LaD - cacing tanah

1899 Words
LaD - cacing tanah "Jhon menyingkir dari sana!" Aldos berteriak tiba-tiba dan membuat kami terkejut bersamaan. Di sana cacing yang seolah menghindari dan tak menganggap kami tiba-tiba datang menyergap melalui lubang yang ada di bawah kami. Dan ketika itu Jhon tengah lengah karena dia masih berusaha untuk mencari keberadaan cacing tanah itu. *Boom!* Cacing tanah itu menyerang secara tiba-tiba hingga membuat Jhon terpental karena ledakan kuat tak bisa terhindarkan lagi. "Jhon!" Dino berteriak lalu melompat dan mengambil alih Jhon yang terpental dan hampir saja menjadi makanan cacing tanah itu. Dia mengambil kaki Jhon lalu melemparkannya, dan setelah itu dia menggunakan pedangnya untuk menyangkal mulut cacing tanah sialan. Dino berdiri di atas pedangnya lalu menggunakan sebagai pijakan untuk melompat pergi. "Kau baik-baik saja?" Aku bertanya, melihat Jhon yang terkejut karena baru saja dia hampir kehilangan nyawanya dan menjadi makanan cacing busuk itu. "Aku tak apa." Dia mendongak melihat cacing tanah yang memberontak dan berusaha melepaskan pedang milik Dino. "Kau selalu saja ceroboh, Jhon!" Dino yang baru saja mendarat langsung mendengkus dan menatap Jhon yang tak bisa berkata-kata. "Sudah berapa kali ku bilang, fokuslah pada apa yang ada di hadapanmu!" "Sudahlah, bertengkar tidak akan menyelesaikan masalah." Aldos mencoba menengahi. Dia masih memperhatikan apa yang ada di hadapannya, mencari kemungkinan dan memperhatikan apa yang akan terjadi selanjutnya. "Sepertinya kita harus mengerahkan sedikit kekuatan untuk mengalahkan cacing busuk ini. Karena kali ini kita sudah terjebak di antara jebakan yang sudah dia siapkan." Aku baru menyadari apa yang ada di sekitar kami. Lubang-lubang itu bukanlah lubang greser melainkan lubang yang dibuat oleh cacing sialan untuk menjebak kami semua. Dan sepertinya tidak ada jalan lain selain mengalahkan monster busuk di sana. "Sil ...." Aku menoleh saat Aldos memanggil ku. "Apa kau bisa mengatasi cacing itu?" "Jika ada yang mengalihkan perhatiannya bukan masalah untukku." "Kami akan menjadi umpan, dan kau fokuslah pada penyerangan." "Akan aku usahakan." Aku akan menggunakan aquire, dan mungkin kali ini adalah momen yang tepat untuk menunjukkan bagaimana kekuatan yang aku miliki sekarang, selain membantu Dino untuk mendapatkan Kristal es biru, aku juga memiliki misi untuk memperkuat diriku sendiri. "Jangan gunakan aquire di tempat ini, karena ledakan kekuatan yang dihasilkan bisa mengubur kita hidup-hidup di tempat ini, usahakan gunakan kekuatan tanpa ada efek ledakan yang kuat." Aku mengerut kening lalu menoleh cepat kearah Dino yang masih berdiri di sana. Dia serius? Menghadapi monster itu tanpa aquire sama saja bunuh diri. Dan itu tidaklah mudah. "Aku yakin kau mampu, Sil." "Mudah saja kau berkata seperti itu!" "Oh ayolah, kau ingin mengubur kita hidup-hidup?" "CK!" Aku sedikit jengah ketika melihat Aldos yang terlihat santai di sana, padahal aku berada di posisi yang tidak menguntungkan. Dan apa yang seharusnya aku lakukan untuk membereskan masalah di tempat ini? Apakah aku harus menggunakan senjata atau hanya menggunakan tangan kosong? Tidak, jika aku menggunakan tangan kosong sama saja aku bunuh diri. Aku harus memikirkan cara lain. Hingga akhirnya aku melihat pedang yang masih tertancap di mulut cacing itu. Sepertinya aku memiliki ide lain. "Al, aku harap kau bisa mengalihkan perhatiannya, atau kau akan benar-benar ku hancurkan!" Setelahnya tanpa menunggu jawaban Aldos, aku menggunakan kemampuan teleportasi dan berpindah tepat di hadapan mulut cacing itu. Aku mengangkat kaki tinggi-tinggi, lalu memberikan tendangan yang berhasil membuat pedang milik Dino tertancap di sana. *Kyeaaaa!* Lengkingan suara cacing itu membuat getaran yang kuat sebelum akhirnya dia kembali melesat dan turun kebawah lubang-lubang. Aku berpindah ke bawah, memperhatikan setiap getaran dan mencoba memprediksi di mana cacing itu akan muncul lagi. "Jhon apa yang kau lakukan!" Teriak Dino saat melihat Jhon yang berusaha berjalan tanpa sadar jingga sebuah getaran terasa kuat di dekat lubang Jhon. Aku melihat itu dan langsung berpindah menggunakan teleportasi, lalu mengambil Jhon dan memindahkannya kembali pada Dino dan juga Aldos. "Tetap fokus dsn jaga kesadaran kalian." Aku memperingati, lalu setelahnya aku mengedarkan pandangan untuk memperhatikan apa yang sebenarnya terjadi. "Sepertinya cacing itu menyebarkan serbuk kesadaran dan membuat kalian kehilangan kesadaran." "Sial! Ini akan semakin sulit. Padahal kita belum bertemu dengan naga biru tapi harus bertemu dengan cacing busuk ini." Pekik Jhon yang mulai sadar di sana. "Ini sangat berbeda ketika aku pergi dengan Durafa. Aku mengabaikan pekikan Jhon. Dan melirik kearah Aldos yang mengangguk pelan seolah mengerti dengan apa yang aku pikirkan. "Kau bisa melakukannya?" "Apa?" Aku terdiam. Lalu mengendus lembut aroma di sekitar kami. "Aku mencium jika serbuk ini sejenis dengan serbuk racun dari pohon mepel, di mana serbuk ini adalah bahan bakar untuk membuat api." "Lalu?" "Aku akan membuat sebuah ledakan. Dan aku harap kau bisa membuat barel perlindungan untuk dua orang ini." "Sudah aku katakan, jangan gunakan skill yang bisa menyebabkan ledakan. Apa kau tidak mendengarkan ku?" "Kau tidak lihat?" Aku menunjuk pada setiap lubang yang ada di atas tanah. "Setiap lubang ini membawa udara walau hanya sedikit, dan secara tidak langsung, jika aku menggunakan api dan membakar tempat ini, maka tidak akan terjadi sebuah ledakan, melainkan api itu akan membakar setiap lubang yang ada di dalamnya. Dan kau tahu? Cacing tidak akan tahan menahan api!" Aku bisa merasakannya, walau hanya sedikit tapi aku bisa tahu jika di dalam setiap lubang memiliki udara yang mana ujung dari lubang yang dibuat cacing itu adalah ruangan luar, dan aku bisa mempersempit keadaan tanpa membuat sebuah ledakan di dalamnya. "Aku tidak akan memaafkan mu jika kau membuat kami terkubur di tempat ini." "Sebelum terkubur. Aku yakin aku bisa memindahkan kalian sebelum hal itu terjadi." "CK, terserah kau saja!" "Serial defense!" Dan setelahnya, sebuah pelindung tercipta di antara mereka, memisahkan aku yang masih berdiri di luar pelindung, karena inilah yang aku inginkan. Aku berbalik lalu merasakan sebuah getaran dari setiap lubang, bukan hanya kru saja aku juga bisa mendengar suara mendesis ringan. Mungkin itu adalah cacing yang terluka karena pedang yang tertancap di mulutnya. Dasar cacing bodoh, dia pikir dia mampu menghadapi kami? “FWWOOOOOOOOM!” Lubang-lubangnya. Lubang-lubang yang ada pada awalnya kosong, dan berada di atap, dinding dan tanah, yang dibuat oleh cacing raksasa itu, semuanya bergetar dan melepaskan semburan gas. Aku tahu hal ini akan terjadi. Penciuman ku bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh karena aku bisa merasakan hanya dengan mencium aroma ini Gas perlahan masuk melalui celah lubang yang ada. Perlahan demi perlahan. "GGRRREERRRR!" aku tersenyum kecil ketika merasakan hal ini, sebentar lagi, sebentar lagi aku akan menyelesaikan semuanya. Tidak ada maaf ataupun ampun untuk Monster yang ingin bersenang-senang di tempat ini. Dan tujuan cacing raksasa itu membuat lubang untuk membunuh kita. Aku menoleh dan memperhatikan intensitas Perisai yang muncul tepat pada waktunya untuk melindungi mereka dari gas yang siap mengambil oksigen yang ada. Sedangkan bagiku? Wyren tidak akan sulit bernapas di dalam gas beracun seperti ini, karena kami memang sudah terbiasa dengan kehidupan yang seperti ini. "Aku akan memulainya." Seketika itu aku mengangkat tangan kananku ke udara, lalu mengambil langkah untuk mengumpulkan energi sihir agar terfokus pada satu titik dan menciptakan sebuah cahaya merah menyala. Seperti yang aku buat sebelumnya, jika sebelumya aku membuat panah cahaya untuk membunuh Yeti, maka kali ini aku membuat kibaran api kecil yang perlahan mulai membesar. Gas di ruangan itu mulai tersulut, sebelum akhirnya ya merembet dengan cepat dan api masuk ke setiap lubang yang ada. Aku tersenyum melihatnya, sebelum akhirnya aku mengubah tranformasi kulit wyren untuk melindungi diri dari panas api yang membara di sana. Letusan api berlangsung selama beberapa menit sampai akhirnya perlahan menghilang bersamaan dengan gas yang mulai bersih karena habis terbakar, namun kadar oksigen juga mulai menipis di tempat ini. "Tuan, lebih baik gunakan skill angin dan ciptakan sedikit angin agar sirkulasi oksigen di tempat ini cepat terisi." Karena jika tidak aku yakin mereka akan benar-benar kehabisan oksigen yang membuat mereka sulit untuk bernapas. Dino terlihat mendengarkan ucapanku, dan mulai membuat sihir angin agar di dalam penghalang. Mengetahui jika dino membutuhkan ruang, Aldos segera melepaskan penghalang yang melindungi mereka sedari tadi. "Wind Shire!" Lalu setelahnya aku bisa merasakan sejuk angin yang mulai mengalir dan keluar melalui setiap lubang. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada cacing yang baru saja aku bakar, tapi aku yakin sebentar lagi dia akan keluar atau bahkan sudah mati karena panah api yang bisa melelehkan besi sekalipun tadi. "Bagaimana?" Tanya Aldos melangkah mendekat. "Entahlah, aku tidak merasakan hawa keberadaannya." Aku mendengarkan pandangan dan mencoba untuk mencari keberadaannya dengan kemampuan ku. "Sepertinya dia sudah habis terpanggang." "Aku tidak yakin. Dia bukanlah beast yang mudah di kalahkan hanya dengan ledakan api seperti itu. Mungkin saja dia bersembunyi." "Kau benar." Dino mendekati kami, lalu menatap setiap lubang yang ada di sana. "Dan aku harap bisa menemukan mayatnya agar aku bisa mengambil pedangku lagi." "Jangan terlalu berharap, jika dia datang dan masih mampu melawan mu, aku tidak yakin kau akan mampu menghadapinya." Ucap Jhon. "Kau meremehkan ku?" "Tentu saja tidak, tapi kita tidak tahu bagaimana kemampuan dari monster itu, dan lagi, dia jelas memiliki kekuatan yang tak bisa kita tangani, kecepatan dan pergerakannya jelas jauh dari beast yang pernah kita hadapi sebelumnya." "Berhentilah berdebat, lebih baik kita tetap waspada." Aku merasakan jika cacing tanah itu akan tiba-tiba datang dan menyerang, karena aku masih bisa merasakan sedikit getaran, walau hanya sedikit tapi getaran ini masih begitu terasa. "Kau merasakannya?" Aku mengangguk pelan saat Aldos bertanya, dia mengambil dua pedangnya, sedangkan aku bersiap dengan dua belati kecil milik ku. "Kalian berdua siapkan senjata kalian, kita tidak tahu apa yang akan datang setelah ini." Aldos mengumumkan dan hal itu membuat Dino juga Jhon mengakhiri perdebatannya, dan mulai bersiap dan lebih waspada dari sebelumnya. *Grrrtttt* Getaran itu semakin kuat, lalu tak lama setelahnya sebuah ledakan dan cacing tanah itu kembali muncul, tapi kali ini dia muncul tepat di bawah kaki Dino hingga membuat dirinya terpental. “Sial!” Dino berteriak marah, ia menggertakkan giginya karena serangan dadakan barusan. "Kau tidak apa-apa!" Tanya Jhon berteriak. "Pikirkan saja dirimu! Aku tidak apa-apa!" Mulai lagi, mereka selalu saja berteriak dan berteriak tanpa henti. Aku hanya mendengkus kasar sebelum menoleh pada Aldos. "Aku akan melakukannya." Ucap Aldos setelahnya. "Aku akan membantumu." Dia mengangguk pelan, lalu melompat tinggi, setinggi yang dia bisa lalu mengayunkan pedang miliknya, dan mulai memberi sedikit serangan di sana. Dia menginjak kepala cacing yang meronta di sana, pergerakan yang tak terkendali hampir membuat Aldos terpental. Beruntung dia bisa menancapkan satu pedangnya yang dia gunakan sebagai pegangan. Aku berdiam, menunggu waktu yang tepat sembari mengumpulkan energi sihir di sebelah tanganku, hingga akhirnya Aldos memberikan tanda kepada ku. "Sekarang!" Dan secepat itu juga aku mengaktifkan skill teleportasi yang membuat ku berpindah tepat di depan wajah cacing itu. "Hell Arrow!" *Wufss* Satu anak panah kegelapan melesat dan menancap pada leher cacing. Aku mengangguk pada Aldos hinga membuatnya langsung menarik pedangnya dan melompat menjauh. Aku mengaktifkan skill teleportasi dan menghampiri Dino. Setelahnya mengambil tangannya dan membawa kembali kearah Aldos yang sudah bersama Jhon di sisi lain. Setelah kami tiba, Aldos langsung mengaktifkan perisai perlindungan sebelum akhirnya aku tersenyum dan. "On!" *Skreekk!* *Booom* Ledakan besar berhasil menghancurkan leher dan wajah cacing itu hingga hancur berkeping-keping. Dino yang melihat apa yang kami lakukan hanya terdiam dengan mulut terbuka, dia seperti tidak menyangka dengan kekuatan yang kami miliki. "Kalian bercanda?" "Kenapa?" Aldos melepaskan perisai perlindungannya dan membiarkan kami bebas dari sana. "Apa kalian sekuat itu?" Aldos mengedikkan bahu acuh, sedangkan aku hanya terkekeh pelan, semua yang kami dapatkan tidaklah mudah, kekuatan yang kami miliki sekarang adalah hasil latihan setelah mendapat sebuah ingatan baru yang tiba-tiba muncul di kepala, mengembangkan dan menyerap apa yang kami dapat adalah hal yang kami latih sejak lama. Maka tidak heran jika kekuatan kami meningkatkan sangat pesat sekarang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD