LaD - keributan
Brak!
Bugh!
Boom!
Suara keributan itu tentu saja memancing banyak mata untuk menatap kearah sosok yang tengah membuat kekacauan di sana. Dia adalah Erix, sosok werwolf asing yang berusaha membuat kegaduhan di tengah pertemuan para eksekutif.
Bahkan dengan sangat lancang, dia mendobrak pintu ruang pertemuan dengan santainya, lalu mengibaskan kedua tangannya seolah apa yang baru saja dia sentuh adalah sumber kotoran yang paling kotor sekalipun.
Dia mengangkat wajahnya, lalu menarik senyum tipis di sana dengan mata melengkung ke bawah.
"Permisi!"
Dengan riang dia melangkah, tidak peduli tatapan para petinggi yang menghunus tajam kearahnya. Yang dia inginkan di tempat ini adalah sebuah kebebasan dari para orge yang sudah mereka tangkap dan mereka tahan hingga membuat amarah dalam dirinya benar-benar murka.
Dengan langkah ringan, Erik melangkah masuk, wajah polosnya itu tentu saja mengundang amarah dari para eksekutif hingga membuat seseorang bertubuh besar be diri di sana.
"Siapa kau!" Bentak pria itu kuat-kuat. "Lancang sekali kau menggangu pertemuan penting para eksekutif!"
"Wah, baru juga sampek udah di sambut dengan meriah gini?" Tanya Erix dengan nada santai di sana. Bahkan senyum di wajahnya tertarik begitu lebar di sana, seolah ada kesenangan lain yang dia dapat dari keadaan ini.
"Kalian emang layak di bilang para eksekutif!" Ucap Erix sembari duduk di atas meja dengan tatapan yang mengedar dan melihat seisi ruangan di sana. Ruangan yang benar-benar megah hanya untuk sebuah tempat pertemuan. Sungguh berapa uang yang di habiskan mereka hanya untuk membangun ruangan ini, puluhan juta kah? Atau bahkan sampai miliaran rupiah?
Erix tidak begitu mengeri dengan uang dan pengeluaran banyak seperti itu. Dan dia juga termasuk acuh tak acuh dalam urusan bangun membangun. Persetan dengan bangunan megah yang hanya memiliki fungsi yang sama, yaitu kenyamanan, untuk apa mengeluarkan uang lebih kalau hasilnya juga untuk beristirahat dan untuk melindungi diri dari hujan badai.
Atau mungkin karena kesombongan dan keangkuhan yang ingin ditonjolkan oleh mereka.
Cih, dasar para pria tidak berguna! Desis Erix dalam hati.
"Kau!" Suara mengerang marah itu membuat Erix menoleh dan menatap pria besar yang sudah benar-benar marah di sana. Erix masih mempertahankan senyum di wajahnya, bahkan dengan santai dia menyilangkan sebelah kakinya di kaki sebelahnya.
"Kenapa? Apa ada masalah?"
"Lancang sekali kau mengganggu pertemuan kami, dia kau sebenarnya!"
Brak!
Satu hantaman keras membuat meja yang di duduki Erix bergetar kuat.
"Hey berhentilah! Kau bisa menghancurkan ruangan ini!" Ucap salah satu dari mereka yang entah siapa, Erix sama sekali tidak peduli.
"Aku tidak peduli. Pria lancang sepetinya harus diberi pelajaran agar dia mengerti posisinya!" Sentak pria besar dengan marah.
"Posisi?" Tanya Erix dengan kerut di keningnya. "Lo pikir ini anggota dewan yang mana posisi itu penting?" Tanyanya lagi.
"Kau!"
"Apa!"
Itu besar itu terlihat sangat mahar, tangannya terkepal kuat lalu bergerak sangat cepat. Sangat berbanding terbalik dengan tubuhnya, tubuh sebesar itu, siapa yang menyangka jika dia memiliki pergerakan yang benar-benar cepat. Erix sendiri sempat terkejut. Walau kecepatannya masih bisa diikuti oleh sepasang matanya.
Dan pukulan hang di lontarkan si pria besar itu bisa dihindari dengan sangat mudah.
"Lo pikir kecepatan dan kekuatan itu bisa melukai gue dengan mudah?" Ucap Erix dengan nada sinis. Lalu dengan santai dia menggerakkan tangannya kearah perut si pria besar dan memberikan sentilan kecil yang di lapisi dengan energi sihir yang di fokuskan pada kekuatan.
Tak!
Bruak!
Pria besar itu langsung terpental jauh kebelakang begitu saja hingga membuat dia mengerang tajam karenanya.
Setelahnya Erix beranjak, lalu bergerak sangat cepat hingga membuat seluruh orang yang ada di saja tercengang karenanya.
Pergerakan Erix sama sekali tak terlihat oleh mereka yang jelas memiliki kekuatan hebat, para eksekutif adalah jajaran orang yang memiliki kekuatan di atas rata-rata. Mereka adalah orang terpilih untuk memimpin di kerajaan elf.
Erix dengan sangat mudah berdiri di hadapan pria besar tadi. Lalu dengan mudahnya dia meraih leher pria itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Jangan sok hebat di depan gue!" Ucap Erix dengan nada dingin di sana.
"K-kau...."
"Gue nggak pernah cari keributan di sini, gue cuma minta pada kalian. Lo, Lo dan juga Lo!" Erix menunjuk saru persatu petinggi yang ada di sana dengan matanya.
"Kasih alasan kenapa para orge kalian perlakuan seperti itu!"
Wuss!
Brak!
Lagi, dengan sangat mudah Erix melempar pria besar itu hanya dengan satu tangan saja.
"Dasar pria lemah!" Desis salah satu petinggi ketika melihat pria besar itu dipermalukan oleh Erix.
"Kalau mereka lemah, lalu Lo apa?" Tanya Erix yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang tubuh pria kurus itu. Lalu satu tendangan membuat pria itu tersungkur dengan kursi yang hancur karenanya.
"Nggak usah sombong dan coba ngaca! Lo bahkan lebih lemah dari pria besar itu!" Desis Erix yang secara tidak langsung mendengar ucapan pria kurus tadi.
Pria angkuh yang tak pernah berkaca dengan kemampuannya sendiri. Sungguh pria bodoh. Bahkan lebih bodoh dari pria besar tadi.
"Tu-tunggu...."
Erix menoleh kearah suara yang menghentikan dirinya, sosok yang duduk di paling ujung, seolah dialah pemimpin dari pertemuan ini.
Pria tua yang terlihat sudah sangat rapuh di sana.
"Kita bisa membicarakannya dengan baik-baik, tolong jangan buat keributan."
"Membicarakannya? Bahkan gue baru sampek aja udah di sambut sama mereka!" Desis Erix. "Nggak ada yang perlu di bicarakan lagi."
Bugh!
Satu tendangan dia berikan kepada pria kurus tadi hingga terpental menatap tembok ruangan itu.
"Gue nggak mau terlalu panjang. Sekarang bebaskan para babi itu. Atau gue hancurkan kota ini!" Desis Erix tajam.
Ancaman itu tentu saja membuat para eksekutif lain yang berjumlah delapan orang itu berdiri. Mereka yang tersisa seolah mengambil langkah waspada karena ucapan Erix barusan.
Terlebih, sosok werwolf adalah sebuah ras yang sudah hampir punah dan menjadi ras legenda dengan kekuatan luar biasa, itulah kenapa mereka membawa Erix ketempat ini dan merawatnya. Mereka berpikir jika Erix bisa bekerja sama dengan mereka, tapi siapa sangka jika Erix malah memiliki pemikiran lain dan membuat kekacauan yang tak bisa mereka hindari.
"Kau pikir siapa dirimu, berani memerintah kami!"
"Kami adalah para eksekutif dengan kekuatan yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya."
"Kau hanyalah seonggok sampah di mata kami!"
"Sampah?" Erix mengulang kalimat itu seolah ada sesuatu yang menyakitkan di sana.
Mata melengkung kebawah itu perlahan membuka, menampakkan tatapan kemarahan yang meluap di sana.
"Kau pikir siapa sampah di sini?!" Suaranya terdengar berat di sana, bahkan aura dan tekanan di rungan itu berubah mencekam di sana, energi sihir yang meluap di tubuh Erix benar-benar tak bisa di duga oleh mereka yang ada di ruangan itu.
Mereka sepertinya telah membangunkan iblis yang tertidur di tempat ini.
"Sampah adalah sebuah benda yang selayaknya untuk di buang, dan kau menyamakan aku dengan sampah?" Erix melarikan tatapannya kearah pria yang menyebutnya sampah tadi. "Kau pikir siapa dirimu pantas menyebut ku sampah!"
Dengan santai Erix mengangkat tangan kirinya lalu mengarahkan pada pria kurus tadi. "Berpikirlah sebelum mengatakan seseorang dengan sebutan sampah."
Wush!
Sebuah bayangan hitam melintas dengan sangat cepat, lalu memberikan serangan yang sama sekali tak mampu dihalau oleh pria kurus tadi. Hingga membuatnya terpental kebelakang dengan bayangan hitam yang menancap di d**a pria itu.
"Ugh!" Pria itu batuk darah seketika, tubuhnya lemah tak berdaya di sana.
Sedangkan kemarahan Erix sudah tak bisa terkendali lagi, entah di mana dia sekarang, energi sihir di dalam dirinya sudah meluap-luap. Dan dengan mudahnya dia menoleh kearah pemimpin di ruangan ini.
"Maaf saja, awalnya aku ingin membicarakannya baik-baik dengan kalian, tapi kalian malah berbuat seenaknya di sini, dan bahkan menganggap ku sampah!"
Dia berdecih kesal lalu berbalik dari sana, persetan dengan keberadaan para orge itu. Dia bisa mencarinya sendiri dengan tangan dan kemampuannya. Jadi tidak peduli lagi dengan para eksekutif yang sudah membuat dirinya marah.
Erix berlalu, hingga satu langkah menyentuh ujung pintu, sebuah ledakan terjadi di ruangan itu, ledakan yang sangat besar hingga menghancurkan seluruh ruangan di sana.
"Tuan...."
Erix tak menjawab saat pemimpin elf menyambut kedatangannya. Lalu dia berhenti sejenak di sana.
"Cari tahu di mana para orge itu sampai petang nanti. Kalo sampek gagal dan pulang tanpa informasi, atau kabur, maka jangan salahkan gue kalo Lo bakal mati di tangan gue setelahnya."
"Ba-baik tuan."
Erix berlalu dari sana, benar-benar pergi meninggalkan pemimpin elf yang segera berlalu untuk mencari informasi.
Tujuan Erix adalah ruang perawatan di mana ada gadis elf yang sudah menunggunya di sana.
Ah, membayangkannya saja sudah berhasil membuat amarah di dalam dirinya berangsur membaik. Bahkan sekarang dia tidak sabar untuk bertemu dengan gadis elf yang memiliki aroma manis dan paling baik di tempat ini.
----
"Sial!" Desis salah satu pemimpin eksekutif yang berhasil lolos dari ledakan itu, mereka semua berhasil lolos karena sihir pertahanan dari pemimpin mereka yang langsung dengan sigap mengeluarkan sihir perlindungan ketika Erix mengeluarkan kekuatannya tadi.
"Diamlah, Ex!" Sentak pemimpin elf yang tengah duduk di kursi kebesarannya, kedua tangannya bertopang di depan. Dia benar-benar berpikir untuk menghentikan Erix dengan kemampuannya.
"Pak! Kenapa kita tidak menyerangnya secara bersamaan? Kita bisa mengalahkannya dengan kekuatan yang kita miliki!"
"Lalu menghancurkan bangunan ini dan membahayakan para warga?" Tanya pemimpin itu sembari melirik pria bertubuh besar tadi, dia Ex pria yang di buat babak belur oleh Erix. Bahkan kini dia harus mendapatkan perawatan dari elf penyembuh, salah satu pemimpin pasukan yang ada di sana.
"Diamlah! kau akan membuat pendaran di perutmu kembali terbuka." Ucap sosok yang kini tengah menyembuhkan Ex di sana.
"Baiklah baiklah!" Ex tak bisa berkata-kata lagi setelah wanita di hadapannya itu membentaknya.
"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang, tuan?" Tanya pemimpin lain menatap sang pemimpin di sana.
"Aku juga tengah berpikir bagaimana mengurus masalah ini."
"Huaaa, kenapa tidak berikan saja apa yang dia mau." Balas elf yang oing kecil di atara para elf di sana dengan nada malas dan mengantuk di sana. "Aku benci keributan, mengganggu waktu tidurku saja."
"Kau pikir setelah kita memberikan para orge itu, apa yang akan mereka lakukan nanti? Menghancurkan kota dan memicu peperangan kembali?" Balas wanita tomboi di sana
"Lalu, kalau kita masih mempertahankan mereka, apa yang akan terjadi para rakyat?" Tanya salah satu diantara mereka.
Kericuhan kembali terjadi di sana, mereka benar-benar meributkan dan memiliki pemikiran yang berbeda-beda, kehadiran Erix seolah menjadi momok menakutkan untuk mereka.
"Lalu apa yang terjadi jika kita membebaskan para orge? Kekacauan yang lebih besar akan terjadi setelahnya, di tambah dia menjadi pemimpin, bisa saja seluruh kerjaan hancur karena kelakuan mereka!"
"Kalian berhentilah bertengkar!" Sentak pemimpin yang merasa muak melihat tingkah mereka. Dia benar-benar tak habis pikir dengan pemikiran dangkal dari para komandan di ruangan itu.
"Kita pikirkan lagi jalan keluarnya, jika hanya dengan berdebat maka tidak akan ada jalan keluar untuk kasus ini!" Desis pemimpin itu yang membuat para komandan berhenti berdebat dan diam setelahnya.
"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" Tanya wanita tomboi di sana. "Dia salah satu orang yang memiliki potensi untuk menghancurkan kota, bahkan bisa saja memancing kebangkitan raja iblis ketika kekuatan itu meluap. Seperi demon orge yang mengamuk."
"Aku juga masih berpikir. Langkah apa yang sebaiknya kita ambil. Bertindak secara gegabah juga hanya akan membuat kekacauan kembali terjadi."
"Turuti saja apa yang dia inginkan, itu lebih mudah untuk mencegah kemarahannya." Balas elf kecil di sana.
"Diamlah Dino, kau hanya memperkeruh keadaan!" Balas wanita tomboi.
"Aku hanya memberi saran." Elak Dino dengan nada malas.
"Tidak perlu memberi saran. Lebih baik kau diam dan dengarkan!"
"Baik-baik. Terserah kalian saja, di tempat ini dan di mata kalian aku hanya anak kecil!" Ucap Dino dengan nada malas, lalu beranjak di sana, dia merentangkan kedua tangannya dan meletakkannya di belakang kepala. "Lebih baik aku pergi jika pendapat ku tak pernah kalian anggap."
Dino berlaku melewati puing-puing bangunan yang ambruk karena serangan Erix tadi.
Di sisi lain. Mereka terdiam setelah kepergian Dino. Mereka menatap anak itu dengan tatapan cemas di sana.
Lalu helaan napas pelan terdengar dari pemimpin para komandan di sana. "Biarkan saja dia pergi, dia tidak akan membuat kekacauan."
"Aku tidak yakin." Balas wanita tomboi tadi.
"Akupun." Sahur Ex dengan nada lesu.
"Sudahlah, selama moodnya masih baik, dia tidak akan membuat kekacauan, lebih baik sekarang kita cari jalan keluar untuk menghentikan pria itu."
"Kau benar!" Balas wanita tomboi mengiyakan ucapan elf yang menyembuhkan Ex tadi.