LaD - perdebatan

1671 Words
LaD - perdebatan Erix Aku mengerang kesal ketika melihat apa yang saat ini aku kerjakan material yang sudah aku kumpulkan selama ini untuk membuat sebuah senjata nyatanya tidak berguna di hadapan dafrt padahal material yang sudah dikumpulkan adalah bahan-bahan yang sangat langka dan menurutku itu adalah bahan yang sempurna untuk sebuah pedang tapi di hadapan orang tua ini semua yang aku dapatkan tidaklah berguna entah apa yang dia inginkan tapi itu membuatku kesal. "Jika kau ingin buat senjata maka buatlah dengan hatimu dengan perasaanmu dan kombinasikan dengan bahan-bahan yang menurutmu itu kuat jika kau hanya membuat sembarangan maka keduanya akan mendapatkan hasil yang buruk." Ucapnya dengan nada merendahkan tapi tidak memungkiri apa yang dia katakan karena pada dasarnya membuat pedang atau senjata adalah hal yang sangat sulit. "Jika kau kau membuat pedang hanya untuk kesenangan saja maka pergilah Aku tidak membutuhkan orang yang ingin melampiaskan kesenangannya pada sebuah maha karya yang seharusnya dia buat dengan sepenuh hati." "Aku tahu apa yang kulakukan aku mengerti apa yang kau katakan tapi pada poin ini kau hanya mencaci material yang aku gunakan Aku tidak tahu seperti apa matilah yang kau inginkan tapi hanya inilah yang aku miliki." Dia mendengus kasar lalu menatapku dengan tajam sebelum berkata. "Maka pergilah cari barang itu jika kau ingin mendapatkan senjata yang bagus, tapi jika kau masih bersikeras maka jangan salahkan aku jika hasilnya kau dapatkan nanti tidak sesuai dengan apa yang kau inginkan." Lalu setelah mengatakan itu dia berbalik dan pergi meninggalkan aku seorang diri yang masih terdiam sembari menatap pedang yang gagal. Pedang ini terlihat baik-baik saja Bahkan berat yang aku inginkan sudah sesuai dengan yang apa yang kuperkirakan. Tapi jika diperhatikan lagi pedang yang kubuat hanyalah sebuah pedang tumpul yang tidak mampu menebas kayu lapuk sekalipun. Sekali lagi aku mendengkus kalau melempar pedang itu jauh-jauh ke tumpukan pedang yang sebelumnya gagal. Aku beranjak lalu berjalan keluar dari bengkel ini, di luar aku mencoba menghubungi Silvana tapi sepertinya dia berada diluar jangkauan hingga membuatku sulit untuk menghubunginya sudah satu harian dia tidak bisa dihubungi dan itu sedikit membuatku cemas. Walau aku tidak peduli tapi aku membutuhkan bahan yang lebih bagus untuk membuat pedang yang aku inginkan. Lalu ketika aku teringat ucapan pria pendek itu aku menyadari jika material yang aku butuhkan ada di tempat Sylvana sekarang berada. Material kristal biru sebuah material langka yang hanya didapatkan dari kotoran naga biru terdengar lucu dan menggelikan tapi itulah kenyataannya dan aku butuh barang itu. Aku berusaha menghubungi Aldos tapi apa yang aku dapatkan sama saja dia juga tidak bisa dihubungi dan terlihat jauh dari jangkauan. Menghela nafas telah aku akhirnya memutuskan untuk pergi dan berusaha melacak keberadaan Silvana, jika mereka tidak bisa dihubungi maka lebih baik aku menyusulnya dan melihat apa yang terjadi pada mereka mungkin saja mereka dalam keadaan terdesak atau terjebak di dalam lorong itu. Tapi sekali lagi aku kesulitan untuk mendapatkan informasi dan keberadaan mereka. Sepertinya aku harus berusaha lebih keras lagi keberadaan mereka adalah hal yang aku perlukan untuk saat ini. ---- Aldos. Debus kasar ketika melihat dua orang yang ikut bersama kami adalah beban. Tapi ternyata kata-kata tidak bisa apa-apa terlebih John dia sangatlah buruk ketika harus menghadapi jebakan-jebakan yang ada hingga membuatku sedikit kerepotan saat harus melindunginya. "Perhatikan lagi langkahmu jangan kau sembarang menginjak jika kau ingin selamat dari tempat ini dan mendapat apa yang kalian cari. Aku sudah lelah harus mengasuh kalian seperti bayi padahal kalian memiliki kemampuan untuk melawan mereka dan menghindari jebakan jebakan yang mereka buat." Setelahnya tanpa mempedulikan jawaban mereka aku berlalu, meninggalkan mereka untuk melihat keadaan di sekitar, dinding gua terlihat rapuh dan bisa saja hancur, terlebih lubang yang dihasilkan oleh cacing raksasa tadi lubang itu bisa saja ambruk dan menimpa kami jika kami melakukan pergerakan yang salah. "Perkataamu sangat kasar Al, kau pikir kami hanya bayi yang tidak berguna dan menjadi beban aku juga bisa bertarung lawan mereka." Balas Dino dengan nada kasarnya, mungkin dia kesal dengan ucapanku yang terkesan merendahkan mereka tapi itulah kenyataannya mereka hanyalah seorang lemah dan tidak bisa melihat situasi saat ini. "Sudahlah Al jangan berkata seperti itu mau bagaimanapun tugas kita hanyalah mengantar mereka dan mengambil kristal es biru." Aku berhenti ketika Silvana mengatakan hal itu perkataannya seolah-olah mereka dia membela 2 orang bodoh di sana padahal dari tadi dia lah yang sudah menghabiskan banyak tenaga untuk menyelamatkan mereka. "Kok bisa berkata seperti itu setelah apa yang kau lakukan, barang sudah menghabiskan banyak tenaga untuk menyelamatkan mereka dan sekarang, kau membela mereka?" "Aku tidak membela siapapun di sini aku hanya mengingat percakapan tuan Erix yang menyuruh kita untuk mengantarkan mereka." "Hanya mengantarkan bukan membawa mereka hidup-hidup kita hanya ditugaskan untuk masuk berlatih dan menjadi kuat lalu mengumpulkan material yang ada untuk kebutuhan tuan setelah ini, kau pikir Tuhan mengatakan jika kita harus membawa mereka dengan selamat?" Tidak habis pikir dengan apa yang Silvana pikirkan, padahal jelas-jelas pohon mengatakan jika kita hanya ditugaskan untuk berlatih agar menjadi kuat, mengumpulkan material yang ada dan selebihnya aku tidak mendengar jika Tuhan Lubis memberi perintah untuk menjaga keselamatan mereka. "Tetap saja kita memulai semuanya bersama jadi sebisa mungkin kita keluar dari tempat ini dengan selamat juga." Aku tidak tahu apa yang ada dipikiran Silvana tapi sepertinya dia sudah lupa dengan apa tujuan kita datang ke tempat ini, Aku mendengus kesal lalu meninggalkan mereka tujuanku saat ini hanyalah membawa mereka ke naga biru dan mengambil kristal es biru seperti yang Tuan perintahkan. "Terserah kau saja jika kau ingin menyelamatkan mereka dan melindungi mereka dari semua jebakan, aku sudah tidak peduli lagi jika mereka akan terperangkap atau bahkan mati karena jebakan yang ada di tempat ini." Setelahnya aku benar-benar pergi dan meninggalkan mereka membiarkan mereka beristirahat dan membuka jalan untuk mereka walau demikian Aku masih memikirkan keselamatan Silvana karena dia adalah saudariku. Saudari yang selalu saja terpengaruh dengan hal-hal sepele seperti ini hingga membuatnya menjadi lemah, itulah kenapa dia selalu tertinggal dariku Aku cukup kuat dengan kemampuan yang ada saat ini aku kan bisa menyelesaikan tugas jadi tuan Erix sendirian. Tapi jika aku melakukan itu sendiri maka Silvana akan tertinggal, dia sudah bisa memasuki fase ketiga tapi dia Belum bisa mengendalikan kekuatannya dan itulah kenapa tuan Erik memerintahkan kami untuk ikut dalam misi ini. Setelah beberapa langkah kedepan aku menemukan persimpangan di dalam gua, sejenak aku terdiam menatap salah satu lorong yang ada di sana dan merasakan energi sihir yang mungkin saja mengandung sebuah jebakan. Aku harus berpikir sebelum aku masuk ke salah satu lorong yang ada, aku salah masuk maka kejadian yang sama akan terulang kembali aku bisa saja bertemu dengan orang yang menciptakan jebakan ini dan membuatku kerepotan jika harus menghadapinya sendiri. Aku tidak tahu siapa orang itu tapi yang jelas ada niat buruk dia menciptakan semua juga kan ini bisa dikatakan dia ingin menghalangi orang lain untuk masuk kedalam sana atas alasan khusus. Setelah memilah-milah cukup lama dan mempertimbangkan energi sihir di setiap lorong akhirnya aku memutuskan untuk mengambil orang sebelah kiri di mana energi ciri yang ada di dalam sana terasa lebih ringan dan tidak memiliki kadar bahaya yang membuatku kerepotan nantinya. Seperti biasa lorong gue itu terisi dengan kristal-kristal ungu yang memancarkan cahaya hingga ciptakan penerangan yang sedikit redup tapi masih bisa jelas untuk kulihat. Beberapa langkah ke depan aku harus menghentikan langkah ketika melihat dua beast liar yang menghentikan jalanku, sepertinya aku harus mengeluarkan sedikit tenaga untuk lolos dari mereka dan melanjutkan perjalanan. "Yang datang di waktu yang tepat." Ucapku pelan sembari menarik kedua benda menjadi. "Aku akan melampiaskan kekesalan kepada kalian dan jangan salahkan aku jika kalian akan mati dalam sekejap." Tanpa menunggu lagi aku segera mengambil kuda-kuda mengambil langkah dalam dan menerabas maju dengan kecepatan yang kumiliki saat ini, yang tidak sebanding dengan pergerakan mereka sehingga membuat ku dengan sangat mudah memenggal kepala dua monster busuk itu. Aku menyeringai kecil lalu menoleh kearah Mereka melihat apakah ada inti kristal di keduanya. Lagi Dan lagi dua beast ini tidak memiliki inti kristal seperti beast sebelumnya. Sialan mereka sepertinya hanya mayat hidup yang dibangkitkan kembali dan untuk menjaga setiap lorong yang ada dan menghalau orang-orang masuk dan sialnya lagi hal ini sangat menghambat ku. Dan tanpa kusadari aku menginjak sebuah balok yang seketika itu mengaktifkan jebakan hingga membuat puluhan anak panah dari dinding menyerangku seketika. Aku berusaha menghindar dengan melompat ke sisi kanan lalu mengambil pijakan pada tebing dan menerobos maju menghindari anak-anak panah itu. "Dasar sialan!" Aku mengumpat setelah anak panah itu berhenti menembak. Tidak sampai di sana ketika aku mencoba maju ke depan ternyata ada segerombolan mayat hidup lainnya yang siap menyerang. Dan lagi aku dipaksa untuk mengeluarkan sedikit tenaga untuk membereskan mereka. Entar kan ada berapa banyak monster lagi yang akan aku temui, yang jelas aku akan menghancurkan mereka tanpa tersisa sedikitpun agar Silvana tidak kerepotan lagi ketika harus melalui lorong ini. mereka hanyalah sekumpulan mayat hidup dan memiliki pergerakan yang sama pasif memukul dan menyerang dengan membabi buta, hal itu adalah keuntungan untukku terlebih dengan kecepatan yang aku miliki atau bisa menyingkirkan mereka dengan sangat cepat walau itu harus menguras energi sihir yang kumiliki. Tidak sampai 15 menit aku sudah menumbangkan mereka semua dan mempersempit keadaan setelahnya tidak ada yang tersisa lagi dan sekarang tepat di hadapanku Aku melihat sebuah pintu gerbang yang sangat besar dengan ukiran naga biru di sana. Sepertinya aku sudah sampai tempat tujuan dan sekarang saatnya untuk memberi informasi pada Silvana agar mereka bergerak untuk menyusulku. Tapi tidak ingin mengambil tindakan bodoh dengan masuk sendirian bisa saja di dalam sana ada orang yang menciptakan semua jebakan di tempat ini jangan andai dia lebih kuat dari ku maka sama saja Aku bunuh diri. "Tolong bereskan areanya dan sudah memberi tanda pada setiap dinding gua, kok bisa menyusu aku sedangkan aku akan beristirahat sebentar sebentar kita akan masuk ke dalam ruangan naga biru dan aku harap mereka bisa membantu melakukan penyerangan." "Apa kau yakin jika kau sudah mencapai tempatnya?" "Tidak ada sisa banyak tanya sil, cepatlah datang dan selesaikan semua ini Aku sudah muak harus menghadapi banyak mayat hidup di tempat ini!" Aku mengerang lalu memilih bersandar pada dinding gua untuk menghilangkan rasa lelah dalam diriku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD