Rey meraih dagu Kirana. Dia mencium tepat di bibir Kirana, tangan kirinya meraih tengkuk Kirana. Menekannya hingga sama sekali tidak ada jarak antara mereka. Kirana yang terkejut refleks memukul d**a bidang Rey, membuat Rey semakin gemas.
Rey yang pada awalnya hanya ingin menggoda Kirana nyatanya telah tersihir oleh bibir manis Kirana. Dengan cepat dia mencium bibir Kirana dan melumatnya dengan rakus. Kirana memberontak, berusaha melepaskan diri dari Rey yang menahan tengkuknya kuat dan semakin memperdalam ciumannya. Entah setan mana yang merasuki Kirana hingga tanpa sadar dia ikut menikmati permainan bibir Rey.
Kirana adalah godaan terbesarnya. Dia selalu merasa candu saat bersama Kirana dan semakin lama semakin menginginkannya. "Aakh.." Rey menggigit ujung bibir Kirana membuat Kirana mengerang dan berontak. Kirana mendorong d**a Rey. Keduanya terengah-engah hampir kehabisan nafas.
Rey tersenyum puas. Satu hari ini dia berhasil mengerjai Kirana hingga perasaannya tidak karuan.
"Tolong buka kunci pintunya!" Kirana memberanikan diri membuka suara sambil menutupi bibirnya.
"Mulai besok aku yang akan menjemput dan mengantarmu pulang"
"Tap-tapi?"
"Tidak ada tapi-tapian! Kalau tidak mau, kamu akan tetap berada disini semalaman. Atau ikut pulang bersamaku? Bagaimana?"
Kirana menghela nafas beratnya. 'Apa lagi sih maunya. Bukankah tadi pagi dia marah karena aku jadi sekertarisnya' Kirana memberanikan diri berbicara "Pak Reyfano, saya pasti akan mengundurkan diri. Jadi tolong anda segera carikan pengganti saya, agar secepatnya juga saya bisa melimpahkan tugas saya pada sekretaris bapak yang baru. Dengan begitu anda tidak perlu mengantar jemput saya, apalagi melihat saya lagi" Ucapnya lalu membuang pandangannya ke samping.
"Siapa yang menyetujui pengunduran dirimu?"
"Bukankah bapak tidak suka melihat saya dikantor?"
"Lalu apa yang akan kamu lakukan setelah mengundurkan diri? Kamu akan kembali menggoda lelaki-lelaki hidung belang di club malam?"
Kirana memiringkan kepalanya tidak percaya apa yang Rey katakan. "Apa lagi maksud perkataan bapak?"
"Apa aku salah? Tidak. Kamu yang salah, karena telah berani masuk dan mengganggu hidupku lagi. Jadi tidak akan kubiarkan kamu bebas dariku begitu saja"
Kirana hanya menggelengkan kepalanya tidak percaya Rey masih menganggapnya sehina itu. Dia hanya menghela nafas berat yang membuat dadanya sesak. Tidak ada gunanya dia mendebat sesuatu yang tidak dilakukannya. "Tolong bukakan pintunya, pak. Saya mohon".
Rey menarik kembali dagu Kirana. Mendekatkan wajahnya tepat didepan wajah Kirana. "Dengar Kiran! Sudah kubilang kamu itu milikku! Aku akan melakukan apapun yang aku mau! Tidak akan kubiarkan kamu kembali menggoda lelaki manapun lagi. Ingat! Kamu tidak akan kubiarkan bahagia begitu saja setelah apa yang kamu lakukan padaku!"
Kirana hanya terisak mendengar perkataan Rey yang selalu mengusiknya. Air matanya tidak dapat dia bendung lagi. 'Sampai kapan kamu memperlakukan aku seperti ini, Rey'
"Sudahlah hentikan tangisan buayamu itu. Apa kamu ingin ayahmu melihatmu menangis setelah ku antar pulang? Ha?"
Rey membuka pintunya dan keluar dari mobil. Membukakan pintu untuk Kirana. Kirana tidak langsung keluar. Dia menghapus air matanya yang menetes di pipi merahnya. Lalu beranjak keluar.
"Besok dandan yang cantik dan tunggu aku ya.. Sayangku?" Rey mengusap pipi Kirana sambil menggodanya. Rey menutup pintunya dan mendekati Kirana yang masih berdiri di samping mobil.
"Terimakasih sudah mengantar saya"
Kirana memalingkan wajahnya dari Rey lalu beranjak pergi meninggalkan Rey, masuk ke dalam rumahnya.
'Aku tidak akan melepaskanmu, Kirana' Batin Rey
**
Kinara memutuskan untuk mandi sendirian. Rafael yang ditunggunya tak kunjung muncul. "Malas sekali mandi " Gerutunya sambil melepaskan bathrobe yang masih melekat di tubuhnya. Dia baru memperhatikan tubuhnya yang putih mulus sekarang penuh kissmark di leher dan dadanya 'Sialan si Rafael, berani-beraninya dia membuat tubuhku seperti ini! Dan ahh.. Boss produser itu bule banget, ganteng lagi, pasti uangnya lebih banyak daripada si gembel Rafael!' Batinnya sambil marah-marah dan senyum-senyum sendiri.
Perlahan dia rebahkan tubuhnya di bathtube yang telah terisi air hangat. "Berenang malam-malam seperti tadi sangat menyebalkan. Kalau gak demi uangnya. Pasti ogah banget deh. Aaahh... Nyamannya" Sambil memejamkan mata Kinara sesekali menyelam ke dalam air hangatnya.
Dalam keheningannya, tanpa dia sadari seseorang masuk ke dalam kamar mandinya. Perlahan orang itu mendekati Kinara yang tengah berendam tanpa sehelai benangpun. Matanya yang masih terpejam tidak menyadari kedatangan orang itu yang mendekat pada telinga dan berbisik. "Siapa kamu? Beraninya memakai kamar mandiku?"
Kinara terkejut seketika membuka matanya dan menjauhkan badannya dari seorang lelaki yang datang membisik di telinganya. "Ahh.. Maaf tuan! Saya tidak tau ini kamar mandi, tuan." Kinara menutupi ujung buah dadanya yang menjulang dengan tangannya, namun sengaja sedikit dibuka.
"Bagaimana kamu bisa tidak tau? Ini rumah saya. Dan semua yang ada dirumah ini adalah milik saya" James mendekati Kinara lagi dengan nada menggoda. 'Tubuh wanita ini memang sangat menggoda' batin si pemilik mansion ini sekaligus produser m***m si gudang uang.
"Maafkan saya, tuan. Apa yang bisa saya lakukan untuk menebus kesalahan saya, tuan?" Kinara berpura-pura polos, seakan mengerti maksud pandangan James yang seolah ingin sekali menerkamnya. Mata dan bibir james mengisyaratkan nafsu yang membara melihat mangsa tepat di hadapannya. 'Aku harus mendapatkanmu'
James yang menatapnya sedari tadi tak melepaskan pandangannya sedikitpun pada mangsa dihadapannya saat ini. Sambil membuka seluruh bajunya dan segera memasuki bathtube yang dipakai Kinara tanpa mengenakan sehelai benangpun. "Aku meninginkanmu, cantik!"
Kinara memberi ruang untuk James. James yang sudah dipenuhi nafsu mulai beraksi mencium punggung leher Kinara yang berada membelakanginya. Tangannya menyusup ke sela lengan Kinara. Menyentuh bagian sensitifnya dengan lembut, terasa kenyal dan sangat pas ditangan James. Dia dengan gemas meremasnya sesekali memelintir ujungnya yang sukses membuat Kinara mengerang merasakan nikmat yang James berikan. Tangannya turun keujung s**********n Kinara yang sudah terbuka lebar. Mata Kinara yang terpejam sontak mengingat Rafael.
"Ah. Tuan, bagaimana jika Rafael melihat kita?" Ucapnya sambil membalikkan tubuhnya menatap James.
"Tenang saja. Dia tidak akan berani menganggu kita". James mendaratkan bibirnya tepat di bibir Kinara. Melumatnya habis, lidah mereka saling bertautan, saling mencumbu dengan rakusnya. James memeluk tubuh Kinara. Tangannya tidak berhenti meraba setiap jengkal tubuh molek Kinara. Kinara yang terengah-engah melepas ciumannya.
"Apa kita akan melakukannya disini?"
"Everywhere you want, baby!"
Kinara mengambil inisiatif untuk mencium bibir James lebih dulu. Lidah mereka saling bertautan. Kini ciumannya turun ke bidang kekar d**a James yang ditumbuhi bulu halus. Kinara mengecup sesekali menjilat dan mengulum ujung buah d**a James yang sukses membuat James mengerang nikmat. "Ooh. Baby. Kamu sangat nakal!"
James mengangkat tubuhnya dan duduk di tepi bathtube memberikan akses pada Kinara untuk melayani juniornya yang sudah mengeras. Kinara seolah paham. Dia mendekat dan memegang junior James dengan kedua tangannya. Ukuran yang sangat besar hingga kedua genggaman tangan Kinara tak mampu menutupi seluruhnya. Dengan tidak sabar, Kinara segera mengulum junior James dengan rakusnya. Tangan kanan Kinara ikut menaik-turunkan batang junior James dengan tangan satunya memilin ujung buah d**a James, membuat James mengerang nikmat dan mengeluarkan benih-benihnya di dalam mulut Kinara. "Aaakh, baby. I'm coming". Kinara melepas kulumannya dengan mulut penuh benih James. James merasakan servis Kinara yang memuaskan dan lebih menggairahkan dibandingkan dengan wanita-wanita yang sering melayaninya.
James menarik tubuh Kinara dan mendudukannya di pinggir bathtube yang menggantikan tempatnya. James membuka s**********n Kinara yang basah karena air, bibirnya mulai menelusuri lembah kenikmatan Kinara. Kinara mendesah nikmat ketika James mulai memasukkan satu jarinya ke lubang milik Kinara. Kinara menggeliat geli bercampur nikmat. Masih kurang puas, James mengulum k******s Kinara dan memasukkan dua jarinya ke dalam milik Kinara sedangkan tangannya yang satu memilin ujung gundukan kenyal.
"Aakkh James...." Tangan Kinara tak henti meremas rambut James. Bagian paling sensitif Kinara kini diobrak abrik oleh James. Menciptakan sensasi kenikmatan yang tiada tara hingga Kinara mencapai puncaknya.
James tidak berhenti sampai disitu. Juniornya yang sedari tadi telah mengeras kini siap menghentakkan seluruh tubuh Kinara. Dia mengarahkan juniornya tepat di depan milik Kinara yang telah basah. Dia menggesek-gesekkan juniornya dengan sekali hentak juniornya sudah tak nampak lagi. James menggerakkan pinggulnya teratur membuah desahan nikmat keluar dari mulut Kinara.
"Aaakh.. Lebih cepat lagi James". James semakin menambah tempo pergerakannya.
"Aku akan keluar, baby!!"
Pelepasan mereka terjadi bersamaan. "Aaaaaackhhhh.."
Tubuh James melemas. Tetapi juniornya masih ingin menikmati malamnya bersama Kinara. Dia menggendong ala bridal Kinara yang terkulai lemas ke atas ranjang. Dan mengulangi kisah percintaan mereka.
Malam romantis mereka berlanjut berulang kali hingga pagi menjelang. James benar-benar buas, dia sama sekali tidak memberi Kinara istirahat.
"Kamu sekarang milikku, Kirana!"
- Bersambung -