandingan basket, Bu!" teriak Beno yang berseru dari kursi paling ujung pojokan. "Alah! Alasannya si Beno, aja, itu Bu. Dia, kan, nggak sempet belajar tadi, lagian juga pertandingan basketnya, masih nanti sore." sahut Dea yang masih tidak terima karena sampai sekarang stip-nya tidak dikembalikan oleh Beno. "Sembarangan! Gue orangnya setia kawan, ya. Lo nggak liat Rafa belum masuk ke kelas?" balas Beno semakin menggoda Dea dengan menaik turunkan alisnya. Dilemparkan pensil yang tergenggam di tangannya ke arah Beno. Tapi, dengan sigap pula cowok petangkilan itu menangkapnya dengan sempurna. "Thank’s a lot, De!" Dea semakin mengeram kesal. Sebenarnya tidak sepenuhnya juga salah Beno. Dea, nya, aja, yang nggak bisa melihat situasi, apa-apa dilempar. Kan, rugi sendiri. "Lo berdua kalau mau pacaran tuh, jangan di kelas, dong! Nggak sopan banget, banyak jomblo fisabilillah, nih!" teriak Farhan ikut nimbrung. Bu Atma sudah siap berteriak memberikan peringatan pada muridnya yang sedang berargumen hal tidak penting itu. Namun, sebuah salam di ambang pintu membuat seluruh isi kelas menoleh, sama halnya dengan bu Atma. "Maaf, Bu. Saya telat. Tadi, diminta kumpul sebentar di aula sama Pak Munaf." jelas Rafa sopan. "Bukannya kamu ada turnamen basket antar sekolah?" tanya bu Atma menaikkan kaca mata neneknya yang melorot karena hidung bu Atma yang minimalis. "Iya, Bu. Masih nanti sore," jelas Rafa lagi dengan lugas. "Baik kalau begitu. Cepat duduk di kursi kamu. Kita mulai ulangannya sekarang. Ibu harap, nggak ada nilai di bawah tujuh!" ucap bu Atma yang tiba-tiba melirik Beno tajam. Rafa segera duduk di kursinya. Tepat bersebrangan dengan kursi Kinan. Sebelum benar-benar duduk dan menyiapkan peralatan ulangannya, Rafa sempat melirik Kinan yang sibuk mengisi lembar jawabannya dengan identitas diri, duduk tepat di sebrangnya. Wajah pucat, dan mata bengkak dihiasi lingkaran hitam. Dan, Rafa tau penyebabnya. "Kinan, kamu sakit?" tanya bu Atma saat menyerahkan selembar soal di meja Kinan. "Eng..., enggak Bu. Cuma sedikit pusing." jawab Kinan mengelak. "Itu, juga namanya sakit. Kalau nggak kuat, sana minta obat ke UKS!" "Nggak apa-apa, Bu. Saya baik-baik, aja, kok." jawab Kinan tersenyum. "Ya, sudah. Cepat kerjakan. Kalau sudah selesai kamu boleh istirahat di UKS." Kinan mengangguk pelan. Matanya yang berat mulai menatap soal-soal yang diyakini pasti akan memusingkan kepalanya. Dengan segera dibuatnya coretan untuk mengerjakan soal sejarah berjumlah lima belas buah itu. Tawaran dari bu Atma barusan, memembuat Kinan sangat tertarik. *** Satu jam kurang dua puluh menit bergelut dengan lima belas buah soal ulangan, Kinan telah beranjak dari kursi dan meletakkan lembar jawabannya di meja bu Atma. Gadis itu memilih untuk mengambil tawaran bu Atma untuk merebahkan dirinya di UKS. Langkahnya pelan melewati setiap koridor yang sepi. Sampai pada akhirnya Kinan berhenti sejenak tepat di depan pintu UKS, sebelum ia masuk ke dalam. Di sana ada Andin, anak kelas sepuluh, siswi yang bertugas menjaga ruang UKS tersebut. Disambutnya Kinan bermaksud untuk membantunya menuju ranjang. "Gue bisa sendiri," ucap Kinan lirih sambil tersenyum manis. Kinan merebahkan tubuh di salah satu dari tiga ranjang yang berada di sana. Ranjang paling ujung yang berdekatan dengan jendela. Ia menarik tirai berwarna putih s**u sampai menutupi tempat tidurnya lalu direbahkan tubuh yang letih. Kepalanya pening, mungkin efek menangis semalam. Ditambah matanya yang tidak bisa terlelap meskipun mengantuk luar biasa. Kini perutnya ikutan melilit, terasa perih. Kinan meringkuk bak janin di atas ranjang, matanya terpejam namun tidak tidur. Mencoba menikmati rasa sakit yang kerap kali gagal. Sampai Kinan membuka matanya lemah ketika telinganya menangkap suara tirai yang bergeser. Gadis itu menangkap sosok tinggi menjulang yang berdiri di sebelah kanan ranjangnya membawa segelas teh manis hangat. "Ngapain lo di sini?" tanya Kinan sambil menegakkan tubuhnya. Rafa tidak bersuara, fokus pandangannya tertuju pada Kinan yang meringis memegangi perut. Wajah yang pucat seputih tembok di belakangnya membuat Rafa ingin berteriak marah detik itu juga. Tapi, dalam sedetik itu pula kemarahannya memudar, menguap bersama angin yang berhembus, namun terasa panas. Sorot mata Kinan yang sarat akan luka membuat Rafa tersadar, bahwa ada lubang besar segelap malam menyelimuti hati Kinan. "Minum." Rafa berucap datar sambil meyerahkan gelas di tangan. Sebuah kata yang terucap biasa saja namun sarat akan perintah tak terbantahkan. Membuat Kinan menerima gelas hangat itu lalu meminumnya hingga setengah kosong. Tidak ada percakapan yang terjadi di antara keduanya, Kinan sibuk dengan segudang pikiran yang berdesakan di dalam kepalanya. Sementara fisiknya benar-benar merasa lelah, dipijit keningnya pelan. Rafa juga diam, menatap Kinan dengan sorot mata yang tidak bisa dimengerti, cowok itu diam, mencoba mencari makna dalam manik hitam yang terlihat kuyu di hadapannya. Rafa tau, sesuatu yang berat terjadi dalam hidup Kinan. Suatu memori, atau mungkin delusi yang membuat gadis itu terlihat benar-benar mengenaskan. "Lo..., bener-bener keras kepala Kinan!" tegas Rafa tanpa berpaling. *** Berhubung pagi tadi Kinan berangkat diantarkan ojek. Di siang yang terik ini, Kinan berjalan lambat diantara ratusan manusia yang memadati gerbang utama SMA Pertiwi. Sesekali badannya yang lemah sempat terhuyung ke kanan dan kiri. Namun, karena bantuan Putri, Kinan berhasil keluar dalam keadaan utuh. "Elo tuh, ya. Kalo nggak enak badan nggak usah masuk kenapa, sih?" ucap Putri masih menggandeng Kinan menuju halte dekat sekolah mereka. "Maksa banget, deh!” "Hehe, sori! gue jadi nyusahin elo, ya." Putri mengeplak lengan Kinan yang dipeluknya dengan ringan. "Bukan gitu, ih! Lo itu pucet banget, Ki. Harusnya istirahat, aja, di Rumah." Kinan tertawa kecil menatap teman semejanya yang memang sering sekali melakukan tindak k*******n padanya. Tidak lama kemudian, setelah sekitar lima menit menunggu bus di halte, Kinan menaiki bus dengan melambaikan tangan pada Putri. Sorot mata Putri yang sarat akan kecemasan membuat Kinan kembali tersenyum kecil. "Lo yakin bisa pulang sendiri? Gue temenin, ya?" Putri masih berat hati untuk melepaskan Kinan sendirian. "Gue baik-baik, aja!"jawab Kinan seperti biasanya. Putri pasrah, menghela napas pendek. Sebagai teman hanya ini yang bisa dia lakukan untuk Kinan. Walau Kinan tidak mengijinkannya untuk selangkah lebih dekat, lebih mengenal Kinan. Putri akan selalu bersedia menemani Kinan tanpa di minta. Meninggalkan Putri yang masih menanti bus jurusan ke rumahnya di halte. Kinan duduk di deretan kursi nomor tiga dari belakang, kepalanya disandarkan pada jendela kaca sambil memejamkan mata. Sesekali napasnya berhembus berat ketika bus yang ditumpanginya mendadak berhenti berkali-kali untuk mengambil penumpang. Inilah yang membuat Kinan malas untuk naik bus dan memilih ojek, jika saja kondisinya tidak semengenaskan ini, Kinan sudah pasti segera melompat turun dan berlari ke pangkalan ojek sedari tadi. Kinan sempat terhenyak ketika bangku yang berada di sebelahnya tadi kosong, kini telah diduduki seseorang. Tanpa mau melirik atau bahkan membuka matanya, Kinan memilih tetap terpejam meski tidak bisa terlelap. Sampai sepersekian detik berikutnya Kinan terpaksa membuka mata ketika ia merasakan sesuatu mendarat di pangkuannya. Ditatapnya sebuah plastik membungkus styrofoam yang berisi minuman hangat yang masih mengepul dengan curiga, namun nyatanya kecurigaan Kinan hanya terjadi sedetik itu saja. Pasalnya saat Kinan menoleh Rafa-lah yang duduk tepat di sampingnya. Mengisi kursi kosong yang berada disisi Kinan. Ia sempat menoleh ke belakang sebelum kemudian bersipandang dengan Rafa. "Lo ngikutin gue?" tanya Kinan heran. Karena memang biasanya Rafa selalu mengendarai vespa biru langit kesayangannya. "Berasa penting banget lo, sampai ngerasa gue ngikutin elo." jawab Rafa dingin. "Terus lo ngapain duduk di sini? Masih banyak kursi kosong di belakang!" balas Kinan yang sebenarnya tidak berminat untuk berdebat dengan Rafa. Tapi, kali ini Rafa bungkam. Tidak ingin menjawab, atau justru tidak berniat sama sekali untuk menjawab. "Lah..., bukannya sore ini ada tanding basket? Kok, lo malah balik?"ucap Kinan tiba-tiba teringat turnamen basket Rafa. "Urus diri sendiri!" Rafa membalas datar. Tiga kata yang keluar dari mulut Rafa sangat dipahami Kinan. Meskipun cowok tinggi di sebelahnya itu sama sekali tidak menatapnya, Kinan tau kalimat dingin yang terdiri dari tiga kata barusan ditujukan kepadanya. Ditatapnya reaksi datar Rafa dengan malas, sikapnya yang sering berubah-ubah. Sejak semalaman Rafa berbicara tentang apa yang tidak dimengerti oleh Kinan. Hingga kemudian Kinan menyentuh bungkusan hangat dipangkuannya lalu dengan sopan ia letakkan bungkusan itu tepat di pangkuan Rafa. Sementara Rafa sendiri menatap heran. Ditatap bungkusan dipangkuannya dengan dahi berkerut lalu kembali menatap Kinan bingung. "Gue kasih ini bukan buat lo balikin ke gue." bisik Rafa. Kinan yang tadinya diam dan memalingkan muka menatap ke luar jendela, menghela napas yang sudah sesak semakin terasa berat. Ia tatap Rafa yang memasang wajah kaku dengan datar, matanya menelisik masuk menusuk manik hitam Rafa yang menatapnya tanpa ekspresi. "Makasih, tapi gue bisa urus diri sendiri." balas Kinan pelan. "Stop, Pak!" teriak Kinan kemudian. Begitu bus berhenti, Kinan beranjak. Melewati Rafa yang menatap Kinan setengah tidak percaya, sementara dalam hati Rafa merutuki kebodohannya. Sikap labilnya selalu saja membuat usahanya untuk mendekati Kinan gagal total. Rafa menatap Kinan yang sudah turun dari bus. Setelah bus yang ia tumpangi melesat pergi, Kinan berjalan menuju sebuah toko yang menarik perhatiannya. Dengan langkah perlahan Kinan berjalan mendekat. Siap membeli sesuatu yang ia bisa pastikan akan menghancurkan dirinya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD