Rey pura-pura memejamkan matanya dan meletakkan tangannya keatas keningnya. Sesekali dia melirik Kirana yang sedang makan.
Kkruuukkk..
'Siaal! Ini perut rese amat pake keroncongan segala!'
"Rey? Kamu belum sarapan juga?"
"Emm.. Belum" Jawabnya cepat masih menutup matanya.
"Kamu mau?" Kirana menyodorkan kotak bekalnya pada Rey. Rey melihat kotak bekal Kirana dan dengan cepat Rey meraih sendok yang tadi dipakai Kirana, mengambil sesendok nasi lalu memakannya.
"Ekhem.." Rey berusaha mendatarkan wajahnya. Dia tidak memungkiri rasanya yang enak. Begitu cocok di lidah Rey dan untuk perutnya yang sedang keroncongan. "Biasa saja. Kamu jangan kegeeran. Ini hanya karena aku lapar, aku jadi terpaksa makan masakanmu" Selesai berucap dia kembali menyuapkan nasi ke mulutnya.
Kirana yang melihat Rey begitu semangat makan masakannya itu merasa senang. Dia tersenyum melihat tingkah Rey yang menikmati masakannya itu dengan cepat. "Makan pelan-pelan, Rey!"
"Kamu tidak makan?"
"Sudah kenyang kok. Ayah sengaja deh kayaknya memberiku bekal yang banyak karena tau kamu belum sarapan" Ucap Kirana sambil tersenyum tanpa mengetahui Rey memperhatikan senyumannya.
'Kamu semakin cantik kalau tersenyum' Batin Rey tersenyum bahagia melihat senyuman di wajah Kirana.
"Aak!" Rey menyodorkan sendok berisi nasi goreng bekal yang dibawa Kirana.
"Hah??" Kirana terkejut Rey akan menyuapinya. Dia menelan salivanya berat.
"Buka mulutmu! Kamu juga belum makan banyak tadi! Ayo aaakk"
"T-tidak usah, Re-" Rey menyuapkan paksa sesendok nasi ke mulut Kirana.
"Kamu menyuruhku menghabiskan makanan tidak enak seperti ini sendirian!? Itu maksudmu?"
"Oh.. Begitu.. M-maaf, Rey" Kirana ingin mengambil kotak makannya yang masih dipegang Rey. Tapi Rey memegangnya kuat.
"Cepat habiskan yang di mulutmu!" Rey menyuapkan lagi ke mulutnya. Bergantian dengan dia suapi Kirana sampai nasi goreng bekalnya itu habis.
"Mau minum?". Kirana menyodorkan botol minuman bekalnya pada Rey. Rey langsung menenggaknya hingga tinggal setengah.
Kirana melihat jakun Rey naik turun saat dia menenggak air minumnya. Saliva Kirana terasa berat ketika dia menghelanya. Segera dia palingkan pandangannya keluar jendela.
"Nih! Makasih"
"Hah? A-apa?" Kirana benar-benar terkejut tidak mendengar jelas ucapan Rey karena terhanyut dalam lamunannya.
"Makasih untuk makananmu yang tidak enak!"
"Oh.. I-iya. Maaf, Rey"
Kirana menerima botol minuman yang diberikan Rey tapi tidak meminum airnya. Sebenarnya dia sungkan, karena Rey menenggaknya langsung dengan bibirnya menempel pada bibir botol. Padahal sedari tadi dia sudah makan bergantian memakai satu sendok dengan Rey. Itupun karena Rey yang memaksa. Satu hal yang aneh dalam dirinya. Dia merasa senang Rey menyuapinya 'Ada apa dengan diriku!!'
"Kamu menaruh sesuatu di minuman itu ya?" Rey membuyarkan lamunan Kirana.
"Tidak, Rey. Itu hanya air biasa!"
"Lalu kenapa tidak kamu minum!?"
"Iya, ini aku minum kok" Kirana mulai menenggak minumannya. Bibirnya menempel pada bibir botol bekas bibir Rey disana. Rey memang sengaja membohonginya karena tau Kirana pasti sungkan minum satu botol dan makan satu sendok dengannya.
Rey sukses mengerjai Kirana hingga Kirana kelabakan. Dan rasa nasi gorengnya enak sekali. Rey masih merasakan bumbu dan aroma nasi goreng buatan Kirana di mulutnya. 'Ternyata dia pandai sekali memasak. Masakannya enak'
"Sudah, Rey. Ayo berangkat" Ucap Kirana setelah membungkus kembali kotak nasinya dalam tas miliknya.
Rey menyalakan mobilnya dan segera menuju lokasi pertemuan di hotel Vertika. Hari ini akan menjadi hari penting bagi Rey. Kirana akan berusaha membantunya sebisanya.
**
Di ruang makan kediaman Cakradhana.
"Bu. Rey belum turun sarapan? Biar Allena yang panggilkan ya?" Allena yang baru keluar dari kamarnya menawarkan diri untuk menghampiri Rey ke kamarnya. Belum beranjak pergi Windi sudah mencegahnya.
"Tidak perlu, Al. Rey sudah berangkat pagi-pagi sekali. Dia ada rapat penting hari ini" Cegah Windi sambil menarik kembali tubuh Allena dan memintanya segera duduk di kursi makan. "Kita sarapan dulu yuk!"
"Kemana mama kamu, Allena?" Sahut Dewi yang sedari tadi sudah menunggu semuanya untuk sarapan bersama.
"Ooh.. Mama pagi tadi izin keluar sebentar, bi. Katanya ada urusan dengan paman Haikal"
"Haikal?" Mata Dewi terbelalak mendengar nama Haikal setelah sekian lama.
"Iya, bi. Ada apa, bi?" Allena memandang heran ekspresi Dewi saat mendengar nama Haikal.
"Ah, tidak. Bibi hanya penasaran bagaimana mamamu mengenal Haikal"
"Paman Haikal kan temennya papa, bi. Mungkin paman ingin bertanya kabar papa?".
"Tapi kenapa harus bertanya pada mamamu?".
"Entahlah, bi? Allena kurang tau. Mama juga tidak cerita pada Allena, bi??".
"Ooh.. Ya sudah kamu lanjutkan makanmu. Makan yang banyak.."
Dewi paham sekali apa yang sedang terjadi. Nira pasti berusaha mendekati Haikal, yang juga adalah adik ipar Dewi. Sejak dulu tersiar kabar keretakan hubungan orang tua Allena adalah karena Nira berselingkuh. Namun akhir perceraian mereka terjadi setelah papa Allena benar-benar bangkrut. Haikal Erlangga adalah suami dari adik sepupu Mahendra. Masih saudara jauh. Dia juga salah satu direksi di perusahaan Cakradhana yang dia pimpin. 'Semoga yang ku khawatirkan adalah salah'. Dewi segera menggeleng cepat dalam lamunannya sendiri.
**
Setelah 20 menit perjalanan akhirnya mereka sampai di hotel Vertika tempat pertemuan mereka dengan tender penting hari ini. Memang lokasi hotel ini lumayan jauh dari kantor Rey berada. Rekan kerja sama mereka kali ini adalah Perusahaan Fineworld yang berfokus pada bisnis properti. Kerjasama kali ini dengan Fineworld akan menjadi yang pertama bagi Rey. Dan sudah dikenal dikalangan pebisnis bahwa Fineworld cukup selektif untuk di ajak kerjasama.
Rey menghela nafas panjang setelah turun dari mobilnya. Dia merapikan kemeja dan jasnya. Kirana turun mengikutinya dibelakang. "Sudah siap semua kan berkas proposalnya?"
"Sudah, pak Reyfano" Kirana menunjukkan beberapa berkas dan laptop yang telah dia bawa.
"Ayo kita menangkan mereka!" Rey mengepalkan tangannya mengumpulkan semangatnya yang sedikit meragu. Dia melangkah menuju lokasi diikuti Kirana dibelakangnya yang sesekali tersenyum melihat tingkah Rey yang gugup.
Rey dan Kirana hadir duluan dan segera memilih tempat duduk berdampingan tanpa sepatah katapun. Rey masih asyik dengan pikirannya sendiri tentang Setelah menunggu 5 menit di dalam ruang pertemuan. Beberapa orang berjas rapi dan seorang wanita cantik yang mengikuti seorang lelaki muda yang tampan, tinggi dan wajahnya tidak asing bagi Kirana itu tengah memasuki ruangan.
'Hah? Dia kan?' Kirana mengenali lelaki yang berjalan paling depan diantara orang-orang Fineworld yang datang. Dia hanya tersenyum kecil dan tetap tenang.
Rey dan Kirana berdiri menyambut kedatangan mereka. Perwakilan sebuah perusahaan properti terbesar tengah berada didepan mereka.
Pimpinan mereka mengentikan langkahnya beberapa saat setelah memasuki ruangan. Dia ternyata mengenali Kirana yang berdiri di samping Rey. Dia tersenyum lebar memandang Kirana yang menunduk padanya lalu pandangannya segera beralih pada Rey yang menyapanya.
"Selamat pagi, Tuan..?" Sapa Rey pada lelaki muda yang menjadi perwakilan Fineworld. Dia mengulurkan tangan kanannya hendak memberi salam.
"Zayyan. Direktur Perencanaan Fineworld. Selamat pagi juga.. Tuan-?" Sekretarisnya membisikkannya sesuatu. "Ah maaf. Tuan Reyfano" ucapnya yang membalas salam dan uluran tangan Rey. Zayyan Keith Gunawan atau biasa dipanggil Zayn yang juga adalah salah satu direktur Fineworld. "Wajah baru Cakradhana masih sangat muda dan tampan. Mari silahkan duduk" Gurau Zayn sambil menyilahkannya duduk kembali. Zayn melirik kearah Kirana yang berusaha tenang. 'Dia.. Setelah sekian lama'
Hampir 2 jam lamanya mereka berkutat dengan berkas dan presentasi. Zayn yang duduk di kursi paling ujung sesekali melirik Kirana yang berada dikursi paling depan dekat Rey presentasi. Rey yang menyadari itu merasa sedikit kesal dengan Zayn. Tapi dia berusaha tetap profesional menyampaikan proposal bisnisnya.
"Terimakasih, atas proposal bisnisnya, tuan Reyfano. Akan segera kami kabari untuk keputusan final dari bapak Dirut" Mereka mengakhiri pertemuan hari ini dengan berjabat tangan. Keputusan memang belum final. Terlebih lagi proposal bisnis baru mereka harus mendapat persetujuan dari dirut Fineworld.
Rey menyadari benar pandangan apa yang Zayn tujukan pada Kirana. Sepertinya Kirana juga membalas pandangan Zayn dengan senang hati. 'Cih!' Rey kembali merasa kesal pada Kirana. Perasaan cintanya memang besar. Tapi dia sangat membenci kebiasaan Kirana yang suka menggoda lelaki seperti kata ibu tirinya.
Mereka berpisah di depan pintu masuk ruang pertemuan. "Terimakasih atas waktunya, Tuan Zayyan" ucap Rey sambil menundukkan kepalanya.
"Ah. Kamu tidak perlu memanggilku seformal itu. Panggil saja Zayn. Sepertinya umur kita tidak jauh berbeda" Memang umur Zayn dan Rey hanya terpaut 1 tahun.
"Baiklah, Zayn. Kamu juga bisa memanggilku 'Rey'. Senang berjumpa denganmu"
"Senang juga berjumpa denganmu" Pandangannya berlatih kepada Kirana yang berada di samping Rey. Kirana juga tersenyum padanya.
"Ayo kita kembali. Kami duluan Zayn" Rey permisi pada Zayn akan kembali ke kantor.
"Tunggu!"
- Bersambung -