LaD -
Perjalanan tak hanya sampai di mana kita berhasil mengalahkan cacing tanah yang memiliki inti kristal yang cukup besar saja, tapi kalo ini kami di hadapkan dengan labirin yang membuat kami harus berpikir dengan tenang untuk menemukan jalan keluarnya.
"Aku baru melihat ini?" Aldos mengangkat kepalanya, menatap jauh ke depan, kearah tembok yang terlihat menjulang tinggi.
"Kau mengingatnya, sil?"
Aku menggeleng pelan, karena pada dasarnya aku sama sekali tidak pernah merasa jika aku pernah melewati tempat ini, tempat yang seharusnya tidak pernah ada. Namun anehnya, entah siapa yang membangun sebuah labirin di tempat ini. Semua terlihat sangat tak masuk akal.
"Sepertinya memang ada orang lain yang sudah masuk sejauh ini."
"Aku tidak yakin." Jhon berkata tiba-tiba sebelum akhirnya dia berjalan mendekati Aldos. "Karena sejauh ini tidak ada orang yang berani masuk kedalam sana setelah apa yang terjadi pada aku dan Durafa."
"Itu pikiranmu saja, lalu apa kau tahu jika nyatanya ada orang lain yang masuk ke tempat ini dan memasang semua jebakan ini agar mereka, orang-orang seperti kita tidak akan bisa masuk kedalam untuk mengambil keuntungan yang seharunya tidak kita ambil.
Jhon terdiam ketika Aldos membantah Kalimatnya. Lalu menatap sekeliling dan merasakan apa yang sebenarnya sudah terjadi di tempat ini.
"Sepetinya kau benar." Dia menunduk lalu mengambil satu buah barang yang terlihat asing di mataku, itu adalah sebuah serpihan kristal sihir milik seorang penyihir, dan dengan kata lain dia adalah dalang yang membuat semua jebakan dan monster itu mengamuk serta memancing mereka semua datang untuk menyerang orang yang berusaha untuk masuk.
"Sepertinya orang ini menyembunyikan sesuatu dan berusaha untuk mengecoh kita untuk masuk lebih dalam." Aldos berhenti. Menatap beberapa gua yang ada di hadapannya. Ada tiga lorong yang berbeda di sana, dan aku yakin hanya ada satu yang akan membawa kami ke saran naga biru.
Aku sama sekali tidak menyangka jika perjalanan yang awalnya sangat mudah untuk mencapai tujuan, kini terasa sangat berat ketika harus mendapatkan satu halangan yang terasa sangat mengganggu.
"Apa kalian memiliki cara untuk melewatinya?" Dino masih terlihat santai di sana, berbeda dengan jhok yang terlihat menyedihkan dengan raut yang sudah terlihat kelelahan di sana.
"Aku bisa mengatasi ini, kau tenang saja." Ujar Aldos. Dia memang bisa diandalkan untuk melacak sesuatu karena itu adalah keahliannya.
Aku mendekati Jhon yang terlihat kelelahan di sana sebelum akhirnya aku berdiri di sampingnya. "Kau baik-baik saja?"
Dia mengangguk pelan, tapi dari raut wajahnya jelas dia terlihat tidak baik-baik saja. "Jika kau ingin istirahat katakan saja, karena jika kau memaksakan diri maka akan membahayakan perjalanan kita, apa lagi semakin dalam kita masuk, maka akan semakin besar bahaya yang akan mengancam kita."
"Tidak apa, aku baik-baik saja. Aku masih mampu."
Aku tahu Jhon hanya tidak ingin menghambat perjalanan kami, tapi jika hal ini terus berlanjut dan Jhon tetap memaksakan diri, maka akan terjadi hal yang buruk nantinya.
"Al!"
Aldos menoleh ketika mendengar panggilan ku, dia mengerut kening sejenak di sana.
"Sebaiknya Nikita istirahat sejenak, karena kita sudah terlalu banyak menguras stamina."
"Apa kau lelah?"
"Sedikit?"
Aku bisa melihat Jhon yang tengah menatap ke arahku, dan aku mengabaikannya. Aku tidak ingin sesuatu hal buruk terjadi pada kami nantinya, maka lebih baik beristirahat sejenak untuk memulihkan tenaga dari pada harus mati konyol karena kurangnya Persiapan.
"Jika seperti itu, kalian istirahat saja. Aku akan masuk dan melihat kondisi diantara gua ini."
Aku mengangguk pelan. "Berhati-hatilah."
Kemudian setelah Aldos pergi. Aku melihat Dino mendekati kristal yang beberapa meter di depan kami. Pecahan kristal lain yang terjatuh entah karena apa.
"Cih … kristal ini hanyalah kualitas buruk."
"Jangan terlalu berharap akan sesuatu." Kataku lagi, karena apa yang ada di gua ini sama sekali tidak layak untuk dimiliki, kecuali inti kristal yang dijatuhkan oleh monster cacing tadi.
"Silvana benar, lebih baik kita beristirahat sebEntar sembari menunggu Aldos kembali."
Dino menyerah, lalu memilih duduk diantara kami, dia bersandar pada dinding gue sebelum akhirnya menghela napas panjang.
"Apa sebelum ini kau melakukan perjalanan yang sama dengan Durafa?" Pertanyaan itu jelas di tunjukan untuk Jhon, dan aku lebih memilih untuk diam dan membiarkan mereka.
Jhon menunduk lebih dalam. "Tidak. Sebelum ini kami tidak mengalami kesulitan seperti sekarang, bahkan dulu saat aku masih bersama Durafa, perjalanan ini masih sangat mudah untuk kami."
Aku juga merasa seperti, dulu sebelum tempat ini masih sangat mudah untuk bertemu dengan naga biru dan mengikut perintah dari monster itu sebelum akhirnya aku menjadi bidak tuan Erix. Dan sekarang, entah apa yang sudah terjadi, tapi rasanya sangat aneh ketika melihat begitu banyak jebakan terpasang di tempat ini.
"Entahlah, aku juga merasa tidak suka jika suasana seperti sekarang ini." Bahkan komunis dengan tuan Erix saja harus terputus karena kondisi yang tidak memungkinkan ini, aku mungkin sudah masuk terlalu dalam hingga membuat kami terpisah antar jarak dan penghalang yang ada di tempat ini.
"Sepertinya kita memang harus masuk dan segera menyelesaikan misi kita." Jhon berkata.
"Tapi aku penasaran dengan siapa sosok yang membuat semua jebakan ini." Aku bergumam pelan.
"Jangan terlalu penasaran."
Dino membuatku mengangkat kepala dan menatapnya sejenak. "Jika kau terlalu penasaran seperti itu. Aku tidak yakin jika kau akan pergi tanpa membawa masalah."
Aku terdiam, dan ketika aku akan menjawab, Aldos sudah datang dan dari dalam gua dengan langkah tergesa.
"Kita perlu bergerak sebelum erupsi lain terjadi. Aku menyadari jika Cacing raksasa itu tidak hanya satu saja, bahkan di dalam mulut gua yang baru aku masuki, mereka membuat lebih banyak lubang. Kurasa aku tidak akan bertahan dari serangan mereka kali ini." Aldos mengatakan itu sembari memperhatikan tiap dinding gua yang sedikit bergetar di sana.
"Mereka mulai membuat lubang untuk menuju kemari."
"Kenapa kita tidak menghadapinya lagi?" Tanya Dino dengan nada santai di sana.
"Jika itu satu aku tidak akan masalah, tapi yang kita hadapi sekarang adalah beberapa cacing raksasa yang siap melahap kita jika kita lengah sedikit saja."
Aku melihat kembali pada Jhon dan dia hanya mengangguk padaku. Saat ini kami semua frustrasi dengan pergantian peristiwa yang tiba-tiba. Dan entah apa tujuan sebenarnya dari orang yang sudah menciptakan semua jebakan ini.
"Dan perhatikan langkah kalian, jangan sampai kalian menginjak tanah tipis yang membuat tanah itu longsor."
"Apa masih ada jebakan yang lain?" Aku bertanya karena penasaran.
"Entahlah, aku merasa ada begitu energi sihir yang terpasang di setiap dinding gua. Dan beberapa lagi ada di lantai yang mungkin saja itu adalah sihir peledak."
"Jadi tidak ada jalan lain selain pergi dan menemukan orang yang membuat semua jebakan ini?" Dino menimpali.
"Aku rasa seperti itu."
Dan sekejap saja aku bisa merasakan energi sihir yang sangat kuat dari lorong gua sebelah kiri, di sana aku yakin ada sosok di balik semua hal ini.
"Lorong sebelah kiri." Aku berkata dan Aldos mengangguk pelan.
"Aku merasakan ada seseorang di dalam sana."
Kam segera bergegas untuk masuk dan menyusuri lorong gua itu. Hingga setengah perjalanan yang kami lalui, tiba-tiba Dino berdiri di sampingku dan bertanya bertanya, "Bagaimana kamu tahu semua hal yang tak pernah aku tahu sebelumnya?”
“Aku pernah mengalami kebangkitan dan mendapatkan kekuatan serta kemampuan baru yang membuat seluruh Indra ku meningkatkan dengan pesat, tidak hanya itu saja, aku bahkan mendapat ingatan yang sangat berguna untuk membantu perkembanganku."
"Apa semua karena kontrak yang kau jalin dengan Erix."
Aku mengangguk pelan. "Aku rasa seperti itu. Bahkan setelah aku mendapat nama dari tuan serta gelar yang aku miliki sekarang, aku bisa merasakan jika seluruh kemampuan yang aku miliki naik beberapa kali lipat dan seperti yang kau lihat tadi. Aku bisa menggunakan energi sihir, dan pergerakan serta skill yang hampir sama dengan tuan Erix."
"Apa itu artinya kekuatan mu seimbang dengan kekuatan Erix?"
"Aku rasa tidak, dan aku pikir kekuatan yang aku miliki bahkan tidak ada seperempat dari kekuatan tuan Erix."
Dan setelah aku mengatakan itu, Dino langsung menghentikan langkahnya, tatapannya menyoroti ku dengan aneh dan sedikit tercengang di sana.
"Kau serius?"
"Seperti itulah."
"Lalu segila apa kekuatan pria sialan itu?"
Aku mengedikkan bahu setelahnya, karena yang aku percaya ialah tuan Erix memiliki kekuatan yang sangat mengerikan, tapi dia sama sekali tidak ingin menunjukkan kekuatan yang dia miliki, karena mungkin dia tidak ingin sombong dengan apa yang dia miliki saat ini.
Seperti itulah seharusnya seorang tuan, karena dia memiliki aku dan Aldos, maka pekerjaan seperti ini memang sepantasnya kami yang mengerjakan, sedangkan beliau hanya tinggal menunggu hasil dari kami.
"Aku benar-benar tidak menyangka." Dino menatapku sejenak. "Kalian berdua hanya seorang wyren yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekuatanku sebelumnya, tapi sekarang setelah waktu berlalu, aku malah jauh tertinggal dari kalian."
Aku terkekeh pelan ketika mendengar ucapan itu. "Jangan terlalu memuji."
"Aku tidak memuji, aku hanya merasa kesal ketika menyadari betapa lemahnya aku sekarang."
"Bukankah kau seorang eksekutif dari kerajaan elf?"
"Aku memang seorang eksekutif, tapi ketika disandingkan dengan kalian bertiga, aku hanyalah seorang makhluk kecil yang tak ada artinya."
"Haha, kau terlalu memuji."
Aku memang menyadari hal itu, setelah aku dan Aldos mendapatkan apa yang disebut pengetahuan, dan kenangan kelam yang terlintas di kepala kami saat hari kebangkitan itu tiba, aku dan Aldos jadi sadar, jika menggunakan kekuatan hanya untuk memuaskan hasrat sama sekali tidak akan berguna.
Lebih baik terlihat lemah dan biasa saja, dari pada harus memamerkan kekuatanku dan membuat kehidupan kita jadi tidak nyaman setelahnya. Aku memilih opsi pertama, di mana aku bisa terus mengikuti tuan Erix kemanapun dia pergi. Ketimbang harus tinggal dan menjaga sesuatu yang menurutku sangat membosankan. Seperti halnya menjaga sebuah negaranya ataupun desa.
Dunia luar dan segala isinya adalah sesuatu yang sangat menarik untuk dijelajahi.
Dan hal itu selalu membuatku penasaran dengan apa yang disembunyikan oleh dunia ini.
Kekuatan, kekuasaan, dan keserakahan, entah ada berapa banyak macam jenis sifat yang disembunyikan oleh dunia, tapi yang aku tahu. Mereka semua memiliki satu kesatuan yang membuatku semakin penasaran untuk menjelajahi setiap tempat di dunia in