#29 - Pengawasan

1317 Words
Tok tok Kirana mengetuk pintu kamar Rey yang sedikit terbuka. Dia membuka pintu perlahan dan memasuki kamar Rey dengan sedikit ragu. "Pak Reyfano?" Disana dia melihat Rey tengah berbaring di ranjang king size nya dengan setengah tubuhnya tertutup selimut tebal berwarna dark grey, senada dengan dekorasi ruangan kamarnya yang tampak sangat maskulin. "Masuklah" "Maaf, pak Rey. Saya kemari tanpa pemberitahuan" "Tidak apa. Kemarilah" Rey mempersilahkan Kirana duduk di pinggir ranjang king size nya. Dia segera duduk dan menata bantal dibelakangnya untuk bersandar. Kirana tidak langsung duduk. Dia masih berdiri di samping nakas, "Ini buah untuk, pak Rey" lalu meletakannya di samping nakas. "Hemm.. terimakasih. Kamu tidak perlu memanggilku seperti itu disini. Ini rumah, bukan kantor" "Ooh.. I-iyaa" "Duduklah. Kamu mau terus berdiri disitu?" Kirana sedikit sungkan jika harus duduk begitu dekat dengan Rey. Dia berinisiatif membawa kursi kerja Rey yang berada di dekat jendela kamarnya. "Biar aku bawa kursi itu kesini ya?" Ucapnya sambil menunjuk kursi yang dia maksud. "Aakh". Rey menarik lengan Kirana dan membuatnya terduduk di pinggiran ranjang Rey ketika dirinya hendak berjalan mengambil kursi kerja Rey. Kirana terpaku. Tok tok Suara ketukan pintu menginterupsi keduanya. Kirana segera beranjak dari duduknya melihat ada pelayan yang masuk membawakan minuman dan camilan untuk mereka. "Kamu itu ribet banget deh. Duduk ya tinggal duduk aja pake mau bawa-bawa kursi kesini". Ucap Rey setelah meminta pelayan itu menutup pintu kamarnya yang memang sejak tadi masih terbuka sejak Kirana masuk. "Eumhh maaf.." "Sudah cepat katakan apa yang membuatmu kemari" Kirana akhirnya menurut juga untuk duduk di tepi ranjang king size Rey. "Mm.. Itu Rey. Mengenai kunjungan ke pabrik baru besok, apa perlu aku minta pak Theo untuk menggantikanmu kesana?" Rey sedikit berfikir setelahnya menjawab pertanyaan Kirana. "Jangan. Biar aku saja. Lagipula itu tanggungjawabku. Aku tidak ingin memanjakan sakit terus-menerus" "Tapi kondisimu belum pulih sepenuhnya, Rey. Lokasinya juga cukup jauh" "Tidak apa, aku bisa" Jawabnya datar. "Ngomong-ngomong kamu juga ikut kan?" "Aku tidak diminta ikut Rey. Pak Theo bilang hanya kamu dan Bu Celine yang akan kesana" Rey menghembuskan nafasnya panjang. Satu hari panjangnya tanpa Kirana. "Kamu bisa sangat membantuku kalau ikut" Ucapnya sambil mendekatkan tubuhnya pada Kirana. Blushh.. Wajah Kirana memerah. Entah karena ucapan Rey atau posisi duduknya yang terlalu dekat dengan Rey. "C-coba nanti akan ku tanyakan dulu pada pak Theo" "Ran?" "Mm? Eh??" Tangan Rey dengan cepat meraih tangan Kirana. "Ran??". Tatapan mata Rey yang seolah menyihir Kirana untuk berhenti bergerak. Tubuhnya seolah membeku dengan tatapan hangat dari Rey. "Aku..-" Tok tok Pintu kamar Rey kembali diketuk. Refleks Rey dan Kirana menoleh ke arah pintu. Kirana segera menarik tangannya dan beranjak dari duduknya, lagi. "Rey?". Wanita paruh baya yang rambutnya separuh memutih itu membuka pelan pintu kamar Rey. "Apa oma mengganggu kalian?" Rey terlihat sedikit kesal. Beda dengan Kirana. Dia malah bersyukur jika ada oma disana. Dia tidak perlu lagi sungkan berduaan dengan Rey di kamarnya. "T-tidak, oma" Jawab Kirana kikuk. "Kirana?? Sudah lama disini?" "Emm.. Belum lama kog, oma" "Kamu kesini datang menjenguk Rey ya?" Kirana hanya tersenyum kecut. Sebenarnya iya, hanya saja dia malu mengatakannya. "Terimakasih ya, Nak. Kemarin kamu sudah merawat Rey di kantor" "T-tidak kog, oma. Kiran tidak banyak membantu. Maafin Kiran, oma. Kiran tidak becus membantu pekerjaan Rey sampai Rey kelelahan bekerja" "Tidak apa, nak. Rey itu memang bandel. Sudah tau dia punya tipus. Telat makan dikit bisa drop dia. Apalagi jika ditambah kelelahan. Hemm.. Untung saja kamu cekatan". Rey diam-diam tersenyum melihat Kirana yang merona karena dipuji Oma Dewi. Rey senang jika Kirana bisa selalu ada didekatnya, apalagi bisa melihatnya dekat dengan semua keluarganya. "Oiya oma, besok Rey izin ikut kunjungan ke pabrik yang baru dibangun ya?" "Ooh.. Pabrik yang di selatan. Tapi kondisimu?" "Tidak apa, oma. Rey sanggup kog. Lagipula Rey gak mau manja hanya karena sakit sedikit saja. Besok juga ditemani Kiran. Ya kan, Ran??" "Ehh?? I-iya, oma" Jawab Kirana Kikuk. Dia sendiri belum tau apa diizinkan ikut oleh pak Theo. "Baiklah kalau itu keputusanmu. Ingat jaga kesehatan. Oma tidak mau kamu sampai drop lagi!" "Siap, oma" "Kamu juga, Ran. Tolong bantu segala urusan Rey, ya? Oma cuma bisa mengandalkan kamu!" ** "Terimakasih banyak ya, Ran. Sudah mau menjenguk Rey" "Tidak oma. Tadi juga kan sekalian tanya perihal pekerjaan. Jadi sekalian saja mampir jenguk pak Rey" Kirana menyodorkan sebuah tas karton berisi gaun pada oma Dewi. "Ini, oma. Saya kembalikan. Terima kasih banyak, oma" "Apa ini, Ran?" Dewi membuka tas itu. "Ini? Baju yang oma berikan buat kamu. Kenapa kamu kembalikan??" Dewi kembali memberikan tas itu pada Kirana. "Bawa saja dan pakailah. Baju itu sangat cocok untukmu!" Kirana tersenyum kecut. Sejujurnya dia merasa tak enak kalau harus menerima pemberian Dewi secara cuma-cuma. "Tapi, oma. Ini kan baju mahal. Kiran sungkan jika menerimanya cuma-cuma" "Sudahh! Kamu ini bicara apa sih! Oma suka kamu yang memakainya. Itu hadiah buat kamu karena oma menyukaimu!" "Terimakasih banyak, oma" "Oiya, Ran?" Dewi membungkukkan badan dan mendekatkannya pada Kirana. "Apa dikantor ada seseorang yang disukai Rey???" Tanyanya lirih. Kirana sedikit tercengang mendengar pertanyaan Dewi. 'Tidak mungkin kan aku menjawab Rey suka padaku oma. Tidakk!' "Mm.... Entahlah, oma" Jawab Kirana kikuk. "Kiran kurang tau mengenai hal itu, karena Pak Rey selalu bersikap humble pada seluruh karyawannya" "Tolong kamu awasi Rey, ya? Beritahu oma apapun yang terjadi pada Rey jika dia melakukan sesuatu yang aneh. Contohnya itu, menyukai seseorang!" Kirana tersenyum canggung. Rey selama ini hanya menggodanya. Dan setaunya, tidak ada wanita lain selain dirinya yang digoda Rey. Oh.. iya. Ada satu lagi. Wanita yang dicintai Rey. Tetapi dia tidak mungkin memberitahu oma Dewi mengenai hal itu. Karena dia sendiri bingung untuk menjelaskannya. "Baik, oma. Kiran pamit duluan ya? Sudah hampir gelap. Terimakasih untuk makan malamnya, oma" "Sama-sama, nak. Salam untuk ayahmu, ya. Hati-hati dijalan!" "T-tunggu!!" Rey menghentikan Kirana yang hendak pulang. "Oma, ada sesuatu yang masih harus Rey diskusikan dengan Kiran. Biar Rey yang antar Kiran pulang ya?" "Mm.. Tentu saja, Rey. Tetapi kondisimu?" "Tenang saja, oma, Rey sudah pulih sepenuhnya". Ucap Rey sedikit berbohong. Dia hanya ingin mengantar Kirana pulang dan memastikannya sampai dirumah. Ya, dia masih selalu curiga pada Kirana. "Ran. Pulang biar diantar Rey, ya? Kasian kalau kamu harus pulang sendirian malam-malam. Lebih baik bersama Rey" "Mmm.... I-iya, oma. Terimakasih" Kirana kembali mencium punggung tangan Dewi. "Kiran pamit, oma" "Hati-hati dijalan ya Rey. Jagain Kiran jangan sampai kenapa-kenapa!" Ucap Dewi sedikit berteriak mengantar kepergian cucu tunggalnya bersama wanita yang dia sukai. "Dasar cucu nakal. Kalian itu tidak pandai berbohong soal perasaan kalian satu sama lain sulit bersatu karena ego masing-masing. Semoga kalian segera bersama" Doa Dewi lirih. ** Kirana dan Rey segera menuju mobil Rey yang diparkir oleh Kirana kemarin saat pulang mengantar Rey. "Kemudi ini masih tercium wangi tubuhmu!". Ucap Rey setelah masuk kedalam mobil diikuti Kirana yang duduk di sampingnya. "Heh?? Maaf. Apa sebau itu, Rey?" "Tidak. Aku menyukainya" Wajah Kirana yang seharian ini belum mandi mendadak memerah. Walaupun belum mandi sore ini, tubuhnya masih saja wangi. Wangi yang disukai Rey. Vanilla mint. "Manis" Ucap Rey Lirih. "Heh? Ap-apa, Rey??" Rey hanya tersenyum. 'Benar-benar senyum yang menawan' batin Kirana. 'Bagaimana aku tidak jatuh cinta padamu, Rey'. Dia buru-buru mengalihkan wajahnya yang merah agar tidak terlihat oleh Rey. Rey melajukan mobilnya perlahan keluar dari halaman kediamannya. "Emmm.. Rey? Sebenarnya tadi saat pulang aku berencana mampir mini market sebentar untuk membeli beberapa keperluan pribadiku. Kalau tidak keberatan, turunkan saja sampai depan mini market. Biar nanti aku pulang naik ojek online" "Tidak! Aku akan memastikan kamu pulang sampai rumah" "Tapi??" "Ku antar belanja dulu" "Jangan, Rey!" Kirana sungkan jika Rey masih harus mengantarnya belanja. Belum lagi menunggunya nanti. "Ya sudah tidak perlu belanja, Rey. Langsung pulang saja kalau begitu". "Ku antar belanja dulu" Ucapnya sama dengan sedikit penekanan. "Gak apa-apa kog, Rey. Tidak perlu mengantarku. Aku tidak enak jika terus merepotkanmu" "Menurut atau kubiarkan kamu disini bersamaku sampai besok pagi?!" Kirana akhirnya menyerah. "Baiklah-baiklah, terserah kamu saja!" Tidak ada gunanya membantah titah Rey. Jika dia sudah berkeinginan, maka sulit baginya untuk ditolak. - Bersambung -
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD