Duabelas

2855 Words
"Waktu yang berlalu terlalu cepat atau ... aku yang terlalu lama berpikir di tempat?" -Andrega Dyo Rafardhan. *** Kerutan di dahinya semakin menjadi ketika cowok yang sudah bertengger di atas motor besar itu malah tersenyum saat ia lemparkan tatapan tajam khusus untuknya. Dengan cepat ia kunci pintu rumah rapat-rapat dan menghampiri cowok yang kali ini memakai topi berwarna abu-abu separuh hitam. Cowok yang identik dengan topi yang menghiasi kepalanya. Dia Raka Ramdhan. "Kok lo nyebelin, sih?" ucap Kinan cemberut ketika sudah sampai tepat di hadapan Raka. "Kan, tadi gue bilang, nggak usah!” Raka menyerahkan helm pada Kinan. Sementara ia turut memasang helm di kepalanya setelah Kinan menerima helm darinya. Tanpa berniat menanggapi protes Kinan. "Tadi, tuh gue sekalian nyari angin. Ya udah mampir." "Ngeles, aja terus kayak bajaj!" "Makannya jangan bikin gue ngeles, terus. Buruan yuk!" jawab Raka tersenyum. Kinan segera memasangkan helm di kepalanya, dan seperti biasa Raka membantu mengaitkan pengaman helm yang memang sangat sulit untuk dipasang. "Yuk!" Kinan menyentuh bahu Raka dan dengan sigap Raka mengulurkan tangannya ke belakang untuk membantu Kinan. Hanya dalam hitungan detik motor besar Raka sudah melesat cepat meninggalkan halaman rumah Kinan. Dan saat itu juga seseorang di atas balkon kembali menghembuskan napasnya kasar. Cengkeraman tangannya pada teralis besi berukir rumit itu semakin kuat. Rafa mematung, merutuki kebodohannya. Lagi-lagi, hatinya terluka melihat seseorang yang ia sukai, sama sekali tidak tahu apa yang ia rasakan. Lantas salahkah Kinan di sini? Gadis yang tidak memiliki indera keenam dan bisa membaca pikiran orang lain. Gadis remaja biasa pada umumnya yang terlalu sibuk memikirkan luka-lukanya. "b******k!" bisik Rafa memukul teralis besi dengan kuat. *** Setelah selesai dengan keperluannya di ATM untuk mengambil uang bulanan dari ayahnya, Kinan kembali bergegas menghampiri Raka yang sibuk dengan ponsel di tangan. "Udah?" tanya Raka mengantongi ponselnya, kemudian menatap Kinan. Gadis itu mengangguk, tangannya memasukkan dompet ke dalam tas selempang yang ia bawa. "Gue pulang sendiri aja, mau mampir ke sekolahan Kian," kata Kinan tersenyum. "Makasih banyak ya, udah nganterin gue," sambungnya lagi tersenyum tipis. "Makasih doang, nih?" Mendadak Kinan merasa bersalah dan tidak peka mendengar ucapan Raka. Senyum di bibirnya hilang seketika, gadis itu menggaruk tengkuk yang tidak gatal untuk menghilangkan rasa tidak enaknya pada Raka, tapi tidak membuahkan hasil. "Traktir gue minum, aja, gimana?" tanya Raka tersenyum lebar. Dengan segera Kinan mengangguk cepat menyetujui permintaan Raka. Kinan membalikkan badannya dan segera berjalan ke arah yang sebenarnya dia sendiri tidak menyadari akan kemana. Dan tentu saja membuat tawa kecil pecah di bibir Raka. Cowok yang identik dengan topi yang ia pakai secara terbalik itu menstater motor besarnya dan mengikuti Kinan dari samping. "Kan, ceritanya gue minta traktir. Kok, malah ditinggal, sih?" tanya Raka membuat rona merah di pipi Kinan. "Eh?" "Naik, gue tau tempat minum kopi yang enak dan murah," ucap Raka. Kinan yang sudah salah tingkah itu segera meraih helm yang diberikan oleh Raka. Bahkan Kinan sempat menutup matanya sejenak saat Raka memasangkan pengait helm yang dikenakan Kinan. Buru-buru gadis itu menaiki jok belakang untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus itu di balik punggung Raka. *** Sekali lagi Kinan menyesap kopi hitam yang membuatnya jatuh cinta pada kecapan pertama. Ia duduk di sebuah coffe shop sederhana, yang ternyata sangat ramai pengunjung. Keduanya memilih tempat duduk tepat di dekat jendela kaca yang berseberangan dengan jalan raya. Sementara Raka menikmati kopi hitam pahit yang ia pesan di sana, sesekali ia ikut tersenyum menatap Kinan yang terlihat sangat menikmati kopinya. Sesekali Kinan memerhatikan gadis barista yang terlihat seumuran dengannya. Rambutnya di pangkas sebatas telinga, senyumnya datar, tapi harus Kinan akui gadis itu cantik dan berbakat dalam hal menyeduh kopi. "Suka?" tanya Raka membuat Kinan yang sejak tadi asik menghirup aroma kopinya sambil terpejam, mendadak membuka mata. Kinan menatap Raka dengan senyum tipis yang mengembang di bibirnya. Gadis itu mengangguk pelan, kemudian ia teguk kembali kopi di dalam mug berwarna hitam tersebut. "Gue suka kopi, tapi nggak sampai ketahap penggila kopi," ujar Kinan. “Tapi, kalau sampai ketahuan sama Rafa gue minum kopi. Dia pasti bakalan ngamuk.” Kinan tertawa kecil. Raka mengangguk mengerti. Rasanya ia tidak ingin pergi dari kursinya. Tidak ingin Kinan cepat-cepat pulang, agar ia bisa menatap wajah Kinan lebih lama. Meskipun, ada nama lain yang dibicarakan Kinan saat bersamanya, Raka tidak ingin ambil pusing. "Lo sering nongkrong di tempat kayak gini, Mas?" tanya Kinan. "Nggak terlalu. Gue kesini kalau lagi suntuk. Kadang juga kalau lagi kumpul sama teman," jawab Raka jujur. Kinan mengangguk, matanya menyapu seluruh ruangan coffe shop yang tertata dengan desain klasik. Cat berwarna hitam metalik dipadu dengan warna putih dan abu-abu. Ornamen berwarna senada yang menghiasi setiap sudut dinding ruangan yang membuat Kinan menyukai tempat tersebut. Ditambah alunan musik yang mengalun pelan membuat pengunjung merasa nyaman disana. "Pantes Kian betah di tempat kayak gini, asik juga, sih," celetuk Kinan berbicara sendiri. "Kalo, lo? Sering juga datang ke tempat kayak gini sama adek lo, atau mungkin sama Rafa?" tanya Raka setelah menyesap kopi pahitnya. Kedua lengan Raka bertumpu pada meja bundar berwarna hitam metalik. Sedangkan kedua mata cokelatnya menatap manik mata Kinan yang mengedarkan pandangan ke luar jendela. "Kian seneng banget main keluar Rumah." ucap Kinan. "Wajar, sih, Mas. Di Rumah nggak ada orang, gue tau dia butuh teman..., Sementara gue nggak bisa selalu ada buat dia. Karena gue juga punya kehidupan sendiri, sebanyak apa, pun, waktu yang gue kasih ke Kian. Kayaknya nggak akan pernah cukup." Raka menangkap nada prihatin dalam ucapan Kinan. Ditatap Kinan yang masih menatap ke luar jendela kaca. Dan tanpa sadar seulas senyum terukir di bibir Raka. "Lo mungkin emang nggak bisa untuk selalu ada buat Kian. Tapi, yang gue tau, lo udah berusaha untuk menjadi yang terbaik buat Adik lo." Kinan menoleh kali ini, hingga membuat kedua pasang mata itu saling menatap cukup lama. Ada debaran aneh yang membuat Kinan merinding ketika Raka menatapnya dengan tenang. Mendadak Kinan merasa gugup, bahkan ia merasa kesulitan menelan salivanya. "Balik sekarang, yuk!" ucap Raka seraya menegakkan kembali tubuhnya. Kinan mengangguk cepat. Gadis itu segera menarik ritsleting jaket army hingga menutupi dadanya. Di ikuti Raka yang membuntuti dari belakang. "Thanks ya, Ki. Udah ditraktir. Sering-sering, aja, kayak gini," kata Raka menyerahkan helm pada Kinan. "Makasih juga, lo udah mau jadi tukang ojek gue," kekeh Kinan memakai helmnya. Raka ikut tertawa. Cowok itu segera menyalakan mesin motornya sementara Kinan sudah siap untuk naik ke boncengan. Namun, matanya berhenti berkeliling ketika mendapati seseorang di sebrang jalan. Tanpa banyak bicara bahkan kepada Raka, Kinan berlalu menyeberangi jalan tanpa melihat kanan-kiri. Menciptakan bunyi bising klakoson mobil yang memekakkan telinga. Dan juga membuat Raka sadar bahwa Kinan lah yang membuat keributan di jalan raya tersebut. Gadis berambut sebahu itu sempat terduduk memegangi kepalanya yang terbungkus helm, ketika sebuah mobil everest hitam menekan klaksonnya kuat-kuat. Tapi, hanya dalam hitungan detik Kinan kembali berdiri dan segera mengejar seseorang yang ia kenal di sebrang jalan. "KINAN!" teriak Raka yang tidak digubris sama sekali oleh Kinan. Raka berdecak pelan. Lelaki itu melepas helmnya dan membuangnya ke sembarang arah. Dikejarnya Kinan sambil berusaha menghentikan laju kendaraan sebisa mungkin agar ia selamat dari arus yang padat sore itu. Sementara Kinan masih memicingkan mata demi memastikan bahwa seseorang yang ia kenal itu benar-benar nyata. Dan ketika Kinan menyadari bahwa ia tidak salah lihat, gadis itu segera berlari cepat mengejarnya. "Lo nggak sadar barusan itu bahaya?!" teriak Raka menyentuh kedua bahu Kinan. "Kayaknya gue liat, Kian barusan." balas Kinan berusaha melepaskan cekalan tangan Raka pada bahunya. "Lepasin!" teriak Kinan ketika Raka tidak kunjung melepaskan bahunya. Kedua lengan Raka meluruh ke sisi kanan dan kiri menatap kepergian Kinan. Pandangan Raka masih terpaku pada Kinan yang berlari mengejar adiknya, bahkan gadis itu sepertinya tidak menyadari bahwa ia masih mengenakan helm. Akan tetapi, Raka tidak hanya diam. Cowok itu mengikuti langkah lebar Kinan yang semakin cepat di depannya. "KIAN!" panggil Kinan lantang. Gadis rambut sebahu yang pelipisnya sudah basah oleh keringat itu menarik lengan adiknya yang berada di antara kerumunan remaja seusia Kian. Raut marah yang menghiasi wajah cantik Kian ketika tahu kakaknya datang dan bahkan nekat untuk menghampirinya yang sedang berkumpul dengan teman-temannya. Kinan sempat terkejut melihat Kian yang mengenakan make up di wajahnya. Gadis itu diam sejenak menatap adik semata wayangnya tidak percaya. "Mau kemana? Udah sore, ayo pulang!" ucap Kinan sambil berusaha mengatur napasnya yang naik turun. Kian menghempaskan cekalan tangan kakaknya dengan keras. Membuat Kinan tersentak dan menatap adik perempuannya itu dengan protes. Kian menatap tajam ke arahnya dan sesekali melirik teman-temannya yang sudah berbisik-bisik sambil menatap Kian. "Pulang!" seru Kinan sekali lagi. Tapi, Kian yang keras kepala tidak juga bergerak dari tempatnya. Gadis itu semakin menyimpan bara dalam tatapan matanya yang tertuju untuk Kinan. Kini terpaksa, Kinan menarik lengan Kian dan segera menghentikan sebuah taksi. Namun, ketika Kinan berhasil mendapatkan sebuah taksi dan berniat untuk segera masuk menyusul Kian, tepukan di bahunya membuat Kinan menoleh ke belakang. Ada Raka yang tersenyum manis menatapnya. "Apa?" "Lo mau naik taksi pakai helm?" tanya Raka menunjuk helm di kepala Kinan dengan dagunya. Dengan spontan Kinan menyentuh kepalanya yang masih dibungkus helm berwarna biru tua tersebut. Gadis itu meringis malu sambil berusaha melepaskan paksa helm di kepalanya dan berhasil tanpa melepaskan terlebih dahulu pengait helmnya. "Makasih." ucap Kinan menyerahkan helm tersebut pada Raka. Sejurus kemudian Kinan segera masuk ke dalam taksi. Meninggalkan Raka yang masih mematung menatap kepergiannya dengan banyak tanya yang menggantung di dalam benak Raka. “Kenapa waktu berlalu dengan cepat. Saat saya merasa nyaman di dekat kamu? Ya, ini cuma saya. Bukan aku yang terlalu asing untuk dipanggil kita berdua.” -Raka Ramadhan. *** Adzan magrib telah berkumandang sejak lima belas menit yang lalu. Sementara Kinan yang bahkan belum mengganti pakaiannya masih sibuk berkutat di dapur untuk menyiapkan makan malam. Sejujurnya Kinan sama sekali tidak ingin makan, tapi Kinan punya tanggung jawab yang harus ia pikirkan. Ada Kian yang seharian ini baru melahap sepiring nasi goreng. Bahkan Kinan sangat yakin bahwa adiknya itu belum mengisi perutnya lagi dengan makanan yang layak. "Kian..., makan dulu, cepetan turun!" teriak Kinan dari dapur. Gadis itu mengikat rambut sebahunya secara asal, membuat beberapa helai membingkai wajah manis yang terlihat lelah. Setelah selesai menyiapkan dua piring dan juga satu gelas s**u vanila hangat kesukaan Kian, Kinan duduk di salah satu kursi dan menatap dua jenis hidangan yang ia masak malam ini. Tumis kangkung ebi, dan telur mata sapi. Menu dadakan yang menurut Kinan sudah lebih dari cukup dari pada makanan di luar sana. Lima menit berlalu Kian belum juga muncul menemui Kinan di meja makan. Hal yang selalu membuat Kinan berdecak kesal ketika harus naik ke atas hanya demi memanggil Kian. Ia sambar jaket yang tadi ia kenakan sambil melangkah menaiki anak tangga untuk memanggil adiknya yang keras kepala itu. "Ki, makan dulu," ucap Kinan yang tidak mendapatkan sahutan. Tiga kali ia ketik pintu kamar Kian setelah itu Kinan membukanya. Ditatap remaja belasan tahun yang kini duduk diam di kursi, sambil menopang kedua lengan di meja belajar. Kinan tidak tahu apa yang Kian lakukan, namun dengan segera ia hampiri Kian dan menyentuh bahunya lembut. "Makan dulu, keburu dingin, tuh!" ujar Kinan pelan. Tidak ada jawaban dari Kian. Tapi, dengan cepat Kian meninggalkan Kinan lalu turun ke bawah untuk makan. Melihat sikap Kian yang tidak biasa, Kinan mengendikkan bahunya tidak mengerti. Buru-buru ia lemparkan jaket ke dalam kamarnya sendiri dan segera menyusul Kian. Kinan tidak ingin Kinan makan sendirian. Karena Kinan tahu, akan banyak kenangan yang muncul ketika suasana sepi menyapa. Setidaknya, cukup Kinan yang berkali-kali jatuh dalam kesunyian. Tapi, Kinan tidak akan membiarkan adiknya terjatuh seperti dirinya. "Gimana sekolahnya, Ki?" tanya Kinan menuangkan air putih di gelas Kian. Kian yang sibuk mengunyah makanan hanya melirik kakaknya sekilas. Seolah mengerti bahwa adiknya itu tidak ingin diajak bicara, Kinan kemudian diam. Disodorkan satu gelas air putih dekat dengan gelas s**u Kian. Tatapan Kinan tidak beralih dari kegiatan Kian yang sibuk melahap masakannya tersebut. Tanpa Kinan sadari kini seulas senyum tipis menghiasi bibir merah jambunya. Untuk sejenak Kinan akan membiarkan semuanya seperti ini. Seolah-olah tadi sore ia tidak menemukan Kian di antara kerumunan temannya yang kebanyakan adalah anak laki-laki dengan make up di wajahnya. Hanya untuk sejenak saja, Kinan ingin menikmati waktu yang singkat di meja makan bersama Kian. Meskipun sejujurnya ada banyak pertanyaan yang ingin Kinan lontarkan pada Kian. "Kak?" panggil Kian yang sudah selesai dengan sepiring nasi dan segelas s**u vanila. "Hmm? Kenapa?" sahut Kinan menopang dagunya menatap Kian dengan senyum keibuannya. "Mau sampai kapan Kakak membatasi pergaulan aku?" "Sampai kamu cukup paham untuk memilah, mana yang benar dan mana yang nggak benar." tutur Kinan tanpa mengalihkan pandangannya dari Kian yang juga menatapnya. Kian mendengus seraya memutar bola matanya jengah. Kembali lagi ia pandang kakaknya yang terlalu berlebihan. “Emang Kakak tau, mana yang bener? Kakak nggak kenal sama mereka,” balas Kian. “Yang pasti kamu nggak akan keluyuran sepulang sekolah, kalau temen-temen kamu itu baik. Seenggaknya pulang dulu, ganti seragamnya.” "Kak, berapa kali, sih, aku mesti bilang sama kakak kalau aku ini udah gede? Aku bukan anak kecil lagi," kata Kian menekan. "Aku bisa jaga diri sendiri. Jadi, Kak Kinan nggak perlu repot-repot ngurusin aku!" imbuhnya. Kinan tidak berekspresi. Jika Kian sudah mulai membuka suara seperti ini, Kinan harus mulai membentengi dirinya agar tidak lepas kendali. Kinan harus berhati-hati untuk mengeluarkan sepatah kata, karena Kinan sendiri tau batas dari puncak kemarahannya nanti akan seperti apa. Dan Kinan jelas tidak ingin hal itu terjadi. "Yakin bisa urus diri sendiri? Emang kamu mau makan apa kalau bukan aku yang masak buat kamu? Yakin bisa bikin telor ceplok sendiri? Sementara nyalain kompor, aja kamu nggak berani." jawab Kinan datar. Kian diam, kesepuluh jarinya saling bertaut erat dengan tatapan yang tertuju pada meja di depannya. Ada guratan kesal yang jelas tergambar pada wajah cantiknya. Sementara Kinan yang kini melipat kedua lengan di atas meja menatap adiknya secara intens. Ditekan dalam-dalam emosi yang siap mencuat kapan saja dalam dirinya itu. "Kamu, tuh, nggak pernah bersyukur ya, Ki? Aku bela-belain rela ninggalin kesenangan aku, cuma buat kamu, tapi kamu nggak pernah liat pengorbanan aku sedikit, aja. Kalau kamu udah dewasa, seharusnya kamu ngerti," ucap Kinan masih tenang. "Coba sekarang kamu bayangin, aja..., gimana kalau seandainya aku bener-bener lepas tangan sama kamu. Aku nggak yakin baju seragam kamu bisa rapi setiap hari. Aku juga nggak yakin kamu bisa makan dengan layak setiap hari," ucapnya panjang. Pandangan Kinan melembut, Kinan benar-benar takut jika ia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri dan juga adiknya. Kinan tidak ingin kalah, karena ia tidak ingin Kian lepas kendali dan mencari kebebasan di luar tanpa ada yang mengarahkan. "Aku cuma pengen bebas, Kak! Kayak temen-temenku, mereka nggak pernah ditelepon setiap pulang telat. Nggak pernah juga kena marah kalau minta uang jajan lebih, nggak pernah juga dikekang sama orang tua mereka. Tapi, aku? Kakak, tuh terlalu over protektif!" "Bebas yang gimana mau kamu? Aku nggak pernah ngelarang kamu buat main, asal kamu bisa ngatur waktu. Aku nggak ngelarang kamu buat nongkrong di Kafe, tapi nggak perlu setiap hari. Aku juga nggak pernah ngelarang kamu buat bergaul dengan siapa, pun, asal kamu bisa jaga diri. Asal kamu bisa ngerti mereka ini..., akan bawa dampak yang gimana buat kamu nanti!" "Kalau aku marah sama kamu, seharusnya kamu bersyukur Kian! Karena itu tandanya masih ada peduli sama kamu, aku Cuma pengen kamu jadi orang yang bener!" tandas Kinan sampai menekan jemarinya pada meja. “Emang, kalau aku diem di Rumah, Ayah bakalan pulang?” "Susah emang kalau ngomong sama Kakak, nggak pernah mau kalah!" dengus Kian malas. "Mungkin Kak Kinan bisa ngelakuin apa yang seharusnya Mama lakuin. Tapi, sampai kapan, pun, Kakak nggak akan bisa jadi Mama! Mama itu udah nggak ada, jadi Kakak nggak perlu berperan seolah aku ini anak yang masih punya Mama. Toh, Ayah aja nggak pernah ngatur-ngatur aku," Satu kalimat dari Kian membuat Kinan merapatkan kedua matanya erat. Sebuah kalimat yang berhasil menyulut bara yang membara dalam diri Kinan. Seolah membuka lapisan pertama dari segala luka yang dipendam. Dikatupkan kedua rahangnya erat untuk menekan emosi saat gemuruh hebat yang mengisi relung dadanya berdentum ingin memberontak ketika mendengar sebuah nama yang mematikan untuknya. Namun, Kinan terlalu pandai untuk menyembunyikan segala kehancurannya. Kinan mengangkat kepalanya untuk menatap Kian tidak percaya dengan ucapan gadis lima belas tahun barusan. Tidak ingin semua bertambah lebih rumit, pada akhirnya membuat Kinan harus kembali terjatuh ke dalam luka yang masih sama. Gadis berambut sebahu itu segera mengakhiri perdebatan malam itu. "Nanti kamu pasti tau, Ki. Sebab apa aku kayak gini sama kamu. Karena apa aku peduli sama kamu, bahkan tanpa kamu minta. Aku yakin, entah itu kapan, kamu pasti akan ngerti!" ucapnya tegas. "Cuci piring, abis itu istirahat!" titah Kinan. Dengan patuh karena keterpaksaan, Kian segera melakukan apa yang baru saja Kinan perintahkan. Lalu, setelah selesai dengan cucian piringnya Kian segera berlalu meninggalkan Kinan yang masih mematung di kursi. "HP kamu kemana? Tumben nggak dibawa?" tanya Kinan saat Kian baru saja akan menaiki anak tangga yang pertama. Langkah Kian terhenti. Gadis itu tidak langsung menjawab, jemarinya saling meremas gelisah dan otaknya berusaha berputar dengan cepat. "Di kamar," jawab Kian ketus. Lalu tanpa menunggu jawaban dari kakaknya, Kian segera berlari menuju kamar. Sebelum Kinan menanyakan banyak hal lagi yang membuat Kian malas untuk menjawab.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD