LaD - keluar dari desa

1460 Words
LaD - Bak buah jatuh tak jauh dari pohonnya, seperti itulah tom di hadapan gue, dia memiliki sisi tanggung jawab yang luar biasa untuk memimpin rasnya dia seolah sudah terbiasa dengan beban dan yang dia pikul ketika mulai memimpin dan menggantikan raja sebelumnya. Terlihat dari bagaimana dia bekerja keras untuk ikut terjun langsung membangun desa yang akan menjadi tempat tinggal para warganya. Gue melihat dia mengangkat gelondongan kayu besar yang akan dibelah menggunakan gergaji hanya meringis kecil, bagaimana tidak, ukuran batang pohon itu jelas sepuluh kali lebih besar ketimbang tubuhnya sendiri, tapi dia mampu mengangkat dengan sangat mudah. Memang jika dari segi kekuatan Tom tidak bisa diragukan lagi. Gue hanya tersenyum kecil ketika melihat bagaimana dia bekerja. Lalu saat melihat gue berdiri di sisi tempat kerja mereka, dia langsung tergopoh-gopoh menghampiri gue. "Tuan ...." "Hay tom?" "Tuan sudah lama di sini?" "Nggak. Gue baru aja sampek dan sengaja mau liat Lo kerja." Dia terlihat sedikit canggung di sana. Penampilannya juga sudah terlihat lebih sejak setelah dia keluar dari penjara tambang. "Maaf jika sedikit memalukan menyambut tuan dengan keadaan seperti ini." Dia tahu kalau gue memperhatikan penampilannya jadi mungkin karena itu dua merasa sungkan karena kondisi gue. "Nggak papa." Gue tersenyum. "Gue cuma mau ngomong sesuatu ke Lo. Nggak terlalu penting sih, tapi gimana ya...." Gue agak bingung mau bilangnya, karena nggak enak juga ninggalin mereka dengan kondisi yang kayak sekarang, apalagi mereka masih dalam proses pembangunan desa. "Gue mau pergi beberapa waktu ke depan. Dan kemungkinan agak lama, jadi gue mau sekalian pamitan sama Lo di sini." "Tuan... Tuan akan pergi?" "Sebenernya gue nggak pengen pergi, tapi kalo kelamaan di sini juga gue nggak bisa berkembang, ada hal yang harus gue selesaikan...." Gue menggaruk tengkuk gue yang tak gatal. "Karena gue udah menepati janji gue ke kalian, gue bakal pergi setelah ini." Dari raut Tom terlihat kalo dia terkejut sama keputusan gue, tapi ya balik lagi, tujuan gue di dunia ini bukan cuma ini aja, membangun desa yang seharunya nggak ada di rincian rencana gue, tapi karena janji yang udah gue buat, ya gue nggak bisa berbuat apa-apa. "Tuan ... Apa tidak sebaiknya menunggu beberapa hari lagi? Kami bisa menyimpan pesta perpisahan untuk tuan dan memberi sesuatu yang lebih pantas lagi." "Nggak perlu, gue sebenernya nggak terlalu suka sama pesta kayak gitu. Dan lagi kita udah buat sebelumnya jadi kayaknya nggak perlu." Bukan hanya itu saja, tapi gue juga memikirkan bagaimana kondisi desa yang harus lebih menghemat untuk persiapan mendatang, mereka harus lebih menata kecukupan pangan agar kejadian yang pernah menimpa mereka sebelumnya tidak akan terulang lagi. "Lagian gue juga bakal pulang ke tempat ini, jadi kayaknya membuat pesta perpisahan nggak terlalu layak buat gue." "Tapi...." "Udah nggak usah canggung gitu!" Gue mengibaskan tangan di depan d**a. Lalu melihat para orge yang masih bekerja di sana. "Mereka masih semangat untuk membuat desa yang layak untuk kalian, jadi untuk itu lebih baik gue pergi gitu aja, dan sebelum itu, mulai hari ini semua kekuasaan dan perintah atas para orge gue serahin ke Lo, dan gue harap setelah kejadian yang lalu, kalian nggak akan berpikir untuk membuat kekacauan lagi, karena walaupun kekuasaan udah gue serahin ke Lo, kalian dan termasuk Lo, masih dalam pengawasan gue dan perlindungan dari gue." "Baik tuan!" Gue tersenyum ketika melihat Tom yang terlihat sedih tapi harus memaksakan diri untuk tetap menjawab ucapan gue dengan lantang, di balik semangatnya terlihat jelas bagaimana sisi sedih yabg terpahat di raut wajahnya. "Jaga orang-orang dengan baik, selama gue pergi, Lo harus buktiin ke gue dan juga ke demon orge yang udah menyerahkan tahta ini ke Lo, bawa rakyat Lo ke pintu gerbang kemakmuran, bukan hanya penderita seperti yang sudah dia berikan sebelumnya." Tom menunduk di sana, dan hal itu membuat gue jadi agak sungkan ketika harus pergi saat itu juga. "Udahlah, Tom. Jangan kayak bocah gini, Lo itu pemimpin sekarang, dan nggak seharusnya seorang pemimpin itu nangis kayak gini. Malu lah!" Dan setelahnya dia menggunakan tangannya untuk mengusap air mata yang membasahi wajahnya, dia mengangkat wajah setelahnya. Dan seketika itu juga gue bisa melihat wajah jeleknya yang tengah bersedih di sana. "Jangan bikin gue ikutan nangis ya!" Karena suasana yang tercipta karena tingkah Tom membuat gue jadi pengen ikutan nangis, tapi tetep gengsi dong. "Udah, gue cabut aja deh ya." Gue berbalik setelahnya dan akan benar-benar pergi setelah itu. Namun sebelum kaki gue melangkah, suara Tom menghentikan langkah gue dan membuat gue menoleh kearahnya. "Kenapa?" "Terimakasih! Terimakasih atas apa yang tuan berikan untuk kami." Air mata itu menetes dan hal itu membuat gue tercenung seketika, baru kali gue merasakan sesuatu yang menurut gue berharga, karena kalian tau sendiri, sebelum gue datang ke dunia ini, gue hanyalah seonggok sampah yang bahkan keberadaan gue saja nggak pernah dianggap oleh mereka. "Jangan gitu...." Gue menelan kembali kalimat gue karena entah kenapa gue malah kehabisan kata-kata dan bingung harus ngomong apa. Padahal gue hanya tinggal ngomong tapi rasanya begitu sudah. "Gue lakuin itu karena janji yang udah gue beri ke raja kalian yang sebelumnya, dan Karen itu juga kalian termasuk tanggung jawab gue." Dia mengangkat wajahnya. Menyorot gue dengan tatapan sendu yang basah. "Tapi apa yang tuan berikan begitu berharga untuk kami. Ras yang sudah terbuang dan tidak memiliki tempat, kami hanyalah sekumpulan orang yang sudah tidak memiliki harapan sebelum bertemu dengan tuan. Dan sekarang, tuan sudah memberikan satu harapan untuk hidup kami." Dia menundukkan wajahnya lagi. Dan Kalimat itu seolah begitu bermakna untuk gue. Seolah ada sebercik harapan agar bisa mem buat diri gue menjadi berguna ketika bisa berbagi dan membantu orang yang seharusnya gue tolong, dan karena itu juga entah ke apa gue malah merasakan sedih untuk berpisah dari mereka, padahal gue udah menahan dan bersikap untuk tidak terlalu peduli kepada mereka, tapi tetap saja. Saat melihat Tom yang begitu menghargai gue. Rasa sungkan dan peduli itu kembali datang ke diri gue. "Untuk itu, mulai sekarang, Lo dan kalian semua harus bisa menghargai hidup kalian, berusahalah untuk tetap hidup walau sakit yang kalian rasakan, pengalaman dan kesulitan yang udah kalian hadapi di masa lalu anggap saja sebagai pelajar hidup dan untuk bercermin pada diri sendiri. Semoga kelak kalian tidak mengalami nasib buruk seperti itu lagi." Gue menepuk pundaknya, lalu meremas pundak itu sebentar. "Gue pergi dulu, kalau ada apa-apa. Lo bisa hubungi gue." Dan setelah itu gue benar-benar berbalik lalu melangkah pergi. Bahkan teriakan dari Tom sama sekali tak menghentikan langkah gue. Gue hanya ingi pergi tanpa ada keraguan di dalam hati, karena jika menyimpan rasa keraguan itu maka selamanya gue hanya akan berada di dalam satu titik tanpa ada perkembangan sekalipun. "Apa sudah selesai acara perpisahan sedihnya?" Gue nggak menoleh ataupun berhenti saat suara Dino menyapa, yang gue tahu dia berdiri dan bersandar di belakang pohon yang tak jauh dari tempat gue berbincang dengan Tom tadi. "Di mana Aldos sama Silvana?" Kaki gue terus melangkah tanpa peduli Dino yang berusaha mengikuti gue dari belakang, dia berjalan dengan santai bahkan kedua tangannya dia letakkan di belakang kepala dengan kepala yang mendongak dan bersandar di kedua tangannya. "Mereka menunggu mu di pinggir hutan." "Persediaan?" "Tentu saja sudah selesai, kau tahu sendiri bagaimana dua anak-anak mu itu saat melakukan sebuah pekerjaan, mereka akan membereskan tanpa ada setitik noda tersisa di sana. Bekal, dan semua keperluan yang kau butuhkan sudah siap." "Baguslah, kita pergi sekarang, gue nggak tega kalo harus lama-lama di tempat ini." "Kenapa? Karena kau tidak tega meninggalkan mereka?" Gue mengedikkan bahu karena seperti itulah kenyataannya, entah kenapa gue jadi merasa ada yang aneh ketika harus meninggalkan mereka. Padahal tujuan gue sejak awal bukanlah hal itu. "Kau tahu, terkadang sesuatu yang sudah bersama kita dan memberikan kesan yang luar biasa untuk kita akan sulit untuk kita lupakan." Terdengar Dino mendengkus pelan sebelum akhirnya dia berjalan mendahului gue dengan raut yang juga aneh. Suasana ini entah kenapa jadi begitu aneh secara tiba-tiba. Padahal gue udah merencanakannya sejak jauh hari. Ah .... Sudahlah, gue terlalu sibuk memikirkan sesuatu yang tidak penting seperti ini hingga membuat mood dalam diri gue anjlok seketika. "Oh iya." Dino tiba-tiba berhenti lalu menatap gue dari tempatnya. "Apa kau sudah menyiapkan material yang akan kau gunakan untuk membuat senjata?" "Tentu saja, semua yang gue butuhkan sudah siap di sini." Karena tujuan gue adalah membuat senjata yang cukup berguna untuk diri gue dan beberapa skill yang bisa gue apply kan ke senjata gue, untuk bahan dan keperluan lain, gue sudah memikirkannya dan jika masih kurang, gue bisa mencari bahan lainnya. "Dasar kau ini, selalu saja kau siapkan sejak awal tanpa kesulitan sekalipun." "Itulah gue, yang nggak mau terlalu ribet kalo harus mencari lagi dan mengumpulkannya lagi." Gue menghentikan langkah sejenak lalu menoleh kebelakang untuk melihat desa orge terakhir kalinya. "Udahlah jangan terlalu di perhatikan, atau kau akan kesulitan sendiri nantinya." Akhirnya gue hanya mengangguk pelan sebelum akhirnya gue melangkah pergi mengikuti langkah Dino.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD