Satu lemparan lagi meleset jauh dari ring basket. Rafa meraih bola oranye yang sejak tadi menjadi tempat pelampiasan kemarahan yang tidak dimengerti oleh dirinya sendiri. Ini adalah hari ke lima setelah malam itu di balkon kamar Rafa. Setelah Kinan menangis. Dan setelah Kinan meninggalkannya di pangkalan ojek. Padahal bel pulang sudah berbunyi sejak lima belas menit yang lalu. Tapi, sekolah belum benar-benar kosong. Masih ada beberapa siswa yang berkeliaran di koridor sekolah. Terutama anak basket dan pengurus Osis. Ada juga beberapa guru yang masih berada di ruang guru.
Namun, dari sekian banyaknya manusia yang berada di SMA Angkasa hanya satu yang menarik perhatian Rafa. Dia Kinan. Dengan langkah lebar Rafa menghampiri Kinan yang sedang berbincang dengan Putri dan Dea di dekat pintu gerbang. Tapi, Kinan terlalu cepat menyadari bahwa Rafa tengah mendekat ke arahnya. Buru-buru gadis itu menepuk lengan kedua temannya bermaksud untuk pamit dan segera berlalu meninggalkan gerbang sekolah.
Saat itu juga Rafa berhenti melangkah. Karena Rafa tahu memanggil Kinan juga tidak akan berguna dalam situasi yang seperti ini. Detik itu juga Rafa kembali karena takut ombak sebelum berlayar, Rafa tidak pernah mengatakan apa yang ia rasakan. Bahkan entah sadar atau tidak sikapnya benar-benar melukai dua hati sekaligus. Hatinya sendiri, dan sebuah hati yang selalu ingin ia lindungi, namun belum sanggup ia raih. Hati milik Kinan.
Matanya masih terpaku pada punggung Kinan yang semakin menjauh. Ada kerinduan akan marahnya Kinan ketika Rafa menjahilinya. Ada rasa rindu ketika Kinan tidak ikut berteriak di pinggir lapangan basket untuk menyemangati dirinya. Ada juga rasa rindu ketika Kinan tidak lagi melemparkan sebotol air mineral ketika pertandingan basket usai. Dan Rafa tau, bahwa dengan diam semuanya tidak akan pernah berakhir.
"Gue janji nggak akan lama lagi, Ki," bisik Rafa pada dirinya sendiri.
Meninggalkan Rafa yang masih melampiaskan kebimbangannya pada bola basket. Kinan sudah berjalan jauh meninggalkan sekolah. Langkah kaki Kinan cepat menuju bengkel Raka untuk melihat kondisi sepedanya yang belum juga mendapatkan kabar. Hari ini banyak yang akan Kinan lakukan, salah satunya ia harus pergi ke ATM untuk mengambil uang bulanan. Karena memang semua stok bahan makanan di rumah juga sudah sangat tipis. Lingkaran hitam yang menghiasi matanya sudah dipoles dengan bedak tabur hingga tidak terlihat lagi. Namun, tetap saja kesan sayu di mata Kinan tidak terelakkan.
Kinan menutup mulutnya yang menguap lebar dengan kedua telapak tangan. Matanya berair, ia ngantuk. Bahkan sangat mengantuk, tapi tidak pernah bisa terlelap dengan nyaman. Sampai gadis itu mengulas senyum kecil ketika kakinya berhenti melangkah tepat di depan bengkel Rafa. Ditatap Raka dari belakang yang tidak menyadari kehadirannya. Cowok itu sibuk mengotak-atik mesin mobil sedan berwarna hitam. Seketika ide jahil melintas di kepala Kinan, gadis itu berjalan pelan tanpa suara. Perlahan dan semakin mendekati Raka dari belakang. Ketika langkahnya sudah semakin dekat, Kinan mulai mengambil ancang-ancang untuk mengageti Raka. Dan...,
"Gue, tau, itu lo Kinan," ucap Raka tanpa membalikkan tubuh atau sekedar melirik Kinan.
Kontan Kinan menganga. Kedua tangannya yang sudah siap menyentuh pundak Raka ia turunkan dengan kesal.
"Kok, lo tau, sih? Nggak asik, ah! Gue udah mindik-mindik kayak gitu juga," ucap Kinan merengut.
Langkah Kinan kembali normal dan ikut mendekati kap mobil. Ia berdiri tepat di sebelah kanan Raka. Lantas cowok yang memakai jumpsuit berwarna biru dongker, sebagai seragam bengkelnya itu memutar tubuh hingga berhadapan dengan Kinan. Tangan kiri Raka bertumpu menyentuh bibir kap mobil dan tangan kanannya yang memegang kunci inggris sudah terangkat tepat di hadapan Kinan.
"Insting!" jawabnya sembari mengangkat sebelah alisnya lalu terkekeh.
Kinan tertawa mendengus. Membuntuti Raka yang sudah duduk di kursi plastik dan ikut duduk disebelah Raka. Cowok asal Bandung itu mengibaskan topi yang selalu menjadi ciri khasnya sebagai kipas.
"Pasti mau nanyain sepeda?" terka Raka yakin.
"Iya, lah, mau ngapain lagi coba?"
"Barangkali lo mau nengokin gue sambil bawa makan siang, terus bilang. Mas Raka makan bareng, yuk!" ucap Raka yang dihadiahi sebuah pukulan ringan tepat di lengannya oleh Kinan.
“Ngaco, deh!” balas Kinan tertawa kecil. "Jadi?" ucap Kinan lagi.
"Apa?"
"Sepeda gue, lah," tanya Kinan gemas.
"Setirnya udah oke. Tapi, kerangka roda depannya bengkok dan harus diganti, paling besok beres," jelas Raka.
Kinan menganggukkan kepalanya mengerti.
"Kalau hari ini nggak bisa?" tanya Kinan.
"Bisa, sih. Tapi, gue harus ngerampungin sedan hitam itu dulu. Soalnya mau diambil nanti sore," katanya.
Kinan menunduk diam. Lalu ditatapnya lagi sepeda putih yang berada di antara jejeran kendaraan lain.
"Padahal gue butuh banget sepedanya."
"Lo, mau pergi?" tanya Raka yang diangguki oleh Kinan.
"Gue anterin, ya?" tawarnya.
"Enggak, deh. Makasih."
Raka mengangguk mengerti. Dua insan itu sama-sama diam. Kinan masih memperhatikan sepedanya yang malang.
"Kalau naik motor bisa?" kejar Raka lagi. Yang kemudian diangguki oleh Kinan.
"Yaudah naik motor gue, aja. Bisa, 'kan?"
"Motor gede yang warna hitam itu?" tanya Kinan cepat.
Raka mengangguk membenarkan pertanyaan Kinan. Matanya menatap ekspresi kaget di wajah Kinan lantas membuat bibir Raka berkedut menahan tawa.
"Gila lo, Mas! Yang ada motor lo lecet sebelum gue bawa," seru Kinan heboh sendiri.
"Ya makannya gue anterin, aja. Karena gue juga mikir gitu. Bukan apa-apa, sayang motornya, Ki."
Kinan terkekeh mendengar jawaban Raka yang terlalu jujur. Walaupun Kinan sangat hapal bahwa itu semua hanya candaan dan memang benar adanya. Tapi, menurut Kinan, Raka memang lucu. Entah kenapa, Kinan selalu merasa santai saat berbicara dengan Raka tanpa harus tarik urat. Seringkali Raka juga terlalu memaksanya, tapi setidaknya Raka tidak seperti Rafa yang membuat Kinan selalu ingin naik darah.
"Jadi mau berangkat jam berapa?" tanya Raka lagi setelah tawa Kinan mereda.
"Gue naik ojek, aja."
"Kan, gue pernah bilang, anggap gue ini tukang ojek. Apa bedanya coba?" ucap Raka membuat Kinan diam tidak tau harus menjawab apa.
"Ya, bedanya gue emang terlalu ganteng, sih, untuk ukuran seorang tukang ojek," sambung Raka terkekeh kecil.
Kinan menatap Raka dengan kening berkerut. Kinan sudah tertawa cekikikan mendengar kalimat dari bibir Raka.
"Apaan, sih? Gabut, deh!" kekehnya.
Sedangkan Raka yang ikut hanyut dalam candaan sederhana yang berhasil membuat Kinan tertawa itu merasa senang di dalam hati. Walau tidak bisa mendengar keluhan dari gadis yang entah sejak kapan berhasil membuat jantungnya berdebar nggak karuan. Setidaknya Raka bisa membuat Kinan tertawa dan melupakan sejenak masalah yang membuat mata indah itu selalu terlihat kuyu.
"Jadi, mau berangkat jam berapa?" kata Raka mengulang. "Plis, jangan nolak Ki. Itu motor, gue belinya pakek duit halal kok, bukan motor boleh nyolong," ucapnya memohon.
"Nggak, deh, Makasih banyak. Gue bisa sendiri, kok,” balas Kinan. “Lagian, gue juga udah sering banget ngerepotin, elo, Mas.”
"Justru dengan lo nolak buat gue anterin. Lo semakin bikin gue repot."
Raka yang baru saja meneguk air putih menatap Kinan yang ternyata juga menatap dirinya bingung.
"Repot buat nyari alasan lagi. Jadi, mau aja, ya?"
Setelah lama diam Kinan hanya tersenyum tanpa arti. Membuat Raka ikut menghela napas.
***
Kinan menatap cowok tinggi yang berdiri menghadangnya tepat di depan pintu rumahnya sendiri. Ada rasa kesal dan marah saat menatap cowok yang juga menatapnya dengan santai, tanpa rasa berdosa. Ada juga rasa rindu saat Kinan mengingat, ini adalah kali pertamanya ia bertengkar dalam purun waktu selama lima hari dengan Rafa. Lima menit yang lalu Kinan memasuki pekarangan rumahnya dengan menguap lebar. Kinan ingin segera masuk ke rumah, mengganti pakaian dan merebahkan diri di dalam kamar.
Syukur-syukur kalau bisa tidur nyenyak. Tapi, ternyata Rafa sudah berdiri menjulang bersandar pada pintu rumahnya.
"Mau sampai kapan, lo berdiri disini? Pulang sana!"
"Lo juga mau sampai kapan kayak gini sama gue?”
“Sampai lo jelasin semuanya!” ucap Kinan menakankan setiap kalimat yang dia ucapkan. “Cepeten minggir!”
Rafa masih kekuh berdiri menghadang Kinan. Cowok itu bahkan semakin melebarkan kakinya untuk menutup seluruh akses yang mungkin saja bisa ditembus oleh Kinan. Kedua mata hitam itu saling beradu pandang. Diam dan menusuk.
Kinan menatap lekat manik mata hitam di hadapannya, sama halnya dengan Rafa yang melakukan hal serupa. Cowok itu nelangsa di dalam hati ketika menatap mata Kinan. Sayu dan sarat akan kepedihan. Rafa tahu, Kinan selalu memiliki masalah dalam hal tidur dan makan. Itulah sebabnya mengapa badan Kinan tidak terlalu berisi, ya meskipun tidak begitu kurus juga. Rafa benar-benar melukai dua kali hati yang telah remuk karena masalahnya sendiri.
"Minggir Raf!" ucap Kinan datar.
Kini kedua tangan Kinan sudah terkepal di sisi tubuhnya. Wajahnya bengis siap menerjang Rafa yang masih keras kepala menghalangi pintu masuk satu-satunya.
"Gue bilang minggir!" teriak Kinan.
Gadis itu mulai mendorong lengan Rafa sekuat tenaga, tapi tidak berhasil. Belum menyerah ditariknya tangan kiri Rafa dan berusaha menyeret lelaki itu agar menjauh dari pintu masuk, namun tidak juga berhasil. Bahkan Rafa tidak bergerak satu senti, pun, dari tempatnya terpaku.
"Lo kenapa, sih, Raf?" teriak Kinan kali ini lebih kencang. "Gue capek, ya, ngadepin sikap lo yang labil kayak gini. Childish banget, sih?!"
"Emang gue ngapain? Mau masuk? Yaudah, sih, masuk, aja sana!" balas Rafa tengil.
“Makannya, buruan minggir!
"Males."
Kesabarannya sudah habis detik itu juga. Emosinya yang sejak tadi ia tahan meluap detik itu juga. Ditendangnya kaki panjang Rafa tepat di bagian tulang kering. Membuat cowok itu meringis, namun tidak juga bergerak dari sana.
"b******k!" umpat Kinan gemas.
Dan dengan segala keberanian yang Kinan miliki, gadis itu membuang segala ke-tidak tegaannya untuk mengambil tindakkan selanjutnya. Dengan keras Kinan menendang s**********n Rafa. Yang sudah pasti sukses membuat cowok tinggi itu jatuh bersimpuh mengerang kesakitan.
"Lo yang maksa gue buat ngelakuin itu," ucap Kinan mengakhiri dengan nada kejam, namun jelas ekspresi wajahnya sangat tidak tega.
Kinan mulai melangkah meninggalkan Rafa yang masih bersimpuh di lantai. Bahkan sesekali cowok itu menempelkan kepalanya di lantai sambil meringis kesakitan.
"Lo orang pertama yang bakal gue cari kalau ini nggak berfungsi lagi nanti."
Kinan acuh. Ditinggalkan Rafa masuk ke dalam rumah dan segera mengunci pintu dengan cepat. Namun, siapa sangka bahwa Kinan masih berdiri di balik jendela yang tertutup tirai berwarna cream demi menyaksikan Rafa. Jujur saja, Kinan sebetulnya juga ketar-ketir melihat ekspresi kesakitan Rafa yang sampai bersimpuh di lantai. Apalagi mendengar ucapan Rafa barusan.
"Nggak berfungsi?" tanya Kinan dalam hati.
"Masa sefatal itu, sih? Perasaan gue nendangnya nggak kenceng-kenceng banget kok," sambungnya sendiri bergumam.
"Sorry, Raf!"
Mata Kinan membola sempurna ketika dilihatnya Rafa yang tadi masih bergerak-gerak kesakitan, kini diam terkulai di teras rumahnya. Dengan gerakan secepat kilat Kinan membuka kunci pintu dan segera menghampiri Rafa.
"Woi, Raf!" ucap Kinan berusaha tenang.
Kinan menendang pelan kaki Rafa berharap lelaki itu membuka mata. Tapi, kerutan ketakutan di dahi Kinan semakin jelas saat Rafa tidak juga bergerak. Pikiran Kinan mulai dipenuhi dengan hal-hal buruk yang sempat ia takutkan tadi.
“Kelemahan cowok itu tepat di 'anunya' jadi kalau ada cowok yang macam-macam lo serang mereka di sana. Tapi, jangan keterlaluan, soalnya bisa menyebabkan kematian," ujar Dea lalu menyedot es jeruknya.
Kinan menggeleng kuat mengingat ucapan Dea tiga hari yang lalu. Tepatnya saat dirinya, Putri dan Dea sedang membahas tindak kriminal pelecehan s*****l yang saat ini memang sedang marak terjadi. Dan, Dea yang mengikuti kelas karate itu memberitahukan cara melindungi diri dan juga menyerang ketika sewaktu-waktu mereka dalam bahaya.
Sekali lagi Kinan menggeleng kuat. Gadis itu menepuk-nepuk pipi Rafa dengan kencang. Kinan memang sedang dalam mode marah pada Rafa. Tapi, Kinan juga tidak mau Rafa sampai mengalami hal buruk semacam itu.
“Heh! Bercanda lo nggak lucu, ya Raf!” ucap Kinan masih menatap Rafa ketakutan.
"Rafa, bangun dong! Gue bener-bener minta maaf kalau tadi kekencengan." ucap Kinan dengan suara bergetar.
Kedua tangannya masih menepuk pipi Rafa dengan kencang. Berharap lelaki itu terbangun karena kesakitan. Tapi, Kinan tidak juga melihat adanya tanda-tanda Rafa akan terbangun. Rafa masih terpejam dengan tubuh terbaring di lantai. Rasa takut dan bersalah kini Kinan rasakan. Ia takut jika Rafa benar-benar mati. Bahkan detik itu juga Kinan menangis, kepalanya tertunduk dalam hampir menyentuh d**a Rafa. Kedua tangannya yang berada di bahu lelaki itu masih mengguncang pelan berusaha membangunkan Rafa.
“Bangun, b**o! Makannya jadi orang jangan nyebelin! Gue nggak bermaksud kayak gini.”
Sampai Kinan merasakan sentuhan di kedua pipinya dengan lembut. Kinan buru-buru tersadar, gadis itu mengadahkan kepalanya demi menatap wajah Rafa. Dan benar saja, cowok yang terbaring di lantai itu sudah membuka matanya sambil tersenyum kecil. Lantas Kinan tahu bahwa Rafa sengaja mengerjainya. Dengan segala macam rasa yang bergejolak di d**a dan bercampur menjadi satu, Kinan menatap marah kedua bola mata hitam milik Rafa. Air mata semakin memberuncah ketika tahu betapa bodoh dirinya sendiri sehingga dengan mudah Rafa membuatnya menangis bombay seperti sekarang ini.
"Jangan nangis, Ki. Gue, ngak suka lihat lo kayak gini." ucap Rafa menghapus aliran air mata di pipi Kinan lembut.
Kinan nyaris berdiri, namun Rafa terlanjur menarik kepalanya hingga membentur d**a bidang Rafa. Kinan meronta, sekuat tenaga tangannya berusaha melepaskan lengan Rafa yang menguncinya dengan erat, namun masih saja gagal.
"Gue tau, gue emang brengsek." ucap Rafa lirih. “Tapi, gue peduli sama, lo, Kinan.”
Rafa diam, untuk sesaat ia berpikir yang membuat Kinan juga ikut diam dalam dekapannya. Sedetik kemudian Rafa melepaskan dekapannya pada Kinan. Dengan segera ia cekal tangan kanan Kinan untuk memastikan bahwa gadis keras kepala itu tidak akan kabur. Tangan kanan Rafa masih erat memegangi lengan kanan Kinan. Kini cowok itu mulai menegakkan tubuhnya dan duduk saling berhadapan. Tak ayal kedua pasang mata yang sama-sama hitam pekat itu saling menelisik ke dalam mencari makna dari semua peristiwa yang sempat membingungkan hati dan perasaannya. Kerap kali keduanya saling bersipandang untuk mencari arti dari diamnya. Seolah saling mengatakan apa yang mereka rasakan lewat tatapan mata, namun sayangnya keduanya sama-sama tidak berhasil mencari makna satu sama lain.
"Dengerin. Jangan potong!" ucap Rafa lagi.
Rafa menghirup napas dalam-dalam. Lalu matanya mengunci Kinan dalam fokus pandangan. Seolah seluruh objek di sana hanyalah sebuah pelataran kosong. Kinan, pun, patuh. Sebelum Rafa berubah menjadi seseorang yang menyebalkan lagi, sesegera mungkin ia harus mendengarkan Rafa yang kali ini mulai berbicara serius dengannya.
"Gue nggak suka liat lo nangis, tapi gue juga nggak akan ngelarang lo buat nangis," Rafa berucap tanpa mengalihkan pandangannya dari mata Kinan.
"Gue tau, ada beberapa hal yang memang cuma bisa diungkapkan lewat air mata, Kinan. tapi, lo bukan Tuhan. Lo manusia biasa yang berhak nunjukkin rasa sakit yang lo simpen,"
Kinan masih menyimak ucapan Rafa dalam diam.
“Gue nggak tau kenapa, tapi gue nggak pernah suka ngelihat lo selalu berpura-pura untuk kuat di depan orang lain. Itu mengganggu, karena...,"
Mata Kinan memicing menatap Rafa.
“Pura-pura?”
Lengannya berusaha melepaskan diri dari genggaman tangan Rafa meski dengan gerakan yang tidak kentara. Tapi, Rafa juga semakin mengeratkan genggaman tangannya pada lengan Kinan.
"Gue nggak pernah pengen kelihatan kuat di depan orang lain!" potong Kinan pelan membuat Rafa terhenti dan tidak melanjutkan ucapannya.
"Gue belum selesai!"
"Gue cuma pengen kuat buat diri gue sendiri. Karena gue nggak mau mereka kasihan sama hidup gue, karena nggak ada lagi seorang, pun, yang bisa bikin gue merasa lebih baik dalam keadaan apa, pun," ucap Kinan sendu.
“Gue bisa!” potong Rafa cepat.
Kinan diam, menatap Rafa lekat dengan jarak minimalis yang tak sengaja mereka ciptakan.
"Lo, tau hal itu Raf! Udah sejak lama gue kehilangan alasan gue untuk kuat. Lo tau itu. Tapi, ternyata..., lo sama seperti mereka semua."
"Lo nggak tau apa, pun, tentang Gue."
Pandangan Rafa melembut. Ia tatap Kinan nelangsa, sedangkan kini mata Kinan nyalang. Agar Rafa mengerti betapa Kinan sangat kecewa padanya.
Kinan benar, Rafa tidak pernah tau apa yang Kinan rasakan. Termasuk apa yang Kinan lakukan beserta alasannya. Rafa terlalu egois untuk mengambil sebuah kesimpulan tanpa mengerti apa, pun. Dan Rafa menyadari bahwa ia sama saja dengan semua orang yang menatap Kinan dengan cap gadis munafik. Tapi, itu semua hanya beberapa isu buruk yang menjadi pendamping dari fakta yang sesungguhnya.
Rafa bersikap demikian, karena sejujurnya Rafa ingin Kinan lebih terbuka padanya. Rafa ingin setidaknya Kinan memiliki tempat berbagi, meskipun nantinya Rafa tidak bisa membantu menyelesaikan masalah Kinan. Setidaknya Rafa turut merasakan sedikit beban dari gadis yang disukainya itu. Walaupun jelas di sini Rafa benar-benar salah menyimpulkan.
Buru-buru Kinan berlari ke dalam rumah dan menutup pintu lalu menguncinya. Sendu, ia tatap pintu bercat cokelat di hadapannya sambil berdiri tegak. Telapak tangan kanan Rafa menyentuh daun pintu lalu kepalanya tertunduk ke bawah. Ada penyesalan yang teramat besar ketika melihat Kinan kembali terluka karena kebodohannya.
"Gue tau lo masih di situ, Ki." ucap Rafa tepat di balik pintu.
"Gue minta maaf untuk kalimat yang belum bisa gue selesaikan." lanjutnya dengan sesal.
Sedetik berikutnya Rafa melangkah pergi meninggalkan pekarangan rumah Kinan yang luas. Hanya dalam beberapa langkah melewati pagar rumah Kinan, kini Rafa sudah memasuki halaman rumahnya.
Dunia ini masih sama
Masih banyak mereka yang menilai sebuah buku hanya dari sampulnya.
Masih banyak mereka yang terlalu sombong untuk menelaah sikap seseorang.
Bahkan ketika mereka tidak pernah tahu, tentang luka, dan keterikatan masa lalu yang menyesakkan.
Mereka hanya berkomentar tanpa memikirkan perasaan dari kami yang bersangkutan.
Mereka adalah sekumpulan manusia yang sama egois. Menatap sebelah mata fakta yang belum jelas mereka lihat dengan sendirinya.
-Kinanti Azraina.