LaD -

1717 Words
LaD - perjalanan Perjalanan kami terus berlanjut, tidak ada hal kecil yang bisa menghalangi langkah kami. Walau itu dari serangan monster sekalipun, beast liar dan juga hewan-hewan yang menyerang akan kami habisi dalam sekejap. melewati pintu setelah lorong, kami dibawa ke koridor gelap lain yang luasnya hanya berukuran empat orang ketika di jejer bersama. Cukup sempit dan sedikit gelap. Bisa kukatakan kami sedikit lebih santai saat meninggalkan gua pertama, karena perjalan berikutnya tidak terlalu menantang, atau mungkin memang masih sedikit monster yang menyerang secara bersamaan, bahkan ketika kami melangkah Semakin dalam, monster di sana mulai terlihat jarang dan langka. tetapi aku tidak bisa menghilangkan perasaan gelisahku. Entah apa yang membuat ku merasa jika akan ada bahaya yang sebentar lagi datang. Tempat ini jelas memiliki aura yang benar-benar mencekam untuk sebuah gua yang terlihat sepi, jelas ada rahasia di balik ini semua namun entah apa itu. Aku mengedarkan pandangan, berharap menemukan sebuah jawaban dari semua gelisah yang aku rasakan. Hingga saat aku hampir lengah sebuah pergerakan datang dengan cepat. “Fwishshshsh!” “Clang Clang Clang!” Secepat itu juga aku berusaha untuk menghindari serangan yang datang kearah Aldos. Sebuah pedang panjang bersinar berhasil aku halau saat aku secara naluriah aku merasakan serangan itu secara tiba-tiba dan berhasil menangkis serangan yang diarahkan ke arah wajah Aldos. "terima kasih …" bahkan di bawah cahaya biru redup, aku bisa mengatakan bahwa wajah Aldos sedikit terkejut saat tanpa sadar ada sebuah serangan yang datang kearahnya. Dia mengerang kuat sebelum akhirnya memberi satu pukulan pada goblin berukuran cukup besar di sana hingga terpental beberapa langkah kebelakang. "Sebaiknya kau lebih berhati-hati, kita sudah hampir masuk ke inti gua." Lalu kami bersiap menyerang goblin yang berdiri dengan membawa pedang panjang di sana. "Apa yang kau lihat, apakah goblin bisa memakai pedang panjang seperti itu?" Dino bertanya. Dan itupun yang terbesit dalam benakku ketika melihat goblin di tempat ini menggunakan senjata buatan para Darft, di mana hal itu sangat tidak mungkin untuk mereka menciptakan senjata seperti itu. Kecuali jika mereka mendapatkan sebuah jarahan sebelum ini. Dan saat itu juga aku menoleh kearah Jhon. "Sepertinya kau bisa menjelaskan hal ini?" Aku bertanya dengan suara sedikit rendah di sana. Jhon terlihat menunduk sebelum akhirnya dia mengangkat wajahnya dan menatap kami satu persatu. "Itu adalah senjata dari orang-orang yang ikut dalam p*********n sebelum akhirnya Durafa terluka, dan pedang itu adalah salah satu pedang sihir buatan Durafa dengan kualitas yang cukup baik." "Dan artinya kita akan sedikit kesulitan saat menghadapi goblin ini. Karena secara tidak langsung mereka memiliki sihir untuk menyerang kita karena pedang itu sendiri?" Seperti yang sudah aku katakan. Senjata para Darft adalah senjata terbaik yang ada di dunia ini, dari pengetahuan yang aku dapat dari ingatan tuan Erix, aku bisa mengetahui apa-apa saja kelebihan dari setiap ras di dunia ini. "Kau benar." "CK, kenapa kau begitu bodoh hingga memberikan senjata seperti itu pada goblin sialan ini!" Dino menarik pedangnya, lalu menatap goblin itu sebentar. "Sampai kapanpun aku tidak akan rela jika senjata buatan Durafa jatuh ke tangan orang bodoh seperti dia. Monster yang seharusnya berada di bawa, tidak pernah pantas mendapatkan senjata bagus seperti itu." "Apa yang akan kau lakukan?" Aku bertanya kala dini mengerang marah di sana, sepertinya dia akan berbuat ceroboh lagi di tempat ini. "Aku akan mengambil kembali pedang itu. Karena monster busuk sepertinya tidaklah pantas mendapatkan senjata seperti itu." Dan sebelum aku mencegahnya, Dino sudah melesat dengan kekuatan yang dimilikinya, kecepatannya sangat luar biasa. Dan dia pantas menyandang seorang eksekutif karena hawa kemarahan yang dia miliki sangat cocok melekat dengan dirinya. Pergerakan itu sangat efisien dan diimbangi dengan ayunan serta teknik yang baik dari seorang Dino. Namun apa yang aku lihat sebelumnya membuatku sedikit tercengang, goblin dengan pedang panjang itu itu berhasil menghindari setiap serangan dan kecepatan yang hampir sepadan dengan Dino. Hal itu tentu saja membuat kami yang melihatnya hanya bisa berdiam diri tanpa bisa berkata-kata. Belum lagi lokasi kami saat ini, sangat tidak memungkinkan untuk menggunakan kecepatan tinggi, karena selain tempat yang sempit, dinding gua di sekitar kami juga akan runtuh jika mendapat getaran demi getaran yang terus menerus. Hal ini tentu menyulut kekesalan dalam diri Dino. Hingga akhirnya dia melompat mundur untuk menjaga jarak dari goblin di sana. "Apa kau kesulitan?" Aku bertanya ketika Dino sedikit terdiam, mungkin dia tengah berpikir apa yang sebaiknya dia lakukan untuk memberikan serangan yang lebih berguna. "Jangan pedulikan aku, aku akan menghabisinya secepat yang aku bisa dan merebut kembali apa yang menjadi miliki Durafa." "Kau terlalu egois." Aldos mendengkus kecil di sana sembari melirik kearah Dino. "Sepertinya kau lupa hukum alam di tempat ini, di mana orang yang kalah akan sangat wajar kehilangan item dan senjata yang mereka miliki. Karena di mana yang kuat akan selalu berkuasa." "Hal itu hanya berlalu untuk orang-orang yang memiliki pemikiran, tapi untuk monster sepertinya. Bagiku hal itu tidaklah berlaku." "Tetap saja kau terlihat egois." "Aku tidak peduli." Setelahnya, Dino kembali melesat, mengabaikan perdebatan dengan Aldos yang saat ini hanya diam melihat tingkah Dino di sana. "Dia terlihat mirip dengan mu, selalu egois dan memikirkan diri sendiri." Aku tersenyum, apalagi saya melihat wajah Aldos yang ditekuk di sana. "Jangan samakan aku dengan dia." "Hoo. Lalu apa sebutan untukmu yang memiliki sikap seperti itu?" Aku tersenyum miring. Aku adalah salah satu yang selalu dekat dengan Aldos. Maka aku sedikit tahu apa yang dia lakukan dan kebiasaan seperti apa yang sering dia lakukan. Dia adalah tipikal orang yang selalu egois dengan tindakan yang dia miliki. Dan terkadang hal itu yang membuatku sedikit jengah. "Abaikan." "Ya ya ya, terserah kau saja." Dia kembali menatap kearah pertarungan di mana Dino mulai serius dengan pergerakan dan teknik yang dia miliki. Serangan demi serangan di lancarkan dengan mudah dan kali ini lebih tertata. "Sebentar lagi pertarungan akan selesai." Jhon bergumam pelan saat melihat pertarungan yang sudah condong ke arah Dino yang mendesak ke arah goblin. Sosok itu memang kuat, tapi tidak bisa mengambil langkah untuk bertahan karena pedang yang dia gunakan pastilah menguras energi sihir yang sangat banyak. Karena pedang sihir adalah senjata yang sangat sulit di kendalikan. Lalu. Satu tarian pedang dengan gerakan dan teknik yang luar biasa diarahkan pada goblin itu hingga membuat monster bodoh itu terpojok dan tersudut. Dan setelahnya. *Krass!* *Krekk!* Beberapa tebasan dari Dino membuat goblin di sana tercabik dan tergeletak tak berdaya. Dino mengambil napasnya yang terengah dengan tatapan yang menyoroti Goblin di sana. Tak ada sedikitpun rasa kasihan yang dia berikan pada monster busuk itu hingga akhirnya dia menunduk lalu mengambil pedang sihir buatan Durafa dan menyimpannya. "Sepertinya kita bisa melanjutkan perjalanan." Aku mengangguk pelan ketika Aldos memimpin jalan dan membawa kami menyusuri lorong panjang dengan aura yang semakin mencekam. Hingga tiba-tiba tak jauh dari tempat pertarungan Dino tadi, Aldos menghentikan langkahnya dan mencegah kami untuk terus melangkah. "Ada apa?" Jhon bertanya dengan gurat penasaran. "Ada yang salah …seharusnya tidak ada perangkap saat terakhir kali aku kesini." Aldos mengedarkan pandangannya dengan tatapan curiga, setelahnya dia mengambil salah satu batu runcing untuk mempelajarinya tetapi dia malah bingung setelahnya. Kehadiran jebakan berarti bahwa ada beast tingkat tinggi yang mampu menyihir mantra dengan persyaratan aktivasi, atau malah sebaliknya. Ada seseorang lain yang sudah terlebih dahulu masuk ketempat ini. "Tetap waspada dengan langkah kalian." Aku berkata sembari mengambil dan memegang belati kembar milik ku, sebenarnya aku tidak terlalu membutuhkan belati seperti ini, tapi untuk menghindari jebakan aku harus menggunakan senjata dengan dimensi kecil agar bisa menjaga organ vital ku, tetapi Dino dan Jhon baru menyiapkan senjata mereka ketika Aldos beringsut dan merasakan ada yang aneh di tempat ini. Jebakan dan sihir yang di pasang terasa begitu nyata dan aneh, aku bahkan bisa merasakan dengan samar seolah ada yang lain yang terpasang di tempat ini, tapi bayangan dan perasaan itu samar-samar mulai menghilang. Untungnya, kami mencapai ujung lorong tanpa ada jebakan berbahaya dan berarti. Gua berikutnya yang kami datangi mirip dengan gua sebelumnya, tetapi dua kali ukurannya dan ada lubang mencurigakan yang tersebar di atas tanah. Seolah tergambar jika di dalam sana ada ada jebakan yang siap menangkap kami kapanpun itu. "Jangan dekati lubang. Mereka geyser yang menembakkan aliran gas yang sangat panas. Seharusnya tidak apa-apa asalkan kau tidak berada di dekat ledakan itu," Aldos mengumumkan, dan ia terus mencari tanda-tanda kehadiran Beast liar yang sedari tadi kami rasakan. *RUMBLE* Seolah-olah diberi petunjuk, gua bergetar dan dari tanah muncul sesuatu yang anehnya menyerupai cacing, kecuali itu berwarna merah menyala dan tebalnya sekitar beberapa meter dan panjang yang tak terduga,tak terhitung banyaknya gigi yang melingkar di lubang mulutnya. "Apa itu ada di sini terakhir kali, Al?” aku memandangi Aldos yang terkesiap di sana. “T-tidak … aku tidak mengerti apa yang terjadi. Tidak masuk akal bagi spesies Beast yang baru untuk memasuki gua naga biru, karena seharunya dengan aura yang dia miliki akan mengusik ketenangan naga biru!" Aku juga berpikir demikian, Karen tidak seharunya naga biru akan membiarkan beast lain ada di dalam sarangnya, kecuali jika dia sendiri yang memerintah ataupun mengendalikan beast ini. "Cheh. Itu bukan masalah besar selama aku di sini." Sepertinya Dino terlalu percaya diri dengan keadaan yang mendesak ini. Padahal jika dipikir beast yang ada di hadapan kami ini bukanlah monster yang bisa di taklukkan dengan mudah. Namun, cacing merah raksasa tidak menyerang kita tetapi itu menggali, dan menciptakan lubang lain di sekitar kami, sesuatu yang membuat kami harus bergerak dan merapatkan diri untuk menghindari lubang yang tercipta di sana. "Sepertinya itu tidak mengejar kita." Gumam Jhon sementara matanya dengan tajam mengamati cacing raksasa yang masih terus membuat lubang tanpa henti. Cacing merah itu sekarang membenamkan dirinya ke dinding gua, menciptakan lebih banyak lubang dari semua sudut yang berbeda, dan tidak pernah berhadapan dengan kita. “Apa kita hanya akan berdiri di sekitar dan menonton cacing menggali atau kita akan pergi?” Jhon sepertinya sedikit ragu untuk melakukan serangan yang akan dia lancarkan. "Tidak, lebih baik kita menghindari monster seperti itu. Karena tujuan kita adalah kristal es biru. Semakin sering kita menghindari serangan maka akan semakin banyak tenaga yang bisa kita simpan di tempat ini." Aku mengumumkan apa yang seharunya kita lakukan. "Silvana benar, lebih baik kita melanjutkan perjalanan dan melihat apakah ada jebakan lain sebelum kita berhadapan dengan naga biru. Lebih baik perhatikan langkah kalian." Setelahnya kami beranjak dan memilih langkah tiap langkah yang sesuai dan tidak memicu sebuah jebakan yang tercipta di sana. Karena kami tidak tahu apa yang akan terjadi pada kami setelahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD