"Anak pertama itu, hatinya harus sekuat karang. Bahunya harus sekuat baja. Karena prinsip anak pertama itu keras untuk melindungi adiknya."
Ini bukan hanya tentang bertahan atau menyerah. Bukan tentang kuat atau lemah. Melainkan ketegaran untuk terus bertahan saat hati ingin menyerah. Terus berusaha kuat meski raga telah lemah. Kinan tahu, dengan banyaknya potongan-potongan memori masa lalu di kepalanya tidak akan membuatnya hancur bersama asa. Justru Kinan semakin mengokohkan bagian-bagian retak dari tembok pertahanannya. Gadis berambut hitam sebahu itu mematut penampilannya di depan cermin. Kali ini Kinan sudah rapi dengan seragam sekolahnya, putih abu-abu.
Di mana para remaja mengatakan bahwa di masa ini, lah, akan banyak kenangan yang tercipta. Akan banyak pengalaman indah yang terjadi setiap harinya. Walau sejujurnya terlalu sulit untuk dimengerti olehnya, tapi Kinan berusaha yakin. Akan ada kebahagiaan di akhir ceritanya nanti.
Kinan mengusapkan bedak tabur dibagian bawah mata yang menampakkan dengan jelas kantung mata yang menghitam. Semalam Kinan tidur, tapi hanya beberapa jam kemudian ia kembali terjaga setelah kedatangan mimpi yang membuatnya gelisah. Suara ketukan pintu membuat Kinan menoleh ke arah datangnya suara. Dengan segera ia menyambar tas sekolah dan membuka pintu kamar yang selalu dikunci rapat-rapat.
"Apa? Hape-mu udah aku balikin, 'kan?" ucap Kinan begitu melihat Kian yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
"Bukan itu," jawab Kian.
"Terus?"
"Mmm..., uang jajan." ucap Kian seraya menggadahkan tangan di dekat Kinan.
Kinan mengernyitkan dahi mendengar permintaan adiknya. Seingat Kinan baru tiga hari yang lalu memberikan jatah uang jajan Kian.
"Kemarin, kan udah."
Kinan mulai menuruni anak tangga satu persatu. Diikuti Kian dari belakang, Kinan yang kini sudah duduk di dapur mulai menyantap nasi goreng yang sejak subuh tadi ia masak.
"Udah, abis," jawab Kian yang kini turut sarapan.
"Kok cepet banget? Itu, kan, jatah buat satu minggu, Ki."
"Banyak tugas Kak. Harus ke warnet, ngejilid juga. Kakak, tuh, kayak nggak pernah Sekolah, deh. Padahal udah jadi anak SMA. Harusnya, kan, paham kayak gituan," jelas Kian panjang lebar.
"Hmm..., kebiasaan, kan, kalo dinasehatin malah balik nasehatin," sahut Kinan dongkol dengan kebiasaan adiknya.
"Mana kuitansinya? Aku udah pernah bilang, kan, kalau ada tugas atau pembayaran apa, pun, minta kuitansi? Jadi aku percaya sama kamu," sambung Kinan memasukkan suapan terakhir ke dalam mulutnya.
"Lupa," jawab Kian malas.
"Lupa-lupa. Bilang, aja, uangnya abis buat kamu keluyuran nggak jelas sama temen-temen kamu itu, 'kan? Kamu, sih, kalo dikasih tau suka ngeyel."
Kinan yang sudah selesai dengan acara sarapannya itu meneguk teh manis hangat yang baru saja dituang dari teko.
"Kamu boleh main, nongkrong di kafe, Ki. Tapi, inget waktu, dong. Emang apa untungnya, sih, duduk di Kafe seharian? Apalagi kamu itu cewek, nggak baik pulang malam."
"Ck! Kakak mulai, deh! Iya, udah iya!” sentak Kian sebal.
Kinan terkekeh kecil. Di letakkannya selembar yang dua puluh ribu di atas meja dekat lengan Kian. Lalu ia segera berdiri membawa piring kotornya ke tempat cuci piring. Waktu sudah menunjukkan jam 06:05. Alhasil Kinan memutuskan untuk mencuci piring sepulang sekolah nanti. Disambarnya jaket yang ia sampirkan pada sandaran kursi dan segera memakainya.
"Kok cuma ini?" protes Kian yang sudah menyelesaikan sarapannya.
"Mau nggak? Kalo nggak mau nggak apa-apa. Duit Kakak tinggal itu doang, sisa dikit, nih, buat belanja," jawab Kinan dengan jujur.
"Tapi, dua puluh ribu mana cukup, Kak?" rengek Kian belum terima.
"Cukup, Ki. Berapa, pun jumlahnya, kalau kamu pakai buat bertahan hidup pasti cukup. Tapi, berapa, pun juga jumlahnya, kalau kamu pakai buat nurutin gaya hidup, nggak akan ada kata cukup."
"Tambahin, Kak. Nanti aku pulang sore."
Kinan tidak menjawab, ia bergegas keluar dari rumah dan menutup pintu setelah Kian juga berada di luar rumah. Dikeluarkannya uang lima ribuan dan diserahkan kepada Kian.
"Buat ongkos ojek," ucapnya sambil berjalan mendekati sepeda putih yang kemarin lusa di antarkan oleh pegawai bengkel Raka.
"Kakak, nyebelin!"
Tanpa berniat menghentikan laju sepedanya, Kinan melambaikan tangan ke arah Kian yang masih merengut kesal. Gadis berusia lima belas tahun itu menatap dua lembar rupiah di tangannya.
"Mana cukup? Nggak bisa ikut lagi dong, gue!" gumamnya kesal.
***
Kinan mengelus dadanya pelan ketika dilihatnya koridor sekolah masih ramai. Begitu dilirik jam hitam yang melingkar di pergelangan tangan, Kinan bergegas memarkirkan sepeda putihnya. Setengah berlari Kinan menuju kelas, karena lima menit lagi bel masuk akan berbunyi. Namun, begitu tinggal selangkah melewati pintu kelasnya seseorang menarik lengan Kinan sampai gadis itu oleng. Jika saja Kinan tidak sigap, kemungkinan untuk membentur lantai pasti terjadi. Kinan menatap seseorang yang berjalan di depan sambil menyeretnya.
"Apa-apaan, nih?" tanya Kinan bingung. Dipukulinya lengan yang menggandeng tangannya erat. Ralat, menyeret!
"Lepasin, Raf! Kebiasaan banget, sih?" protes Kinan.
Kinan sudah menarik-narik lengannya agar terlepas dari genggaman erat cowok berpostur tinggi di depannya itu. Tapi, seolah tenaga Kinan sungguh nggak ada apa-apanya dibanding Rafa.
"Ikut gue bentar," balasnya singkat.
"Mau kemana, sih? Lo nggak liat jam, lima menit lagi bel, nih!"
"Makannya lo nurut, aja, biar nggak makan waktu lama." balas Rafa menghentikan langkahnya.
Kinan menyatukan kedua alisnya bingung. Keduanya saling bersipandang cukup lama. Sedetik kemudian Kinan berbisik pelan. "Gue punya utang sama lo?" bisik Kinan pelan.
Kedua ujung bibir Rafa berkedut menahan senyum. Kemudian cowok itu menggelengkan kepalanya sambil kembali menarik Kinan untuk ikut dengannya.
"Ikut gue bentar," bisiknya tepat di telinga Kinan.
Final! Akhirnya Kinan pasrah mengikuti langkah lebar Rafa yang berjalan sambil menyeretnya itu. Dan, ujung dari sebuah perjalanan itu adalah kantin kelas sepuluh. Rafa memilih tempat duduk di dekat jendela yang menghadap ke lapangan basket dan futsal.
"Lo mau makan apa?" tanya Rafa yang sudah duduk manis di kursinya menatap Kinan.
Sementara Kinan yang tidak mengerti maksud Rafa, cewek itu memasang tampang tidak mengertinya. Alis bertaut, dahi mengkerut dan bibirnya sedikit terbuka.
"Jangan masang tampang kayak gitu, Ki."
Gelagapan, Kinan menutup mulutnya sendiri sambil menyelipkan anak rambutnya yang menjuntai menutupi mata.
"Lo mau sarapan apa?" tanya Rafa mengulangi.
"Bentar..., bentar. Maksud lo apa, sih Raf?" tanya Kinan balik, karena Kinan memang benar-benar tidak mengerti alasan Rafa yang tiba-tiba saja mengajaknya sarapan.
“Gue cuma pengen sarapan doang. Lo mau makan apa?"
"Aneh, deh, lo? Kejedot ring basket, ya?"
Rafa mendesah pelan. Ia tatap Kinan yang masih menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Berhenti jawab pertanyaan gue dengan pertanyaan balik. Tinggal jawab, aja, apa susahnya, sih?" kata Rafa gemas. "Makan apa?" ulangnya.
Tapi, Kinan masih diam. Cewek di hadapan Rafa itu melemparkan tatapan bingung yang tergambar jelas di raut wajahnya.
"Oke, kalau gitu gue samain aja, ya. Dua porsi nasi uduk."
Baru saja Rafa berdiri dari kursinya Kinan mencekal tangan Rafa. Bahkan cewek berambut sebahu itu turut berdiri tepat di sebelah kapten basket tersebut.
"Gue udah sarapan di Rumah," ucap Kinan. "Lo tau..., ada banyak hal yang pengen gue tanyain sama lo, Raf," sambung Kinan pelan.
Perlahan Kinan mundur selangkah lalu memutar tubuhnya dan melangkah cepat menuju kelasnya. Ditinggalkan Rafa yang masih mematung ditempat menatap punggung Kinan yang semakin menjauh.
"Gue juga, Ki. Ada banyak hal yang pengen gue omongin sama lo."
***
Siang yang mendung itu membuat seluruh siswa siswi SMA Angkasa bergegas keluar dari sekolah dan buru-buru ingin sampai di rumah. Hawa dingin karena semilir angin membuat kebanyakan dari mereka memilih untuk segera bergulung dengan selimut ditemani segelas minuman hangat. Kinan, pun, sama, dikayuh sepedanya dengan cepat agar segera tiba di rumah. Lalu Kinan bisa terlelap dengan nyenyak hingga Kinan bisa benar-benar merasakan tidur yang sesungguhnya. Mendadak semua bayangan indah yang disusun rapi di kepalanya itu lenyap ketika sebuah motor berhenti memotong jalan di depannya. Buru-buru Kinan menarik rem kuat-kuat, dan berhasil. Berhasil membuat Kinan terjungkal karena berhenti mendadak.
Gadis itu memegangi lututnya yang terluka karena mencium aspal. Lengan jaketnya sedikit terkoyak saat Kinan berusaha menahan tubuhnya agar tidak terpelanting ke aspal. Sementara matanya menatap nanar sepeda putih yang sudah cukup tua itu ikut terkapar dengan stir yang bengkok. Padahal baru kemarin sepedanya kembali. Rasanya Kinan ingin menangis saat itu juga.
"Lo gimana, sih? Jatuh segala, kayak anak kecil tau nggak?" ucap si pengendara motor melipat lutut di sebelah Kinan tanpa melepas helm yang dikenakan.
Kinan mendelik tajam. Ditatap cowok tidak berperasaan di hadapannya dengan geram. "Jelas-jelas elo yang salah. Ngapain motong jalan gue?!" bentak Kinan tidak terima.
"Terpaksa. Gue panggil lo nggak noleh-noleh," jawabnya enteng.
Kinan berdiri menahan perih di lututnya yang berdarah. Di angkatnya sepeda putih yang sudah bengkok setirnya itu dengan mata berkaca-kaca.
“Dasar cowok b******k, nggak punya otak!” ucap Kinan kesal.
“Lo bilang apa barusan?” Rafa bertanya nggak percaya dengan ucapan Kinan.
Tapi, gadis itu nggak menggubris Rafa.
"Tinggal, aja, di sini. Nanti gue kontak Mas Raka biar dijemput. Gue yang bayar." ucap Rafa menahan lengan Kinan.
Kinan menghempaskannya dengan kasar. Gadis itu berjalan terpincang-pincang sambil susah payah menyeret sepedanya. Berkali-kali Kinan mengerjapkan mata dengan cepat agar air mata tidak jadi tumpah, tapi usahanya sia-sia. Kinan menangis tanpa suara sambil menyeret sepeda. Sementara Rafa hanya berdecak kesal atas kebodohannya dan juga kerasnya kepala Kinan. Tanpa banyak bicara lagi Rafa segera menghubungi Raka, meminta agar cowok itu datang dan membawa sepeda Kinan dengan pick up-nya. Setelah mendapat respon dari Raka, Rafa bergegas mengejar Kinan yang hanya berada tiga langkah di depannya.
"Mas Raka udah di jalan, tunggu bentar. Gue obati luka lo," ucap Rafa menahan lengan Kinan.
Sekali lagi dihempaskannya tangan Rafa dengan paksa. Kinan kembali tertatih menuntun sepedanya, tapi tidak berhasil karena Rafa menahan tempat duduk sepeda Kinan dengan kuat.
"Gue bilang tunggu! Keras kepala banget, sih, lo."
"Lepasin! Gue mau balik." balas Kinan memukul lengan Rafa agar melepaskan sepedanya.
"Jangan kayak anak kecil, deh Ki. Kaki lo, tuh, luka! Kalau nggak cepet diobati bisa infeksi," tandas Rafa tidak mau kalah.
“Elo yang kayak anak kecil. b**o, nggak tau diri! Jelas-jelas elo yang salah!” teriak Kinan.
Cowok itu berjalan menarik pergelangan tangan Kinan dengan erat. Namun, gadis yang begitu keras kepala itu masih diam membatu di sana. Sekali lagi, Rafa menghembuskan napasnya kasar. Ditatap Kinan dengan putus asa. "Plis, kali ini aja, Ki. Lo nurut ya sama gue."
Tidak ada jawaban tapi Kinan juga tidak bergerak dari sana. Berkali-kali ia usap air matanya yang meleleh tanpa bisa dicegah. Kinan masih menunggu Rafa melepaskan lengannya. Sementara darah masih meleleh dari lututnya.
"Emang bener-bener kepala batu," kata Rafa dingin.
Namun, tidak juga ia lepaskan cekalan tangannya pada Kinan. Sampai pada akhirnya Rafa mengalah saat melihat mobil pick up milik Raka sudah berada di sana. Melihat keadaan sepeda Kinan yang sudah bengkok. Rafa melepaskan cekalan tangannya dari Kinan dengan putus asa. Rafa sempat melirik Raka yang melemparkan pandangan bingung ke arah keduanya.
"Mas tolong bawa sepedanya ke bengkel, ya? Nanti biaya perbaikannya kasih ke gue aja."
"Oh, gitu..., oke," jawab Raka tanpa ingin bertanya.
Raka meraih sepeda putih milik Kinan yang masih dipegang erat oleh si pemiliknya.
“Kayaknya nggak mungkin deh, kalo lo mau bawa sepeda yang bengkok ini ke Rumah jalan kaki. Mending gue benerin dulu," Raka berucap lembut.
"Keras kepala dia, Mas!" Rafa menimpali sambil memasukkan tangannya ke saku celana.
Raka menatap Rafa bingung. Kemudian ia lirik lagi Kinan yang sudah menunduk dalam diam.
"Gue, aja, yang bawa. Kalo lo maksa mau diseret sampai Rumah, malah makin parah rusaknya," sambung Raka masih membujuk.
Perlahan cekalan tangan Kinan pada sepedanya terlepas. Dan dengan segera Raka mengangkut sepeda Kinan ke atas pick up-nya. Dihampiri lagi kedua remaja yang masih saling diam itu.
"Raf, Kinan balik bareng lo, ‘kan?" tanya Raka menatap Rafa.
Rafa mengangguk pelan. Cowok tinggi itu sudah berjalan mendekati Kinan lalu meraih lengan Kinan, namun belum sempat itu semua terjadi Kinan menjauh selangkah dari Rafa.
"Gue balik sendiri!" katanya selirih hembusan angin.
"Jangan mulai, deh! Kaki lo luka Kinan!" ucap Rafa keras.
Raka meringis menyaksikan dua remaja yang sedang perang dingin tersebut. Meski, pun, Raka sendiri tau seberapa sulitnya membujuk Kinan, tapi cara Rafa barusan itu sama sekali tidak membantu.
"Rafa bener, Ki. Kaki lo berdarah, tuh. Emang nggak malu jalan pincang-pincang gitu diliatin orang? Kayaknya bakalan ujan juga," kata Raka membenarkan.
"Gue nebeng mobil lo, Mas." ucap Kinan pelan menatap Raka.
Sewaktu itu juga Raka menatap Kinan cepat. Merasa tidak enak dengan Rafa yang terlihat tidak suka dengan ucapan Kinan barusan. Belum sempat Raka memberikan persetujuan pada Kinan, gadis itu sudah berjalan membuka pintu mobil Raka. Detik itu juga secepat kilat Rafa berjalan dengan langkah lebarnya menghampiri Kinan, ditutup pintu mobil Raka dengan bantingan keras setelah menarik Kinan yang hampir mendudukkan diri di atas jok sebelah kemudi.
"Nggak! Gue yang anter lo balik!" seru Rafa dingin.
Dicekalnya lengan Kinan erat membuat Kinan meringis sakit. Raka yang menyaksikannya tidak berani ikut campur sampai dititik Kinan benar-benar menangis sesegukkan, Raka mulai mendekati keduanya. Cowok yang memakai topi berwarna abu-abu itu menahan lengan Rafa yang masih memaksa Kinan untuk ikut bersamanya. Raka menatap Rafa dengan pandangan memohon agar ia mau melepaskan Kinan secepatnya.
"Nggak apa-apa Raf. Kali ini, aja, biar Kinan nebeng gue," ucap Raka kalem.
Untuk sesaat Rafa menatap Kinan yang terisak dalam tundukan kepalanya. Rafa membuang napas beratnya sekali lagi sambil ia hempaskan dengan kasar lengan Kinan.
"Terserah. Gue nggak peduli lagi!" kata Rafa dingin.
Setelah selesai mengucapkan kalimatnya itu, Rafa bergegas menaiki vespa biru kesayangannya dan melesat meninggalkan Kinan dan Raka yang masih diam di sana. Dengan lembut diusapnya bahu Kinan.
"Yuk, gue anter lo balik."
Tidak ada jawaban dari Kinan. Hanya tangisan kecil yang terdengar dari bibirnya. Raka segera membukakan pintu mobilnya untuk Kinan kemudian berlari ke sisi lain mobilnya. Cowok itu sempat mengusap darah di lutut Kinan dengan tisu sebelum melajukan kendaraannya.
"Safety belt, Ki." kata Raka pelan.
Raka mengangguk, ia segera menghidupkan mesin mobil setelah melihat Kinan menuruti ucapannya. Dengan kecepatan sedang mobil Raka melenggang di jalanan sore yang sepi. Tidak ada percakapan di dalam mobil tersebut. Hanya sesekali terdengar suara cairan dari hidung Kinan yang melorot ingin keluar. Dan saat itu juga, Raka menyodorkan kotak tisu yang selalu ia sediakan di dalam mobilnya.
Ada rasa geli dan juga prihatin melihat Kinan yang duduk diam di sebelahnya itu. Ada banyak juga hal yang ingin Raka tanyakan tentang apa yang terjadi, tapi ia memilih bungkam. Karena sebanyak apa yang tidak ia ketahui, maka sebanyak itu juga rasa yang tidak wajar itu tumbuh tanpa alasan.
Raka menghentikan laju mobilnya di dekat sebuah warung kecil, tepatnya di bawah pohon mangga yang rindang lantas dengan cepat Raka turun dari mobil. Cuaca siang itu benar-benar buruk, mendung pekat, angin yang bertiup sepoi-sepoi terasa begitu dingin. Diliriknya Kinan yang masih menangis, meski kini tidak lagi separah tadi. Tidak bersuara, namun air matanya terus merembes melewati kedua pipi putihnya.
Tidak lama setelah memasuki warung sederhana itu Raka kembali membawa sebotol air meneral dan sesuatu di dalam kantung plastik. Dibukanya pintu bagian kiri mobil, menampakkan Kinan yang masih diam melamun.
"Minum dulu," ucap Raka lembut.
Kinan menoleh sebentar. Ia menerima air mineral yang disodorkan Raka. Mendadak Raka melepaskan sabuk pengaman yang Kinan kenakan dan menyentuh kedua bahu Kinan, membuat gadis itu terkejut dengan apa yang dilakukan montir penyelamat sepedanya itu. Raka memutar tubuh Kinan hingga menghadap ke arah pintu yang sudah dibuka. Pelan-pelan ia obati luka di kaki Kinan.
"Lo, tuh, emang keras kepala, ya? Pantes, aja Rafa sampai ngamuk kayak gitu. Kalo infeksi gimana?" kata Raka melipat lutut kanannya hingga menyentuh aspal.
“Dia, tuh ngeselin, Mas! Udah tau dia yang salah, nggak mau minta maaf, malah nyalahin orang lain!”
Raka tersenyum mendengar pengaduan Kinan. Ia membuka bungkusan plastik hitam yang tadi ia dapatkan dari warung. Sementara Kinan meringis perih ketika cairan berwarna putih bening itu disiramkan Raka tepat dibagian lukanya.
"Sakit?" tanya Raka melihat ekspresi Kinan. Dan hanya sebuah anggukan pertanda apa yang diperkirakan oleh Raka benar.
"Nggak apa-apa perih sedikit. Inget, 'kan? Anak pertama harus kuat," sambung Raka bersuara tanpa ada yang menjawab.
Lagi-lagi Kinan termangu dengan ucapan Raka. Setelah kemarin cowok yang murah sekali tersenyum itu mengatakan kalimat yang membuatnya merasa lebih baik. Detik ini Raka kembali membuat Kinan merasa tidak sendirian. Setelah membersihkan luka Kinan dengan alkohol, Raka menempelkan kapas yang sudah dibubuhi obat merah tepat di lutut kiri Kinan. Cowok itu tersenyum puas melihat hasil keterampilannya yang cukup rapi.
"Selesai!" serunya menatap Kinan. "Mau makan dulu atau langsung pulang?"
"Langsung pulang aja," jawab Kinan pelan.
Raka mengangguk, sementara Kinan sudah kembali pada posisinya semula. Dengan segera Raka letakkan kresek P3K yang ia beli secara dadakan tadi di atas dashboard. Dan tanpa sengaja membuat posisi menyilang di hadapan Kinan. Raka sempat terdiam merasakan gelenyar aneh saat menatap Kinan dengan jarak pandang sedekat ini. Tapi, buru-buru juga Raka menegakkan tubuhnya dan menutup pintu mobil. Ia segera berlari memutari mobil dan kembali di kursi kemudi setelah sempat melemparkan senyum manisnya untuk Kinan demi menutupi rasa gugupnya.
"Safety belt!"
Setelah memastikan Kinan memasang sabuk pengaman dengan benar Raka baru menyalakan mesin mobilnya. Sedetik kemudian mobil pick up berwarna kuning itu sudah melesat di jalanan yang sepi.