Pulang dari kediaman Rey, Kirana diantar Rey mampir ke mini market untuk membeli beberapa keperluan sehari-harinya. Dia sudah meminta Rey untuk mengantarnya sampai depan saja. Namun tetap ditolak.
"Rey. Kamu tunggu disini saja. Aku tidak lama kok"
"Aku temenin"
"Tidak perlu, Rey... Mmm... Itu, aku agak sungkan. Soalnya..."
"Aku tunggu di kasir"
Kirana menghembuskan nafasnya panjang setelah Rey berlalu mendahuluinya masuk dalam mini market. Percuma membantah ucapan Rey. Setidaknya dia bisa sedikit bebas saat memilih barang keperluannya nanti. Yapp.. benda pusaka lembut kecintaan wanita yang dibutuhkan tiap bulannya. Pembalut. Karena sejak kemarin dia sedang datang bulan dan kehabisan benda penting itu.
Kirana segera masuk mengikuti Rey yang mendahuluinya. Dia segera menenteng tas belanjaan dan mencari barang-barang yang dia butuhkan. Rey masih setia menunggunya didekat meja kasir, menyibukkan diri dengan ponselnya.
"Eh?? Kamu???" Kirana terkejut melihat seorang pekerja pria disudut toko yang tengah mengangkat beberapa kardus untuk dimasukkan ke dalam gudang penyimpanan. Lelaki itu tampak mengenali Kirana.
"Kamu?? Kakaknya Karin?? Yang kemarin tidak sengaja bertemu di cafe ya?"
"Iya, benar. Saya Kirana. Kakaknya Karin. Kamu bekerja disini???"
"Iya, kak Kirana. Pekerjaan sampinganku setelah pulang dari kantor"
"Panggil saja, Kiran. Kamu tidak perlu sungkan begitu. Sepertinya umur kita tidak jauh berbeda". Memang Aldo 3 tahun lebih tua dari Kirana. "Siapa namamu?"
Aldo menjabat tangan Kirana setelah membersihkan telapaknya dengan baju seragam kerjanya. "Aku Aldo. Maaf perkenalan kita harus seperti ini. Seharusnya aku lebih sopan memperkenalkan diri pada kakaknya Karin"
"Tidak apa. Kita juga tidak sengaja bertemu disini. Tapi sedang apa kamu disini?? Bukankah kamu bekerja di kantor?"
"Ini pekerjaan sampinganku, Ran"
"Mm... Mengenai ini. Tolong jangan beritahu Karin ya, Ran. Sebenarnya keuangan keluargaku sedang kurang stabil. Aku butuh pendapatan tambahan untuk membantu keluargaku. Aku menyayangi Karin. Sungguh. Hanya saja aku tidak ingin dia sedih jika mendengar aku sedang kesusahan" Imbuhnya.
Kirana yang mendengar cerita Aldo turut sedih. "Maaf, Al. Aku turut sedih mendengar ini. Jika kamu butuh bantuan, jangan segan memberitahuku". Kirana menyodorkan kartu namanya yang dia ambil dari dompet pouch yang dibawanya. "Aku akan membantumu sebisaku. Dan masalah Karin, memang seharusnya kamu sendiri yang memberitahunya tanpa aku harus ikut campur" Kirana menyunggingkan senyuman manisnya pada Aldo.
"Kamu baik banget, Ran. Karin sangat beruntung punya kakak seperti kamu. Maaf, mungkin aku merepotkanmu karena harus menutupi hubunganku dengan Karin. Karin sudah cerita semua, mungkin Karin sedikit emosi padamu. Tapi aku paham maksudmu sebenarnya hanya ingin membantu Karin"
"Karin memang sedikit salah paham padaku, tapi tidak apa, Al. Yang penting dia tau maksudku. Aku hanya tidak ingin ayah dan mama Fella marah padanya"
"Makasih ya, Ran". Aldo meraih kedua tangan Kirana dan menggenggamnya erat. "Makasih karena udah mau ngertiin posisiku dengan Karin".
"Sama-sama, Al. Aku duluan ya! Maaf mengganggu pekerjaanmu. Bye"
"Bye, Ran. Hati-hati!" Aldo melambaikan tangannya seraya pandangannya mengikuti Kirana yang menghilang menuju meja kasir.
**
"Sudah selesai keperluan pribadinya?" Tanya Rey sedikit ketus. Rey ternyata sedari tadi melihat interaksi antara Kirana dan Aldo yang dilihatnya sebagai salah satu bentuk kebiasaan Kirana. Menggoda lelaki. 'Baru ditinggal sebentar, sudah mendapat mangsa baru lagi!' Tentu saja Rey tidak bisa mendengar pembicaraan mereka karena terlalu jauh.
"Astaga Rey!!" Kirana terkejut karena tiba-tiba Rey berada di balik rak toko paling depan dari lorong yang dilewati Kirana. Dia menghembuskan nafas lelahnya. "Em.. Sudah.. Ini tinggal bayar. Tunggu sebentar ya, Rey"
Kirana berjalan ke meja kasir sedang Rey mengikutinya dibelakang saat Kirana sedang mengantre. Kirana merasa tidak nyaman dengan Rey dibelakangnya. Masalahnya benda pribadinya. 'Duh.. Rey kenapa dibelakangku terus sih!'
"Rey. Kamu tunggu saja di mobil. Aku segera kembali nanti setelah bayar. Ya???" Ucapnya setelah berbalik menatap Rey dibelakangnya.
"Aku tungguin disini"
'Astaga, Rey. Sumpaahhh malu banget kalo harus bayar benda ini didepanmu' Kirana harus mencari cara lagi agar Rey mau menunggunya di mobil saja.
Rey yang melihat gelagat Kirana mengartikan lain tingkahnya kini. Rey mengira Kirana sedang gelisah karena ketahuan bersama lelaki lain lagi. Membuatnya semakin curiga. 'Kamu tidak mau aku berada di dekatmu agar kamu bisa menggoda lelaki lain kan, Ran. Hemh.. Aku tidak akan membiarkannya lagi!'.
Dengan ragu, Kirana menyodorkan tas belanjaannya dan segera mengambil tas kantong miliknya sendiri untuk tempat belanjaannya. Dia sengaja membeli beberapa barang yang tidak dia perlukan hanya untuk menutupi benda pusakanya. Mata Rey masih memperhatikan gelagat aneh Kirana yang menurutnya sangat mencurigakan.
Rey yang sengaja memperhatikan belanjaan Kirana tak sengaja melihat benda pusaka lembut khusus wanita yang akan dibeli Kirana. "Hisshh... Rey!! Jangan dilihaaat!!!!" Cegah Kirana yang dengan cepat menutupi mata Rey dengan kedua telapak tangannya ketika kasir mengambil barang itu untuk di scan.
Blusshh
Rey jadi salah tingkah, wajahnya memerah padam. 'Ohh.. Benda itu. Akh mikir apaan aku!!!' batinnya merutuki diri sendiri. Dia segera berlalu setelah meletakkan 2 lembar seratus ribuan di tangan kanan Kirana yang dia ambil dari dompetnya. Meninggalkan Kirana yang terpaku dengan tingkahnya.
Rey kembali ke mobilnya. Dia menyalakan pendingin mobilnya yang tiba-tiba terasa sangat gerah didalam sana. "Kenapa panas banget sih ini mobil! Siall!!" Gumamnya mengerutuki diri sendiri.
Kirana mengetuk pintu mobil Rey terlebih dahulu sebelum masuk. Dia masih sungkan pada Rey yang melihat barang yang dia beli.
Rey segera melajukan mobilnya perlahan menuju rumah Kirana.
"Ini minum dulu Rey" Kirana menyodorkan sebotol minuman Jus jambu pada Rey yang langsung diterimanya dan diminumnya hingga habis separoh.
"Mm... Itu-"
"Mm... Itu-"
"Kamu saja duluan!" Rey kembali berucap.
Kirana membuka dompetnya dari dalam tas dan mengambil 2 lembar seratus ribuan. "Itu, Rey. Maaf sebelumnya bukan bermaksud menyinggungmu. Ini kan belanjaanku. Biar aku membayarnya sendiri. Kamu tidak perlu-"
Rey memotong ucapan Kirana dengan mengambil uangnya yang dikembalikan Kirana dan membuangnya ke luar jendela mobil.
"Astaga, Rey! Kenapa dibuang???" Kirana tercengang melihat sikap Rey yang seenaknya sendiri membuang uangnya begitu saja.
"Aku tidak membutuhkannya"
Kirana diam membuang nafasnya kasar. Masih tidak menyangka Rey berbuat seperti itu. 'Memang nilainya tidak seberapa untukmu, Rey. Tapi bagi sebagian orang, uang segitu sangat berarti'. Kirana hanya mampu menasehatinya dalam hati.
"Kenapa??" Tanya Rey masih dengan nada ketusnya.
"Ti-dak apa" Wajah Kirana murung. Bukan karena nilai uang yang dibuang Rey. Tetapi sikapnya yang sangat melukai hatinya.
"Kamu menyesal karena aku membuangnya?"
"Bukan begitu" Jawabnya lirih.
"Nih! Ambil sendiri gantinya!". Rey mengambil dompetnya dari dalam saku belakang celananya dan melemparnya kepangkuan Kirana.
"Rey!!?" Bentak Kirana kesal pada Rey. "Kamu pikir aku menginginkan uangmu!?" Kirana meletakkan kembali dompet Rey pada dashboard depan mobil Rey. "Bisa tidak Rey kamu sedikit saja memperlakukanku dengan baik??"
Rey mengangkat alisnya sebelah. Merasa Kirana sekarang protes padanya karena sikapnya. "Untuk apa? Itu yang pantas kamu dapatkan!"
"Berapa lagi target lelaki yang harus kamu goda? Hmm!??" Lanjut Rey.
"Apalagi maksud kamu!?"
"Setelah Zayn. Pelayan toko tadi, setelah ini siapa lagi hmm!? Apa perlu ku antar ke club malam sekarang??
"Club malam???"
"Mau sampai kapan kamu terus menggoda tiap lelaki tampan yang kamu temui, hah?!"
Kirana menghela nafasnya. 'Begitukah kamu menilaiku selama ini, Rey. Kamu bahkan masih saja menganggapku wanita itu!'. Dia kembali memilih diam. Hatinya terlalu sakit untuk meladeni ucapan Rey untuknya.
"JAWAB, RAN!!!!"
"Percayalah sesuai apa yang kamu lihat, Rey. Kamu juga tidak akan percaya apapun yang ku katakan"
"Kalau begitu buat aku percaya sepenuhnya padamu! Dari awal bertemu kamu terus saja mengelak semua tentang masa lalu kita! Lalu menurutmu bagaimana aku bisa percaya lagi padamu!!!? Apalagi untuk bersikap baik padamu!!"
Akhirnya air mata yang berusaha Kirana bendung, kini telah mengucur bebas di pipinya. "Lakukan apapun yang ingin kamu lakukan, percayalah pada apapun yang kamu percayai!"
"Pasti. Itu yang akan ku lakukan agar tak lagi dibodohi oleh wanita sepertimu!"
Sakit. Hati yang selama ini tak pernah dia serahkan pada lelaki manapun selain ayahnya, dengan mudahnya disakiti oleh Rey. Orang yang dipilih hatinya. Orang yang membuatnya bahagia serta sakit dalam waktu yang bersamaan.
"Terimakasih sudah mengantarku pulang!" Ucap Kirana yang masih menahan tangisnya. Seketika setelah mobil Rey berhenti tepat di depan gerbang rumah Kirana. Dia segera melangkah keluar dari mobil Rey dan bergegas masuk ke dalam rumahnya.
"Aku sakit dengan semua ini, Ran. Aku ingin kamu jadi milikku seutuhnya dan hanya aku milikmu satu-satunya! Mengapa kamu tidak bisa hanya menerimaku!!!!?" Ucapnya lirih setelah Kirana turun dari mobilnya dan menutup kembali pintu mobilnya. "SIALANN!!!!" Rey memukul kemudi mobilnya cukup keras hingga tanpa sadar membuat tangannya terluka.
Kirana masih bisa mendengar teriakan amarah Rey dari dalam mobil yang membuat langkahnya sempat terhenti tanpa menoleh kebelakang. 'Apa yang harus ku lakukan besok!'
- Bersambung -