Sekali lagi Kinan memejamkan matanya erat cukup lama. Kemudian kembali menatap sekeliling. Diliriknya Kian yang sibuk mengotak-atik ponsel sambil mengunyah keripik pisang. Sementara TV yang menyala hanya menjadi sebuah teman agar ruang keluarga yang sunyi itu terasa lebih hidup. Meskipun sebenarnya sama saja. Tapi, ini lebih baik. Tanpa sengaja matanya menatap lutut yang terluka. Ia jadi teringat Rafa. Cowok itu benar-benar berubah drastis. Dan Kinan tidak tahu sebabnya. Ia menggelengkan kepala untuk mengusir bayangan Rafa yang membuatnya kesal.
Kinan segera membuka kunci pada layar ponsel-nya ketika merasakan getaran pertanda sebuah notifikasi Line masuk. Sebuah nama yang melintas di layar utama membuat Kinan bergegas membuka pesan dan membaca isinya.
Putrri_Prameswari : Tugas lo uah kelar?
Putrri_Prameswari : Udah
Kinanti Az : Tugas?
Putrri_Prameswari : Astaga! Tugas fisika, Ki. Jngn bilang lo lupa? Dan lo blm ngerjain sebaris, pun?
Kinanti Az : Lupa!
Putrri_Prameswari : Demi apa?! Bsk pelajaran Bu Endang, Kinan! lo cari mati, ya?
Kinan menggigit bibir bawahnya gemas. Ia segera menurunkan kedua kakinya dari atas sofa lalu bergegas berlari ke kamar untuk mengambil buku tugas fisika. Tangannya sibuk mencari-cari keberadaan pulpen semata wayang yang ia miliki di dalam tas. Namun, ponsel-nya kembali menyuarakan notifikasi Line dengan nyaring.
Putrri_Prameswari : Buruan kerjain! Gw, nggak mau liat lo berjemur besok!
Kinanti Az : Oke. Thank's, Puput!
Buru-buru Kinan memasukkan ponsel-nya ke dalam saku sweater. Segera, lah, ia kembali turun ke bawah dengan membawa sebuah buku dan pulpen untuk mengerjakan tugas dari bu Endang, dan sialnya. Buku paket fisika sudah berpindah ke tangan Rafa sejak beberapa hari yang lalu.
"Aku mau ngerjain tugas dulu, di Rumah Rafa. Kamu nggak usah kemana-mana."
"Hmm," sahut Kian tanpa mengalihkan objek pandangan dari layar ponsel.
"Kalo ada apa-apa telepon, aja. Atau teriak yang kenceng," sambung Kinan.
"Iya, Kak." sahut Kian jengah.
Detik berikutnya Kinan melangkah keluar rumah dengan langkah tertatih karena lututnya yang masih terasa nyeri. Namun, baru selangkah meninggalkan teras, Kinan kembali terdiam. Ditatap balkon kamar Rafa dengan sendu. Setelah kejadian lusa, kemarin, tadi pagi, dan tadi siang, apa Rafa akan berubah lagi? Kinan membuang pandangannya dari sana. Kemudian ia mantapkan langkahnya untuk menghampiri Rafa dan segera mengerjakan tugas dengan cepat. Maka, Kinan tidak perlu berlama-lama terjebak dengan suasana canggung yang nanti pasti akan terjadi. Atau, Kinan hanya perlu ke rumah Rafa dan meminjam buku fisika untuk segera dibawa pulang. Dengan begitu, Kinan bisa mengerjakannya seorang diri.
"Alah! Kebanyakan mikir," dengus Kinan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kali ini Kinan telah mantap dengan tekadnya. Dengan langkah pelan Kinan menuju rumah Rafa, meskipun, rasanya masih malas untuk bertemu dengan tetangganya itu, tapi tugas dari bu guru yang super galak itu memaksa Kinan untuk menerjang apa, pun, ketimbang harus berjemur di lapangan selama tiga jam.
"Kinan? Ngapain berdiri di situ?"
Kinan tergagap. Bahkan gadis berambut sebahu itu tidak menyadari bahwa dirinya kini sudah berada di halaman rumah Rafa. Kinan menatap Andre dengan cengiran tanpa arti seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Cowok yang usianya dua tahun lebih tua dari Rafa itu tersenyum manis pada Kinan.
"Eng..., Rafa ada Kak?" tanya Kinan pada Andre yang sibuk berkutat dengan laptop.
"Ada, tuh! Lagi nonton TV. Masuk, aja, Ki!" jawab Andre tersenyum.
Kinan mengangguk. Dengan langkah pelan tapi pasti ia mulai memasuki rumah sederhana yang terasa hangat itu. Rumah dengan suasana kekeluargaan yang begitu kental. Belum selangkah Kinan melewati pintu, Andre menahan tangan Kinan.
“Kenapa, tuh?” tanya Andre menatap lutut Kinan cemas.
“Oh, ini Kak..., Tadi, jatuh waktu olahraga,” jawab Kinan mengarang.
Andre terdiam cukup lama menatap sepasang mata Kinan.
“Lain kali lebih hati-hati,” tuturnya sambil tersenyum, kemudian kembali berkutat dengan laptopnya.
Kinan melanjutkan langkahnya untuk masuk. Selangkah ia melewati pintu utama telinganya sudah disapa dengan suara spantula yang beradu dengan wajan. Hidung Kinan juga sudah dimanjakan dengan aroma wangi masakan. Kinan yakin, di dapur, tante Reni sedang sibuk menyiapkan camilan. Mama dari Andre dan Rafa itu memang sangat jarang di rumah. Meski demikian, Tante Reni selalu rajin membuatkan makanan ringan untuk dua anaknya. Sementara papanya yang sibuk sebagai karyawan swasta di sebuah perusahaan, selalu pulang tepat jam sepuluh malam. Terkadang, Kinan iri dengan kehidupan Rafa. Makan teratur, berkumpul dengan kedua orang tua, meski hanya saat weekend. Tapi, setidaknya tidak seburuk Kinan. Ayahnya yang gila kerja, dan ibu yang telah lama meninggal.
Sampai Kinan tersentak kaget ketika sebuah tepukan ringan mendarat di bahunya. Kinan masih terpaku di tempat.
"Ngapain masih berdiri di sini, sih? Ayo, masuk!" ucap Andre merangkul bahu Kinan.
Bagi Andre, Kinan itu sudah dianggap sebagai adiknya sendiri. Ya, meski, pun, sejujurnya Kinan ingin juga bersikap lebih lepas dan menganggap Andre seperti kakak kandungnya sendiri. Tapi, tetap saja, Kinan masih sangat sungkan akan hal tersebut. Keduanya berhenti di ruang keluarga. Andre meletakkan laptopnya di atas meja, sedangkan Kinan masih mematung di tempat.
"Raf, ada Kinan, tuh!" teriak Andre menggema.
Selang beberapa detik kemudian Rafa datang dari lantai atas. Ternyata ucapan Andre tentang adiknya yang menonton TV itu salah besar. Mungkin Rafa sibuk berkutat dengan gitar di kamarnya.
"Kok..., pada diem?" goda Andre menatap Rafa dan Kinan bergantian.
Kinan yang merasa sebagai tamu segera membuka suara ketika Rafa hanya diam menatapnya.
"Gue mau pinjam buku Fisika. Tugas gue belum kelar," ucap Kinan jujur.
Rafa masih diam. Menatap Kinan tanpa berkedip, sampai fokus pandangannya berhenti mengunci lutut Kinan yang terluka karena ulahnya tadi siang. Sementara Andre yang menyaksikan keduanya menautkan kedua alis heran. Andre menepuk bahu Kinan yang berada di sebelahnya pelan sambil tertawa lirih.
"Lo berdua itu, kayak anak kecil yang abis rebutan permen, tau, nggak?" kekeh Andre sambil berlalu menuju dapur.
Hening. Kinan benci suasana seperti ini, tatapan Rafa yang terkesan dingin. Sorot mata tajam yang seolah tidak suka dengan kehadiran Kinan. Toh, sejujurnya Kinan juga malas bertemu dengan Rafa jika tidak ada tugas dari guru super killer itu.
"Kalau lo udah selesai, gue mau bawa bukunya," kata Kinan kembali bersuara.
Rafa memutar tubuh dan kembali menaiki anak tangga satu persatu. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana pendek selutut yang ia kenakan. Sementara Kinan sempat melongo dengan sikap songong Rafa yang satu itu.
"Ikut gue!" ucapnya dengan nada sarat akan perintah.
Dengan jengah Kinan mengikuti Rafa dari belakang. Tanpa sadar pula Kinan meremas erat pulpen beserta buku di tangannya. Bibir Kinan sudah mengucapkan sumpah-serapah agar cowok tinggi di depannya itu menubruk pintu kamar. Atau kepalanya beradu kuat dengan tembok atau apalah itu. Yang penting Rafa mendapatkan sedikit penderitaan. Tapi, sayangnya Rafa tidak seceroboh itu.
***
Ketika sebuah luka kembali tergores di tempat yang sama. Tidak ada lagi air mata yang keluar untuk mewakili rasa sakit yang mendalam. Hanya kekecewaan dan perasaan yang telah terlalu lelah untuk mengungkapkan yang sesungguhnya. Bersama puing-puing benteng yang pernah dibangun setinggi mungkin dalam setiap hari. Namun, di hari itu juga benteng yang terlihat kokoh namun sangat rapuh itu hancur lebur, meluruh bersama luka yang menyiksa. Satu jam sudah Kinan berkutat dengan pulpen dan buku fisika. Mata Kinan menari ke kanan dan kiri, membaca setiap kata dan rumus-rumus rumit yang membuat matanya semakin terasa sakit. Kinan mengantuk, tapi tidak pernah bisa terlelap dengan waktu yang cukup. Satu lagi hal yang membuat Kinan ingin segera menyelesaikan tugasnya adalah, Kinan ingin cepat pulang atau lebih tepatnya, Kinan ingin cepat-cepat menjauh dari Rafa.
Sejak satu jam yang lalu Rafa hanya diam memperhatikan Kinan. Cowok jangkung itu mengaku bahwa tugasnya sudah selesai sejak dua hari yang lalu, tapi ketika Kinan berniat membawa pulang buku paket fisika tersebut, Rafa menahannya. Rafa ingin Kinan menyelesaikan PR tersebut bersamanya, tepatnya di balkon kamar Rafa! Berdua saja!
Selain suara cicak dan jangkrik malam itu tidak ada lagi yang menghiasi keheningan di antara kedua remaja itu. Rafa duduk tepat di hadapan Kinan. Melipat kedua lengannya di d**a sambil terus memperhatikan Kinan. Sementara Kinan sibuk menyalin tugas fisika yang membuatnya jengah. Berkali-kali ia mengeliat, saat punggungnya pegal atau jari tangannya sudah terasa lelah. Kinan menguap, dilirik Rafa yang masih bertahan dengan posisi serta fokus menatapnya.
"Gue lanjutin di Rumah, aja," ucap Kinan menutup buku catatannya lalu menyelipkan di antara halaman buku paket.
Tapi, tangan Rafa lebih cepat merebut buku di tangan Kinan. Dibuka kembali halaman yang belum terselesaikan itu dan mengembalikan buku ke tempat semula.
"Nggak bisa! Kerjain di sini, atau nggak sama sekali!" ucap Rafa.
Kinan merengut, seketika ia lemparkan tatapan leser pada Rafa yang masih enggan berekspresi.
"Gue ambil minum dulu. Jangan nekat loncat dari balkon!" bisik Rafa.
Cowok bertubuh tinggi itu berlalu dari hadapan Kinan. Meninggalkan gadis yang menatapnya dengan sarat akan kekesalan yang siap memberuncah.
"Iih, rese banget, sih jadi orang!" guman Kinan sebal.
***
Finally!
Kinan menutup buku catatannya. Ia selipkan pulpen abu-abu semata wayang di antara celah buku. Kinan menyandarkan punggungnya yang terasa pegal, pelan-pelan ia meluruskan kakinya yang terluka. Ia sempatkan menoleh ke belakang, berharap Rafa segera muncul lalu ia bisa segera berpamitan untuk pulang. Tapi, tidak ada. Lantas Kinan memutuskan untuk bersandar di dinding sejenak sambil menutup mata. Ngantuk tapi nggak bisa tidur!
"Aaa..., duh!" jerit Kinan tertahan ketika merasakan sesuatu yang hangat menyentuh pipinya.
Kinan menatap Rafa beserta mug putih yang masih mengepulkan asap di hadapannya. Cowok jangkung itu tersenyum samar masih setia dengan posisinya.
"Buruan, tangan gue pegel, nih!"
Dengan malas Kinan menerima mug putih gading yang ternyata berisi cokelat panas. Ditatap lagi Rafa yang sudah duduk tepat di sebelahnya sambil menyeruput minuman hangat tersebut. Ada rasa kesal karena ulah Rafa barusan. Ada rasa kagum, karena Kinan baru menyadari bahwa ia punya teman yang tampan dan super famous di sekolah. Ada rasa marah ketika mengingat kejadian lusa, kemarin, tadi siang dan sikap Rafa yang berubah-ubah. Ada juga rasa rindu.
Kinan rindu sikap bersahabat Rafa. Sikap hangat Rafa selalu membuatnya tenang. Jahilnya Rafa, bahkan tawa puas Rafa ketika sukses membuat Kinan naik darah. Perhatian Rafa yang dulu selalu membuatnya merasa nyaman mendadak hilang. Yang tertinggal hanya sorot mata dingin dan sikap datar yang sukses membuat Kinan bingung akan sikap cowok itu.
Setiap detik teringat akan perubahan sikap Rafa padanya, saat itu juga Kinan terus memutar otak untuk mencari letak kesalahannya. Sehingga Rafa bersikap demikian kepadanya yang mungkin, Kinan melakukan kesalahan fatal. Tapi, nihil! Kinan tidak mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya. Namun, pada kenyataannya Rafa masih sama. Rafa selalu tahu apa yang Kinan pikirkan bahkan sebelum ia mengatakan secara langsung pada Rafa.
"Maaf."
Tiba-tiba suara lirih Rafa memecah hening yang menyelimuti keduanya sedari tadi. Pandangan Kinan masih terpaku pada cowok di sebelahnya. Rafa berkata lirih tanpa menatapnya. Pandangan Rafa justru terarah lurus menerawang langit malam tanpa bintang. Hanya ada awan mendung yang menutupi separuh bulan sabit di angkasa.
"Untuk?" balas Kinan bertanya.
"Banyak hal."
"Lo bisa sebutin salah satu dari banyak hal itu."
Mendadak Rafa tersenyum samar. Pandangannya beralih pada gelas yang isinya tinggal setengah. Sementara Kinan memegang gelasnya erat-erat masih diam menunggu jawaban dari Rafa.
"Gue pengen. Tapi, nggak bisa," ujarnya.
"Kenapa?"
"Untuk banyak alasan. Gue nggak bisa jelasin."
"Lo...," ucap Kinan menggantungkan kalimatnya. Perlahan Kinan melipat sebelah kakinya yang sakit, lalu memutar tubuh hingga menghadap Rafa yang masih menunduk.
"Lo bikin gue bingung, Raf," Lanjutnya.
Saat itu juga Rafa mengangkat kepala demi menatap Kinan. Ia tersenyum kaku pada Kinan yang menatapnya bingung.
"Untuk hal itu juga, gue minta maaf," ucap Rafa menatap Kinan tenang.
"Gue nggak butuh kata maaf. Gue mau penjelasan dari lo. Itu, aja, nggak lebih."
"Gue nggak bisa."
"Kenapa?"
"Ya, karena gue nggak mau -"
"Kenapa Raf?!" desak Kinan memotong.
"Gue nggak bisa jelasin sekarang!"
"Kenapa? Emang apa bedanya sekarang sama nanti?" tandas Kinan.
Gadis berambut sebahu itu menatap Rafa lekat. Cowok tinggi itu membuang napasnya kasar. Sementara Kinan ingin menyelesaikan semuanya malam ini juga. Tanpa kesalah pahaman, tanpa kebingungan tentang sikap Rafa yang sangat menyebalkan.
"Kalo gue punya salah sama lo, ngomong! Gue minta maaf. Dan, lo nggak perlu bersikap aneh kayak gini."
"Bukan, Ki. Lo nggak salah."
"Ya, terus apa?" kejar Kinan. "Lo, tuh, beda Raf. Gue bahkan hampir nggak kenal lagi sama lo. Sikap lo, omongan lo, tatapan mata lo..., gue ...,"
Ucapan Kinan terhenti. Ia mendadak terdiam dan menundukkan kepala, menatap mug putih yang masih utuh isinya. Matanya memanas, Kinan mulai kehilangan kontrol atas dirinya sendiri. Dalam diam, Kinan menarik napas panjang lalu ia buang perlahan. Kembali ia menata amarahnya yang sempat memberuncah. Namun, tetap saja tangisnya tidak bisa disembunyikan.
"Gue bingung Raf," ucap Kinan selirih angin.
Rafa menatap Kinan sendu. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri. Ia menyukai Kinan, tetapi tidak pernah bisa menyuarakan isi hatinya. Rafa terlalu takut untuk patah hati, bahkan sebelum ia mencoba. Dengan lembut diusap rambut hitam Kinan pelan. Rafa tahu Kinan menangis, biar, pun, tidak ada suara atau pergerakan dari gadis itu. Sayangnya Rafa sudah terlalu hapal dengan kebiasaan Kinan itu. Menangis dalam diam.
"Maafin gue, Ki."
Mendadak Kinan mengangkat kepala demi menatap Rafa. Dalam kondisi hati yang tengah kalut dengan cowok di hadapannya ini, tapi Kinan tidak munafik. Sentuhan ringan dari Rafa menenangkannya. Rafa masih membawa efek yang sama, kenyamanan.
"Gue nggak butuh kata maaf, Raf," balas Kinan dengan suara bergetar.
Kinan meletakkan mug putih yang isinya masih utuh di lantai. Dengan cepat ia bergegas membawa buku catatan beserta buku paket fisika. Tepat saat Kinan sudah berdiri memeluk buku di dadanya, Rafa menyentuh bahu Kinan. Memutar tubuh Kinan hingga berhadapan dengan tubuh tinggi Rafa yang menjulang. Keduanya masih diam saling tatap. Sedetik kemudian Rafa maju selangkah mempersempit jarak yang ada.
"Gue janji akan jelasin semuanya. Tapi, nggak sekarang," ucap Rafa berbisik di telinga Kinan.
Kinan meremang ketika mendengar suara lirih Rafa. Gadis itu diam terpaku saat Rafa belum juga melepaskan kedua tangannya dari pundak Kinan, saat Rafa belum juga menegakkan tubuhnya. Justru cowok itu meletakkan kepala tepat di bahu kanan Kinan. Cukup lama, sampai pada detik berikutnya Rafa kembali tegak dan menatap manik hitam yang terlihat sendu di hadapannya.
“Tolong, kasih gue waktu sebentar.”
"Dan, sampai saat itu juga. Nggak usah deketin gue kalau lo belum punya jawaban," balas Kinan menatap Rafa lekat.
Setelah menyelesaikan ucapannya, saat itu juga setitik air mata lolos melintasi pipinya dan dengan cepat Kinan mengusap wajah dengan lengan sweater. Gadis itu berbalik, ia tarik napas dalam-dalam lalu dihembuskan perlahan. Sampai di rasa cukup Kinan mulai menyentuh knop pintu dan segera berpamitan untuk pulang.
Sebelum menuruni anak tangga, Kinan menepuk-nepuk pipi sambil mengetes suaranya agar tidak terdengar parau.
“A..., Aaa. Emm..., eem. Gue pamit, Kak,” ucap Kinan berdialog sendiri. “Oke!” gumamnya sambil menuruni anak tangga.
Dalam setiap langkahnya menuruni anak tangga, Kinan berdoa agar tidak ada satu, pun, orang yang melihatnya. Tapi, sepertinya doa Kinan tidak di ijabah. Karena Andre masih setia duduk di teras rumah membaca buku setebal kamus. Sementara Reni juga duduk di sana menemani anak sulungnya.
"Permisi Tan, Kak," ucap Kinan menunduk.
"Loh, Kinan? Kok, buru-buru? Makan dulu yuk! Tante sama Andre juga belum makan." Tawar wanita paruh baya tersebut.
"Makasih, Tan. Tapi, udah malem banget, Kian sendirian di rumah," jawab Kinan sopan.
"Ya, udah. Tapi, lain kali nggak boleh nolak ya?" ucap tante Reni lembut.
"Oke, sip, Tan," balas Kinan menyatukan ibu jari dan jari telunjuknya menyisakan tiga jari yang berdiri membentuk lambang OK.
"Aku pamit Tan, Kak Andre," sambung Kinan membungkuk sopan.
Reni mengangguk sambil tersenyum mengiringi langkah Kinan yang sudah memakai sandal.
"Gue anterin!" celetuk Andre yang turut memakai sandalnya.
Baru saja Kinan hendak menolaknya secara halus. Tangan kanan Andre sudah merangkul bahunya akrab.
"Nggak boleh nolak!" ujar Andre memperingati.
Kinan hanya tersenyum samar mengikuti langkah Andre yang mengantarkannya untuk pulang. Padahal rumah mereka bersebelahan. Mungkin sepuluh sampai dua puluh langkah Kinan sudah sampai di teras rumahnya. Secara balkon kamar Kinan dan Rafa saja berdekatan.
***
"Makasih banyak, ya, Kak? Aku masuk duluan," ucap Kinan tersenyum.
Andre menahan lengan Kinan yang hendak meraih knop pintu. Membuat si empunya menoleh menatap kakak dari temannya yang membingungkan itu dengan pandangan bertanya.
"Gue mau ngobrol sebentar sama lo. Bisa?" tanya Andre hati-hati.
Takutnya Kinan mengira yang tidak-tidak. Namun, Andre lega setengah mati ketika Kinan mengangguk. Gadis itu mempersilakan Andre untuk duduk di sebuah kursi anyaman yang berada di beranda.
"Ada apa Kak?"
Cukup lama jeda pertanyaan Kinan sampai kemudian Andre menjawabnya.
"Lo habis nangis, Ki?"
Kinan diam. Pandangannya beralih pada halaman rumah yang kosong.
"Nggak usah bohong. Mata lo bengkak gitu." kejar Andre yang masih belum mendapat jawaban dari Kinan.
"Diapain sama Rafa?" sambung Andre.
"Eng..., enggak. Cuma ngantuk, aja." jawab Kinan tidak sepenuhnya benar.
"Bohong, 'kan?" celetuk Andre tertawa pelan.
"Nggak apa-apa, deh, nggak mau cerita. Gue cuma khawatir, aja, sama adik perempuan gue," sambung Andre menatap Kinan lembut.
"Enggak bohong. Seriusan, aku nggak bisa tidur tiap malam Kak. Sekali bisa tidur cuma satu sampai dua jam doang. Jadi, begini deh..., kayak mata Kunti, hehe!"
Andre tersenyum mendengar jawaban Kinan. Selang beberapa menit Andre berdiri dan mengeliat sejenak.
"Ya, udah, masuk gih! Gue juga mau balik."
Kinan mengangguk patuh. Ia menatap sosok kakak yang tidak memiliki hubungan darah dengannya itu.
"Lo itu nggak sendiri. Ada gue, Nyokap, Bokap. Kalau ada apa-apa jangan sungkan, Ki. Kita keluarga," kata Andre menasehati. Diacaknya rambut Kinan dengan sayang.
"Masuk sana!" titahnya.
"Makasih banyak, Kak." ucap Kinan kemudian masuk ke dalam rumah.
Sampai Andre benar-benar memastikan Kinan mengunci pintu dan mematikan lampu ruangan utama, cowok berpostur tinggi itu baru melangkah meninggalkan halaman rumah Kinan.