cerita di balik kesedihan

1947 Words
LaD - cerita di balik kesedihan Hidup tersisihkan sejak kecil membuat Erix harus berpikir keras bagaimana dia bisa bertahan hidup hanya dari uang pemberian sang ayah yang tidak seberapa, terlebih saat pekerjaan serabutan sang ayah sama sekali tidak bisa membuat dirinya dan ibunya bahagia, bahkan dengan alasan itu sang ibu rela pergi meninggalkan dirinya dengan laki-laki lain. Wanita yang sejatinya ingin dia anggap sebagai sosok hebat hang pernah dia kenal malah menjadi momok menakutkan untuk dirinya, sumber dari kebencian yang tertanam sejak dia kecil hingga beranjak dewasa. Dia tentu saja menginginkan sebuah kasih sayang yang tulus dan cinta serta kasih dari kedua orang tuanya, sebagaimana teman-teman yang memiliki keluarga harmonis dan terasa hangat tiap kali dirinya berkunjung ke rumah teman. Yah, kebahagiaan seperti itu yang sejak dulu dia harapkan, tumbuh besar dengan cinta dan kasih sayang yang tulus. Namun, semua hanya tinggal bayangan yang tak pernah terwujud untuk dirinya. Dia malah harus bekerja keras sejak kecil, mengatur keuangan agar dia bisa terus bertahan dari rasa lapar yang mendera. Bekerja serabutan hanya untuk menambah uang pemberian sang ayah yang hanya alakadarnya saja. Pantas, sang ibu meninggalkan mereka, siapa yang betah tinggal dan hidup dengan seroang laki-laki yang hanya menjadi pengangguran. Semua wanita tentu tidak menginginkan hal itu. Maka semakin beranjak dewasa, Erix sedikit mengerti apa yang ibunya rasakan ketika masih bersama sang ayah. bukan ingin mengeluh, hanya saja itulah kenyataannya, di mana dia harus bersikap dewasa sebelum waktunya, di tuntut untuk menjadi pria kuat dan di sisihkan karena ketidakmampuannya untuk berteman dengan beberapa orang, hingga akhirnya dia mendapatkan sebuah jalan, di mana dia bisa hidup dengan layak dan lepas dari bayang-bayang orang tua, seperti itulah hidup yang pernah dia jalani dulu. Diacuhkan oleh banyak orang, dikucilkan dan di anggap sampah. Kelaparan dan harus menahan lelah serta perut lapar dalam satu malam, semua pernah dia lalui. Bahkan bayangan tentang bagaiman dia diremehkan dan dianggap sampah oleh orang-orang sekitarnya masih tersimpan rapih di dalam benaknya. Berharap dia akan selalu ingat dan bisa membuktikan jika suatu saat nanti dia bisa menjadi orang yang berhasil dan mampu memiliki apa yang tidak pernah dia miliki dulu. Namun siapa sangka, semua harus berakhir ketika dirinya sok menjadi seolah pahlawan hingga membuat nyawanya melayang malam itu. Sungguh di sayangkan, padahal dia berpikir peluang untuk membuktikan pada mereka yang sudah menganggapnya sampah sudah di depan mata, hanya saja takdir berkata lain. Dan siapa sangka dia malah terlahir kembali di dalam dunia yang hanya menjadi fantasinya selama ini, dunia di mana dia bisa memiliki kekuatan dan mengendalikan semuanya dengan kekuatan yang dia miliki. Sungguh lucu, ketika dia menganggap semua ini hanyalah sebuah mimpi, tapi sekarang dia malah berada di dalamnya, dengan kekuatan dan kemampuan yang bisa dikatakan luar biasa. Bukan hanya sampai di sana, bahkan mimpi yang selama ini hanya menjadi sebuah mimpi yang membuat dirinya basah di pagi hari menjadi sebuah kenyataan. Di mana dia di rawat oleh seorang elf perempuan yang cantik dengan body yang menggairahkan, dan tentu saja, sepasang bola kenyal yang menempel indah di dadanya. Sungguh, surga mana yang sudah berbaik hati menerima dirinya yang kotor ini. Bahkan sekarang, dia bisa memainkan benda kenyal yang terbalut pakaian tipis di sana dengan seenak hatinya, merasakan kenyal dan hangat kedua benda itu untuk memulihkan tenaga dan stamina yang dia miliki. Rasanya jika boleh meminta, dia ingin selamanya berada di tempat ini dengan para gadis elf yang benar-benar cantik dan luar biasa di sini. "Ah..." Saru desahan membuat senyum Erix menyeringai lebar. "Tuan... Jangan terlalu keras." "Haha, siapa peduli, aku hanya ingin cepat mendapatkan staminaku kembali dan kembali menjelajahi dunia ini." "Tapi jika terlalu keras, akan meninggal bekas merah nantinya tuan." "Tidak masalah, aku bisa memperbaikinya jika ada bekas merah di sana." "Tuan... Ah..." "Muehehe, siapa yang menyangka kalo ternyata dunia ini tidak seburuk yang gue bayangkan, di sini jelas banyak gadis yang rela dan menyambut kedatangan gue. Dari pada di kehidupan sebelumnya gue hanya di anggap sebagai sampah." "A-apa yang anda bicarakan tuan..." "Tidak ada, gue cuma menggerutu." Erix merasa jika ini adalah surga, tempat di mana seharusnya dia hidup dan sebagai ganti atas kesulitan serta kesengsaraan yang pernah dia rasakan dulu, surga di mana semua orang menyambut dirinya dengan tangan terbuka bahkan memberikan pelayanan serta perawatan yang luar biasa ini. Dia ingin selamanya ada di tempat ini, menjelajahi dunia dengan keindahan jutaan wanita di dalamnya. "Tuan, bagaimana kondisimu saat ini." Erix melirik tajam kearah seseorang yang baru masuk, tak lain adalah Pemimpin Elf saat peperangan tadi, hingga tatapan mereka saling bertemu di sana. "Ehem. Ma-maafkan saya tuan, jika saya menggangu kenyamanan anda." "CK, Lo ini, nggak tau ada orang seneng sebentar aja!" Desis Erix yang tak berniat lagi untuk melanjutkan aksi bermanja-manja ria dengan perawat elf yang menggoda di sana. Dia menjauhkan tubuh gadis elf itu. Lalu menarik pinggangnya dan memaksa gadis elf itu duduk di pangkuannya. "Ada apa?" "Ma-maaf tuan...." "Nggak usah basa basi, gue mau istirahat, jadi bilang aja apa yang Lo perluin?" "Tidak ... saya tidak berani meminta sesuatu kepada tuan." "Terus apa? Kalo nggak ada apa-apa kenapa Lo malah ganggu waktu istirahat gue?" "Ma-maaf tuan, tapi raja para elf ingin bertemu dengan tuan...." Erix terdiam sejenak, dia sudah menebak jika hal ini akan terjadi, dan dia juga sudah mengetahui jika raja elf akan penasaran dengan kekuatannya, mungkin bukan hanya raja elf, tapi beberapa orang kuat di dunia ini pasti penasaran dengan dirinya. Mungkin saja, atau hanya asumsi dirinya yang mulai menyombongkan dirinya dengan kekuatan seperti itu. "Raja?" "Ya tuan, raja ingin menemui tuan dan berterimakasih secara langsung kepada tuan." Erix terdiam sejenak. Lalu menyandarkan tubuhnya pada bahu gadis elf yang sudah merawat dirinya beberapa hari ini. "Gue lagi males keluar, kalo dia mau ketemu gue suruh datang kemari dan temui gue secara langsung." "Ta-tapi tuan...." "Kalo nggak mau ya udah, gue juga nggak ada urusan sama raja Lo orang!" Dengkus Erix kasar, dia merasa kesenangannya terganggu karena kedatangan pemimpin elf yang sama sekali tidak dia ketahui itu. "Tu-tunggu tuan...." "Mending pergi dari sini, atau gue hajar Lo hari ini juga!" "Ma-maaf tuan, saya permisi undur diri." Erix mengangguk pelan, lalu setelah beberapa langkah pemimpin elf itu pergi. Dia teringat sesuatu. "Tunggu!" "Ya, tuan." "Gimana sama babi babi yang kehilangan rajanya itu. Di mana dia sekarang." "I-itu ...." Erix mengerutkan kening saat melihat tingkah aneh dari pemimpin elf itu, dia terlihat seperti tengah ketakutan di saja. "Apa!" Bentak Erix yang tak sabar untuk mendengar kabar para orge itu. "Me-mereka telah di tangkap oleh para ekslusif, tuan." "Gue nggak peduli mereka di tangkap atau apalah itu, gue hanya tanya di mana mereka sekarang." "Me-nereka semua di penjarakan tuan, dan di paksa untuk bekerja di penambangan." Erix terdiam sejenak, matanya menatap nyalang ketika mendengar para orge itu dipekerjakan dengan paksa, padahal dia tidak berpikir untuk melakukan semua itu pada para orge, tapi sayangnya setelah kejadian itu dia harus kehilangan kesadaran hingga membuat dia tidak tahu lagi apa yang terjadi pada mereka. "Siapa...?" Tanya Erix dengan nada marah di sana. "Siapa yang nyuruh memperlakukan mereka Seperi itu?" Tanya Erix lagi, bahkan saat ini energi sihirnya sudah menguar dan membuat tekanan tinggi di sekitarnya, bahkan karena energi sihir itu, gadis elf yang ada di pangkuannya harus tersiksa. "Ma-maaf tuan...." "Sebelum gue ngamuk, lebih baik keluarkamereka dan bebaskan mereka sekarang juga!" "Ta-tapi, tidak semudah itu tuan." Energi sihir Erix meluap seketika, tekanan yang di hasilkan bahkan mampu membuat kabin di bawah kaki pemimpin elf itu retak. "Gue nggak peduli, keluarkan mereka atau gue hancurkan tempat ini!" Seketika pemimpin elf itu bersujud di tempatnya. "Ampuni saya tuan, saya tidak memiliki hak untuk membebaskan mereka karena saya hanya seorang pemimpin prajurit yang bisa menentang petinggi ekslusif tuan, maafkan saya...." Melihat itu tentu saja membuat Erix tak tega, dia menarik kembali energi sihir yang dia keluarkan untuk menggertak pemimpin elf di sana, apalagi dengan sorot ketakutan dan tubuh bergetar itu mengingatkan dirinya pada masa kelam dulu. "CK, berdiri!" Perintah Erix dengan nada keras. Mau tak mau elf itu berdiri di sana dengan wajah menunduk dan tubuh bergetar. "Kasih tau di mana tempat itu, biar gue yang urus semuanya," ucap Erix setelahnya, dia mendorong tubuh gadis elf tadi dan berdiri dari tidurnya. Setelahnya dia beranjak, tanpa peduli dengan pakaian yang dia kenakan, bagi Erix di dunia yang baru, pakaian bukanlah masalah, kemampuan untuk meniru siapa saja yang pernah dia lahap sangat memudahkan dirinya untuk merubah diri menjadi siapapun yang dia mau. "Tuan, jika anda melakukan hal ini, para eksekutif tidak akan tinggal diam." "Terus?" Tanya Erix sembari menoleh kearah pemimpin elf di sana. "Mereka sangat kuat dengan pilar yang kokoh serta energi sihir yang luar biasa. Saya tahu tuan sangatlah kuat, tapi saya takut akan terjadi kekacauan jika mereka turun tangan secara langsung." "Peduli setan!" Sentak Erix yang sudah murka di sana, siapa peduli dengan amarah dan seberapa kuat mereka, siapapun yang sudah merusuh urusannya maka jangan harap akan ada yang lolos. "Yang ngalahin raja mereka itu gue, jadi mau gue apakan itu para babi juga terserah gue! Siapapun hang ikut campur maka akan berhadapan dengan gue secara langsung!" Karena bagi Erix janji adalah sebuah hutan, dia akan berusaha untuk menepati semua janjinya agar dia bisa bernapas lega, dan lagi apa bedanya mereka yang dulu dan sekarang, setelah mereka memberontak dan bergerak hanya untuk sebuah makanan, lalu setelah raja mereka Erix kalahkan, mereka masih harus menderita untuk berkerja secara paksa. Sama saja keluar dari kandang harimau malah terjebak di kandang macan. Dia tidak peduli, siapa yang akan menghalanginya nanti, Erix akan menerobos dan memaksa mereka untuk melepaskan para orge di sana. Karena sekarang, para orge itu adalah tanggung jawabnya. "Ta-tapi tuan ...." Erix benar-benar muak mendengar perkataan tapi dan tapi, seolah tidak ada kata lain selain tapi, dengan muak dia menarik kerah baju pemimpin elf dan menariknya ke atas hingga tubuh itu perlahan terangkat tinggi. "Lo kalo masih banyak omong, gue habisin di sini, mending diem dan turuti apa kata gue!" Desis Erix tajam. Dia masih menatap penuh amarah pada pemimpin elf di sana. "Lo lupa? Kalo bukan karena gue, Lo udah mati!" Brak! Erix melempar tubuh itu sampai menatap pintu ruangan hingga membuat pintu itu rusak seketika. "Gue udah bilang, gue itu paling benci dengan kata tapi dan tapi, cukup diem dan turuti apa mau gue maka Lo akan selamat!" Erix mendesis tajam lalu setelahnya dia berlalu dari sana. Sedangkan pemimpin elf langsung berusaha untuk berdiri dan mengambil kendali tubuhnya yang terasa remuk. Siapa sangka sebuah lemparan yang di berikan oleh Erix membuat tulang rusuknya hampir patah satu. Benar-benar kekuatan yang luar biasa. Dengan tubuh sempoyongan dia berusaha untuk mengikuti langkah Erix yang terlihat marah di sana. Tak ada lagu bantahan ataupun kaya tapi yang keluar dari mulut pemimpin elf itu. Dia hanya menjalankan tugasnya untuk memberi arah jalan ke tempat penambangan batu milik kerajaan elf. Melewati sebuh lorong rahasia yang ada dibelakang rumah sakit, akhrinya mereka sampai di mana tempat pertambangan yang sangat besar di sana. Puluhan, bagian ratusan ras ada di sana, bukan hanya orge. Tapi goblin lizardman dan juga para Salamander juga ada di sana. Mereka di paksa untuk bekerja, bahkan perlakuan dari para penjaga sama sekali tak pantas di sebut pekerjaan, mereka tak ubahnya seperti di siksa dan di peras untuk kepentingan pribadi dari kerajaan ini. "Sudah berapa lama?" Tanya Erik dengan tatapan amarah yang meluap-luap di sana, si benar-benar tidak bisa melihat sebuah kerja paksa di tempat ini, seolah menguasai dan memperkejakan ras lemah seperti mereka di bawah sana. Benar-benar memuakkan. Dia merasa jika ini sudah sangat kelewatan, sudah tidak ada lagi naluri dan hari nurani di tempat ini, mereka par penjaga seolah sudah tak memiliki rasa empati lagi dan terkesan bersenang-senang di atas penyiksaan yang mereka lakukan. Tangan Erix terkepal erat, bahkan terlihat urat-urat yang keluar di kedua tangannya. Dia benar-benar marah sekarang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD