LaD - si penyendiri yang cerdik.
Erix pernah menjadi orang yang tak berguna di masa lalunya, bahkan di kehidupan sebelumnya dia adalah manusia paling buruk yang tidak pernah keluar dari rumah selama beberapa bulan terakhir, atau bahkan hampir satu tahun penuh.
Tentu saja semua dia lakukan dengan alsan kuat yang mendasari setiap tingkah lakunya. Erix salah satu anak yang menjadi korban keluarga, di mana orang tua yang selalu sibuk dengan pekerjaan dan sibuk dengan dunianya sendiri.
Melupakan Erix yang kala itu masih merindukan dan membutuhkan sosok orang tua di sisinya, tapi siapa sangka, dunia pekerja dan dunia kesenangan mereka mampu melupakan dirinya yang saat itu benar-benar membutuhkan orang tuanya.
Tak sampai di sana, Erix juga menjadi penyendiri kala di sekolah dia selalu menjadi bahan ejek teman-temannya dan menjadi bahan bullying di sekolah hingga membuatnya benar-benar putus asa.
Di saat anak-anak seusia dirinya butuh tempat berpulang dan membutuhkan kedua orang tuanya untuk sekedar mencurahkan cerita yang dia alami semasa sekolah. Erix malah sebaliknya, dia harus menelan kesedihannya seorang diri, dan mengurung diri di kamar untuk meredam rasa sakit dan dendam itu seorang diri. Dan dari sanalah dia mulai mencoba permainan game yang terbilang ramai saat itu.
Mencoba sesuatu yang baru dengan karakter yang berbeda di dalam sana, dia tidak ingin menjadikan kesedihannya sebagai alasan kenapa dia membawanya ke dunia game. Dan di sanalah dia menjadikan permainan sebagai dunia barunya, dunia yang dipenuhi dengan kesenangan dan keceriaan yang ada, bahkan di dalam game dia merasa menjadi sosok yang terlahir kembali. Bertemu dengan beberapa orang baru yang mengagumi dirinya atas apa yang bisa dia dapatkan di dalam game.
Siapa sangka, di kehidupan nyatanya yang menyedihkan, sangat berbanding terbalik ketika dirinya berada di dunia game yang benar-benar menyenangkan dan terkesan menerima dirinya.
Dari perasaan nyaman itulah yang menarik dirinya menjadi seorang pecandu game, dia menghabiskan waktunya untuk mengurung diri dan bermain game selama dua puluh empat jam, lalu hari berganti Minggu dan Minggu berganti bulan, semua berjalan seperti apa yang dia inginkan.
Erix yang mulai kecanduan mulai mencoba game lainnya dengan tema yang serupa dan lebih mendunia, dia mulai bermain game moba rpg dan mmorpg, semua dia coba hingga keterampilan benar-benar sangat luar biasa. Tidak sampai di sana, dia juga menjadi player yang berada di deretan ranking tinggi dan menjadi orang yang paling di cari di setiap permainan.
Namun sayang kesenangannya harus berhenti ketika dia mendapat masalah dari sekolahnya, di mana dia sudah tidak menghadiri sekolah selama hampir satu semester dan sore itu wali sekolah datang kerumahnya untuk memberikan keluhan atas apa yang dilakukan oleh Erix kepada orang tuanya.
Dan saat itu juga Erix mendapat hukuman dan kekerasan pertama dari kedua orang tuanya.
"Apa yang kamu lakukan, hah?! Mau jadi apa kamu dengan membolos selama satu semester!" Bentak sang ayah jala itu dengan emosi yang menggebu, tapi apa yang diucapkan pria tua itu sama sekali tidak berpengaruh para Erix.
"Apa kamu ingin membuat orang tuamu ini mau! Kamu sudah ayah sekalian tinggi di sekolah terbaik pula, tapi ini balasan kamu!"
Erix hanya diam, tipikal dirinya yang selalu saja dimarahi oleh orang tuanya. Padahal selama ini mereka sama sekali tidak memperhatikan dirinya sekalipun, dan sekarang mereka menuntut banyak dari dirinya yang sudah mengalami banyak hal buruk di sekolahnya.
"Mau bikin orang tua mu malu kau, hah!" Bentak sang ayah yang masih tak dipedulikan oleh Erix. Baginya bentakan seperti itu sama sekali tidak akan berpengaruh untuk dia yang sudah ribuan kali mendapat perlakuan yang setimpal di sekolah, bahkan bukan hanya di permalukan saja, dia bahkan sering mendapat serangan fisik dari teman-teman di sekolahnya.
"Jawab, Erix!" Bentak sang ayah lagi karena melihat Erix yang berusaha biasa saja tanpa ada rasa bersalah sekalipun di wajahnya.
"Kenapa? Apa baru sekarang ayah datang dan memarahi ku atas apa yang udah aku lakukan? Lalu kemana ayah selama ini, apa yah peduli dengan semua yang sudah anakmu ini lakukan? Apa ayah tahu apa yang sudah aku dapatkan selama ini dan, apa ayah tau kenapa aku melakukan semua ini!"
"Kamu!" Sang ayah mengacungkan tangannya ke depan wajah Erix, dia benar-benar marah saat itu.
"Sudah berani melawan kamu, hah!"
Dan benar saja, emosi itu membawa sebuah kekerasan datang dan menimbulkan rasa nyeri di tubuhnya, Erix masih diam. Karena baginya rasa sakit itu bukanlah apa-apa bagi dirinya yang sudah terbiasa mendapatkan hal itu, tidak hanya sekali, dia bahkan sering mendapat pukulan seperti itu bertubi-tubi dan sudah selayaknya seperti sarapan dan makanan ringan untuk dirinya.
Bahkan pukulan di paha yang diberikan sang ayah sama sekali tak membuat dirinya merasa kesakitan, dia berhasil menahan rasa sakit itu hingga sang ayah yang merasa jengah mulai kehabisan cara, dia yang menjadi sang anak itu pelampiasan menatap sang anak dengan tatapan tak percaya.
"Udah?" Tanya Erix dengan suara bergetar. Jujur saja dia menahan tangis di peluk matanya. Dia menangis bukan karena rasa sakit yang dia rasakan, tapi karena perlakuan sang ayah yang benar-benar tidak mencerminkan kasih sayang untuknya, sang ayah hanya menjadikan dirinya bahan pelampiasan tanpa berpikir apa yang akan terjadi kepada sang anak.
Erix, menangis karena dia merasa menjadi anak yang tak pernah diharapkan di dalam keluarga ini, seolah kehadirannya hanyalah sebagai kesalahan semata. Dan lagi dia sama sekali tidak mendapat perhatian dari orang tuanya, lalu sekarang, dia malah mendapat perlakuan yang sama sekali tak bisa dia abaikan lagi.
"Udah puas?" Tanya Erix pelan. "Udah puas ayah mukulnya? Udah puas ayah maki aku? Udah puas ayah pergi dan nggak pernah nganggap aku ada, dan sekarang setelah ayah datang, ayah menghajar ku habis-habisan?" Tanya Erix dengan nada bergetar.
Dia memejamkan matanya sejenak, lalu dengan perlahan dia mengangkat kaus yang dia kenakan saat itu, dan seketika itu mata sang ayah terbelak luar biasa ketika melihat luka lebam yang ada di sana. Bukan hanya satu tapi ada begitu banyak luka yang ada di tubuh anak itu.
"Kenapa?" Tanya Erix dengan suara bergetar. "Ayah kaget liat ini?" Dia menunjuk lukanya dengan tangan bergetar.
"Asal ayah tau, bukan hanya ayah yang bisa memberimu luka lebam ini, karena nyatanya, ibu juga melakukan hal yang sama ketika beliau kesal. Dan ayah tahu apa yang membuat ibu kesal?" Tanya Erix lagi.
Sang ayah tak bisa berkata-kata sekarang, bahkan dia melangkah mundur dengan gontai ketika melihat apa yang ada di hadapannya kini.
"Ibu melakukan ini karena ibu kesal dengan perlakuan ayah yang selalu saja sibuk dengan pekerjaannya dan wanita wanita ayah di luaran sana." Sejenak Erix menarik kedua sudut bibirnya, dia tersenyum tipis sangat tipis ketika melihat raut terkejut dari sang ayah.
"Dan terima kasih karena ayah sudah membuatku benar-benar yakin jika ku tidak pernah dibutuhkan lagi di rumah ini." Perlahan Erix menurunkan kausnya lalu beranjak mundur dari sana.
"Aku sudah memutuskan untuk pergi dari rumah ini, karena pada kenyataannya aku sama sekali tidak pernah kalian inginkan, aku hanya hadir untuk menjadi bahan pelampiasan kalian, tanpa ada perhatian dan kasih sayang yang kalian berikan."
Erix tersenyum untuk kali pertamanya malam itu. Dan setelahnya dia benar-benar pergi dari rumah itu tanpa bisa dicegah oleh sang ayah, dia pergi hanya dengan mengandalkan beberapa akun game yang dia mainkan selama ini. Lalu dengan sedikit uang yang dia miliki dia berhenti di sebuah warnet, menyewa salah satu komputer di sana dan membuat pengumuman penjualan aku yang sudah menjadi teman dirinya selama ini.
Dan untuk kali pertama di malam itu, ada seseorang yang benar-benar peduli dengan dirinya. Orang itu datang melalui room chat yang dia bentuk, dan menanyakan kenapa dia sampai rela menjual akun dengan harga puluhan juta itu hanya demi uang, padahal perjuangan dirinya untuk mendapatkan karakter yang kuat seperti miliknya benar-benar sulit.
Dan untuk kali pertamanya Erix menceritakan masalahnya malam itu, pada orang yang baru saja dia kenal dari dunia game, dan entah kenapa, pria dengan nick name Astyar itu memberinya uang serta sebuah tempat tinggal, dengan catatan dia harus bekerja di bawah pria itu.
Bekerja sebagai salah satu pro player untuk mengikuti beberapa kompetisi online dan bekerja sebagai player streaming di bawah naungan pria itu.
Mereka tidak pernah bertemu setelahnya, bahkan sampai Erix menemui ajalnya, dia sama sekali tidak pernah berkesempatan untuk bertemu dengan pria baik hati itu.
Dan itulah mengapa, Erix sangat membenci kekerasan dan semua hal tentang keegoisan.
"Kau, siapa sebenarnya kau! Kenapa kau ikut campur dalam peperangan kami!"
"Gue?" Tanya Eris dengan seringai di wajahnya.
"Gue adalah orang yang akan menghentikan peperangan ini, dan melihat, siapa sebenarnya dalang di balik semua kekacauan ini!"
"Kau...." Pemimpin orge itu mengerang kuat, dia seolah kesal dengan serangan yang diberikan Erix kepadanya. Bahkan karena serangan Erix membuat lengannya harus putus dan tak bisa dia gerakkan lagi.
"Apa!" Sentak Erix dengan tatapan nyalang ketika dia melihat kemarahan dari pemimpin orge itu.
"Jangan pikir Lo kuat maka ya Lo bisa bersikap semena-mena dengan mereka yang lemah di hadapan lo!"
"Jangan banyak omong, dan jangan pernah ikut campur dalam pertarungan seseorang!"
"Sebenarnya gue nggak mau ikut campur di sini, tapi karena gue liat Lo udah keterlaluan dengan semua hal yang Lo lakuin, maka jangan salahin gue kalo gue bakal ikut andil dalam peperangan ini."
"Cih! Manusia sombong!"
Erix menyeringai, terlebih ketika orge itu mengambil kapaknya lagi dan mulai menyerang kearahnya. Erix boleh saja tidak memiliki pengalaman dalam bertarung tapi kecerdikan dan penguasaan diri dalam setiap permainan yang dia mainkan dulu membuat dirinya benar-benar bisa menggerakkan tubuhnya sesuai dengan keinginannya. Dia seolah menggerakkan tubuhnya selayaknya dia menggerakkan karakter di dalam game, bahkan kali ini, pergerakan itu lebih efisien jika dibandingkan di dalam game.
Dia menangkis dan menghindar dari setiap serangan yang datang kepadanya, bahkan kecepatan dari pemimpin orge itu bisa dikatakan sangat buruk, dan Erix bisa dengan mudah membaca setiap pergerakan dan pola serangan dari monster itu.
"Apa cuma ini kemampuan yang Lo miliki?" Tanya Erix dengan senyum merekah, dia merasa pertarungan ini sangatlah mudah.
"Kau...!"
"Kenapa?"
Napas orge mulai terengah-engah, bahkan tatapannya terlihat nyalang di sana dengan aura yang mulai mengalir di seluruh tubuhnya.
Sistem : bahaya terdeteksi, king of orge mulai memasuki mode besreker.
Erix tersenyum ketika melihat notifikasi sistem yang muncul ketika orge itu mengamuk. Dengan kemarahan musuh maka akan membuat pertarungan ini sangat mudah baginya.
"Awas!"
Dia menoleh kebelakang ketika pemimpin elf tadi memperingati dirinya. Namun sayangnya, hal semacam itu bukanlah masalah untuk dirinya, dia makin melebarkan senyumnya, lalu dengan sangat santai dia berkata. "Nggak usah pikirin gue, Lo pikirin aja diri Lo sendiri dan semua bawahan Lo di sana!"
Dan setelah itu, Erik melompat tinggi menggenggam erat pedangnya dengan sangat kuat, dan setelah itu dia melancarkan serangan tiap serangan ke arah pemimpin orge dengan kekuatan yang luar biasa, tapi sayangnya pemimpin orge yang berada di dalam mode marah memiliki kekuatan yang bisa di katakan seimbang dengan dirinya, maka dengan itu dia mampu menepis segala serangan yang di lancarkan eh Erix dengan sangat mudah.
"Cih! Pedang ini bener-bener nggak berguna!" Merasa kesal dengan senjata yang tak pernah berguna itu, Erix melempar pedang di tangannya dengan kekuatan yang luar biasa dan mengarahkannya ke arah pemimpin orge di sana. Namun seperti biasa, dia dengan sangat mudah menepis pedang itu dan membuat pedang itu terpelanting jauh ke arah lain.
Erix mendesis pelan, dia melarikan tatapannya untuk mencari pedang yang mungkin saja berguna untuk pertarungan ini, karena bagaimanapun juga Erix tidak ingin menggunakan skill yang dia miliki di pertarungan kali ini, sebisa mungkin dia harus menyembunyikan kemampuan agar tidak membuat kehebohan terjadi di tempat ini.
Lalu ketika dia melihat kearah pemimpin elf, dia melihat pedang yang luar biasa ada di tangan pria itu. Dan tak menunggu lama lagi, dengan skill teleportasi dia segera berpindah ke sisi pemimpin elf dengan sangat cepat.
"Permisi, maaf ... Gue boleh pinjem pedang lu kagak?" Tanya Erix dengan suara ringan tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Untuk apa?"
"Yaelah paket tanya segala. Ya buat ngelawan babi busuk itu lah! Emang buat apaan lagi." Balas Erix dengan nada kesal. Lalu ketika melihat pemimpin orge yang akan menyerang kearahnya.
"Kelamaan!" Erix dengan langsung merebut pedang itu dengan sangat cepat, lalu menggunakannya untuk menepis serangan dari pemimpin orge itu.
"Mending ku cabut sekarang! biar gue yang habisi ini babi busuk."
"Cabut?!"
"Ck, pake tanya pula, udah buruan pergi astaga!" Sentak Erik yang tak kuat menahan serangan dari pemimpin orge itu, dia benar-benar merasa muak jika harus terus bertahan dan bertahan seperti ini. Dia ingin segera mengakhiri pertarungan ini agar dia bisa beristirahat dan melatih dirinya sendiri.
Seperi yang dikatakan Erix, pemimpin elf tadi langsung beranjak pergi dengan memboyong beberapa bawahannya untuk menyingkir. Tentu saja dia tidak ingin jika efek serangan Erix malah berhasil mengenai atau membuat bawahannya terbunuh saat itu juga.