LaD - pertikaian yang dihentikan.
Erix merasa aneh dengan sosok yang baru saja dia lihat selain hawa keberadaanya yang terlihat samar, dari aura yang dikeluarkan pria bertopeng itu benar-benar mengerikan, dia sendiri penasaran dan memilih untuk mengejar pria itu.
Tapi ketika dia menerjang menggunakan teleportasi, pria itu sudah mengulang seolah tak memiliki hawa keberadaan lagi. Sosok ya benar-benar menghilang dan tak bisa dia temukan.
"Sialan! Siapa sebenarnya pria itu!"
Erix yang kesal memukul satu batang pohon di sebelahnya hingga tumbang, dia merasa ada sesuatu di balik terjadinya pertikaian ini, mungkin saja sosok bertopeng itu adalah orang yang sudah membuat semua pertarungan ini terjadi.
Sebelum benar-benar memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Erix langsung melesat kembali ke tengah peperangan itu, dia bahkan hampir melupakan keributan yang terjadi di sana.
Namun sebelum dia turun langsung ke tengah-tengah pertempuran, dia memilih untuk menutupi identitasnya dengan menekan segala aura yang dia miliki serta tekanan yang menguar di seluruh tubuhnya.
Tentu saja dia tidak ingin kehadirannya malam membuat kekacauan baru terjadi di tempat ini.
Lalu dengan sangat mudah Erix tiba di tengah-tengah peperangan itu dan melihat kedua belah pihak yang tengah menyerang satu salam lain. Jika Erix tebak, mungkin p*********n ini disebabkan oleh pria bertopeng tadi, walau demikian, dia ingin fokus pada pemimpin dari pertempuran ini.
Jika di lanjut maka peperangan antar ras untuk merebutkan sebuah wilayah tak akan bisa terelakkan lagi. Dan semua itu jelas karena dirinya yang berusaha membebaskan naga dari belenggu yang berada di gua.
Dia benar-benar ceroboh karena tidak menyadari dan berpikir panjang tegang dampak yang akan terjadi ketika dirinya melahap sosok monster kuat seperti sang naga.
"Oke, sebaiknya mulai dari mana ya, gue...." Dia bergumang sebentar, tak peduli di sana terngah terjadi pertarungan antara dua ras yang baru saja dia lihat di tempat ini.
Dan jika dirinya tidak salah, mengerut dari penglihatan dirinya serta dari beberapa kali dia bermain game tentang dunia fantasi seperti saat ini. Sebelah sisi timur ada sosok ras yang memiliki telinga runcing serta taring kecil di mulutnya, tubuhnya tentu menyerupai manusia dan jika dia tidak salah, maka ras dari sosok itu adalah elf, sosok pecinta hutan dan bisa dikatakan merekalah yang selalu menjaga hutan. Namun entah kenapa mereka malah terlibat pertarungan sengit seperti saat ini.
Sedangkan di sisi barat ad sekumpulan para orge yang dia temui di peperangan sebelumnya, dari tempat ini dia bisa menyimpulkan jika di sini, para suku orge adalah biang keladi dari segala hal peperangan yang terjadi.
Tapi, Erix tidak bisa menuduh dengan sembarangan sebelum melihat secara langsung, dan mendengar alsan peperangan mereka, tapi jika melihat situasi yang sekarang, sepertinya keadaan sangatlah kacau hingga banyak korban yang berjatuhan karena serangan yang bertubi-tubi itu.
Pun dengan Erik yang berada di tengah-tengah peperangan, dia menjadi salah satu orang yang menerima serangan dari beberapa pihak yang menganggap dirinya musuh, tapi sayangnya dia bisa dengan mudah menghindari setiap serangan yang ada dan dengan mudah membalikkan serangan itu serta memberi pukulan telak pada prajurit yang ingin menyentuhnya.
Terlahir dengan tubuh lincah, serta pengertian tentang kemampuan yang dia miliki membuat Erix mulai terbiasa dengan semua skill dan kemampuan yang baru saja dia dapatkan itu. Tentunya sangat mudah bagi dirinya yang sering bermain game dan mengerti banyak tentang apa yang dibutuhkan untuk mengumpulkan serta membentuk sebuah kekuatan agar bisa melindungi dirinya sendiri.
"Ck, dimana sih para pemimpinnya ini, dari tadi perasan nggak ketemu!"
Dia bergumam sebentar sembari menghindar dari beberapa serangan yang datang dengan mengedarkan pandangannya, dia melihat setiap sudut peperangan, lalu perlahan dia bisa merasakan ada kekuatan yang luar biasa datang dari sisi timur, sepertinya para pemimpin peperangan ini tengah beradu kekuatan di sana.
Erix menyeringai kecil, lalu setelahnya dia mengambil ancang-ancang dan melesat pergi ke arah di mana tekanan itu datang.
Dia sangat yakin jika sosok yang memiliki kekuatan ini benar-benar sangat kuat, dan benar saja. Ketika dirinya berhenti pada sisi timur yang menjadi pusat kekuatan itu, dia bisa melihat ada dua orang yang tengah saling beradu pedang di sana.
Ada dua sosok yang saling memberi serangan dan memberinya serta menepis dengan kemampuan yang mereka miliki.
Pergerakan yang cepat, lalu pertahanan yang kokoh, dan kekuatan yang luar biasa terlihat sangat jelas di depan saja.
Erix terdiam sejenak, dia ingin menghentikan pertarungan itu, tapi ketika melihat resiko yang akan terjadi jika dia sampai ceroboh, membuat Erix memilih diam sebentar untuk melihat keadaan lebih lama lagi, dia harus mempelajari apa yang sebaiknya dia lakukan di tengah pertarungan ini.
Jika dia sembarangan menghentikan dua pertarungan yang tengah beradu dan menerima pukulan di sana, maka bisa dipastikan jika dirinya akan menjadi sasaran dan dianggap sebagai musuh yang ingin menyerang mereka.
Dan jika hal itu terjadi, bisa dipastikan dirinya akan benar-benar kesulitan untuk bertahan dari serangan dua sosok yang terlihat sangat kuat di sana.
Walau dia sendiri memiliki skill yang terbilang hebat dan keuntungan sendiri, tapi melawan dua orang sekaligus itu sama saja bunuh diri, apalagi ketika dia sendiri tidak memiliki pengalaman dalam bertarung, maka untuk itu Erix memilih undur diri dan menunggu hingga ada peluang. Tentu saja dengan resiko akan ada korban yang akan terus berjatuhan jika dia masih tetap bertahan dan memilih untuk menunggu.
Ah sial! Apakah dia akan tetap menjadi orang bodoh di tengah-tengah pertarungan seperti ini? Di saat dua ras yang terus bertarung melawan satu sama lain dan dia hanya bisa diam tak berkutik di tepat ini?
Lalu satu ingatan kembali melintas di kepalanya, ingatan yang dia ambil dari para tubuh orge yang dia serap tadi.
Ingatan di mana mereka lah yang ingin merebut dan menguasai hutan ini dengan keserakahan yang mereka miliki, jadi jika dia mengambil kesimpulan, maka dalam kondisi saat ini adalah, para orge yang mempengaruhi peperangan terjadi walau semua masih samar di kepalanya, dia juga tidak bisa membaca ingatan secara langsung karena kesadaran para orge sendiri seolah tengah di pengaruhi.
"Alah, bodo amat lah, pusing amat gue mikirin ginian!" Teriak Erix dengan nada keras, setelahnya dia mulai memberi serangan pada beberapa orge yang menerjang kearahnya, dan jika dilihat, mereka menyerang tanpa memikirkan siapa lawan mereka, dan bergerak seolah dikendalikan. Bahkan mulutnya saja meracau tak jelas di sana.
Dengan kecepatan dan kemampuan, serta skill yang dimiliki oleh Erix membuat dirinya bisa menyerang serta mencuri beberapa orge yang tengah bertarung di sana. Dengan cekatan dia mulai menyingkirkan dari demi satu orge yang membahayakan.
"Siapa pria itu!" Tanya salah satu elf yang melihat pergerakan dari Erix, dia salah satu yang baru saja diselamatkan oleh kepungan para orge, elf itu mundur lalu bersandar pada salah satu rekan di belakangnya, saling menjaga punggung dan berusaha bertahan dari serangan yang ada
"Aku tidak tahu, dia tiba-tiba datang dan menyerang para orge."
"Apakah dia salah satu bala bantuan dari suku kita?"
"Aku tidak yakin, tapi jika dia terus membantu kita, maka bisa dikatakan demikian."
"Sepertinya dia terlalu kuat untuk peperangan ini."
"Bukankah itu lebih baik, dengan adanya pria itu maka peperangan ini akan menjadi milik kita."
"Aku harap begitu."
Mereka saling berbincang, lalu saling melindungi diri dari serangan orge yang mulai mengepung mereka.
Sedangkan Erix sendiri mulai kewalahan dengan banyaknya orge yang menyerang dirinya dengan membabi-buta.
"Anjir! Kalo gini terus, nggak akan ada habisnya, bangcat!" Sentak Erix, dia melompat mundur beberapa langkah dan mencoba mencari cara untuk mendapat peluang yang bagus.
Dia berpikir sejenak, apakah kali ini dia akan menggunakan skill yang dimilikinya nya untuk menghancurkan para orge di sana dengan resiko serangannya juga akan berdampak pada elf yang mungkin saja tidak bersalah di sini, atau lebih baik bertahan sebentar lagi untuk sekedar mengecoh atau memperlambat serangan para orge dan sisanya biarkan para elf yang mengurus ini semua.
Terlebih dirinya bukanlah orang yang seharusnya ikut campur dalam peperangan ini. Alasan kenapa dia ikut campur karena dia melihat pria bertopeng dan melihat beberapa ingatan yang dia dapat dari para orge yang sepertinya berada di dalam pengaruh pria itu.
Mungkin dia akan mendapat semua alasan di balik p*********n ini jika Erix bisa menangkap pria bertopeng sialan itu.
Erix melihat salah satu elf yang lengah di sisi kiri ketika ada salah satu orge yang menyerangnya dari belakang, segera saja dia melesat cepat dan menghadang serangan dari orge kepada elf itu.
TRANG!
BUGH!
Setelah menghadang orge, dia memberi tendangan yang sangat kuat di bagian perut hingga membuat orge itu terpelanting cukup jauh kebelakang, bahkan tubuhnya berhasil menghempaskan para orge di belakangnya.
"Jangan mengalihkan perhatian ketika di peperangan!" Ucap Erix yang kini berlari dan memberi serangan kepada orge uang lain.
"Te-terima kasih!"
Erix tak mendengar teriakan itu, karena saat ini dia fokus dengan para monster yang seolah bergerak tanpa kenal lelah tubuhnya seolah dikendalikan oleh sesuatu yang membuat mereka menyerang tanpa memperdulikan luka serta rasa sakit yang di terimanya.
"Sialan, mereka bergerak seperti mayat hidup yang tak kenal lelah!" Ucap elf yang sedikit kelelahan di sana. Mungkin pertarungan ini benar-benar menguras tenaga mereka hingga membuat mereka sendiri tak bisa bertahan lebih lama lagi.
"Apakah mereka tidak merasakan sakit?" Balas rekannya.
"Aku tidak tahu, stamina mereka benar-benar luar biasa."
"Jika terus seperti ini, aku tidak yakin kita akan bertahan lebih lama lagi." Balas elf dengan napas terengah di sana, sepertinya kondisi akan kacau jika peperangan ini terus di lanjutan.
Erix yang melihat itu tidak bisa tinggal diam, semampu yang dia bisa dia mulai memberi beberapa serangan secara beruntun, lalu dengan inisiatif dia melihat kearah pemimpin yang tengah bertarung di sana. Mereka berdua terlihat imbang di sana, tapi siapa sangka jika apa yang mereka lakukan kini sangatlah berat sebelah, terlebih ketika pemimpin elf mulai kehabisan napas dan stamina, terlihat jelas bagaimana wajah kelelahan itu.
Erix langsung bergerak secepat yang dia bisa, lalu dia meraih salah satu pesan yang tergeletak di atas tanah, sebelum menerjang dan mengunakan pedang itu untuk menangkis pukulan kapan dari pemimpin orge di sana.
TRANG!
mata pemimpin elf terbelak, dia yang berpikir jika hidupnya akan berakhir benar-benar tak menyangka jika ada seseorang yang berani menyelamatkan dirinya kali ini.
Berbeda dengan Erix yang harus kesulitan saat bertahan dari serangan kuat dari pemimpin orge itu, terlebih pedang yang digunakan olehnya sangatlah lemah dan sulit untuk bisa menahan serangan kapak besar itu.
Dia melirik kebelakang, melihat pemimpin elf yang sama sekali tidak bergerak dari sana. Dan hal itu tentu saja membuat Erix merasa kesal.
"Pergi dari sana sialan!" Desis Erix yang merasa tak mau lagi bertahan dari serangan dari pemimpin orge.
Tersadar dari lamunannya, pemimpin elf tadi langsung melompat mundur untuk mencari tempat aman.
Dan benar saja, begitu pemimpin elf itu melompat mundur, Erix yang tak mampu lagi menahan serangan itu langsung membelokkan serangan dari pemimpin orge tadi.
Krak!
Seketika itu juga, pedang yang ada di tangan Erix langsung patah karena tak mampu menahan bobot serta kekuatan dari kapan pemimpi orge. Erix melompat mundur lalu mengambil tempat di depan pemimpin elf.
"Kau .... Siapa kau sebenarnya?" Tanya pemimpin elf yang merasa tidak mengenal sosok Erix dan merasa asing dengan pria itu.
"Nggak usah banyak bacot deh, kalo mau tanya nanti aja!" Desis Erix yang kini mengedarkan pandangannya untuk melihat apakah ada senjata yang mampu dia gunakan untuk menyerang orge sialan di sana.
"Kalo Lo mau hidup, mending Lo bantu gue, karena gue nggak yakin bakal menang ngelawan monster bodoh itu sendirian, apalagi paket senjata kelas rendah kayak gini!" Desis Erix yang membuang pedang patah di tangannya.
Lalu setelah itu dia melihat sebuah pedang yang terlihat cukup kuat berada tak jauh darinya. Dia dengan segera berlari kearah pedang itu, tapi sialnya pergerakannya seolah dibaca oleh pemimpin orge yang kini langsung memberinya serangan bertubi-tubi dengan kapak dan juga sihir api yang menerjang kearahnya.
"k*****t! Kalo kayak gini terus kapan gue bisa memangnya coba!" Dia berusaha melompat dan menghindar, lalu dengan gerakan gesit dia mampu meraih pedang yang tergeletak tapi, tapi serangan dari orge itu sama sekali tak kunjung reda.
"Bodi amat lah!" Merasa kesal, Erix langsung mengaktifkan skill teleportasi milikinya, lalu dengan sangat mudah dia berpindah ke belakang tubuh orge itu dan dengan kecepatan tinggi dia berhasil menebas lengan orge itu hingga putus.
"Arrggg!" Pemimpin orge mengaum sangat keras hingga getaran suara itu berhasil membuat pasukan para elf terpental karenanya, pun dengan Erix yang harus menggunakan skill teleportasi untuk melindungi dirinya sendiri.
Hingga getaran suara itu mereda, barulah Erix keluar dengan skill teleportasi miliknya, dia langsung berasa di hadapan orge besar itu dengan pedang di tangannya.
"Kalo ngamuk nggak usah biji orang sengsara bisa nggak sih!" Sentak Erix dengan nada kuat.
"Kau, siapa sebenarnya kau! Kenapa kau ikut campur dalam peperangan kami!"
"Gue?" Tanya Eris dengan seringai di wajahnya.
"Gue adalah orang yang akan menghentikan peperangan ini, dan melihat, siapa sebenarnya dalang di balik semua kekacauan ini!"
"Kau...."
"Apa!"
Erix sudah sangat siap dengan konsekuensi uang dia dapatkan saat dirinya ikut terjun ke dalam peperangan yang sama sekali tidak seharunya dia ikuti ini.