LaD - naga biru

1344 Words
LaD - Sarang naga biru. "Apa?!" Gue menatap Dino yang tiba-tiba saja menatap gue dengan tatapan penuh harap. Padahal sedari tadi gue sudah berusaha untuk tidak ikut andil dalam pembicaraan yang menurut gue merepotkan. Dan apa yang dia bilang tadi? Naga biru? Bah! Sepertinya itu adalah hal yang sangat merepotkan, dan gue benci dengan hal seperti itu. Tujuan gue datang ke tempat ini hanyalah untuk mencari senjata yang bisa gue gabungkan dengan skill pelahap, di bayangan gue saat ini adalah sebuah senjata yang bisa menyerupai seperti yang pernah gue tonton di film anime kesukaan gue. Di mana sebuah pedang besar yang dapat melahap apapun dan menjadi perantara bagi gue agar nggak terlihat aneh saya gue melahap mereka yang sudah gue kalahkan. Walau rasanya nggak mungkin, tapi itulah yang gue bayangkan saat ini, nggak ada salahnya kan kita membayangkan sebuah impian walau itu agak nggak nyata. "Kau bisa membantuku kali ini." "Apa? Gue?" Dino mengangguk pelan dan hal itu membuat gue langsung berdecih pelan. "Apa untungnya buat gue bantu kalian?" Karena seperti sebelumnya, Dino selalu meminta imbalan tiap kali gue meminta tolong kepadanya, dan sekarang jangan salahkan gue kalo gue membalikkan keadaan itu. "Ayolah, aku selama ini sudah menjadi juru perjalanan yang kau inginkan dan mengantarkan mu ke sebuah tempat yang selalu kau inginkan, jadi kenapa tidak kau balas semua kebaikan ku?" "Lo seriusan ngungkit masalah itu? Padahal serial gue minta tolong sama Lo, Lo selalu minta sesuatu sebagai jaminan, dan sekarang Lo ungkit masalah ini?" Gue menatapnya tak percaya. Gue tipikal orang yang nggak pernah suka mengungkit sedikit saja masalah yang seharusnya sudah terlupakan. Dan lagi, gue selama ini nggak pernah berhutang Budi sama Dino, jadi dengan dia bilang gitu ke gue sama aja dia mau ngungkit masalah yang seharunya sudah lewat dan udah gue bayar. "CK, ayolah, rix. Kau seharusnya bisa membantuku. Kali ini saja." "Nggak, gue nggak akan ngelakuin apa yang Lo minta, karena bagi gue itu merepotkan." Gue mendengkus, lalu melipat kedua tangan gue di depan d**a dan setelahnya bersandar pada tembok di belakang gue. Dia pikir mudah mengerjakan pekerjaan yang merepotkan seperti itu. Melawan beberapa monster di bawah tanah saja sudah membuat gue keteteran, sekarang gue harus membantu dan melawan hewan seperti itu lagi? Jangan garap. "Kali ini saja, aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan Kristal es biru itu. Ku mohon Erix...." "Dino, siapa dia sebenarnya, kenapa kau begitu memohon kepada pria lemah ini?" Gue melotot seketika ketika mendengar ucapan dari pria besar bernama Jhon itu. Apa dia bilang, gue, lemah? Mata dia buta apa gimana? Jelas-jelas gue adalah tuan di antara orang-orang ini tapi dia merendahkan gue seperti itu. "Ap-" Gue menahan tubuh Silvana yang hendak maju kedepan untuk menyangkal perkataan Jhon di sana. "Tuan ...." Gue menggeleng pelan sebagai peringatan agar Silvana tetap diam dan tenang di tempatnya. Dan setelah itu gue berdiri tegak. Lalu menatap sosok pria besar itu dengan tatapan merendah. "Lo dengar sendiri kan? Gue cuma orang lemah yang nggak pantes Lo mohon, jadi dari pada Lo mohon sama gue mending Lo kerjain sendiri." Dino mengerang kuat, lalu setelah entah apa yang terjadi. Pria besar itu langsung memekik kesakitan dan mengangkat sebelah kakinya keatas dan melompat-lompat kecil di sana. "Jika kau tidak tahu apapun yang ada di hadapan mu lebih baik kau diam..." Gue bisa mendengar desisan tajam dari Dino karena temannya itu yang sudah lancang berkata buruk di hadapan gue. "Bukan ... Bukan seperti itu Erix, kau tahu. Aku butuh kemampuan mu untuk menuju tempat itu dengan cepat, karena aku butuh kristal es biru secepat yang aku bisa." "Gue males, kalo Lo berminat, Lo minta tolong aja Silvana." Kata gue sembari beranjak dari sana dan berjalan keluar. "Lagian gue juga cuma orang lemah di sini." "Erix!" Gue mengangkat tangan kanan ke udara lalu melambai pelan di sana. Jujur saja, gue bukan nggak mau membantu Dino, tapi ada alasan lain kenapa gue malas melakukan hal itu. "Bantu dino selagi gue cari orang untuk buat senjata yang gue inginkan." Ucap gue dalam kepala gue dan setelahnya gue mendapat jawaban. "Baik tuan." Gue tersenyum dan setelahnya berlalu dari sana. Satu hal yang kalian harus tahu, setelah gue mengetahui jika gue memiliki ikatan dengan Aldos dan juga Silvana, di saat itu juga gue tahu kalau gue bisa melukai kontak dan pembicaraan melalui telepati, tanpa harus repot untuk berkomunikasi dengan beberapa alat yang dulu gue tahu, dan tentu saja di jaman sekarang alat-alat komunikasi belum tercipta. Dan setelah mendapat jawaban itu, gue bisa pergi dengan tenang, karena bagian ini juga bisa menjadi sesi latihan untuk mereka berdua agar bisa bertambah kuat dan terus tumbuh menjadi sosok yang lebih kuat lagi. Karena suatu saat nanti, gue akan sangat membutuhkan bantuan mereka. "Ahhh!!! Jadi kemana dulu gue harusnya pergi?" Gue bergumam sembari mengedarkan pandangan untuk melihat tempat yang begitu ramai di sini. Mungkin karena rumor yang beredar tentang senjata yang bagus ada di tempat ini membuat desa Darft terlihat begitu ramai dan dipenuhi orang-orang kuat di sana. "Mending berkeliling aja dulu, lihat-lihat siapa tau ada tempat atau senjata yang cocok buat gue." Dan setelahnya gue memilih untuk berkeliling, mengunjungi satu toko ke toko yang lain dan melihat senjata di setiap toko yang ada di sana. Walau sejatinya semua senjata di tempat ini tidak ada yang bisa menarik perhatian gue, semua terasa biasa saja dan menurut gue semua senjata di tempat ini sangatlah biasa saja. "Apa kau sedang mencari senjata tuan?" Gue mengerut kening ketika melihat seorang kakek-kakek mendatangi gue dengan tubuh renta di sana. Sedikit iba gue akhirnya tersenyum kecil. "Hanya melihat-lihat kek, tapi nggak ada yang menarik perhatian ku di sini." Dia tersenyum, dan jangan tertawakan gue karena ucapan gue yang terkesan sopan, di sini gue lebih menghormati orang yang lebih tua dari gue, karena bagaimanapun mereka layak untuk di hormati. "Apa aku boleh tau seperti apa senjata yang kau inginkan?" "Em ...." Jujur saja, mengatakan senjata yang sejak lama gue inginkan sepertinya sangat mustahil. Apalagi dengan seluruh fantasi yang ada di kepala gue. "Bukan senjata yang mudah untuk di buat kek, aku ingin senjata yang sangat kuat dan mampu menampung semua energi sihir yang aku miliki, lalu senjata itu adalah berupa pedang, dan bisa bergabung dengan skill yang aku miliki." "Hem ... Sepertinya senjata yang kau inginkan sangatlah sulit untuk di dapatkan, dan aku rasa hal itu sedikit mustahil di tempat ini." "Begitukah?" "Karena sejauh ini. Kami para Darft hanya bisa membuat senjata seperti yang kami bayangkan saja dsn setiap senjata juga memiliki level tersendiri tergantung bahan yang kami gunakan untuk membuat senjata itu sendiri." Dia melirik gue sebentar dengan seksama sebelum akhirnya dia berjalan mendekat. "Apa kau ingin sesuatu yang seperti itu? Aku bisa saja mengajarimu dan membuatmu bisa menciptakan senjata sesuai imajinasi mu." Walau tujuan gue hanyalah memesan dan meminta seorang Darft proposional untuk membuatkan senjata yang gue Ingin kan. Tapi sepertinya bisa menciptakan senjata sendiri lebih menyenangkan. Dan untuk bahan, tenang saja gue memiliki material yang sangat kuat dan tentu saja langka. "Apakah aku bisa mempelajarinya?" Dia mengangguk kecil. "Tentu saja." Dia tersenyum dengan mata tersirat di sana. Entah apa yang dia lihat dari dalam diri gue, tapi tatapan itu seolah tersirat beribu kerinduan yang sangat dalam di sana. "Baiklah, jika hal itu tidak masalah untuk kakek." Dia mengangguk lagi sebelum akhirnya dia berbalik dan berkata. "Ikuti aku." Gue hanya berusaha mengikuti langkahnya, membawa gue ke sebuah rumah tua yang hampir ambruk di sana, gue mengerut kening tak mengerti, di saat semua bangunan sudah berdiri kokoh di luar sana, kenapa bangunan kakek tua ini malah terlihat repot di tempat ini. "Maaf jika rumahku tidak sesuai ekspektasimu." "Tidak, tidak masalah buatku kek." Walau agak sedikit kasihan, tapi bagaimanapun juga gue harus tetap menghargai apa yang kakek ini berikan. Walau begitu. Dia juga sudah berbaik hati untuk mengajari gue membuat sebuah senjata, dan hal itu sudah lebih berharga dari apapun di sini. Tidak banyak orang yang rela memberikan ilmu berharga mereka kepada orang-orang baru, tapi sang kakek memberikannya begitu saja. Entah apa yang ada dalam pikiran si kakek,tapi selama si kakek tidak masalah dengan hal itu, aku pun akan berusaha untuk bisa membuat senjata seperti yang aku inginkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD