#12 - Masih Peduli

1426 Words
Kerabat Dewi datang berkunjung kekediaman Dewi. Allena dan ibunya. Mereka baru mengetahui tentang kepergian Mahendra karena berada jauh di luar negeri. "Saya turut berduka cita ya, kak" Ucap Tanira seraya memeluk sang kakak ipar. Mahendra adalah kakak sepupunya dari keluarga ayahnya. Tanira yang memang sepupu jauh Mahendra namun keluarga mereka sangat dekat. Dia sendiri masih tergolong muda. Mungkin usianya masih sekitar 40 tahunan. Dia datang bersama putrinya, Allena. Putrinya sendiri masih sangat muda dan tahun ini baru menginjak 21 tahun. "Terima kasih, Ra. Karena kamu sudah menyempatkan waktumu untuk mengunjungiku" Dewi yang jauh lebih tua darinya lebih senang memanggilnya Nira. "Oh iya, kak. Ini putriku, Allena". Tanira meraih lengan Allena "Sayang kenalin. Ini bibi kamu, Dewinta" "Salam kenal, bi. Saya Allena" "Kamu cantik sekali, nak. Santun dan lembut. Pasti orang tuamu mendidikmu dengan sangat baik". Ucap Dewi dibalas senyuman oleh Allena. "Mari masuk dulu. Kalian pasti capek setelah perjalanan jauh. Menginaplah disini sementara waktu. Kalian harus berkenalan dengan menantuku dan juga cucuku. Dia sangat tampan. Persis sekali seperti Beno" Mereka memasuki rumah dan Dewi mempersilahkannya duduk di kursi tamu. Rey menuruni tangga untuk segera pergi ke kantor. Wajahnya yang tampan semakin menawan dengan balutan kemeja dan jas yang membuatnya lebih berwibawa. Rupanya pemandangan itu tidak lepas dari Allena. "Ah.. Itu Rey, cucuku. Dia akan segera pergi ke kantor rupanya" Dewi menoleh ke arah Rey yang semakin mendekat ke ruang tamu. "Kemari, nak. Oma kenalkan dengan tante kamu" Rey tersenyum kepada Nira dan Allena. Lalu hendak menyalami Nira. "Pagi, tante. Saya Reyfano. Salam kenal" Apa yang diucapkan Rey membuat mereka bertiga tertawa. Rey yang kebingungan berusaha mencari tau. "Ada apa, oma? Mengapa kalian tertawa?" "Dia itu oma kamu, Rey. Adik sepupu, oma. Namanya Nira. Dia memang masih sangat muda. Sepertinya lebih muda 1 tahun daripada ibumu" Rey menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia masih bingung menyalami Nira dan disambut dengan uluran tangannya. "Jangan kaku begitu, nak. Memang sih saya oma kamu. Tapi oma cantik. Hehehe" Allena yang sedari tadi hanya tersenyum memperhatikan ternyata memendam rasa pada Rey. "Kenalin Rey, ini anak Oma. Allena. Tante kamu" Disertai tawa ringan Nira. Allena mengerutkan kening, malu-malu, menyikut lengan ibunya pelan. "Hai tante Allena. Salam Kenal" "Jangan panggil tante dong. Panggil Allena aja! Aku juga kan belum lulus kuliah masak dipanggil tante-tante?" Allena mengulurkan tangan menjabat Rey tanpa melepaskan pandangannya pada Rey. "Hehe iya Allena" Rey terkikik dibarengi tawa Dewi dan Nira. "Oma, Rey berangkat kerja dulu ya. Oiya, Ibu masih dibelakang membuat kue" "Oh.. Iya baiklah nanti oma menyusul ajak Nira sama Allena menemui ibu kamu" "Saya permisi dulu, Oma Nira. Allena" Rey pergi meninggalkan mereka dengan disertai tatapan mata Allena yang tidak lepas sedari tadi. Dia jatuh cinta pandangan pertama pada Rey. Rupanya Dewi pun mengerti pandangan Allena pada Rey itu lebih dari sekedar suka. ** Pagi ini Kirana menyiapkan sarapan seperti biasanya, namun dengan hati yang malas. Berulang kali dia menghembuskan nafas berat. Erik yang memperhatikannya dari tadi membangunkan lamunannya. "Ada masalah denganmu, nak?" Kirana menatap ayahnya lekat. Dia masih penasaran dengan pertanyaan yang belum selesai dijawab oleh ayahnya "Ayah. Tolong jujur padaku! Apa benar aku memiliki saudara kembar?" Erik terkejut dengan pertanyaan Kirana. Dia menanyakan lagi pertanyaan yang sebernarnya tidak ingin dia jawab. Dia menghembuskan nafas panjang dan menjawab keingintahuan putrinya itu dengan kebohongan. "Anakku kamu itu anak tunggal dari ayah dengan ibumu" "Tapi, yah. Bagaimana bisa dia mengira orang lain itu Kiran" "Sudahlah, nak. Mungkin memang dia hanya mirip denganmu dan kebetulan mengetahui namamu" Bukan Erik tidak mau menceritakan yang sebenarnya. Hanya saja dia tidak berani cerita sebelum memastikan sesuatu. 'Suatu saat pasti akan ayah ceritakan, nak. Sekarang ayah harus mengumpulkan informasi dan bukti sebanyak mungkin'. Erik kembali mengalihkan pembicaraan. "Segera sarapan, nak. Sudah hampir terlambat. Kamu harus segera ke kantor" Kirana masih memendam rasa curiga pada ayahnya. Sangat terlihat jelas ketika ayahnya sedang berbohong. 'Ayah pasti menyembunyikan sesuatu. Tapi, ayah tidak ingin memberitahuku pasti karena ada suatu hal yang tidak ingin dia ceritakan. Semoga kecurigaanku tidak benar, yah. Aku hanya tidak ingin terus-terusan terjadi salah paham' Lagi-lagi batinnya mengerutu. Mereka menyelesaikan sarapan dan segera berangkat ke kantor masing-masing. Erik bekerja untuk kantor pabrik utama Cakradhana group. Dan Kirana bekerja untuk kantor pusat pelaksana dengan Rey sebagai pimpinannya. Kirana masih belum melihat Rey yang akan menjemputnya berangkat ke kantor. 'Kesempatan dia belum datang. Aku harus segera cari taksi' Mobil Rey datang 5 menit setelah Kirana pergi. Kirana sudah terlebih dahulu pergi naik taksi menuju kantor. Dia mengirim pesan singkat pada Rey. From : Kirana Pak Reyfano, saya sudah berangkat. Tidak perlu menjemput saya. Terimakasih. "Kiran. Kamu benar-benar pembangkang!" Rey mengepalkan tangannya "Lihat apa yang akan aku lakukan padamu". Rey segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah Kirana menuju kantor. Dia sangat kesal Kirana meninggalkannya berangkat sendiri. Sepanjang perjalanan, dia sudah memikirkan balasan yang tepat untuk Kirana. ** Sesampainya dikantor Rey tidak menemukan Kirana berada di kubikelnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 8. Seharusnya Kirana sudah harus stay di tempat. "Awas saja kalau dia sampai terlambat" Gerutunya sambil berjalan memasuki ruangannya. Betapa kagetnya dia melihat Kirana sudah berada di ruangannya membawa secangkir kopi panas untuknya dan akan meletakkannya di meja. "Ekkh.. Hem" Dehemannya mengagetkan Kirana. Kopi yang masih ditangannya tumpah mengenai punggung tangannya "Awhh..! Astaga panass!" Kirana memegang tangan kanannya yang tersiram kopi panas sambil menahan sakit. Rey segera berlari meraih tangan cantik Kirana yang kini memerah terkena kopi panas. "Maaf aku mengagetkanmu". Rey segera menarik Kirana ke dalam toilet ruangannya dan menyiram tangan kanan Kirana dengan air mengalir di wastafel. Untung Rey bergerak cepat, Kirana tak lagi merasakan sakitnya, kini dia terdiam memandang wajah khawatir Rey membuatnya melupakan sakit yang dia rasakan. "Apa masih sakit?" Tanya Rey sambil terus fokus dan memegangi tangan Kirana yang masih berada di bawah siraman air. "Sedikit" "Kenapa kamu ceroboh sekali! Aku mengagetkanmu sedikit saja bisa-bisanya sampai ketumpahan kopi!" "Iya maaf, nanti saya bersihkan meja bapak" "Memang siapa yang khawatir sama meja!" "Terus kenapa?" "Tangan kamu jadi terluka bodoh! Siapa yang tidak khawatir!" "Mm.. Maaf membuatmu khawatir" Kirana tersenyum kecil melihat kekhawatiran Rey padanya. Kirana menarik tangannya yang masih dipegang Rey. "Sudah, tidak apa-apa. Nanti saya oles salep juga sembuh. Terimakasih, pak" Rey menarik kembali tubuh Kirana keluar dari toilet dan menuju sofa panjang yang berada di dalam ruangan kantornya. Dia mengambil kotak P3K yang selalu tersedia di dalam kantornya. "Kiran. Dengar, aku akan menghukummu. Kau tau apa kesalahanmu?" Ucap Rey setelah membawa Kirana duduk dan mengoleskan saleb pada tangan Kirana yang terluka. Kirana menggeleng pelan sedikit meringis karena sakit ditangannya. Wajah cantiknya sekarang diliputi rasa takut. 'Apa yang akan dia lakukan'. Kirana menelan salivanya yang terasa berat, memberanikan diri bertanya "Karena aku berangkat duluan?" "Kamu sudah melanggar perintah atasanmu. Kamu pikir apa hukuman yang harus kuberikan padamu?" Rey meraih dagu Kirana. Matanya tertuju pada bibir manis Kirana. "Maaf" Ucapnya pelan. "Apa katamu? Aku tidak mendengarnya?" Rey menempelkan telinganya lebih dekat dengan bibir Kirana. Kirana merasa dirinya terlalu dekat dengan Rey sekarang. Ini di kantor. Tidak seharusnya seperti ini antara atasan dan bawahan. Dia membuang muka ke kiri namun segera ditarik kembali tepat dihadapan wajah Rey. Belum sempat Rey berucap lagi. Seseorang mengetuk pintu ruangan Rey. Tok.. Tok.. Kirana pun segera berlari keluar dan menemui siapa yang mengetuk pintu Rey. Rey dengan cepat kembali ke mejanya. "Iya. Ada apa, Bell?" Ucap Bella sambil menutup kembali pintu ruangan Rey. Mata Bella terbelalak. Dia berbisik pelan kepada Kirana masih di depan pintu ruangan Rey. "Apa yang sedang kalian lakukan?" "Ah.. Kami sedang mendiskusikan sesuatu. Ada perlu apa, Bell?" "Kamu lupa, Ran? 5 menit lagi ada rapat dengan direksi!" Kirana baru teringat agenda Rey hari ini namun dia berusaha menutupinya. "Em.. Tentu saja ingat, Bell. Ini kami sedang mendiskusikannya. Terimakasih sudah mau mengingatkanku!" Bella memandang Kirana sengan beragam pertanyaan. "Ran? Kamu serius tidak apa-apa?" Bella menarik tangan kanan Kirana. "Lalu ini kenapa?" "Oh ini. Tadi ketumpahan kopi. Tapi nggak apa-apa kog. Pak Reyfano sudah membantuku tadi" "Hati-hati loh nanti malah kenapa-kenapa. Buruan di obatin! Ya udah ayo cepat kita ke ruang rapat sekarang!" "Thanks, Bell!" Kirana mengedipkan mata seraya memberinya dua jempolnya. Kirana kembali ke dalam ruangan Rey sambil membawa buku agenda yang diambilnya dari meja kubikelnya. Disana Rey duduk di kursinya dan membelakangi Kirana. "Pak Reyfano. Sekarang sudah waktunya rapat dengan para direksi. Anda diminta hadir segera" Ucap Kirana tidak berani menatap Rey saat Rey membalikkan badannya. Rey beranjak dari duduknya. "Ayo berangkat!" Tiba-tiba langkah Rey berhenti di samping Kirana yang masih ditempatnya berdiri. "Ingat. Nantikan apa hukumanku padamu!" Rey kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang rapat. Kirana mengekor dibelakangnya dengan hati was-was sambil terus menelan saliva nya berat. Namun dia tetap berusaha menutupinya. - Bersambung -
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD