"Apa karena kamu kurang puas dengan layananku? Malam itu kita sudah menghabiskan malam kita berdua, Kirana. Bahkan habis dua ronde kamu saja masih minta nambah! Apa karena itu? Tidak mungkin"
"Hah?" Mata Kirana terbelalak tidak percaya. Pacaran saja tidak pernah apalagi melakukan hal semacam itu.
"Kalau sudah selesai makan, saya tunggu di parkiran, pak" Kirana beranjak dari tempat duduknya. "Permisi"
Rey mengejar Kirana dan menariknya kembali ke tempat duduknya. Rey beralih ke belakang tempat duduk Kirana dan memegang kedua bahu Kirana.
"Aku masih tidak bisa percaya sepenuhnya padamu. Aku pasti akan segera menandatangani surat pengunduran dirimu. Tapi tidak sekarang. Sekarang ini kamu milikku! Jadi lakukan semua yang aku perintahkan tanpa penolakan. Duduk dan habiskan makananmu!"
Kirana hanya duduk menatap keluar jendela dengan hati yang kacau. Air matanya yang berusaha dia bendung sedikit terpecah. Dia segera menghapus air matanya di pipi tak ingin Rey melihatnya.
Rey kembali ke kursinya namun tidak melanjutkan makannya. Dia yang menyadari sikap Kirana melanjutkan kata-katanya. "Teruskan sikapmu yang seperti ini. Benar mungkin ini yang terbaik buatku. Melupakanmu yang menyakitiku dan akupun harus menganggapmu tak pernah ada sebelumnya. Sekarang aku sudah memiliki segalanya. Apapun bisa kudapatkan bahkan wanita sepertimu bisa kudapatkan dengan mudah"
Kirana kembali menyeka air matanya. 'Apa yang sebenarnya kulakukan, Rey selalu saja memperlakukanku dengan buruk'. Namun dia berusaha tegar.
Mereka melanjutkan makan siang mereka. Kirana hanya meminum air saja tidak menghabiskan makanannya yang sangat pedas itu. Ditambah ucapan Rey yang menambah pedasnya tenggorokan Kirana.
"Cepat kamu yang bayar!"
Mata Kirana membelalak mendengar ucapan Rey lagi. Dengan sedikit kesal dia meninggalkan mejanya dan membayar tagihan restoran pilihan Rey. Alangkah terkejutnya Kirana melihat bon tagihan makan siangnya ini.
'Apa??? 8jutaa?? Kenapa bisa sebanyak ini?' Kirana memberanikan diri bertanya kepasa kasirnya. "Mba maaf, kenapa totalnya bisa sebanyak ini ya?" Makan siangnya hari ini bisa setara dengan uang makannya berbulan-bulan yang membuatnya menggigit jari.
Kasir itu menjelaskan kepada Kirana bahwa total tersebut termasuk biaya full booked restorannya. Kirana menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Emm.. Mba gini. Maaf sebelumnya, saya hanya bawa 6juta. Saya tinggalkan KTP saya disini nanti saya kembali lagi untuk bayar sisanya gimana?"
Kasir tersebut mengiyakan permintaan Kirana. Kirana kembali menghampiri meja Rey dan mengajaknya segera pulang. Kirana sungguh kesal tapi dia berusaha menutupinya.
"Sudah, pak. Mari kembali ke kantor. Sudah hampir habis waktu makan siang"
Rey beranjak dari tempat duduknya. "Kamu duluan saja. Aku mau ke toilet dulu"
Kirana meninggalkannya menuju tempat parkir. Dia melihat seorang pelayan kembali membuka tanda full booked yang terpampang di depan pintu masuk. 'Padahal restoran ini sangat ramai. Benar juga kalo di booking semua pasti mahal' Kirana menghela nafas panjang. 'Uang tabunganku. Hhhiks' Batinnya ikut menangis melihat isi atm nya kosong. Uang yang dia simpan sejak dia kuliah dan seringkali mendapat tambahan dari kerja sampingan dan hasil magang. Biarlah nanti dia pinjam pada ayahnya dulu untuk membayar kekurangannya.
Tidak lama, Rey kembali dari toilet dan segera memasuki mobilnya tanpa menghiraukan Kirana. Kirana pun ikut memasuki mobil Rey dan mobil segera melaju menuju kantor.
**
Di kediaman Cakradhana.
Dewi, Windi, Nira serta Allena sedang berada di teras samping rumah. Mereka tengah asyik berbincang-bincang sambil membuat kue kering khas buatan Windi yang menjadi favorit keluarganya. Allena pun ikut belajar cara membuatnya. Dia penasaran dengan kue kering buatan Windi yang rasanya unik.
"Kamu hebat, Allena. Baru sekali mencoba sudah jago sekali membuat kue nya sangat rapi dan sempurna" Ibu Rey, Windi memuji Allena yang sedang belajar membuat kue darinya.
"Tidak, mbak. Ini karena mbak yang mengajariku dengan sangat baik" Meski terasa aneh, Allena yang seumuran dengan anaknya itu memanggil Windi dengan sebutan kakak.
"Hhemm.. Rasanya sungguh aneh kamu memanggilku 'mbak'. Padahal kamu seumuran dengan Rey, anakku" Diikuti tawa ringan oleh mereka. "Malah lebih nyaman mungkin jika kamu memanggilku 'Ibu' seperti Rey"
"Memangnya boleh, Bi?" Allena melempar pertanyaannya pada Dewi
"Yang kamu panggil saja tidak keberatan. Apa hak saya melarangmu, nak?"
"Iyaa kan lebih pantasnya kamu itu jadi anak ibu, nak" Windi sangat senang pada Allena. Dalam lubuk hatinya 'Dia sangat cocok menjadi pendamping Rey. Cantik, pintar lagi. Mungkin dia bisa membuat Rey melupakan wanita itu'. Ternyata niatnya itu menjadi sasaran empuk ibu Allena.
"Mama juga setuju, nak. Kamu boleh memanggilnya ibu" Imbuh Nira. 'Dengan begitu akan lebih mudah bagi Allena menjadi mantumu' Nira berharap adalah Allena bisa menjadi menantu dari keluarga Cakradhana.
Dewi menyukai Allena, tapi dia tidak terlalu suka dengan Nira. Nira sendiri meninggalkan suaminya karena perusahaan suaminya jatuh bangkrut. Allena sebenarnya gadis yang baik. Dia hanya dimanfaatkan oleh mamanya yang gila harta.
**
Sore hari disebuah cafe.
"Mas Aldo harus janji akan selalu setia sama Karin, ya mas?" Karin merengek pada kekasihnya itu. Aldo Dewangga. Seorang karyawan marketing swasta berusia 25 tahun yang memiliki hubungan dengan Karin sejak Karin masuk sekolah menengah atas. Sekarang Karin hampir lulus dan menuruti ayahnya untuk kuliah di luar negri. Dia begitu khawatir kekasihnya itu akan memilih wanita lain dan meninggalkan dia.
"Iyaa, Karin sayang. Mas janji sama kamu terus" Aldo mengacak-acak rambut panjang Karina. Memang walaupun usianya cukup jauh. Tapi Aldo memang sangat menyayangi Karina yang manjanya melebihi adiknya sendiri.
"Karin takut sendirian di negri orang, mas. Gimana dong kalo Karin diambil orang?"
"Ya jangan mau dong. Kamu kan punya mas"
"Karin nggak mau kuliah disana mas. Tapi papa maksa terus. Karin pengen kuliah disini saja biar deket terus sama mas"
'Itu kan Karin?' Kirana melihat Karina yang sedang bermesraan dengan seorang lelaki di cafe itu mengundang curiga Kirana.
Dia sedang berbelanja di sekitar cafe itu setelah pulang kerjanya diantarkan Rey. Diapun segera menghampiri Karina.
"Karin!" Karina dan Aldo menoleh bersamaan mencari asal suara. Kirana berdiri di pintu masuk dan mendapati adiknya itu bersama lelaki di cafe dan bukannya dirumah belajar.
"Kak Kiran?" Ucap Karina mendekati kakaknya yang memergokinya sedang pacaran. "Kakak sedang apa disini!?"
"Seharusnya kakak yang bertanya seperti itu. Sedang apa kamu disini malah berduaan dengan laki-laki?"
Karina menarik kakaknya keluar cafe. "Dia cuma temenku kak!"
"Kakak lihat dia dekat sekali denganmu! Apa hubungan kalian sebenarnya? Bagaimana kalau sampai ayah sama mama tau?"
"Mereka tidak akan tau kalau kakak tidak mengadu pada mereka! Awas saja kakak kalau sampai mereka tau soal ini! Karin tidak akan memaafkan kakak!" Karina masuk kedalam cafe dan menghampiri Aldo. Dia mengajak Aldo segera meninggalkan cafe itu untuk menghindari Kirana.
Kirana hanya memandang kepergian adiknya itu. 'Karin. Kamu seharusnya belajar dulu yang sungguh-sungguh. Kalau ayah sama mama tau, pasti mereka akan marah padamu'.
Kirana lantas melanjutkan perjalanannya menuju resto Bali yang dikunjunginya tadi siang. Dia harus mengambil kembali KTP nya yang dia tinggalkan disana sebagai jaminan pembayaran yang masih kurang.
Kirana hanya diantar oleh gojek dari rumahnya ke resto. Kebetulan dia mampir sebentar ke Betamart dekat rumahnya. Dia sangat terkejut melihat adiknya yang tengah berduaan dengan seorang laki-laki di cafe samping Betamart. Ternyata benar adiknya itu berpacaran tanpa sepengetahuan orang tuanya. Kirana hanya bisa menegur adiknya itu tanpa berani berkata apapun pada orang tuanya.
Kirana memasuki resto dan langsung menuju meja kasir. Ternyata kasir yang tadi siang telah berganti shift dengan kasir shift sore. Dia menanyakan KTPnya dan akan membayar kekurangannya langsung.
"Mba, maaf sebelumnya. Tadi siang saya kemari. Full booking resto atas nama Reyfano"
"Oh iya, Kak. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya ingin melunasi kekurangan pembayaran tadi siang. Saya juga meninggalkan KTP saya disini dengan mba yang jaga shift tadi siang".
"Oh begitu. Maaf kak. Mohon tunggu sebentar. Akan saya tanyakan kepada manager kami dulu"
Kirana duduk menunggu kasir itu di kursi sebelah pintu masuk. Sebelum kesana Kirana sudah meminjam uang pada ayahnya senilai kekurangan pembayaran tadi siang.
"Maaf kak. Untuk pembayarannya sudah diselesaikan tadi siang. Ini struk pembayaran dan KTP kakak". Kirana sangat terkejut saat kasir itu memberitahunya bahwa kekurangan pembayaran itu sudah dilunasi semuanya. Kasir itupun memberinya struk pembayaran dan mengembalikan KTP nya.
'Apa Rey sendiri yang membayarnya ya? Apa dia mengerjaiku lagi!?' Kirana sedikit kesal padanya karena kejadian tadi siang. Dia mau tidak mau harus menuruti keinginan Rey.
"Emm.. Mba maaf. Kalau boleh saya tau, siapa yang melunasi pembayarannya ya?"
"Sesuai atas nama kak"
"Ooh.. Terimakasih, mba. Permisi"
Diapun kembali pulang dengan senyuman diwajah cantiknya setelah mendapat penjelasan dari sang kasir. 'Syukurlah, aku tidak perlu memakai uang ayah ini'
- Bersambung -