#13 - Kenangan Tentangnya

1330 Words
Kinara bangun kesiangan karena tidurnya yang hanya 3 jam. James benar-benar gila. Dia menghabiskan malam Kinara tanpa membiarkannya istirahat hingga pukul 5 pagi. Saat terbangun dia terkejut melihat tubuhnya yang terbaring di ranjang dengan kedua tangannya terikat ke atas kepalanya. Talinya terikat pada tiang sisi atas ranjang. Badannya penuh kissmark yang masih memerah yang ditinggalkan Rafael dan James . "Sial! Apa yang dilakukan James padaku!?" Tubuhnya terbaring lemas karena kurang istirahat setelah malam yang panjang bersama James. Dia sendirian di kamar dan hanya mengenakan dress tidur yang super tipis terbuat dari satin. Dia berusaha meronta, namun tubuhnya tidak dapat berbuat apa-apa. "James?? Jamess??? Lepaskan aku!!" Kinara berusaha berteriak memanggil James. Dia dikunci dikamar sendirian. Tidak lama, seorang pelayan membuka kunci kamar dan masuk ke kamar Kinara untuk mengantarkan sarapan. "Permisi, nona. Saya mengantarkan makanan untuk sarapan Kinara. Tanpa berkata sepatah katapun pelayan itu segera meninggalkan kamar Kinara berada. "Hey!! Pelayan bodoh! Bagaimana bisa aku memakan makanan yang kamu bawakan kalau tanganku masih terikat begini! Cepat lepaskan aku!" Teriak Kinara mencoba untuk melepaskan diri. Pintu kembali tertutup setelah pelayan itu meletakkan sarapan untuk Kinara. James membuka pintu kamar dan perlahan mendekati Kinara yang tengah memandangnya kesal. James si maniak s*x semalam telah membelinya dari pacarnya sendiri, Rafael. Tidak tanggung-tanggung, James membelinya senilai 1 miliar sebagai pemuas nafsunya. Nilai yang sangat fantastis untuk wanita seperti Kinara. "James, please. Tanganku capek. Kenapa pakai acara ngiket aku segala seperti ini?" Rengek Kinara mencoba meloloskan diri. Dia benar-benar baru menyadari keanehan dalam diri James setelah semalaman bercinta dengannya. "Tentu saja aku harus melakukannya, Kirana!" James mendekati tubuh Kinara yang masih terikat di ranjang dan meraih dagunya. "Kamu itu sekarang adalah budakku. Aku sudah membelimu mahal! Kau tau? Pacarmu yang gila itu sudah menjualmu 1 miliaar!!" Ucapnya dengan tawa yang menggelegar. "APAA KAMU BILANG?" Emosi Kinara melonjak mendengar ucapan James. "Jadi terima saja nasibmu, gadis bodoh. Kamu sudah menjadi milikku. Dan pacar gilamu itu sudah kabur, mungkin sedang bersenang-senang dengan uang hasil menjualmu, sayang!" "Rafael sialan!!" Kinara meneriaki Rafael yang entah kemana batang hidungnya. "Tolong lepaskan aku, Tuan James. Aku tidak bersalah! Kenapa kamu lakukan ini padaku!" "Karena aku menginginkanmu! Dan aku akan mendapatkan apapun yang menjadi keinginanku. Kau dengar, cantik?" Ucap James kemudian dia mengambil sepiring nasi beserta lauknya dari atas nakas di samping ranjang. "Buka mulutmu! Aaakkk" Kinara masih kesal. Super duper kesal dan marah. Dia tidak mau menuruti kemauan James untuk membuka mulutnya. James yang sedikit sabar mulai terpancing emosi. "Cepat buka mulutmu!" "Aku tidak mau!" "Cepat buka atau aku akan melakukan hal kasar padamu!" "Ku bilang tidak mau!" Kinara menendang lengan James piring yang memegang piring hingga makanannya jatuh berserakan di lantai dan kasur. "Dasar gadis bodoh!" Plaaakkk!!! Tamparan keras mendarat di pipi sendu Kinara yang sekarang terlihat pucat. Air matanya keluar begitu saja. 'Ssaakit!' "Sialan kau James!" Kinara membentak James, tangannya menutupi pipinya yang perih. "Dengar gadis bodoh! Kau akan berakhir disini menderita jika tidak mau menuruti apa kataku!"James menarik rambut Kinara hingga dia kesakitan. "Aawh, James. Lepaskan!!" "Sudah kubilang, Kirana! Kau tidak punya pilihan lain selain menurutiku! Hari ini hukumanmu. Kamu tidak akan dapat jatah makan apapun sampai besok! Dengar!" "Sialan kau James!! Kau lelaki b******k!" "Kau w************n, Kirana! Seperti inilah seharusnya kamu diperlakukan!" James meninggalkan kamar Kinara dengan tawa kerasnya. Kinara benar-benar sial setelah bertemu Rafael. "Awas lo Rafael! Gue pastikan lo mati ditangan gue!!!! Aaaaaaaaarrrrrggghhh!!!!" ** Jam makan siang Kirana seperti biasa dia akan turun makan bersama Bella di kantin kantor. Dia tengah membereskan berkas-berkas yang berserak di mejanya dan segera menutup laptop yang sedari tadi sudah membuat matanya perih. Dia ingin sejenak merefresh mata. Dipandangnya dari balik dinding kaca, Rey masih sibuk dengan pekerjaannya. Dia memberanikan diri menyapa Rey menanyakan makan siangnya. Dia merasa sedikit bersalah karena sikapnya tadi pagi. Tok tok.. "Emm.. Masuk" Rey masih terfokus dengan laptopnya. "Maaf, pak Reyfano. Sudah waktunya jam istirahat" "Nanti dulu, saya sedang sibuk" "Ingin saya pesankan makanan?" "Mm.. Boleh" "Saya akan bawakan makanan di kantin nanti sekalian saya makan siang disana ya, pak?" "Lalu aku harus menunggumu sampai kamu selesai makan? Begitu?" "Emm.. Kalau begitu nanti biar saya antar duluan kesini" "Baiklah kalau begitu" "Bapak ingin makan apa?" Rey mendekati Kirana yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari mejanya. Tubuhnya membungkuk, wajahnya mendekat ke wajah Kirana. "Aku ingin makan.. Kamu!" Wajah Kirana memerah. Dia seketika memalingkan wajahnya. Rey yang melihat salah tingkah Kirana itu tersenyum puas. "Ayo kita makan siang diluar saja" "Hah?" Kirana belum paham. Dia masih terpaku ditempatnya. "Tapi, pak-" "Cepat!" Rey berjalan keluar ruangan disusul Kirana yang mengekor dibelakangnya. Saat melewati kubikel Bella, Kirana memberi kode untuk makan siang duluan. Bella mengacungkan jempol tanda mengerti. "Bapak akan makan siang dimana?" "Ikuti saja" Rey membawa mobilnya menuju sebuah restoran. Kirana segera ikut Rey keluar mobil. Dia melihat papan nama restoran itu. 'Khas Bali'. Perasaannya mulai gelisah. 'Rey selalu bersikap buruk padaku tapi tadi kenapa baik sekali. Ada apa dengannya?' Mereka memasuki area resto itu dan memilih sebuah meja. Restoran ini telah di pesan full oleh Rey. Sehingga tidak ada orang lagi yang datang mengganggu selama mereka makan. Pelayan mendatangi mereka lalu mencatat pesanannya. Rey memesankan makanan tanpa bertanya pada Kirana. Kirana hanya diam sesekali menelan salivanya berat. Rey menatap Kirana terdiam dalam benaknya sendiri. "Ran?" "Emm.. I-iya, pak?" "Jangan panggil aku 'Pak' saat diluar jam kerja. Panggil saja namaku seperti biasanya" "I-iya. R-rey?" Kirana menatap mata Rey penasaran. 'Kenapa dia menatapku seperti itu? Kenapa restorannya sepi begini? Jadi canggung banget rasanya hanya berdua bersamanya' "Kamu suka makan bebek?" "Emm.. Aku kurang suka, Rey. Memangnya tadi kamu pesan bebek?" "Tidak. Karena aku tau kamu ga suka bebek" Kirana hanya diam dalam tanyanya. 'Bagaimana Rey tau? Ah biarin saja itu tidak penting' Dia berusaha mengalihkan pembicaraan. "Tapi, Rey. Kenapa restorannya sepi sekali? Hanya kita pengunjungnya disini?" "Aku sudah full booked satu restoran ini" "Hah? Kenapa?" "Aku tidak ingin ada yang mengganggu" Kirana hanya berani bertanya dalam hati 'Kenapa seperti itu? Memang siapa yang bakal menganggunya?' Beberapa pelayan datang dengan berbagai hidangan ditangannya. Beberapa masakan khas Bali yang belum pernah Kirana coba sebelumnya. Rey mengulurkan sebuah piring berisi sepotong ayam berbumbu yang terhidang sangat lezat di mata Kirana. "Ini Ayam Betutu, Ran. Makanlah" Makanan Bali satu ini berupa hidangan ayam dan terkadang bebek, yang dimasak utuh dan bagian perutnya diisi dengan berbagai macam bumbu dan rempah. Ayam yang sudah dibumbui kemudian dibungkus daun pisang atau daun pinang dan dipanggang. Proses memanggangnya menggunakan panas bara api sekam, bisa memakan waktu pematangan selama sehari semalam. Rasa ayam betutu gurih dan pedas. Sangat cocok di lidah Kirana si pecinta pedas menurut Rey. Kirana mencicipi sedikit ayam yang terhidang dihadapannya. Enak. Tapi sedikit terlalu pedas baginya. "Gimana rasanya?" "Emm.. Enak" Bibir Kirana gemetar karena rasa pedas baginya sangat menyiksa. Kirana memakannya lagi dengan suapan nasi. Sesekali menenggak air di gelasnya. Rey pun mulai memakan hidangannya. Hingga makanan Kirana tinggal setengahnya. Kirana sudah tidak sanggup menghabiskannya. Terlalu pedas. "Kenapa tidak dihabiskan? Bukankah makanan itu kesukaanmu?" pertanyaan Rey menghentikan aktifitas Kirana. "Kesukaanku?" "Saat di Bali dulu aku membelikanmu makanan ini. Tapi kamu menolaknya karena itu bebek. Dan aku memesankanmu lagi tapi menu yang ayam super pedes. Kamu sangat menyukainya sampai-sampai besoknya-besoknya lagi kamu minta dibelikan makanan itu" 'Wanita itu lagi!?' Kirana mengerutkan dahinya tidak percaya yang dikatakan Rey. "Rey. Maaf sebelumnya. Tapi ini baru pertama kalinya aku mencoba makanan ini" "Kiran, sudahlah. Aku benar-benar muak dengan sikapmu! Apa kamu akan mengatakan lagi kalau kamu bukanlah gadis yang kutemui dulu!?" "Tapi memang benar seperti itu!" "Jadi kamu ingin mengatakan bahwa itu bukanlah kamu tapi kembaranmu? Hah!? Jangan konyol, Kiran. Aku sudah bertanya pada om Erik. Dan dia hanya memiliki satu putri dengan ibumu" "Kenapa kamu mencoba melupakan kenangan kita, Kiran? Mencoba melupakanku! Apa yang membuatmu seperti ini, Ran? Jawab!" Kirana hanya menggelengkan kepalanya pelan. Dia bingung harus apa agar Rey percaya kepadanya. "Apa karena kamu kurang puas dengan layananku? Malam itu kita sudah menghabiskan malam kita berdua, Kirana. Bahkan habis dua ronde kamu saja masih minta nambah! Apa karena itu? Tidak mungkin" "Hah?" - Bersambung - 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD