Sepuluh

1665 Words
"Dan sampai saat itu juga. Jangan deketin gue kalau lo belum punya jawaban." Satu kalimat dari Kinan kembali terputar dalam benak Rafa. Malam itu sepulangnya Kinan, Rafa duduk memangku gitar. Benda yang selalu menjadi tempat curahan hatinya. Duduk di balkon kamar menatap langit malam yang gelap, Rafa turut memejamkan mata sejenak. Kemudian ia membuang napas kasar dan memetik senar gitar tak beraturan. Cowok itu menoleh ke kanan, di mana kamar Kinan berada. Tapi, gadis yang baru saja ia buat menangis itu tidak terlihat di balkon seperti biasanya. Padahal lampu kamar Kinan sudah padam. Tapi, Rafa yakin bahwa Kinan belum tidur. “Lo, ganteng, deh, Raf,” celetuk Andre yang nggak tahu sejak kapan sudah berada di dalam kamar Rafa, sembari memperhatikan beberapa foto adiknya yang terpajang di sana. “Dari lahir,” balas Rafa annoying. “Tapi, b**o!” sambung Andre kemudian disusul kekehan menyebalkan. Rafa mendelik pada Andre yang masih berdiri di sekitarnya, lalu melemparkan sebuah bantal berbentuk bola ke arah Andre. "Jangan mentang-mentang gratis, b**o-nya lo embat sendiri!" ucap Andre yang tiba-tiba sudah duduk disisinya. “Waktu pembagian oak, lo lari kemana, sih?” Rafa menatap kakak lelakinya itu dengan alis berkerut. Sedangkan yang ditatap sama sekali tidak menoleh atau berniat melanjutkan lebih dulu kalimatnya barusan. Kini Andre meneguk minuman cokelat yang sudah dingin yang entah milik siapa. "Lo suka, kan, sama Kinan?" Skakmat! Rafa terkejut sampai batuk karena tersedak salivanya sendiri. Tangan yang tadi asik memainkan senar gitar mendadak kaku. Diliriknya lagi Andre yang tersenyum penuh arti tanpa menatapnya sedikit, pun. Dari mana Andre tahu tentang perasaannya, bahkan Rafa sama sekali nggak pernah menceritakan hal tersebut pada siapa, pun. Atau, jangan-jangan Andre mempunyai sixth sense? "Lo pasti bingung, gue tau dari mana dan siapa," ucapnya lagi. "Iyalah. Secara gue nggak pernah cerita ke siapa, pun!" bisik Rafa dalam hati. "Enggak, lo kan emang orangnya suka ngaco kalau ngomong," balas Rafa berusaha menutupi. Untuk sesaat kamar Rafa yang tadinya sepi senyap itu terdengar riuh karena tawa Andre yang meledak. Sampai Reni yang tadinya menonton TV mendadak membuka pintu kamar anak bungsunya. "Gila lo, Bang!" sentak Rafa melotot ke arah Andre. “Minggat, sana! Ngapain, sih, masih di sini?!” Rafa mengusir Andre sambil menjauhi kakaknya tersebut. Sementara Rafa mulai merebahkan tubuh di atas kasur meraih sebuah bantal dan melemparkannya pada kakaknya. Andre dengan sigap menerima lemparan bantal dari adiknya tersebut. Dengan santai Andre menggunakan bantal tersebut sebaik mungkin untuk rebahan di atas karpet bergambar lambang tim sepak bola real madrid. "Kalau suka itu ngomong, Raf. Bukan malah bertingkah aneh kayak gitu!" ucap Andre kembali bersuara. "Ck! Ngomong apaan, sih, lo Bang? Siapa juga yang suka sama Kinan!" "Lo bisa bohongin orang lain, tapi bukan gue, Kuya!" balas Andre terkekeh menang. Rafa yang sudah kesal setengah mati melemparkan lagi guling ke arah kakaknya dengan geram. "Gue nggak suka sama Kinan," kata Rafa datar. "Lagian lo ngapain, sih, di sini. Keluar sana!" usir Rafa marah. Andre yang sudah puas untuk menggoda adiknya tersebut mulai mendekati Rafa. Kembali melemparkan bantal beserta guling yang tadi ia terima dari Rafa. Tapi, alih-alih segera pergi dari kamar Rafa, Andre justru memilih duduk bersebelahan dengan Rafa yang sudah memasang wajah murkanya. "Nggak selamanya jadi pengagum rahasia itu menyenangkan. Karena lo mesti siap buat sakit hati ketika orang yang lo kagumi deket sama orang lain," ucap Andre menepuk bahu Rafa. "Intinya, jangan sampai kalah langkah! Gue, liat-liat cowok yang nganterin Kinan kemarin lebih keren dari pada lo," bisik Andre lalu beranjak dari kasur Rafa. Sementara Rafa yang baru saja mendengar ucapan kakaknya terdiam. Menatap Andre yang tersenyum dan menghilang di balik pintu. Pikirannya sibuk mencerna kalimat yang diucapkan Andre. Meskipun, Andre sering sekali membuatnya kesal, tapi Andre selalu bisa menempatkan diri untuk menjadi seorang kakak dan teman yang baik untuk Rafa. *** Kinan menatap layar ponsel yang sejak tadi menyala. Menampilkan sebuah panggilan yang membuat Kinan merasa tidak karuan. Lantas ia tekan tombol hijau untuk menjawab sebuah panggilan masuk dari seberang sana. Sebuah nama julukan yang lama tidak pernah Kinan suarakan lagi. Sebuah julukan yang Kinan rindukan, namun menciptakan rasa sakit yang mendalam. Ayah! "Ayah sudah transfer uang untuk bulan ini. Jaga Adikmu baik-baik. Ayah pasti pulang secepatnya." Tut.... Kinan baru saja akan bersuara, namun saat itu juga sambungan telepon terputus secara sepihak. "Yah?" bisik Kinan pada ponselnya yang sudah mati. Mendadak ponsel di tangan Kinan terjatuh. Detik itu juga Kinan tersedu menutup mulut dengan kedua telapak tangan. Tangisnya pecah tertahan di dalam keheningan malam. Antara bahagia dan terluka. Kinan bersyukur bahwa suara ayah barusan terdengar jelas, bahwa berarti ayah masih benar-benar ada meski Kinan tidak bisa melihatnya. Namun, ucapan singkat barusan nyatanya juga melukai dalam waktu yang bersamaan. Setelah sekian lama tidak saling bertemu bahkan saling mendengarkan kabar. Apakah hanya itu yang terpenting bagi ayah? Lalu bagaimana dengan keadaan Kinan dan Kian? Tidak, kah, hal itu lebih penting buat ayah? Di dalam kamar yang gelap. Raga yang rapuh itu kehilangan pegangannya, kehilangan seluruh kekuatannya saat sang gelap datang. Kinan berdiri, dengan gerakan tertatih ia sambar sebuah buku bersampul abu-abu beserta pulpen yang selalu terselip di dalamnya. Ia tahan seluruh tangis sejenak lalu melangkah keluar menuju balkon kamar. Hanya dalam hitungan detik, tubuh Kinan meluruh di lantai. Ia remas buku di tangan kuat-kuat. Ia pejamkan mata erat-erat, berharap mendapatkan sedikit lagi kekuatan dari lukanya yang kembali menganga. Ada titik lelah dalam setiap hidup manusia. Misalnya penantian. Kadang menunggu bagi sebagian orang bukanlah sebuah perkara. Namun, untuk seseorang yang terlalu sering dihadapkan dengan perpisahan. Menunggu adalah hal yang sangat melelahkan. Sedetik itu bagai satu hari. Semenit itu bagai satu minggu. Satu jam itu bagai satu bulan. Satu hari itu, terasa seperti waktu yang amat panjang tak berujung. Bagiku, perasaan takut ditinggalkan bukan sesuatu yang muncul dengan sendirinya. Mereka timbul karena terbiasa dan selalu berulang. Sebab itu aku membenci sebuah penantian. Kinanti Azraina. Tertutuplah buku bersampul abu-abu tersebut, ia peluk dengan erat sebuah buku yang menjadi teman terbaiknya. Mata Kinan terus berair tanpa bisa dihentikan meski tidak lagi ada isak yang mengiringi tangisnya dalam diam. Malam itu angin berhembus pelan, bersama dengan tangis dari angkasa yang sejak siang tadi tertahan di awan. Malam itu tumpahlah air mata langit yang telah terbendung entah sejak kapan. Seolah mengerti keadaan hati Kinan yang penuh dengan awan kelabu, langit menjadi saksi bisu. Bahwa malam itu, ada luka baru di atas luka lama yang tidak terobati. Bahkan sang langit yang terlihat bersinar di siang hari, memilih untuk menumpahkan tangisnya pada sang gulita. Karena seringkali kegelapan membuat semua kebaikan terlihat seperti sebuah lentera kecil. Tapi, tidak jarang, sebuah kegelapan membuka semua topeng dari sejuta sandiwara. Kinan sesenggukan. Ia mengusap d**a yang terasa sesak. “Nggak apa-apa, Kinan. Lo kuat, lo pasti baik-baik, aja.” *** Sebanyak apa, pun, kekuatan itu hadir, hanya dalam sekejap pula segalanya musnah lewat setiap tetes air mata. Ketika luka lama yang tidak pernah terobati kembali tersentuh. Maka tak ayal si pemilik luka ingin memberontak sekuat mungkin. Meneriakkan kepada semua orang bahwa jiwanya tidak tertolong lagi. Bahwa hatinya telah lelah untuk bertahan sendiri. Terlebih dari segala rasa sakit yang menyiksa dalam setiap detik. Tidak ada lagi air mata yang tumpah. Tidak ada lagi isak tangis yang menyayat. Karena saat itu yang tersisa hanya serpihan hati yang remuk setelah dihantam gada. Setelah itu hanya ada jiwa yang mati di dalam tanpa ada yang tau. Ada sepercik dendam yang tumbuh, namun entah tertuju pada siapa. Sebuah kerapuhan yang menciptakan dendam. Sebuah kerapuhan yang menuntut akan kepedulian. Sebuah kerapuhan yang menyisakan pedih mendalam. Sebuah kerapuhan yang akhirnya menjadikannya tidak berdaya. Tetap saja, di sisi lain kepekaan dalam dirinya berteriak keras. Ada tanggung jawab yang harus ia jaga. Ada ego yang harus ia kendalikan. Ada sebuah benteng yang harus selalu ia jaga untuk tetap berdiri tegar. Sendirian, meski badai datang. Lalu membaur bersama sunyi dan kegelapan. Kinan menatap cowok yang duduk di atas sekuter berwarna biru muda tepat di halaman rumahnya. Cowok yang membuat pikirannya ikut bercabang kesegala arah. Cowok yang saat itu juga menatapnya tepat dalam manik mata. Kinan mengalah. Langkahnya perlahan melewati Rafa yang diam membeku dengan tatapan yang tidak pernah bisa dimengerti oleh Kinan. Kinan sangat yakin hari ini ia akan telat. Maka gadis itu pasrah, jika ia harus mendapatkan hukuman. Apalagi, sepedanya juga belum kembali dari bengkel Raka. Mendadak Kinan menghentikan langkahnya saat motor vespa milik Rafa berhenti memotong jalan di depannya. "Bareng gue!" ucap Rafa menyodorkan helm berwarna biru muda. Kinan menatap helm yang berada di hadapannya, lalu bergantian menatap si pemilik helm tersebut dengan lekat. Ia menghela napas berat yang sama sekali tidak mengurangi rasa sesak yang mengisi relung dadanya. "Jadi, apa alasan lo?" tanya Kinan tanpa menerima helm yang disodorkan Rafa. Cowok itu termangu. Matanya yang tadi menatap Kinan penuh harap agar gadis itu menerima tawarannya untuk berangkat bersama, kini meredup. Rafa menatap Kinan putus asa. "Nggak sekarang. Tapi, gue—" "Oke. Gue sabar nunggu kok," balas Kinan memotong ucapan Rafa. Kembali melangkah meninggalkan Rafa. Kinan berjalan tertunduk. Rambut sebahunya terurai lurus, menyembunyikan wajah yang sudah seperti mayat hidup. Sedikit polesan bedak dan liptint membuat Kinan terlihat seperti manusia bukan zombie. "Lo nggak lihat, sekarang udah jam berapa? Lo, pasti kena hukum, Kinan!" ucap Rafa membuntuti Kinan dengan motornya. "Peduli amat." "Kali ini, aja. Setelah itu gue nggak akan maksa lo lagi." Kinan tidak menanggapi. Langkahnya lebar menuju pangkalan ojek yang sudah berada di depan mata. Dan hanya dalam hitungan detik Kinan sudah sampai di sana. Kinan menepuk bahu mas Benjo tukang ojek langganannya yang duduk di atas motor supra sambil merokok. "Anterin gue Mas!" ucap Kinan. "Siap!" sahut mas Benjo lalu menjentikkan rokoknya ke selokan. Setelah memakai helm pemberian mas Benjo, motor supra hitam itu melesat meninggalkan pangkalan yang sepi dan juga Rafa yang masih diam untuk memahami dirinya sendiri. "Lo bener Bang. Gue emang b**o. b**o banget malah," bisik Rafa dalam hati. Kepada pencipta rasa. Aku menjadi bodoh ketika menatapmu. Menjadi d***u saat di dekatmu. Karena setiap detik degup jantungku. Semua organ dalam tubuh ini seolah lumpuh saat matamu menatapku. Aku .... Yang mencintaimu, namun tak bisa menyuarakan kepadamu. -Andrega Dyo Rafardhan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD