LaD -
Silvana
"Aku akan pergi!"
Aku melihat Dino yang sudah sangat serius dengan pilihannya, pergi untuk menemukan naga biru dan mendapatkan Kristal es biru yang sangat sulit untuk didapatkan, mungkin karena dia begitu peduli dengan Durafa hingga rela mengorbankan dirinya sendiri.
"Apa kau gila!" Jhon memekik ketika mengetahui niat dari Dino yang menurutku juga gila. Namun pesan dari tuan Erix tidak bisa aku bantah sekalipun, aku harus mengikuti perkataan yang membawa tuan Dino pergi ke sarang naga biru.
Karena aku mengetahui titik lokasi naga biru dan bisa membawa tuan Dino dengan skill teleportasi yang aku miliki.
"Kau hanya akan membunuh dirimu sendiri jika kau masuk ke sarang Monster itu. Tidak ada yang bisa menghadapinya sekalipun itu kau si elf terkuat yang ada di kerajaan Roman!"
"Aku tidak peduli. Aku akan tetap pergi walau aku akan mati sekalipun!"
"Kau!"
Aku melihat Dino berbalik dan menatap Jhon dengan sengit di sana. "Aku tidak peduli! Apa kau akan diam saja melihat sahabat dan orang yang begitu penting di kehidupan kita sebelumnya mati dengan keadaan seperti ini?" Aku bisa melihat aura yang keluar dari dalam diri tuan Dino meledak di sana. Dan sekarang aku mengerti, jika bahwasanya, tuan Dino sama halnya dengan ruan Erix yang begitu peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Dan hal itulah yang membuat keduanya terlihat begitu mirip.
"Aku akan pergi, terserah kau akan ikut atau hanya akan merenung dan mengamuk tak berguna di tempat ini, semakin kita cepat pergi. Maka kemungkinan Durafa sembuh juga akan semakin cepat!"
Jhon berdiri dengan kaki bergetar di sana, lu tangannya terlihat mengepal kuat dengan mata yang terpejam.
Dia terlihat ragu dan ingin ikut pergi, tapi sepertinya dia tidak yakin karena sebelum ini dia sudah pernah menghadapi monster itu seorang diri dan menyebabkan rekannya mengalami luka.
"Apa kau bisa membantuku pergi ke tempat itu?" Tuan Dino menoleh kearah ku. Dia menatap dengan penuh memohon di sana.
"Tentu saja tuan, hanya saja aku tidak yakin jika naga biru masa tinggal di sana. Karena terakhir kali aku kesana adalah puluhan tahun yang lalu."
"Aku tidak peduli, lebih baik mencoba dan mengetahui secara langsung dari pada hanya duduk di tempat ini dan tidak mendapatkan hasil."
Tuan Dino melirik kearah Jhon yang masih menunduk di sana.
"Baiklah, aku akan mengantar tuan ke tempat itu. Sesuai seperti perintah tuan Erix sebelumnya."
Dia mengangguk lalu mengikuti ku yang bersiap untuk membuka sebuah portal teleportasi yang sudah terhubung ke sebuah tempat yang pernah aku datangi sebelumnya.
"Tunggu!"
Aku berhenti. Begitupun Aldos dan juga tuan Dino saat Jhon memanggil kami.
"Aku akan ikut bersama kalian."
"Terserah kau saja?" Tuan Dino mengabaikannya lalu memilih masuk ke dalam sana dengan langkah pasti. Dia berusaha untuk tidak memperdulikan Jhon yang terlihat ragu-ragu di sana.
"Apa tidak masalah?" Aldos berjalan mendekat dan bertanya sesuatu yang sudah ku tahu arti dari pertanyaannya, dia mengira apakah aku mampu untuk menahan beban selama itu dan mempertahankan portal untuk memindahkan empat orang sekaligus, karena hal itu akan menguras banyak tenaga dan membuat energi sihirnya dalam diriku terkuras habis.
Aku tersenyum kecil sebelum akhirnya aku mengangguk pelan. "Bukan masalah, jika hanya memindahkan kalian berempat bukan masalah bagiku."
Dia mengangguk lagi sebelum akhirnya memilih melangkah masuk ke dalam portal menyusul tuan Dino yang sudah ada di dalam.
Tak lama setelahnya Jhon datang mendekat dan menyusul masuk kedalam portal, hal itu tentu saja membuat ku sedikit tersentak karena ketika dirinya masuk, ada energi yang begitu kuat menghantamkan. Dan beban yang aku rasakan setelahnya melebihi apa yang aku bayangkan sebelumnya.
Jhon bukanlah orang sembarangan, aku tahu dia kuat dan memiliki energi sihir yang sangatlah kuat, tapi entah kenapa dia malah ragu untuk menghadapi naga biru dan mendapatkan Kristal es biru yang bisa mengobati luka milik Durafa. Sahabat mereka sejak lama.
"Sepertinya ini akan merepotkan, tuan...," Aku bergumam sebentar sebelum akhirnya aku menyusul masuk. Dan seketika itu juga energi dingin begitu aku rasakan, dan bukan hanya itu saja, pola dan energi yang bocor secara acak hingga membuat kami merasa begitu tertekan ketika ada satuan yang tiba-tiba menghajar kami.
Ini bukanlah tempat bermain. Apalagi untuk menjajal kemampuan. Karena di tempat ini, nyawa jelas dipertaruhkan.
Begitu aku masuk, aku melihat Jhon yang berdiri dengan tatapan berkedut di sana, tidak hanya itu saja kakinya juga bergetar hebat. Dia terlihat begitu ketakutan ketika kami sudah berada di sebuah gua yang akan membawa kami ke sarang naga biru.
"Jika kau takut, tunggulah di tempat ini."
Aku setuju dengan ucapan tuan Dino, karena jika dia masih belum bisa mengatasi ketakutannya, maka dia hanya akan menjadi beban untuk kami.
"Jangan remehkan aku sialan!" Jhon mendesis tajam dengan sorot mata yang begitu nyalang. "Aku tidak akan membiarkan kalian pergi begitu saja. Aku harus ikut dengan kalian."
Dino tak langsung menjawab, dia hanya terdiam lu membuang muka dan melangkah masuk meninggalkan Jhon di sana.
Aldos berjalan mendekati Jhon. Lalu menepuk pundak pria itu pelan. "Jika kau masih ragu. Lebih baik kau di belakang saja."
Lalu setelah ya Aldos berjalan menyusul tuan Dino meninggalkan aku dan Jhon yamg masih berada di belakang.
"Apa kau masih takut dengan kejadian ketika kau pergi bersama sahabatmu?"
Dia menghela napas pelan sebelum akhirnya menghembuskan secara kasar. "Kau tidak akan tahu apa yang akan kalian hadapi kali ini. Naga biru bukanlah monster yang bisa dikalahkan begitu saja, apalagi dengan kekuatan Dino saat ini."
Aku melirik untuk melihatnya dari ekor mataku. "Apa kau tahu bagaimana kekuatanku tuan Dino saat ini. Dan lagi apa kau meragukan kekuatan kami berdua yang ditinggalkan oleh tuan Lubis?"
Dia benar-benar meremehkan kami dengan penampilan yang kami miliki, padahal aku dan Aldos saja sudah cukup untuk mengalahkan naga biru, dengan fase kedua dan fase sempurna yang sudah aku kuasai kini, mungkin aku tidak akan membutuhkan Aldos untuk membantuku. Aku sendiri saja sudah cukup untuk mengalahkan naga biru itu.
Aquire sudah berada di tahap yang hampir sempurna. Dan aku bisa mengendalikan kemampuan ku dengan sesuka hati. Namun di sisi lain, aku juga masih penasaran, apakah Aldos juga sudah bisa menguasai kemampuannya, atau bahkan sudah melampaui ku saat ini.
Mengabaikan itu aku memilih masuk lebih dalam ke dalam gua di mana suhu semakin turun dan suasana terasa begitu tajam dan panas di tempat ini, aku pernah datang ketempat ini untuk mencari sesuatu yang bisa sangat berguna untuk kami, belum lagi banyak monster yang berspekulasi jika di dalam dasar gua ini mungkin ada artefak khusus yang dapat menghidupkan kembali makhluk legenda yang mati, tapi tidak ada yang bisa membuktikannya. Pun dengan diriku yang tidak mendapatkan apa-apa setelah aku dan Aldos pergi ke tempat ini beberapa tahun yang lalu.
Membersihkan gua berarti menjelajahi seluruh areanya untuk menemukan sarang naga biru. Ini berbeda dari menaklukkan gua saja, karena saat ini, kami harus menaklukkan naga biru di dalamnya untuk mendapatkan Kristal es biru.
"Kita mendekati sarang naga biru, tetap waspada. Bisa saja sewaktu dia datang dan menyerang kita secara brutal. Tidak hanya itu saja, tapi akan ada monster lain yang akan datang untuk menyerang kita, walau tidak kuat, tapi akan ada banyak dari mereka. Jangan buang waktu kalian dengan mencoba untuk membuang energi sihir kalian …karena jika hal kru terjadi. Kalian akan benar-benar mati ketika menghadapi naga biru." Aldos mengumumkan.
Sementara tujuan kami ke tempat ini adalah untuk mencari kristal es biru bukan untuk bersenang-senang ataupun menghabiskan banyak waktu untuk berburu. Ada nyawa yang masih menunggu kami untuk diselamatkan, dan itu tidaklah mudah.
namun sepertinya Aldos memiliki satu tugas lagi dari tuan Erix, di mana saat percakapan tadi, beliau meminta Aldos untuk mengumpulkan material lain dan Sebagian besar barang lain dari tempat ini, biasanya, berasal dari mengumpulkan inti sihir dari monster yang tiba-tiba menyerang. Memang kemungkinan ini sangat tipis terjadi, karena kebanyakan monster akan lari saat merasakan energi sihir yang begitu kuat berada di sekitar merek.
Kecuali monster yang memang sudah kelaparan dan tidak takut akan kematian. Mereka akan rela menyerang tanpa peduli apa yang akan terjadi setelahnya.
"GRRRRRRRRR"
Aku menyipitkan mata dan berfokus. Kami baru saja mencapai ujung gua yang turun bawah dengan diameter sekitar 50 meter. Melihat sekeliling, seluruh gua bersinar dalam warna biru redup. Di atas kami, gua dipenuhi oleh stalaktit atau kristal ungu yang seakan mengancam dengan ujung-ujung tajamnya yang berkilauan. Ada sekitar 20 beast liar yang tampak seperti kelelawar besar, ya yang ini tanpa sayap, dan digantikan dengan empat anggota tubuh. Tubuh berongga dari Beast liar yang seperti kelelawar menunjukkan dengan tulang rusuknya yang didalamnya, di mana inti sihir beast seharusnya ada sudah digantikan oleh batu yang rusak.
Aku sedikit bingung karenanya. Karena inti sihir adalah komponen penting untuk para beast liar agar bisa bertahan hidup, tapi apa yang ku lihat saat ini benar-benar aneh.
"Semuanya tetap berhati-hati! Mereka tidak kuat tetapi mereka menyerang dalam kelompok. Minimalkan penggunaan energi sihir dan stamina, kita akan menjadi kunci di dalam area ini! Bersiaplah!" Aldos yang bertugas mengambil kordinasi meraung sebagai respon terhadap serangan, mereka semua sudah siap untuk menerkam, dengan tambalan bulu mereka berdiri dan mulut yang terbuka.
"Mati. Mati. Mati!" Aku mendengar teriakan dari belakangku dan aku menyadari bahwa Jhon yang berteriak keras dan berlari menerjang beast liar di sana.
Dan seketika itu juga, kecepatan yang dimiliki oleh Jhon membuat dirinya sudah berada di tengah-tengah beast liar dengan pedang besar yang baru saja dia tarik dari sarungnya. Dia memutar tubuh dan menyerang ke berbagai arah.
"Dia mulai lagi ...," Keluh tuan Dino yang melihat rekannya sudah bertarung terlebih dahulu.
"Jangan tinggalkan aku sialan!" Dan setelahnya dia berlari cepat. Menuju Jhon dan memberi sebuah tendangan pada kelelawar besar yang siap menyerang dari arah berlawanan.
*Skreak*
*Kreeek*
*Bugh!*
*Duaaar!*
Ledakan dan bunyi pukulan yang menggema menjadi irama musik yang menenangkan di telinga, entah apa yang ada dipikiran mereka. Padahal kita belum bertemu dengan naga biru, tapi mereka sudah mengeluarkan hampir seluruh kemampuannya. Atau mungkin itu hanya sebagian kekuatan yang mereka miliki?
Aku bisa mendengar Aldos mendecakkan lidahnya, mungkin kesal karena dua orang di sana mengabaikan ucapannya agar lebih menghemat kekuatan mereka.
Mereka berdua terlihat bersenang-senang di sana, dengan kemampuan dan serangan yang terlihat sangat akurat. Aku melirik Aldos sebentar ketika menyadari dirinya tengah kesal di sana.
"Jangan terlalu dipikirkan, ingat saja apa yang tuan Erix perintahkan. Dan dengan bukankah sebuah keuntungan bagi kita?"
"Terserah kau saja." Dia mendengkus kasar. "Jika terjadi sesuatu pada mereka. Kau harus bertanggung jawab untuk ini."
"Serahkan saja padaku."
Karen di sisi lain, aku juga ingin melihat dan mempelajari secara langsung apa yang mereka gunakan untuk membuat sebuah serangan yang sangat besar di sana, teknik dan juga kemampuan itu harus aku pelajari dengan seksama.
"Sepertinya kita membunuh mereka dengan cukup cepat." Tuan Dino berdiri di antara beast liar yang tergeletak di sana, dia tersenyum bangga, tapi tidak dengan Jhon.
"Ini masih belum semuanya, kau akan bertemu dengan monster yang lebih berbahaya lagi sebelum bertemu dengan naga biru."
"Uhh ... Aku sangat menantikannya."
Sambil menggelengkan kepalanya, Aldos hanya bisa berjalan dan terus memimpin kami ke depan. "Lebih baik kita segera bergerak.
Dia membawa kami ke ujung lain gua. Sebelum pergi ke ruang sebelah, aku mendengar suara-suara berderak di belakangku dan yang mengejutkanku, adalah, beast liar yang baru saja mati karena serangan tuan Dino dan Will mulai bergerak dengan gerakan aneh. Aku tidak mengerti tapi dari apa yang aku rasakan aku bisa melihat di mana aura gelap menyelimuti tubuh monster di sana.
"Apa yang terjadi?" Aku bertanya, dan Aldos hanya mendengkus sebelum menjawab.
"Biarkan mereka. Itulah yang aku katakan untuk menghemat energi sihir dan stamina, karena kalaupun mereka terbunuh, mereka tidak akan mati dengan mudah."
"Kau ingat, seharunya mereka memiliki kristal inti sihir seperti kebanyakan beast liar lainnya, tapi mereka tidak memiliki hal itu."
Dia benar, aku menyadari ketika melihat tubuh beast liar tadi dan itulah kenapa mereka tidak memiliki kristal inti sihir seperti kebanyakan beast lainnya.
Setelahnya kami hanya mengabaikan mereka dan pergi ke ruangan lain. Karena perjalanan yang kami tempuh masihlah sangat panjang dan melelahkan. Bahkan sampai detik ini kami belum menemukan apa yang diminta oleh tuan Erix. Tugas yang sangat merepotkan memang, tapi itulah yang harus kamu kerjakan.