#15 - Paket Komplit

1275 Words
James memasuki kamar dimana Kinara berada membawa sebaki makanan. Dilihatnya Kinara tengah tertidur pulas dengan tangan masih diikat. "Hey Kirana sayang. Ayo makan. Sudah sore, kamu bisa mati kalau tidak makan" "Emmh.. James. Aku haus" James menyodorkan segelas air minum pada Kinara lalu dia meminumnya dengan cepat. Tubuhnya benar-benar lemas dari semalam hingga kembali sore dia belum makan apapun. James benar-benar membuatnya sakit. "Kalau kau mau menurutiku, aku pastikan hidupmu akan lebih baik, Kirana. Begitu sebaiknya. Kamu sudah merasakan hukumanku kan? Ini baru awal Kirana. Kamu akan merasa lebih tersiksa jika tidak menurutiku" Kinara mendengus pelan. 'Aku harus keluar dari neraka ini!' Dia berbohong pada James. "Maafkan aku, James. Maukah kamu memaafkanku?" "Akhirnya kamu sadar posisimu, Kirana!" James mengambil sepiring nasi beserta lauk pauknya. "Buka mulutmu!" Kinara pun menurut. Dia harus menuruti James dan segera memikirkan cara pergi dari tempat itu. "James. Tanganku pegal sekali. Rasanya seperti mati rasa" "Akan ku buka setelah kamu menghabiskan makananmu" Kinara pun diam dan melanjutkan makannya. James membuka tali ikatan tangan Kinara. Tangan Kinara benar-benar sakit. James ternyata sudah menyiapkan dokter dibalik pintu yang akan memeriksa Kinara. Dokter itu sudah mengetahui tentang kebiasaan James. Dia hanya menjalankan perintah James dan langsung pergi begitu selesai. Dia meresepkan obat dan vitamin untuk Kinara. 'Tunggu saja, James. Akan kubalas perlakuanmu padaku' Batin Kinara memandang sinis pada James yang beranjak dari kamarnya. 'Bagaimana caraku keluar dari sini' Tidak berapa lama, James kembali ke kamar Kinara. Kinara masih terbaring lemas di ranjang. Dia meminta tolong pada James. "James.." Ucap Kinara lemas, tapi dengan manja. "Aku pengen pipis". Kinara menyodorkan kedua tangannya pada James. "Baiklah, sayangku" James menggendong Kinara ala bridal ke kamar mandi. James dengan telaten membantu Kinara tanpa sedikitpun rasa jijik. Bahkan membantunya membersihkan area kewanitaannya dengan lembut. 'Lelaki yang aneh' Batin Kinara. "Terimakasih, James" Ucap Kinara pada James setelah membaringkannya kembali di ranjang. Kinara memang masih sangat lemas untuk sekarang. Dia harus berpura-pura menurut pada James agar James percaya kepadanya. "Segeralah sembuh. Tugasmu belum selesai" James mencium kening Kinara dan pergi meninggalkannya di kamarnya sendirian. James mengunci kembali pintu kamar Kinara dan memastikan dia tidak akan bisa kabur. ** Rey tiba dirumahnya sore hari sepulang kerja. Dia langsung menuju ke kamarnya untuk mandi dan ganti baju lalu menuju ke ruang makan menghampiri ibunya yang sedang memasak untuk makan malam di dapur. "Ibu. Rey mau cerita" Ucap Rey sambil mencicipi masakan ibunya yang sudah matang. "Ada apa, nak?" Jawab Windi yang masih sibuk mencuci sayuran. "Ibu tau kan Kirana anaknya om Erik?" "Iya, tau" Ibunya menghentikan kegiatannya dan mendekati anaknya itu. "Ada apa dengannya, nak?" "Dia Kirana yang selama ini Rey cari, bu" "Hah?? Dia? Ibu memang sudah curiga. Jadi benar dia wanita yang selama ini kamu cari?" "Iya, bu. Tapi sayangnya dia melupakan Rey" "Melupakanmu, maksudnya?" "Entahlah, bu. Kiran selalu menghindar setiap Rey membahas masalah 1 tahun yang lalu. Seolah dia memang bukan dia yang dulu. Tapi apa masalahnya, bu!? Kenapa dia melupakanku begitu saja!?" Windi mengela nafas panjang. "Rey. Kiran itu adalah masa lalumu. Kalau dia memilih melupakanmu maka lakukan yang seharusnya kamu lakukan. Lupakan dia! Kamu lebih pantas mendapatkan yang lebih baik darinya" "Rey hanya ingin bertanggung jawab atas perbuatan Rey padanya saat itu, bu. Rey tidak mau dianggap lelaki pengecut yang hanya mau saat enaknya saja. Rey juga sangat mencintainya" "Tapi itu dulu, nak. Kamu harus move on. Kalau kamu terus mengharapkan dia, sedangkan dia sudah tidak menginginkanmu. Untuk apa lagi dipertahankan? Hanya akan membuatmu semakin sakit hati" "Tapi bagaimana Rey bisa melupakannya, bu. Dia kan sekretaris Rey dikantor" Windi menghela nafas panjang lagi. Masalah percintaan anaknya ini memang sangat pelik baginya. Dia sangat menyayangi Rey dan tidak ingin anaknya terluka. "Kamu kan direktur disana! Kamu tinggal memecatnya atau pindahkan saja dia ke departemen lain, nak" Rey hanya terdiam. Setengah hati dia sangat tidak rela ditinggalkan oleh Kirana. Tapi setengah hati lagi dia sangat membencinya. Memang benar kata-kata ibunya. Dia harus mulai melupakan Kirana. Selang beberapa saat, Allena datang menghampiri Rey dan Windi di dapur. "Ada yang bisa Allena bantu, bu?" Rey menatap kedatangan Allena yang langsung mendekati Windi dengan akrabnya. "Eh, Allena. Sini, nak bantuin ibu masak capcay. Kamu bisa kan?" Allena tertawa kecil. "Allena kurang pandai memasak, bu" "Ooh.. Tidak apa-apa, nak. Kamu bisa belajar dari ibu mulai sekarang, atau belajar sama Rey" "Hah?? Rey bisa masak, bu?" "Bisa dong. Rey itu paket komplit deh pokoknya. Sudah ganteng, setia, pinter masak lagi" Yang di bicarakan cengar cengir sendiri. "Apaan sih, ibu! Sukanya ngada-ada!" Ucap Rey malu. "Kok ngada-ada sih? Emang kenyataannya seperti itu!" "Iyaa, bu. Allena percaya kok. Lelaki seperti Rey pasti sempurna" Allena tersenyum pada Rey yang tersipu malu karena ucapan ibunya di depan Allena. "Sempurna apanya Al. Dia itu punya satu kekurangan tau!" "Kekurangan apa, bu?" "Sudah lebih seperempat abad tapi dia masih jomblo" "Hah? Masak iya Rey masih jomblo?? Nggak percaya deh, bu" "Tuhh liat, Al. Wajahnya saja keliatan kurang belaian!" Rey membelalakkan matanya tidak percaya apa yang dikatakan ibunya lalu tertawa terbahak-bahak. Diikuti oleh tawa Windi dan Allena. "Rey cobain deh. Ini adalah kue buatan Allena. Rasanya enak banget!" Windi menyodorkan setoples kue kering buatan Allena. Rey tanpa menjawab langsung mengambil sepotong kue kering dan mencobanya. "Emmh... Apaan ini?" Ekspresinya menunjukkan rasa tidak enak di lidahnya. "Hah?? Apa benar tidak enak, Rey???" Tanya Allena sedikit kecewa dengan komentar Rey. "Kue kering apaan ini, Al?" Rey mencoba menggoda Allena. "Emmh enak bangett!!!" "Iih apaan sih, Rey. Allena kira rasanya tidak enak. Syukurlah kalau enak" "Ini enak, Al. Kayaknya kalau kamu buat toko kue seperti ini. Bakalan sepi toko kue ibu nanti!" "Ya nggak lah Rey. Mending Allena bantuin ibu daripada jadi saingan ibu. Ya kan, bu?" "Iyaa, nak. Boleh kok" Windi tersenyum bahagia melihat kedekatan Rey dengan Allena. 'Mungkin Rey bisa segera move on karena Allena. Allena gadis yang menyenangkan. Dia sangat cocok untuk Rey. Daripada si Kiran itu' Wajah Windi menjadi cemberut saat dirinya mengingat cerita Rey tentang Kirana. "Bu. Kenapa malah diam saja? Cemberut gitu?" Rey membuyarkan lamunan Windi. "Ah.. Ibu jadi baper teringat ayah kamu, nak. Melihat kalian sedekat ini, ibu sangat senang" Windi tersenyum bahagia kepada Rey dan Allena. Rupanya sedari tadi kegiatan mereka tak lepas dari pengawasan Dewi. Dewi menyukai Allena. Tapi jika Allena harus menjadi cucunya dia merasa sedikit keberatan. Apalagi Rey cucu satu-satunya. Dia ingin Rey mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari Allena. Rey menerima sebuah panggilan telepon dari Kirana. Begitu melihatnya matanya berbinar. Seperti memang sedang menunggu panggilan darinya. "Emm.. Ibu, Allena, Rey permisi sebentar" Rey meninggalkan mereka menuju teras samping rumah tepat disamping kolam renang. "Hallo?" Jawab Rey dengan nada sedikit sinis. "Emm.. Hallo Rey?" "Iya. Ada apa?" "Aku barusan membuka notif m-bankingku. Kamu mentransfer senilai uang untuk apa Rey?" 'Dasar tidak peka! Ngapain saja sih jam segini baru buka notif!' Rey menggerutu dalam hati "Aku kembalikan uangmu. Aku tidak butuh uang kamu. Aku masih punya banyak uang hanya untuk membayar tagihan sekecil itu!" Ucap Rey sedikit berbohong. Sebenarnya tadi siang Rey hanya bercanda padanya. Tapi dia malah membayarkan tagihannya sampai meninggalkan KTPnya. "Maaf, Rey. Aku sama sekali tidak bermaksud menyinggung kamu" "Terserah" Rey berusaha cuek. Padahal hatinya sangat bahagia mendapat telepon dari Kirana. "Tapi kenapa sebanyak itu?" Rey mentransfer ke rekening Kirana sebanyak 10 juta melebihi total pembayaran tagihan tadi siang. "Aku tidak tau. Asal memencetnya!" "Besok akan kukembalikan lebihannya, terimakasih ya, Rey". "T-tidak perlu. Aku tidak butuh!" Ttuuut tuuut tuut Rey mematikan panggilan telepon Kirana. Dia hanya tidak ingin mendengar penolakan Kirana lagi. Dia menghela nafasnya. Menenangkan denyut jantungnya yang berdegup kencang. 'Selalu seperti ini saat dengannya!'. Sebenarnya uang itu hanya sebagai permintaan maafnya karena mengerjainya tadi siang. Rey bukannya senang, dia malah merasa tidak enak hati pada Kirana. - Bersambung - 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD