#18 - Orang Spesial

1279 Words
"Senang juga berjumpa denganmu" Pandangannya berlatih kepada Kirana yang berada di samping Rey. Kirana juga tersenyum padanya. "Ayo kita kembali. Kami duluan Zayn" Rey permisi pada Zayn akan kembali ke kantor. "Tunggu! Ah... Maaf, Rey. Bisa saya bicara sebentar dengan sekretarismu?" Cegah Zayn. "Mmm.. S-silahkan saja!" Izin Rey agak meragu. 'Dasar laki-laki! Lihat yang bening sedikit saja langsung digoda' Batin Rey pada Zayn. "Bisa ikut saya sebentar?" Ajak Zayn pada Kirana. Kirana menganggukkan kepalanya tanda setuju. "Kalian kembali saja duluan. Nanti saya menyusul" Ucap Zayn bergantian meminta anak buahnya untuk pergi dulu. "Saya permisi sebentar, Pak Reyfano" Kirana segera mengikuti Zayn berjalan setelah mendapat anggukan dari Rey. Rey memandang mereka yang menghilang ke sebuah lorong. "Zayn Gege!!" Panggilan sayang Kirana saat melihat seseorang yang spesial baginya itu. Zayn membuka pelukkannya untuk Kirana. Kirana tersenyum lebar dan langsung saja berhambur memeluk lelaki yang berada di depannya itu. "Kakak apa kabar?" "Baik, Ai. Kamu bagaimana? Kenapa tidak kabari kakak kalo kamu sudah lulus sih?" Zayn mulai melepaskan pelukannya pada Kirana dan mulai menatap wajah Kirana dengan rasa rindu yang dalam. Ai, Panggilan sayang khususnya pada Kirana. "Maaf kak, Kiran terlalu sibuk. Hhehe" "Kakak terlambat nih kayaknya. Kamu duluan di rekrut sama Cakradhana. Tau gitu kakak duluan yang rekrut kamu jadi sekretaris kakak" Ucap Zayn sambil membelai rambut depan Kirana yang dibiarkan tergerai. "Apaan sih kak. Kiran mana tau kakak bekerja dimana! Memangnya kakak pernah bilang sama Kiran?" Gerutunya kesal. Sosok kakak yang selalu melindunginya saat dia kuliah di luar negeri sekarang bertemu lagi tanpa disengaja yang kala itu Zayn tengah menyelesaikan studi s2-nya. Sosok Kirana yang dewasa itu ternyata sangat manja pada seorang Zayn. Kakak seniornya yang sudah dia anggap seperti kakak kandungnya sendiri. "Maaf ya, Ai. Kakak juga sibuk sekali. Setelah pulang ke Indo jadi jarang kasih kabar ke kamu. Karena setelah lulus, Kakak harus bantu di perusahaan orang tua kakak" "Hah?Jadi?? Bapak Azhar Gunawan Dirut Fineworld itu papanya kak Zayn?" "Iya. Lain kali mau kukenalin sama beliau?" "Hehe. Lain kali mungkin deh kak. Eh kak, Kiran pamit duluan ya. Kiran kesininya bareng pak Reyfano tadi. Sudah ditunggu ini harus segera kembali" Zayn kembali memeluk Kirana yang sangat dirindukannya itu. Kirana baginya lebih dari seorang adik. Zayn berharap Kiran merasakan hal yang sama, menganggapnya lebih dari seorang kakak. "Hati-hati dijalan ya, Ai! Nanti kakak telpon kamu" Ucap Zayn sambil memeluk Kirana. "Siapp boss! Bye kak!" Ucapnya sambil melambaikan tangan dan beranjak pergi. Kirana meninggalkan Zayn dengan senyum manisnya dan segera pergi menghampiri Rey. Ternyata kegiatan mereka tak luput dari pandangan Rey yang sedari tadi mengikuti mereka di kejauhan. Meski tidak dapat mendengar percakapan mereka. Tangan Rey mengepal tidak terima pria itu memeluk Kirana seenaknya. "Awas saja kamu, Ran! Akan ku buat kamu menyesal telah berani-beraninya memeluk pria lain didepanku!" Sepertinya Kirana memang memiliki hubungan khusus dengan Zayn. "Ehhem". Rey mengagetkan Kirana dari balik tembok yang cukup jauh dari tempat Zayn dan Kirana bertemu. "Ah. Pak Reyfano. Maaf menunggu lama. Mari kita kembali ke kantor" Rey mengabaikan ucapan Kirana dan langsung menuju tempat mobilnya terparkir diikuti Kirana dibelakangnya dengan langkah setengah berlari. ** Di suatu cafe. "Mas Haikal??" Nira membuka pelukannya untuk seorang lelaki yang tengah duduk sendiri di meja paling ujung dekat jendela. Lelaki paruh baya itu tampak menyambut kedatangan Nira dengan pelukan dan senyum sumringah di wajahnya. "Maaf yaa mas, jadi menunggu lama". "Waktuku tak akan terasa jika itu untuk kamu, Nir" Lelaki itu tersenyum padanya dan mencium pipi Nira bergantian. "Jadi setelah ini kamu akan menetap di Indo? "Iyaa dong... Jadi kapan nih mas Haikal nikahin aku..!" ucapnya sambil menarik kursi duduknya. Diikuti Haikal yang juga kembali duduk di kursinya. "Kamu ini, bukannya bertanya kabarku dulu malah langsung to de point aja!" Nira memang sudah lama mencintai Haikal. Namun belum juga mendapat restu dari Allena untuk menikah resmi. "Ya habis gimana? Aku sudah bosan hidup di Amrik, mas. Kalau Allena lulus nanti pasti kan menetap disini. Jika sudah begitu kita berdua bisa segera meresmikan hubungan kita kan, mas?" Haikal bergidik mengalihkan pembicaraan. "Allena kapan lulusnya??" "Tahun depan, mas. Sekarang dia lagi jatuh cinta tuh..." "Jatuh cinta?? Sama siapa?" Haikal semakin penasaran. Bukan dengan sembarang orang Nira rela melepaskan putri kesayangannya itu jika bukan untuk keluarga kaya dan terpandang. "Reyfano, cucu tunggal Mba Dewi!" "Anak Beno?? Wahh.. Aku sudah mendengar tentangnya dan ibunya yang kembali ke keluarga Cakradhana. Aku turut sedih mendengar Beno telah tiada" "Iya mas, padahal dia seumuran dengan kita. Tapi umurnya lebih pendek! Dan baru sebentar saja mereka bertemu, mas Mahendra ikut berpulang" "Memang sudah nasibnya mereka, Nir. Terus Reyfano juga menyukai Allena?" "Sepertinya sih biasa aja, mas. Tapi itu tidak penting! Yang penting Allena suka dan Rey adalah orang yang paling cocok untuk dia" "Lalu mba Dewi? Apa mereka setuju?" "Entahlah mas, itu urusan gampang. Allena sudah berhasil menarik hati ibunya Rey. Jadi yang lainnya pasti lebih mudah" Ucap Nira dengan semangat. "Oiya mas, minggu depan ini mba Dewi akan mengadakan pesta dengan keluarga besar dan kerabat untuk merayakan kembalinya Rey dan ibunya. Kamu nanti juga pasti datang kan, mas?" "Jika diundang pasti datang lah...Oiya, Nir. Sampaikan maafku untuk mba Dewi ya. Aku masih sangat sibuk dengan urusan kantor disini. Jika diundang pasti aku akan sempatkan berkunjung kerumahnya. Sekarang aku harus segera selesaikan urusanku disini agar cepat clear dan bisa datang berkunjung kerumah mba Dewi" "Iya, mas aku paham betul betapa sibuknya kamu" "Makasih ya, Nir" "Iya, mas Haikal sayang" Nira tersenyum lebar melihat lelaki yang dicintainya kini berada didepannya. Karena lelaki inilah Nira tega mengkhianati pernikahannya sendiri dengan ayah Allena. Tentu tujuan utama Nira adalah kekayaan Haikal. Dari segi manapun kekayaan Haikal lebih banyak daripada mantan suaminya dulu. Sejak ayah Allena bangkrut, dia memilih menceraikan ayah Allena dan mendekati Haikal lagi dengan intens. ** At James mansion, Setelah selesai sarapan James benar-benar menjalankan aksinya lagi. Kinara dengan terpaksa harus mengikuti apapun keinginan James. Tubuhnya sudah sangat lelah. Tapi James masih saja menggrumulinya hingga siang hari. "James, bangun! Ini sudah siang. James??' Kinara mencoba membangunkan James tapi James masih terlelap dalam tidurnya. 'Ini orang tidur apa mati sih!' Terlintas dalam pikiran Kinara untuk segera kabur. Dia mencari-cari dimana James meletakkan kunci kamarnya. Dia menggeledah seluruh baju James yang tergeletak dilantai. Dirinya sendiri hanya berbalut bathrobe. 'Dimana dia meletakkan kuncinya!' Sial!' Gerutunya sambil sibuk mencari dimana kunci kamarnya. "Kamu sedang apa?!" Ucap James membuat Kinara tersentak kaget. "Ah, tidak. Aku hanya ingin merapikan bajumu yang berserakan. Aku ingin segera mandi dan aku juga lapar James" Dia berbohong untuk menutupi gelagat mencurigakannya. 'James tidak boleh tau aku sedang mencari kunci kamar' "Ku kira kamu sedang mencari kunci kamarmu. Kamar ini dikunci dari luar. Dan bodyguardku sudah berjaga di balik pintu. Hanya aku yang bisa membuka pintu itu. Jangan kamu berharap banyak, Kirana!" James mengambil bajunya yang berada di tangan Kinara. Lalu memakainya. "Mandilah. Kita makan siang bareng. Nanti malam kamu harus mendampingiku hadir ke pesta. Bajumu akan dibawakan sama pelayan nanti. Okay, honey!" James mendekati Kinara dan mencium keningnya. Kemudian berlalu meninggalkan Kinara yang hanya terdiam. 'Sial! Gagal lagi! Dia sangat licik sekali! Selalu mengurungku dikamar ini! Memangnya aku tahanannya!' Batin Kinara meledak-ledak "Awas saja kau, James!" ** Di dalam perjalanan mereka menuju kantor. "Zayn. Dia tampan juga. Muda, mapan dan sukses" Rey sengaja memancing Kirana untuk mengatakan yang sejujurnya tentang hubungan mereka. "Aah.. I-iya" Jawab Kirana singkat. "Pasti sangat menggoda bagimu kan? Pria seperti dia. Sudah tinggi, tampan, dan lagi, bukannya dia putra bungsu pemilik Fineworld?" "Apa maksud bapak?" Kirana mulai memicingkan alisnya. 'Menggoda?' "Aku tau dia terus memperhatikanmu selama pertemuan berlangsung. Begitu keluar ruangan saja dia langsung memintamu bertemu secara khusus. Pasti dia juga tertarik padamu kan??? Wahh.. Bukannya dia tangkapan emas bagimu? Bukankah sangat sesuai kriteriamu?" Ucap Rey dengan ketusnya. "Hah???" - Bersambung - 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD