Ketika hantaman maha dahsyat datang bersama hujan air mata, satu-satu harapan yang ukurannya hanya sebesar biji gandum itu masih digenggamnya erat. Dibangun dan terus berusaha ia jaga sebuah benteng yang benar-benar rapuh. Benteng pertahanan yang menampakkan sisi baik-baiknya, padahal di dalam dirinya jelas porak poranda. Kinan tersenyum getir, mengingat tidak satu, pun, seseorang yang dapat memahaminya. Pada waktu seperti ini pula, Kinan merasa egois. Terkadang ia bahkan tidak mengenali siapa dirinya dan apa kemauannya. Dan Kinan ingin seseorang memahaminya dengan baik. Lucu memang. Kinan ingin marah, menangis sekerasnya tanpa bersembunyi, juga tertawa sesuka hatinya.
Namun demikian, semuanya adalah keinginan yang ia pendam tanpa alasan yang jelas. Segalanya akan meluruh dalam sepi yang ditelan gelapnya gulita. Hanya sebuah alasan sederhana, tembok kokoh yang sebenarnya begitu rapuh itu ibarat daun kering yang akan terlepas dari dahannya meski disentuh selembut mungkin. Kinan ingin kuat, menguatkan dirinya sendiri, karena satu-satunya orang yang selalu menjadi kekuatannya telah tiada. Sudah lama sejak dunia Kinan runtuh, ia harus berdiri sendiri di atas kakinya. Meski lelah, Kinan harus tetap melangkah. Ia yakin harapan yang ia panjantkan akan di dengar oleh Tuhan.
Akan tetapi, Kinan juga harus mempersiapkan diri, bahwa mungkin saja semua yang ia harapkan tidak akan ia dapatkan. Bahkan dengan sebutir harapan sebesar biji gandum ditangannya yang berkemungkinan akan berkembang menjadi sebuah batu raksasa tetap saja terasa mustahil. Karena asa sudah terlihat jelas, menunjukkan realita pahit yang wajib ia telan meskipun, menyakitkan.
Kinan termangu, berdiri sendiri di antara puluhan raga yang telah beristirahat untuk selamanya. Tempat yang sebenarnya paling menakutkan untuk ia datangi seorang diri. Bukan karena takut akan hal-hal berbau mistis atau semacamnya. Hanya sebuah realita menyakitkan yang kerap memaksa Kinan mau tidak mau kembali menelan kenyataan pahit ini. Kedua lututnya terlipat sempurna di samping sebuah pusara. Ia letakkan seikat bunga lili putih. Lili putih yang dulu kerap ditanam bersama dengan ibu tercinta, namun dalam sekejap pula di musnahkan oleh adik kecilnya yang saat itu baru bisa berjalan. Segelintir kisah dari masa lalu itu melintasi otak Kinan dalam sekelebat bayangan. Disentuh pusara itu dengan lembut, seolah menyentuh seseorang yang setiap detiknya ia rindukan. Seolah jika ia menyentuhnya, pusara itu akan lenyap layaknya abu yang diterbangkan angin. Perlahan, jemari tangan Kinan mengusap lembut nama yang terpatri di batu nisan.
Saat itu juga, pertahanannya kembali runtuh total. Setiap butir air mata yang melintasi pipinya menjadi saksi betapa dalam luka yang tergores atas kehilangan begitu mendalam. Tanpa kata perpisahan, dan kecupan sayang. Tanpa kesan dan pesan yang membuatnya belum sempat mengatakan bahwa ia amat sangat menyayangi ibunya. Takdir berjalan lebih cepat di depan Kinan.
"Ma?" sepotong kalimat itu keluar bersama isakkan tertahan.
Dihirup udara sebanyak mungkin, seolah paru-paruya akan mengempis saat itu juga. Ingatannya kembali pada sekilas perdebatan singkat yang hampir saja melepaskan lava yang selama ini Kinan pendam.
"Maafin Kinan, Ma. Kinan nggak bisa jagain Kian dengan baik. Kinan nggak bisa jadi Kakak yang baik."
Kinan berucap selirih hembusan angin. Namun, matanya jelas memancarkan sorot luka yang amat dalam. Diusapnya lagi batu nisan itu dengan sejuta kerinduan yang perlahan melebur jadi abu.
"Kenapa harus aku, Ma?" ucapnya terputus-putus.
"Aku capek, Ma. Setiap malem, Kinan nggak bisa tidur. Rasanya kepala Kinan sakit banget. Kinan butuh, Mama," ucapnya kelu.
Segalanya yang ingin Kinan sampaikan tidak terucap lewat lisan. Namun, jelas setetes demi setetes ait mata yang jatuh ke tanah itu menjadi saksi bahwa segala keluh kesahnya ia sampaikan lewat tangisan. Kinan, pun yakin bahwa kini mama lebih mengerti Kinan dari siapa, pun. Lebih memahami Kinan, bahkan sebelum Kinan mengatakan semuanya.
Angin sore itu berhembus dengan tenang. Menerbangkan rambut hitam sebahu milik Kinan yang tidak terlindungi tudung jaket. Matanya yang sudah bengkak terlihat semakin sembab. Biar, pun, berkali-kali linangan air mata itu Kinan hapus sesering mungkin, maka semakin banyak pula air mata meluruh tanpa diharapkan.
Terakhir. Kinan memejamkan matanya erat, membiarkan sisa air matanya habis di sana. Ini sudah hampir satu jam Kinan duduk termangu bersama ratusan raga yang terlelap untuk selamanya. Kinan berdiri tanpa mengalihkan pandangannya dari pusara sang ibunda. Sedikit kerinduan yang dipendamnya terobati hanya dengan duduk di sebuah gundukan tanah yang dihiasi rumput hias. Sedikit kekuatan ia dapatkan dari sana meski terasa bagai delusi, namun nyata Kinan rasakan.
"Aku sayang Mama. Tenang di sana, ya, Ma."
Kinan berbalik setelah mengucapkan kalimat yang tidak pernah dikatakan langsung pada ibunya dulu. Sepasang kaki jenjang itu berjalan keluar pemakaman, sampai melewati pintu gerbang Kinan tidak sadar bahwa ada seseorang yang membuntutinya. Seseorang yang memilih untuk menjadi bayangan semu di sisi Kinan yang tidak terlihat. Rafa di sana. Di balik sebuah pohon kamboja putih yang berusia puluhan tahun berjarak sekitar tiga meter di belakang Kinan. Melihat dan mendengar apa yang Kinan lakukan. Membuat Rafa kembali tau satu lagi akan sisi gelap yang belum terungkap dalam diri Kinan. Seorang gadis yang belakangan ini berhasil membuat pacu jantungnya berdetak abnormal. Kinan, yang selalu membuatnya merasa khawatir.
***
Tidak ada yang bisa Kinan lakukan ketika pikirannya sedang kacau seperti saat ini. Bukan saja hanya pikiran, tapi kondisi fisiknya juga benar-benar terlihat kacau. Seharian ini Kinan membawa kedua kakinya melangkah selambat mungkin untuk sampai di rumah. Bahkan gadis itu sengaja memilih rute-rute yang jelas lebih jauh untuk sampai ke rumahnya. Kinan sengaja membuat tubuhnya cepat lelah, supaya ketika tiba di rumah nanti Kinan bisa segera terlelap, lantas membuat otaknya berhenti berpikir. Dan melupakan sejenak luka yang tidak kunjung sembuh.
Di sebuah ruko, Kinan berhenti untuk membeli sebuah masker sekali pakai. Karena sejujurnya Kinan risih dengan pandangan orang-orang yang melintas di dekatnya. Mereka melihat kondisi Kinan seolah gadis itu adalah zombie yang siap menerkam kapan saja. Tapi, Kinan merasa wajar dengan tatapan aneh tersebut, karena Kinan juga menyadari seburuk apa dirinya saat ini. Wajah pucat, hidung merah, mata kuyu, dan sembab, di tambah keringat yang membasahi pelipis.
"Kinan?"
Matanya terfokus pada seseorang yang baru saja menyerukan namanya. Seseorang yang menaiki motor besar berwarna hitam duduk di atas sana menghadang jalan di depan Kinan.
"Kok, bisa sampai sini? Dari mana?" tanyanya begitu ramah.
Bahkan cowok berdarah Bandung yang kerap menjadi pahlawan untuk sepeda kesayangan Kinan itu rela turun demi menghampiri Kinan.
"Mas Raka? Kok bisa sampai sini?" tanya Kinan tanpa menurunkan maskernya.
Raka yang kini sudah berdiri di hadapan Kinan tertawa kecil mendengar pertanyaan Kinan. Ditepuknya bahu kanan Kinan dengan lembut.
"Ditanyain kok malah balik nanya. Lucu, deh, lo!" kekeh Raka merasa geli.
Kinan yang baru saja menyadari kebodohannya ikut tertawa meskipun terpaksa. Karena menurut Kinan tidak ada yang lucu sama sekali.
"Gue biasa lewat daerah sini, abis ngecek kendaraan temen. Lo sendiri, ngapain di sini? Masih pakai seragam lagi," jawab Raka sekaligus melontarkan pertanyaannya tadi.
"Oh..., iya tadi ke Rumah temen. Pinjam buku," balasnya beralibi.
Kedua alis Raka bertaut heran. Ditatapnya sepasang mata sembab itu dengan senyum yang tidak luntur dari bibir. Mendengar jawaban Kinan, Raka hanya manggut-manggut mengerti. Walau sebenarnya tidak benar-benar mempercayai ucapan Kinan.
"Balik bareng gue, ya? Sekalian, nih, kita, kan searah."
"Enggak, deh. Gue naik ojek aja, Mas."
"Ya udah, anggap aja gue tukang ojeknya. Nanti lo tinggal bayar gue, gimana?" tawar Raka belum menyerah.
Karena melihat dari mata Kinan yang benar-benar sembab parah, Raka sebagai cowok sejati nggak tega ninggalin Kinan sendirian. Takutnya nanti pelanggan setia Raka itu tergeletak pingsan di jalanan, apalagi di daerah ini cukup sepi. Karena terlalu sering memasuki daerah ini juga, Raka tau betul tidak ada tukang ojek di sekitar sana.
"Gue bisa naik angkot, tinggal jalan sedikit ke ujung g**g," jawab Kinan masih dengan keputusannya yang keukuh.
"Oke, gue temenin lo sampai nemu angkot. Tapi, lo musti bantuin gue dorong motor, ya. Berat, nih motor gue. Kan, nggak lucu banget kalau gue tinggalin di sini."
Kinan berdecak pelan, ditatap Raka dengan tampang yang sulit diartikan. Antara ingin marah dan mengeplak cowok bertopi ori warna hitam itu.
"Ya udah, gue ikut lo," ucap Kinan akhirnya menyerah.
"Nah, gitu dong dari tadi. Kalau tadi lo nolak, gue nggak tau musti ngomong gimana lagi."
Kinan mengangguk pelan. Mengikuti Raka yang sudah berjalan mendahuluinya menuju motor. Diserahkan sebuah helem pada Kinan, lalu ia mengenakan helm fullface. Sempat diliriknya Kinan yang kesulitan memasang pengait helm dari kaca spion. Raka tertawa kecil lalu memutar tubuh yang sudah duduk di atas motor ke arah Kinan.
"Gue bantuin, ya?" katanya mengambil alih pengait yang sejak tadi tidak bisa dilakukan oleh Kinan.
"Udah, yuk!"
Raka kembali tersenyum geli menampakkan sebuah lesung pipit di pipi kanannya ketika melihat Kinan yang masih ragu untuk naik ke atas motor.
"Emang motor gue serem banget, ya, Ki?" celetuk Raka membuat Kinan langsung merasa tidak enak.
"Nggak gitu Mas. Cuma...."
Dihembuskan napasnya dengan berat lalu sebelah tangannya ia letakkan di bahu Raka. Dengan tanggap Raka mengulurkan tangannya ke belakang untuk membantu Kinan naik ke atas motor yang tinggi itu.
"Oke, udah, ya?"
"Udah," jawab Kinan singkat.
Hanya dalam hitungan detik kemudian motor besar berwarna hitam itu melesat perlahan hingga menghilang di ujung jalan. Meninggalkan Rafa yang mematung di jauh sana, dengan guratan kecewa.
***
Di sebuah warteg motor besar yang dikendarai Raka berhenti. Cowok itu telah lebih dulu turun ketika menanti Kinan yang tidak kunjung bergerak dari motor. Gadis itu mengerutkan dahi bingung. Hari juga sudah semakin larut, bahkan Kinan belum menyiapkan makanan untuk Kian.
"Nggak mau turun?" tanya Raka melepas helm.
"Mau ngapain? Langsung pulang, aja, yuk!" sahut Kinan tidak juga bergerak dari atas motor yang sudah diturunkan standarnya.
"Makan dulu, gue laper berat, nih. Gue, tuh, kalau kelaperan suka nggak konsen ngapa-ngapain. Nanti takutnya pas gue maksain nyetir dalam keadaan kelaparan, motor gue oleng. Kalau nggak bawa penumpang, sih, nggak masalah. Gue bawa anak orang, nih," sahut Raka panjang lebar.
Sekali lagi Kinan membuang napasnya kasar tanpa diketahui Raka. Kinan kemudian turun dari motor dibantu Raka sampai melepaskan pengait helm yang sulit dibuka.
"Tapi, gue nggak makan, ya," ucap Kinan sebelum melangkah masuk.
Raka hanya tersenyum menatap Kinan sambil mendorong bahu gadis di sebelahnya itu untuk segera masuk. Di dalam warteg yang cukup besar itu, Raka memilih tempat paling strategis. Di dekat jendela paling ujung. Jauh dari para pelanggan yang memilih untuk berdesak-desakan di depan etalase.
"Lo mau makan apa?"
Kinan yang baru saja membuka maskernya langsung menggeleng. Dimasukkan masker itu ke dalam saku jaket warna hitam.
"Nggak, Mas Raka aja yang makan."
"Jangan gitu dong. Kok, kesannya gue jahat banget. Masuk berdua, gue makan dan lo cuma ngeliatin, Ki."
"Yaudah gue keluar kalo gitu," jawab Kinan yang memang tidak suka dipaksa-paksa untuk makan.
Raka menyentuh lengan Kinan yang sudah beranjak dari kursi. "Oke, teh anget, aja, kalau gitu, ya?"
Kembali ke kursinya, Kinan duduk berhadapan dengan Raka. Hanya butuh waktu semenit pesanan Raka sudah datang. Satu piring nasi dengan orek tempe dan tumis buncis. Dua gelas teh tawar hangat. Disodorkannya segelas teh tawar itu di depan Kinan.
"Diminum, gue makan dulu. Abis itu kita langsung balik," ucap Raka tersenyum menatap Kinan yang sejak tadi seperti orang linglung.
Dalam keheningan itu, Kinan teringat banyak hal yang kembali melintas di kepalanya. Perdebatannya dengan Kian, kenangan, dan juga Rafa. Sikap Rafa yang dulu selalu hangat dan membuatnya merasa nyaman, kini sering kali berubah-ubah. Terlalu sering menyebalkan dan bersikap dingin padanya. Pikirannya terus berputar, mengingat-ingat kesalahan apa yang pernah ia lakukan sampai Rafa menjadi berbeda.
"Anak pertama itu, hatinya harus sekuat karang. Bahunya harus sekuat baja," ucap Raka disela kunyahannya.
Kinan yang tadinya tertunduk menatap gelasnya yang masih penuh, kini mendongak menatap Raka yang sibuk melahap nasinya.
“Lo pernah denger ungkapan kayak gitu?”
Kinan cuma diam, ia bergeming di sana memaku Raka yang duduk di depannya.
"Jadi anak pertama itu emang nggak gampang, karena mereka akan jadi panutan buat adik-adiknya. Bisa jadi sosok Ibu, bahkan Bapak, dan seorang Kakak yang tegas."
“Ya, emang, sih, susahnya anak pertama itu selalu dituntut untuk sempurna, karena sadar atau enggak sebagai Kakak, harus jadi contoh yang baik buat adik-adiknya.”
“Menurut gue itu nggak adil, sih,” sambungnya seraya terkekeh kecil.
Setelah selesai dengan makanannya. Raka meneguk teh tawar hangat sampai setengah kosong. Ditatapnya Kinan sambil tersenyum hangat.
"Lo, tau gue juga punya tiga adik. Dan gue.., satu-satunya cowok dari mereka." ucap Raka diikuti tawa kecil.
Kinan mengulas sebuah senyum tipis.
“Yang nomer dua udah kuliah sambil kerja, nomor tiga sama yang paling bontot, mereka udah kelas tiga SMP. Btw, mereka kembar. Cuma selisih tiga atau lima menit, yah? Lupa gue,” Raka tertawa kecil lagi mengingat adik-adiknya.
“Pasti rumah lo rame banget.”
Raka mengangguk semangat. “Banget, apalagi kalau lagi pada ngumpul buat pengajian setahun sekali.”
“Lo beruntung,” Kinan bergumam pelan.
Sedangkan Raka yang mendengarnya hanya tersenyum tipis. Cowok itu memainkan gelas di depannya.
“Sekedar info, meski pun, lo mungkin nggak tertarik. Nyokap sama bokap gue udah meninggal sejak gue umur tujuh belas tahun.”
Kepala Kinan mendadak serasa dijatuhi batu besar. Ia mendongak, menatap Raka yang masih tersenyum manis. Bahkan cowok yang murah senyum itu, memiliki kisah yang hampir serupa dengannya.
“Sorry, gu..., gue nggak bermaksud-“
“Santai, aja, Kinan,” lagi-lagi Raka cuma tersenyum. “Dulu gue pikir, dunia ini nggak adil banget. Sejak kepergian orang tua gue, gue jadi satu-satunya tulang punggung keluarga. Rasanya berat, gue hampir aja, kabur ninggalin adek-adek gue, karena putus asa. Kenapa sih, hal kayak gini harus terjadi sama gue? Cuma itu yang ada di otak gue waktu itu,” Raka bercerita panjang.
“Setiap saat, gue mesti siap jadi satu-satunya tempat adek-adek gue berkeluh kesah. Sedangkan waktu itu, gue nggak punya siapa-siapa buat berbagi perasaan. Untung sekarang ada elo di depan gue, hehe.”
“Kalau lo pikir gue baik-baik, aja, dengan semua ini. Yah, gue, sih sebagai manusa biasa pasti pengennya gitu. Tapi, yang namanya perasaan manusia itu paling aneh dan paling berbahaya. Lo tau nggak kenapa?” tanya Raka.
Sebuah gelengan pelan menjadi jawaban atas pertanyaan Raka barusan.
“Karena ada masanya, kita sendiri nggak tau apa yang kita mau, dan siapa kita sebenernya.”
Kinan tersenyum kaku. Menatap sosok di depannya dengan pikiran yang berbeda dari sebelumnya. Memang selamanya kita tidak akan bisa membaca seseorang hanya sekilas. Seperti memilih buku bacaan, Kinan nggak bisa memilih hanya dengan sekali melihat. Setidaknya, ia harus membaca deskripsi buku yang tertera di bagian belakang untuk memutuskan, apakah buku yang Kinan pilih sesuai dengan apa yang ingin ia baca.
Kini Kinan mengerti, bahwa sebenarnya ia bisa saja membaca perasaan, atau ekspresi manusia layaknya membaca sebuah buku. Tapi, sebagian orang juga menggunakan ekspresi mereka sebagai topeng untuk menutupi perasaan mereka yang sesungguhnya. Meski demikian, tetap saja ada saat-saat yang meruntuhkan batas antara tipuan dan kebenaran. Hal-hal yang ingin ia sembunyikan dengan dalil baik-baik saja, tidak selamanya bisa menutupi apa yang sesungguhnya ia rasakan. Satu lagi Kinan paham. Mungkin beberapa kalimat yang dikatakan oleh Rafa belakangan ini adalah tentang dirinya yang tidak pernah jujur pada siapa, pun, tentang perasaannya.
Ia tidak pernah menyangka bahwa Raka adalah sosok yang begitu hangat. Kinan sendiri baru menyadari semua hari itu. Saat itu juga, tanpa Kinan sadari sedikit sesaknya berkurang. Meski hanya secuil, setidaknya ucapan Raka barusan sangat memberikan makna yang dalam untuk Kinan.
"Gue nggak tahu lo kenapa. Gue juga nggak bisa bantu lo, tapi gue bersedia nyimak ketika lo mau cerita ke gue," ucap Raka meneguk sisa teh tawar di gelasnya.
"Karena prinsip anak pertama itu keras untuk melindungi adiknya, Ki," sambung Raka tersenyum tulus. “Seberat apa, pun, itu jangan pernah nyerah. Karena menurut gue, semuanya bakalan pulih secara perlahan.”
"Makasih, Mas Raka."
"Cuma teh anget tanpa gula, Ki," balasnya terkekeh. “Tapi, manis banget. Karena ada lo di samping gue.”
Cowok itu tersenyum manis lalu beranjak dari kursi mendekati etalase, diusapnya puncak kepala Kinan sambil berjalan melewatinya. Dan, entah sadar atau tidak Kinan tidak melepaskan matanya dari Raka. Dia baik, meskipun sikapnya yang sering kali memaksa Kinan dan membuat Kinan tidak bisa menolak, tapi ada kehangatan dari sorot mata cowok manis itu.
"Yuk, gue anter lo balik."
Tanpa banyak bicara Kinan menyeruput lagi minumannya sampai setengah kosong. Segera disambar tas ransel berwarna abu-abu serta ia kenakan lagi maskernya.
***
Hari sudah menjelang magrib, motor biru tua milik Raka memasuki halaman rumah Kinan.
"Makasih banyak, ya, Mas," ucap Kinan begitu turun dari atas motor Raka.
"Sekali lagi lo bilang makasih, gue kasih piring cantik, ya."
Kinan tersenyum tipis. Setelah melepaskan helm dari kepalanya, Raka tidak langsung pergi.
“Lo punya piring, ‘kan?” celetuk Raka membuat Kinan memasang wajah bingung.
Cowok yang sudah bertengger manis di atas motor itu menyerahkan sebuah bungkusan plastik hitam pada Kinan.
"Karena gue nggak punya piring cantik, gue kasih lo makanannya aja, ya. Sori banget, nih," ucap Raka yang sudah menghidupkan mesin motornya.
"Loh, Mas. Apaan, sih? Gue nggak suka, ya, kalau kayak gini."
Raka tersenyum lagi dan lagi. Cowok itu melambaikan tangannya sebelum sempat mengingatkan Kinan untuk benar-benar makan. Dan hanya dalam hitungan detik motor besar Raka sudah melesat jauh keluar dari komplek perumah. Ada banyak hal yang Kinan lalui hari ini. Banyak hal juga yang ia pelajari dari Raka. Ini seperti yang Kinan harapkan. Tiba di rumah dengan tubuh lelah, segera saja dibuka pintu rumah dan menuju meja makan. Ia letakkan di sana makanan dari Raka lalu bergegas ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian.