LaD - desa Darft
Dino
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, aku dan Erix sampai di sebuah desa yang cukup ramai dengan banyak orang dan pengunjung di dalamnya, sebuah desa yang terkenal dengan pengrajin senjata yang sangat hebat hingga membuat orang-orang berbondong-bondong untuk datang dan memesan senjata di tempat ini. Tak terkecuali aku yang sudah sangat lama ingin membuat pedang yang ringan dengan material yang kuat dari Erix.
Material yang sudah aku buru beberapa tahun belakangan, tapi sialnya aku sama sekali tidak bisa mendapatkannya, dan secara tiba-tiba Erix memberikannya dengan percuma ke padaku. Sungguh konyol, tapi dari sanalah aku sedikit paham dengan sikap Erix yang tidak pernah mau ambil pusing dalam hal apapun, termasuk dengan permintaan remeh asal sebanding dengan apa yang akan dia dapat.
"Akhirnya setelah sekian lama aku kembali lagi ke tempat ini."
Aku tersenyum senang. Karena tak lama lagi aku akan mendapat senjata terbaik yang pernah aku inginkan, sungguh inilah momen di mana aku sangat rindu dengan tempat ini, bukan hanya itu saja, aku juga sudah tidak sabar mencoba kemampuan baruku di arena pertarungan hari ini.
"Hah. Sudah berapa lama kira aku tidak berkunjung ke tempat ini."
"Mana gue tau. Lo yang pernah ke sini kenapa juga lo yang ngeluh?"
Yah seperti itulah sidak Erix yang terkadang suka merusak suasana orang-orang dengan ucapan yang tergolong pedas dan suka asal buka mulut saja.
Tapi aku tidak pernah peduli dengan seluruh ucapannya. Karena bagiku ucapan seperti itu bukanlah sesuatu yang harus aku pedulikan. Karena aku tahu, pada dasarnya dia hanyalah berkomentar tentang apa yang aku lakukan.
"Jangan terlalu kasar, aku hanya merindukan tempat ini."
Aku mengangkat kepala, lalu dari posisiku aku bisa mencium aroma orang-orang kuat di tempat ini. Dari segi apapun mereka adalah orang-orang hebat yang bisa menembus hutan dan melewati jalanan dengan tingkat bahaya yang luar biasa, bahkan mereka bisa saja bertemu dengan monster kuat selama perjalanan menuju tempat ini.
"Apalagi orang-orang kuat yang selalu membuat ku semangat itu. Mereka selalu saja membuat hatiku berdebar."
Aku mengedarkan pandangan, lalu melangkah lebih jauh untuk masuk dan melihat orang-orang di sekitar yang sudah mengerumuni tempat penjual senjata dan juga armor yang bisa digunakan untuk berburu di sebuah labirin, tempat mereka bisa mendapatkan banyak uang dan kesenangan di sana.
Di tempat ini memang para petualang adalah salah satu sosok penting yang bisa dikatakan memiliki pengaruh luar biasa untuk ekonomi para masyarakat di dalam kota serta kerajaan sekalipun. Mereka semua memiliki poin penting untuk memperluas wilayah kekuasaan dan layak huni yang sudah terbebas dari monster serta ras berbahaya. Namun di balik semua itu, ada beberapa hal yang bisa saja membahayakan mereka semua dengan tingkat resiko kematian yang sangat tinggi.
Maka tak jarang jika banyak orang-orang yang mati saat mereka menjelajahi labirin di luar sana.
Dan untuk itu. Setiap tahun akan ada sebuah kompetisi untuk mencari orang paling kuat yang bisa dijadikan sebagai pemimpin para petualang yang lain untuk menjelajahi sebuah labirin yang tentu saja sulit untuk ditaklukkan.
Banyak misi dan banyak hal yang menarik juga untuk mencari banyak yang di tempat itu.
"Hey kau!"
Aku berhenti seketika ketika mendengar suara yang tak asing memanggilku. Aku menoleh ke arah berlawanan, di mana Erix juga melakukan hal yang sama, mungkin dia juga penasaran dengan siapa yang memanggilnya di sana.
"Dino kan?"
Aku mengerutkan kening sejenak saat memperhatikan pria besar di sana, lalu ketika aku ingat siapa dirinya aku langsung menyeringai. "Jhon!"
Yah, dia adalah salah satu rekan yang sudah lama terpisah, karena aku menjadi salah satu eksekutif maka aku harus berpisah dengan dia sih elf yang selalu senang dengan dunia luar tanpa harus terikat dengan satu kontrak di dalamnya.
"Sedang apa petinggi eksekutif ada di sini?" Dia menatapku dari atas, tunggi tubuh yang jauh lebih tinggi dariku membuat dirinya terlihat seolah memperhatikan ku sebagai seorang anak kecil, hal itulah yang selalu membuat diriku jengkel.
"Bukankah petinggi eksekutif di larang untuk menyentuh dunia luar? Lalu apa yang kau lakukan di tempat ini?"
"CK, kau ini sedang meledekku atau bagaimana? Sudah jelas aku sedang mencari Durafa."
Durafa adalah salah satu pengrajin yang sudah lama menjadi pengrajin pribadi untuk, dan itu sudah sangat lama, entah sudah berapa tahun berlalu, tapi waktu yang terlewat tidak mudah untuk di lupakan.
"Huft ... Apa kau belum tahu kabar itu?" Tanya Jhon dengan suara pelan di sana, aku mengangkat kepala tinggi-tinggi untuk melihat wajah itu.
"Hey apa yang terjadi? Kenapa kau menekuk wajah mu seperti itu?"
Jhon membuang wajahnya ke samping untuk sebentar, lalu menggeleng pelan dan menunduk untuk menatapku. "Lebih baik kau lihat saja sendiri."
Dan setelahnya Jhon berlalu, berjalan seolah mengajak ku untuk mengikutinya.
Aku tidak langsung mengikutinya, melainkan menatap kearah Erix di sana. Dan setelah dia mengangguk pelan tanpa perlu repot. Aki hanya bisa berjalan mengikuti Jhon yang menuju ke sebuah rumah yang terlihat asing di mata ku.
"Ini?"
"Di tempat ini Durafa terbaring lemah, beberapa bulan lalu dia mengalami saat buah insiden yang membuat tubuhnya tak bisa bergerak, dan karena hal itu juga dia menutup bengkelnya."
"Insiden?" Tanya ku pelan. Aku sama sekali tidak mengetahui kejadian ini.
"Dulu. Lima tahun silam kejadian itu terjadi, tepat saat aku dan Durafa mencari bahan material untuk sebuah pedang yang akan aku gunakan untuk mengikuti ujian. Namun saat itu suatu hal buruk terjadi. Di mana ketika aku harus mencari sisik naga biru untuk dijadikan sebuah bahan pedang, ternyata naga biru masih ada di dalam sarangnya dan hal itu membuat monster itu mengamuk dan menyerang membabi buta, semua yang ada di sana terbakar oleh api biru yang sangat dahsyat, dan karena itu juga, Durafa mengalami luka bakar yang membuat dirinya harus berbaring lemah karena luka itu tak kunjung sembuh."
Jhon mengepalkan tangannya kuat-kuat, bahkan dia juga sampai meninju pintu di hadapannya dengan sangat kuat.
"Andai saja saat itu aku kuat, mungkin sampai detik ini Durafa tidak akan menderita seperti itu, semua karena salahku, aku yang terlalu lemah tidak bisa melindungi dirinya!"
Aku tertegun sejenak saat mendengar ucapan dari Jhon, entah apa yang sudah terjadi sebelumnya, tapi naga biru adalah makhluk mitos yang memiliki kekuatan luar biasa, bahkan kekuatannya hampir setara dengan naga badai dan naga kehancuran. Serta naga agung yang sudah menjadi penguasa benua ini sejak lama, tapi seiring berjalannya waktu keberadaan mereka mulai sirna dan mulai terkikis. Bahkan mereka hanyalah menjadi makhluk mitos saat ini, tapi apa yang dikatakan oleh Jhon benar-benar membuatku tercengang.
"Apa kau serius?" Aku masih bergumam tak percaya dengan semua penjelasan Jhon.
"Yah, aku yakin kau pasti tidak akan mempercayai apa yang aku katakan." Lalu setelahnya Jhon mendorong pintu di hadapannya dengan perlahan, dan setelahnya dia melangkah masuk, diikuti olehku dan juga Erix serta dua orang lagi di belakangnya.
Kamu masuk ke dalam ruangan sederhana yang terlihat sudah lama tak dibersihkan, tempat ini sangat kacau, bahkan debu dan semua hal yang ada di ruangan ini sangat tidak layak. Dan juga, kursi serta lemari yang berantakan akibat kemarahan seseorang jelas terlihat.
"Apa kau yang melakukan semua ini?"
Jhon berhenti sebentar, dia melirik kearahku sebelum akhirnya dia melengos dan berjalan tanpa mengucapkan apapun sebagai jawaban.
Dia berjalan menuju sebuah pintu dan dengan perlahan dia membukanya hingga terlihat sebuah kamar yang terlihat lebih rapih dari ruangan lainnya.
Yah ... Melihat itu aku bisa menebak jika Jhon adalah orang yang sudah membuat kekacauan di luar ruangan itu. Karena aku sangat paham dengan sikap temperamen yang dimiliki olehnya, dan hal itu sudah tidak begitu mengherankan lagi untukku.
Jhon melangkah masuk dengan raut dan peringai yang terlihat biasa saja, seolah tidak terjadi masalah apapun sebelumnya. Jhon adalah pembohong yang sangat baik, bersikap seolah tak terjadi apa-apa padahal dirinya sudah mengalami beban penderitaan yang selama ini dia emban.
Mungkin karena rasa bersalah itu yang membuat dirinya merasa terpukul dan terus melampiaskan kemarahannya pada bangunan di rumah ini.