Hari ini, Karina sudah menentukan dimana dia akan melanjutkan kuliahnya. Erik sang papa menyambut antusias keputusan Karina yang memilih Malaysia sebagai negara menimba ilmunya.
"Apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu, nak?"
Karina diam. Setelahnya lalu berucap "Belum sepenuhnya, pa. Tetapi pertimbangan Karin hanya karena Karin tidak terlalu menguasai bahasa asing. Kultur budayanya juga tidak jauh beda dengan disini. Jadi mungkin adaptasi Karin nanti bisa lebih cepat"
Erik menginginkan Karina untuk kuliah di luar negri, bukan tanpa alasan dia. Dia selalu ingin anaknya mendapatkan semua yang jauh lebih baik dari yang pernah dia sendiri dapat dan rasakan. Dia merasa bersalah kepada mantan istri dan anak perempuannnya yang sudah meninggal dunia. Karena dia tau dia telah gagal membahagiakan mereka berdua.
Dia selalu bertekad untuk memberikan semua yang terbaik untuk kedua putrinya sekarang. "Papa akan mengurus visa keberangkatanmu kesana. Segeralah pilih univ mana yang akan kamu tuju. Ujianmu juga sudah dekat"
"Iya, pa"
Erik memeluk putrinya itu erat. Tangan kanannya mengusap rambut hitam Karina. "Fokuslah pada belajarmu, nak. Papa hanya ingin kamu mendapatkan masa depan yang jauh lebih baik dari papa. Papa tidak mau masa depan putri papa dipertaruhkan hanya karena cinta sesaat". Erik melepas pelukannya, dia menatap hangat pada kedua netra putri bungsunya itu. "Kamu paham kan maksud papa?"
Karina tersenyum kecut mendengar ucapan papanya. Dia tau papanya akan sangat marah jika tau dia sudah memiliki pacar. Erik selalu mewanti-wanti putrinya agar tidak salah memilih. Khususnya pendamping hidup putrinya.
**
Sesampainya di kediaman Cakradhana
Mobil Rey memasuki halaman kediaman Cakradhana setelah satpam membukakan gerbang. Tak butuh waktu lama untuk sampai di kediaman Rey yang berjarak hanya 20 menit dari kantor.
Sebenarnya jarak rumah Rey ke kantor lebih dekat daripada jarak rumah Kirana ke kantor. Namun sengaja Rey selalu mengantar jemput Kirana dengan alasan dia tidak ingin sekretarisnya terlambat sedikitpun dan menunda pekerjaannya. Bahkan dia harus memutar jalan untuk sampai kerumah Kirana terlebih dahulu. Namun lagi-lagi itu hanya alibi Rey untuk selalu dekat dengan Kirana.
Rey masih diam dan bertanya-tanya dalam benaknya. Dia masih menunggu jawaban Kirana yang tak kunjung keluar dari bibir Kirana. Sengaja dia masih diam walau tau dia sudah sampai dirumahnya.
Kirana segera melepaskan seatbeltnya setelah memarkirkan mobil Rey. Dia melepas seabelt milik Rey. Dia sendiri masih memilih diam tentang kejadian tadi siang, agar Rey tidak memikirkan tentangnya dan fokus untuk sembuh dulu.
"Rey sudah sampai"
Rey tidak menjawab. Tatapannya masih kosong pada sesuatu di depannya. Entah apa itu.
"Rey???"
Rey masih kesal dan memilih beranjak keluar dari mobilnya. Diikuti Kirana yang juga ikut masuk membawakan tas kerja Rey yang dia letakkan di jok kursi belakang.
"Bu, saya pulang". Ucap Rey dengan wajah datar pada Windi yang menyambutnya pulang. Tak lupa dia mencium punggung tangan ibunya itu. "Rey langsung ke atas ya, bu. Rey capek"
Windi yang bingung dengan sikap Rey, menatap Kirana dengan beragam pertanyaan. "Kiran? Ada hal apa kamu ikut kemari?"
"Tante Windi" Kirana ikut memberi salam pada Windi. "Ini Kiran membawakan tas dan kunci mobil Rey"
"Kenapa ini semua kamu yang bawa?"
"Tante Windi, itu.. Sebenarnya tadi Rey sempat drop waktu dikantor. Dia kelelahan sampai demam tinggi. Tetapi sudah di tangani dokter perusahaan tadi. Dan ini" Kirana menyodorkan sebungkus plastik berisi obat milik Rey. "Obat dan vitamin yang harus Rey minum sampai habis juga harus full bedrest"
Windi menerima dengan setengah hati. "Hmm.. Terima kasih. Kamu boleh pulang" Ucapnya dengan sedikit kesal.
"Saya permisi pulang dulu, tante"
"Iya". Windi membalas Kirana tanpa banyak basa basi. Dia sangat tidak menyukai Kirana tidak lebih karena perlakuannya kepada Rey. Tanpa menghiraukan Kirana dia langsung menyusul Rey kekamarnya.
Kirana mengerti posisinya. Mungkin Ibu Rey juga membencinya karena menganggapnya adalah wanita yang meninggalkan Rey. Dia segera keluar dari rumah Rey dengan berat hati dan menutup pintunya kembali karena Windi tinggal begitu saja.
"Rey!???" Sedang apa kamu masih disini? Bukannya segera masuk dan istirahat dikamar!" Ucap Windi yang menemukan Rey sejak tadi masih berdiri terdiam di balik rail besi lantai dua, sedang menatap Kirana yang pergi menghilang.
Rey menghela nafas panjang. Menatap sendu ibunya yang kini sangat khawatir padanya.
"Rey.... Ibu sangat khawatir sama kamu. Bagaimana bisa kamu sampe drop, nak?"
"Tidak apa-apa, bu. Rey hanya kecapekan"
"Kamu terlalu memaksakan tubuhmu untuk bekerja, Rey. Ibu perhatikan juga makan kamu tidak teratur dan sering tidak sarapan!"
"Rey sibuk, bu" Ucap Rey sambil berjalan gontai menuju kamarnya.
"Sesibuk apapun kamu. Ingat kesehatanmu, nak! Kamu baru saja menghandle pekerjaan oma kamu. Sampai lupa kesehatan sendiri. Kalau kamu drop, siapa yang repot juga? Pekerjaan kamu juga bakal kacau kan?"
"Iya, bu. Maaf. Rey akan lebih memperhatikan kesehatan Rey"
"Lalu kenapa tadi tidak menghubungi ibu waktu kamu drop di kantor!?"
"Ini alasannya, bu. Rey tidak ingin ibu khawatir. Rey baik-baik saja sekarang" Rey memeluk ibunya agar tidak khawatir berlebihan padanya lagi. "Rey mau mandi terus istirahat ya, bu".
"Mandi pakai air hangat Rey! Ibu akan bangunkan kamu nanti waktu makan malam ya. Kamu harus minum obat"
Rey mengacungkan jarinya membentuk OK dan masih melangkahkan kakinya memasuki kamar. Dia tau ibunya itu sangat khawatir padanya. Maka dia tidak ingin lagi membuatnya pikiran dengan masalahnya.
**
Hari ini Kirana tetap berangkat kerja seperti biasanya. Setelah belanja pagi dan menyiapkan sarapan, dia segera berangkat bekerja naik kendaraan umum. Sengaja dia belanja lebih awal agar santai dalam perjalanannya ke kantor.
Dan ya, Rey cuti hari ini. Dia masih harus istirahat total setelah tubuhnya drop kemarin. Tugasnya kini menghandle semua pekerjaan Rey dan memastikan tidak akan timbul masalah.
Setelah berkutat dengan jadwal Rey dan segala dokumen, Kirana kembali mengingat jadwal Rey besok yang harus survey ke lokasi pabrik. "Besok Rey harus survey ke pabrik baru, aku harus bertanya langsung padanya mengenai ini"
Waktu sudah menunjukkan jam pulang kerja. Kirana membereskan pekerjaannya dan segera menuju rumah atasannya yang kini sedang sakit. Iya, atasannya. Dia kembali harus sadar diri akan posisinya.
"Bell? Lo masih lama???"
"Iye nih. Besok pak Theo ada temu klien penting. Jadi gue harus selesein ini sebelum pulang"
"Maaf ya gue pamit pulang duluan! Ada hal yang harus gue sampaikan pada pak Rey secara langsung"
"Gwencanha, beib. I will finish it as soon as possible"
"Gudluck, beib! Caiyoo!" Sahut Kirana.
"You too.. Fighting!" Ucapnya yang juga memberikan kepalan tangannya untuk saling memberi semangat. "Titideje"
Interaksi kedua sahabat ini cukup membuat suasana kerja yang sulit menjadi lebih menyenangkan. Kirana bersyukur mempunyai rekan kerja seperti Bella.
Kirana segera meluncur setelah berpamitan dan saling melambaikan tangan pada Bella. Dia memilih ojek online untuk mengantarnya ke kediaman Cakradhana.
**
Di kediaman keluarga Cakradhana.
Ting tong..
Kirana memencet tombol bel rumah Rey setelah dipersilahkan masuk oleh satpam rumah Rey. Tentu saja satpam rumah Rey sudah mengenal Kirana. Terlebih Kirana adalah putri dari Erik, orang yang merekrutnya bekerja di kediaman Cakradhana.
Tak lama pintu rumah Rey terbuka. Seorang pelayan membukakan pintu rumah Rey dan mempersilahkannya masuk.
"Tolong tunggu sebentar, nona. Saya akan sampaikan kedatangan nona pada tuan Rey"
"Terimakasih, mba". Kirana membawa baki buah dan sebuah kantong tas karton dan meletakkannya di meja. Dia duduk di sofa mewah milik kediaman Rey yang dia yakini harganya bisa membeli 10 motor sekaligus untuk 1 setnya. Tidak perlu dipungkiri memang kekayaan Cakradhana mungkin tidak akan habis 7 turunan mengingat sepak terjangnya didunia bisnis yang sangat dikenal. Bahkan jika Cakradhana bangkrutpun akan membuat anak cabang dan perusahaan merger lainnya juga pasti akan menyokong untuk bangkit kembali. Bisa dikatakan sulit untuk menjatuhkan bisnis keluarga Cakradhana.
Tak lama, pelayan keluarga Cakradhana yang mempersilahkan kedatangan Kirana kembali dan meminta Kirana untuk langsung ke kamar Rey saja. "Tuan Rey meminta anda untuk langsung ke kamar beliau saja, non".
Kirana sempat terdiam. 'Iya, Rey harus bedrest total karena kondisinya mungkin belum pulih. Tetapi kenapa harus dikamaarr?' Batin Kirana.
"Non?"
"Eh.. I-iya mba"
"Saya akan ambilkan minum dan cemilan, non. Nona langsung masuk saja, tuan Rey sudah menunggu"
"Emm.. Mba maaf" Kirana menghentikan pelayan yang akan melenggang ke dapur. "Ng-ngomong ngomong Bu Windi dan Oma Dewi kemana ya? Kog sepi?"
"Nyonya Windi sedang bebelanja, non. Seperti biasa nyonya Dewi masih di kantornya. Mungkin sebentar lagi pulang"
"Oohh.. Terimakasih ya, mba"
Kirana beranjak dari duduknya dan mengambil baki buah yang sengaja dia bawa untuk Rey. Dia sebenarnya bisa saja menelpon Rey untuk masalah kantor. Tapi selebihnya dia sangat ingin menjenguk Rey, atasannya yang sudah membuat perasaannya campur aduk.
- Bersambung -