Tigabelas

1412 Words

“Mungkin Kakak bisa ngelakuin apa yang seharusnya Mama lakuin. Tapi, sampai kapan pun, Kakak nggak akan bisa jadi mama! Mama itu udah nggak ada!" Kinan memejamkan mata erat. Tangan kanannya memijit pelan pelipis yang terasa pening. Terlalu banyak hal rumit yang membuat Kinan semakin pusing, mana yang harus ia pikirkan terlebih dahulu. Persoalan mana yang harus ia pecahkan untuk adiknya yang sudah terlalu sulit untuk diajak berbicara. Berkali-kali Kinan mencoba untuk menghubungi nomor ayah tapi tidak pernah tersambung. Ia letakkan ponsel yang sejak tadi digenggam erat ke lantai. Kinan duduk menyandarkan punggungnya pada dinding, menghadap ke teralis besi balkon kamar. Ia sudah mematikan lampu kamarnya, sebelum ia memutuskan untuk berdiam diri di balkon. Gelap! Kinan menyukainya, karena ad

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD