#27 - Jatuh Sakit

1226 Words
"Rey. Maaf jika aku menyakitimu. Tapi aku benar-benar tidak mengerti apa yang kamu katakan!" "Tidak mengerti!!??? Zayn. Dia bukan?? Targetmu kali ini!?" "Zayn???" Kirana membelalak mendengar nama Zayn keluar dari bibir Rey. Ternyata benar dirinya yang Rey lihat bersama lelaki lain. 'Berarti Rey melihat dinner kami berdua semalam' Kirana kembali mengingat-ingat semalam dia dan Zayn berada di resto mana. "Hah!???" Kirana membelalak mengingat ternyata resto yang Zayn pilih sama dengan resto tempat meeting Rey. "Kenapa terkejut? Bukankah kamu memang sengaja? Hmm???" Ucap Rey sambil berjalan santai memutari Kirana. "Kamu janji dinner dengannya di resto yang sama denganku semalam. Tujuanmu sudah pasti kan, ingin membuatku cemburu!" "Rey maaf. Aku sama sekali tidak sengaja! Aku benar-benar tidak memperhatikan lokasi dimana resto yg dikirim kak Zayn semalam". "Kak??" Rey berusaha tenang tetapi kepalanya mendadak pusing seperti berputar. "Sudah sedekat itukah sampai kamu memanggilnya kak-". Tubuh Rey tersungkur, tangannya masih berpegang pada sandaran sofa sedang yang satunya memegangi kepalanya, namun masih berada dalam kesadarannya. Tubuhnya melemas seolah tanpa tenaga. Kepalanya terasa pening dan tubuhnya dingin. "Astaga, Rey!!!" Kirana segera berlutut mendekati Rey, dia berusaha menolongnya dan ingin mendudukkannya di sofa. "Kemari duduk dulu, kubantu berdiri!" "Aku tidak butuh bantuanmu!". Rey menepis tangan Kirana kasar yang berusaha menolongnya hingga dirinya sedikit terpental. Rey masih tersungkur mendekap kepalanya. Dia merasa bantuan Kirana hanya membuatnya semakin terluka. "Aku akan panggilkan dokter ya, Rey!" Kirana segera berlari keluar ruangan Rey untuk meminta bantuan. Tapi saat dia beranjak, Rey menarik tangan Kirana dan memeluk tubuhnya erat. "Akh.." Pekik Kirana "Rey???" Rey hanya diam memeluk Kirana. Tubuhnya menghangat, jantungnya berdegup semakin kencang. Dia mengira akan mudah melepas Kirana. Tetapi tubuhnya seolah candu pada Kirana yang begitu dia cintai. "Rey badanmu panas. Istirahatlah di sofa dulu. Aku panggilkan dokter". Kirana berusaha melepas pelukan Rey, dia kembali menepuk punggung Rey pelan. "Rey??" Panggilnya lebih lembut. Rey masih diam dalam pelukan Kirana. Matanya terpejam, tubuhnya tidak cukup kuat untuk berdiri dengan kepalanya yang terasa sangat berat. "Jangan panggil dokter". Di sisa tenaganya dia berusaha mencegah Kirana. "Berbaringlah di sofa, aku tidak akan memanggil dokter. Hm?" Rey hanya mengangguk. Kirana membantu memapah Rey menuju sofa panjang yang berada di dalam ruangannya dan segera berbaring. Kirana dengan cepat mengambil selimut yang memang selalu tersedia di dalam laci kantor Rey dan memakaikannya. Tak lupa dia menaikkan suhu AC agar lebih hangat. Tubuhnya menggigil. Namun terasa panas. Wajahnya pucat dengan keringat dingin yang mengucur di keningnya. Kirana mengambil air kompresan. Lalu kembali lagi membuatkan jahe panas. Dia sendiri keluar bolak balik ke pantri kantor untuk mengambil apapun yang bisa meringankan demamnya Rey. "Hssst!!! Ran!?" Bella menghentikan langkah Kirana yang tengah menenteng baki dengan secangkir jahe panas. "Iya, Bell??" "Boss kenapa?" "Hmm.. Gak apa kog, Bell. Nanti saja gue ceritanya! Tolong jaga pintu ruangan boss ya, Bell. Beliau sedang tidak bisa menerima tamu. Katakan saja beliau sedang sibuk jika ada yang mencarinya. Kecuali URGENT banget!." Dia segera meninggalkan Bella setelah mendapat acungan jempol. "Makasihhh!!". Kirana kembali mengganti handuk kecil di kening Rey yang sudah dingin dengan air hangat dalam baskom yang dibawanya. "Minum jahenya dulu, Rey!" Rey dengan tertatih mencoba duduk dan meneguk sedikit air jahe yang Kirana bawa. Dia kembali berbaring dan tak lama kemudian tertidur. Kirana beranjak dari duduknya dan segera menelpon dokter perusahaan. Saat Rey tertidur, dokter memeriksanya tanpa sepengetahuan Rey. "Dia hanya kecapekan, juga ditambah kurang asupan makanan dan nutrisi ke tubuhnya. Tolong kamu tetap pantau kondisinya jangan sampai demamnya lebih tinggi. Ah iya. Jangan biarkan dia stress dan pikiran yang berat-berat ya, Ran". Kirana hanya mengangguk. "Juga obatnya diminum segera setelah dia bangun nanti" "Baik, Dokter Ryan. Terima kasih banyak!" "Saya permisi dulu". Kirana segera menghampiri Rey yang tengah berbaring di sofa nya setelah mengantarkan dokter Ryan keluar ruangan. Kirana tak lupa berpesan pada dokter Ryan untuk tidak mengatakan apapun jika ditanya karyawan lainnya tentang keadaan Rey. Dia hanya tidak ingin karyawan lainnya khawatir dengan kondisi Rey saat ini. Dia sendiri dengan sengaja membawa laptopnya dan mengerjakan kembali tugasnya di meja tamu dalam ruangan Rey. Dia tidak mungkin meninggalkan Rey yang sedang sakit. Dia juga tidak ingin memberitahu keluarganya tanpa seizin Rey. 'Panas tubuhnya menurun. Syukurlah..' Batinnya sambil menempelkan punggung tangannya pada dahi Rey. Setelah hampir 2 jam dia tertidur. Melihat pergerakan Rey yang tiba-tiba terbangun. Kirana segera tanggap. "Pak Rey?" Dia membantu memposisikan tubuh Rey untuk duduk dan memintanya untuk makan lebih dulu. "Airhh". Ucap Rey lirih. "Ini minumlah dulu" Kirana memberikan air minum untuk Rey dan mengambil mangkuk berisi bubur yang dia pesan sebelumnya melalui delivery online. "Makan dulu ya? Setelah ini kamu harus minum obat" Rey tanpa banyak bicara dia hanya menurut. Kirana mulai menyuapi Rey sedikit demi sedikit. Entah apa yang ada dibenak Kirana saat ini padanya. Dia memilih cuek. Tubuhnya masih lemas. Dia memilih untuk menurut saja apa yang diminta Kirana karena memang dia sangat menyukainya, terlebih perhatiannya. 'Apa kamu akan seperhatian ini padaku hanya jika aku sakit? Apa yang kamu inginkan, Ran? Apa kurangnya aku daripada dia!?' Pertanyaan yang sering berkecamuk di benak Rey. "Cukupph". Ucap Rey lirih menghentikan makannya setelah habis hampir separuh. Kirana juga tidak akan memaksa. Dia lalu segera mengambilkan obat yang telah diresepkan dokter dan membantunya meminumnya. Yang penting perutnya sudah terisi. "Ini obatnya, diminum dulu." Ucapnya sambil menyodorkan segelas air minum. Rey segera meminumnya tanpa bertanya darimana obat itu berasal. Entah apa yang merasukinya kali ini hingga dia begitu menuruti perintah Kirana. "Apa saya perlu memberitahu keluarga pak Rey mengenai kondisi bapak?" Kirana menyadari posisinya saat ini dan kembali berbicara sopan. "Janganh. Aku tidak apa-apahh" Ucap Rey dengan nafas tersengal-sengal. "Baiklah. Sekarang istirahatlah lagi. Masih ada 1 jam sebelum jam kerja berakhir. Nanti pulang biar saya yang bawa mobilnya" "Kamu bisa setir mobilh?" Kirana hanya membalasnya dengan mengangguk. "Ada lain yang bapak butuhkan?" Rey hanya menggeleng. Dia kembali merebahkan tubuhnya di sofa. "Baiklah, saya akan kembali bekerja" Rey hanya berbaring, netranya masih menatap Kirana didepannya yang kembali berkutat dengan pekerjaannya. Meski dirinya masih emosi tentang Kirana, ternyata tubuh dan hatinya menolak. Dan tidak lama kembali tertidur. ** "Rey?" Kirana mencoba membangunkan Rey yang masih tertidur pulas. Sekarang pukul 4 lebih. Dan semua karyawan kantor sudah pulang. Selesai membereskan pekerjaannya serta menghandle semua pekerjaan Rey, Kirana segera beranjak untuk membangunkan Rey. "Rey sudah waktunya pulang. Kamu masih sanggup berjalan?" Disentuhnya kening Rey dengan punggung tangannya, memastikan demamnya sudah turun. "Hmm.. Iya, aku tidur lama banget ya?" "Nggak kog, Rey. Pekerjaanmu sudah ku selesaikan dan untuk agendamu besok akan aku reschedule. Sekarang aku antar kamu pulang dulu jadi besok kamu bisa istirahat dirumah" Rey diam dan mengiyakan. Dia hanya menurut apa yang dikatakan Kirana. Dengan sedikit tertatih Kirana membantu Rey berjalan dan segera turun menuju parkiran mobil. Rey seringkali menatap Kirana yang serius menjaganya. Dari sejak tadi dia drop hingga mau mengantarnya pulang. Dia tak mampu menolak perhatian Kirana. Hatinya memang sakit, tetapi melihat Kirana yang begitu peduli padanya membuat semua bencinya menghilang entah kemana. Karena sebenarnya inilah yang dia inginkan. "Apa aku harus sakit selamanya agar kamu mau memberikan seluruh perhatianmu padaku?" Dengan lirih akhirnya sebuah kalimat terucap dari bibir Rey dan netranya masih menatap Kirana. Kirana yang fokus mengemudi tiba-tiba terpaku mendengar pertanyaan Rey. 'Kenapa bicaramu asal begitu, Rey. Aku ingin kamu bahagia. Tapi kebahagiaanmu bukan padaku'. Dia menatap mata Rey dengan jawaban yang hanya muncul dalam benaknya. Namun dia memilih diam. Dengan susah payah dia menelan salivanya melihat Rey yang terus memperhatikannya sedari tadi. - Bersambung -
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD