tantangan

2040 Words
LaD - tantangan. Dino, dia adalah salah satu komandan paling muda yang ada di antara barisan para komandan lainnya, salah satu orang yang bisa mencapai titik di mana dia bisa mengalahkan puluhan ribu pasukan iblis dengan kekuatannya, dan dia berhasil mencapai prestasi itu di usia yang sangat muda. Siapa sangka, dia yang hanya terlihat sebagai anak kecil nyatanya memiliki kekuatan yang benar-benar mengerikan, bahkan keberadaanya saja sudah membuat ancaman untuk para komandan yang lain. "Aku ingin tahu di mana orang itu berada," kata Dino tiba-tiba, tentu saja dia tidak berkata sendiri, karena setelah dirinya keluar dari ruang pertemuan, sang wakil komandan langsung menghampiri dirinya dan berjalan di belakang tubuhnya. "Baik, saya akan mencari keberadaan orang itu untuk Dian." Dino mengangkat sebelah tangannya. "Tidak perlu, aku sepertinya tahu di mana orang itu berada." "Apa tuan yakin?" "Tentu saja, kau jelas mengenali ku Abraham!" "Tentu tuan. Saya tidak pernah meremehkan kemampuan tuan." "Kau selalu saja pintar membuat suasana hatiku membaik." Ucap Dino yang membuat wajah Abraham salah satu elf dengan tubuh besar itu tersenyum puas. "Aku akan ada sedikit urusan sebentar lagi, jadi urus semua perkejaan ku hari ini." Abraham berhenti seketika ketika mendengar ucapan Dino, pekerjaan yang di maksud oleh komandannya itu adalah setumpuk laporan atas pertempuran yang terjadi antara kerajaan elf dengan para orge beberapa hari yang lalu, dan tentu saja pekerjaan itu adalah hal yang paling membosankan untuk mereka. "Tapi tuan ...." "Tidak ada tapi Abraham! Dan ketika aku kembali nanti, pastikan semua pekerjaan sudah selesai kau kerjakan." "Tu-tuan." "Aku pergi dulu!" Ucap Dino sembari mengangkat sebelah tangannya ke udara, dia benar-benar pergi tanpa mempedulikan Abraham di sana, dengan santainya dia lenggang kaki seolah tanpa beban di sana. Siapa peduli dengan pekerjaan yang membosankan itu, dia hanya ingin segera bertemu dengan orang yang membuat kekacauan di tempat pertemuan tadi, membayangkan kekuatan dari pria itu saja sudah membuat dia girang bukan main. Siapa sangka, setelah sekian lama dia menahan diri karena bosan dengan orang-orang di sekitarnya, dia malah menemukan sosok yang bisa diajak bersenang-senang. Mungkin saja dia bisa membuang kejenuhannya selama ini dengan bermain-main bersamanya. Dia berjalan dengan santai, kedua tangan yang dia letakkan di belakang kepala dengan bibir bersiul santai. Seolah terlihat seperti anak-anak pada umumnya, pakaiannya saja terlihat biasa saja tanpa embel-embel penting di sana. Dia bukan mereka yang selalu ingin menunjukkan penampilan yang luar biasa di mata banyak orang, atau orang-orang yang gila jabatan hingga berpenampilan berlebihan hanya agar terlihat lebih dermawan seperti bangsawan pada umumnya. karena dirinya hanya ingin bersenang-senang dengan kekuatan yang dia miliki. Lalu setelah melangkah cukup jauh, dia dapat merasakan hawa keberadaan dari sosok yang merusak suasana di ruang pertemuan tadi, hawa keberadaan yang masih dia hapal, bahkan aroma dari Erix masih bisa dia cium dengan mudahnya. Di sebuah ruangan yang biasa digunakan sebagai ruang perawatan, apakah Erix ada di sana? Dia mengerutkan kening ketika menyadari hal itu. Jika memang Erix ada di sana, untuk apa? Bukankah pria itu terlihat baik-baik saja? Bahkan dia sama sekali tidak terluka. Untuk memastikannya, Dino menendang pintu yang ada di sana dengan sangat keras hingga membuat pintu itu terpelanting kebelakang. Dia melongok kedalam, lalu seketika kedua keningnya mengerut saat melihat apa yang di lakukan oleh Erix di dalam sana. "Dasar pria m***m!" Desisnya malas. Bukan hanya dirinya yang merasa terganggu, Erix yang masih asik bermanja ria di pangkuan gadis elf yang bernama Fairy melakukan hal yang sama, tapi dia tidak hanya mendesis, melainkan mendengkus tajam ketika menyadari kesenangannya telah diganggu oleh seorang anak yang dengan lancang masuk tanpa permisi. "Anak kecil dari mana ini?" Tanya Erix kepada Fairy, dia mendongak sebentar lalu melihat wajah terkejut dari Gadis elf di sana. "Hey, apa Lo dengerin gue?" Tanya Erix lagi. Tapi sayanganya, Fairy tidak menanggapi ucapan Erix karena keterkejutannya. Merasa diabaikan Erix beranjak dari posisi rebahannya dan memilih duduk di sana, rasanya dia tidak akan tenang jika terus di tempat ini. Gangguan kecil seperti ini akan sering dia dapatkan jika terus berada di tempat ini. Tapi sayangnya, dia juga terlalu nyaman dengan suasana tempat ini, apalagi ada Fairy yang bisa memanjakan dirinya setiap saat, gadis elf yang selalu dia bayangkan sejak dulu dengan segala fantasi liar yang dia miliki. "Apa urusan Lo datang ke sini, anak kecil?" "Anak kecil kau bilang?" "Lah bukannya Lo emang anak kecil?" "Asal kau tahu saja, aku sudah berumur lebih dari seratus tahun jadi lebih hormat lah pada seniormu!" "Bhahha, Lo bercanda? Anak sekecil Lo udah berumur ratusan tahun?" Tentu saja Erix tidak akan percaya dengan kata-kata itu, siapa yang menyangka jika nyatanya Dino memang berusia seratus tahun dengan pengalaman yang memang sudah lebih banyak dibandingkan dengan Erix. Karena pada kenyataannya, ras elf memang memiliki usia yang panjang dan terkenal dengan awet mudanya. Dia memang seusia itu, dan dia tergolong masih muda di banding dengan para petinggi elf yang ada di ruang pertemuan tadi. "Siapa yang bercanda, aku berkata apa adanya." Balas Dino dengan nada santai, setelahnya dia bersandar pada sisi pintu dengan tangan terlipat di depan d**a dan tatapan menyorot tajam kearah Erix. "Konyol! Lo pikir gue bakal percaya?" Tanya Erix lagi, dia masih tidak percaya dengan kenyataan itu. "Mending anak kecil kayak Lo main jauh-jauh gih, jangan ganggu kesenangan gue sama kakak cantik ini." "Anak kecil lagi...." Dino menatap tajam kearah Erix. "Harus berapa kali ku katakan, aku bukan anak kecil seperti yang kau pikirkan!" "Ya, ya, ya ... Terserah Lo aja, mau Lo kakek-kakek, atau nenek-nenek sekalipun, terserah gue nggak peduli. Mending ku cabut aja dari sini, gue males ngeladenin bocah kek elu!" Erix mengibaskan tangannya di udara lalu kembali merebahkan tubuhnya dengan paha gadis elf yang masih diam membisu sebagai bantalan kepalanya. "Gue nggak ada waktu buat ngeladenin bocah macam Lo." Dino benar-benar tertantang. Baru kali ini ada sosok yang sama sekali tidak menghargai dirinya, bahkan dia tidak berpikir jika Erix akan mengabaikan dirinya sepeti saat ini. Sungguh sebuah penghinaan besar yang Dino dapatkan. Namun di sisi lain dia malah merasa tertantang untuk hal ini, seolah dia benar-benar menemukan sosok yang bisa menghibur dirinya. "Anak kecil, bocah? Akan berapa banyak kata lagi yang kau gunakan untuk menghinaku huh?" Tanya Dino dengan suara penuh kemarahan. "Mungkin aku harus memberimu sedikit pelajaran agar kau mengerti di mana posisi mu saat ini!" Lalu seketika suasana di tempat itu berubah mencekam, tepat setelah Dino mengelus aura dan energi sihir di dalam tubuhnya, energi yang membuat Fairy itu bergetar, dan hal itu benar-benar membuat Erix merasa tak nyaman. Padahal dia harus saja ingin beristirahat, tapi selalu saja ada masalah dan masalah yang mengganggu kesenangannya. "Lo...." Erix menahan kalimatnya, lalu kembali beranjak dan memilih duduk di sana. "Lo mau cari masalah sama gue?" "Jika itu bisa membuatmu melihat kearah ku, kenapa tidak." Erix menyapa sejenak pada bocah di depan sana, lalu setelahnya dia menghembuskan napas lelah dan memilih berdiri di dari duduknya. Dia melipat kedua tangannya di depan d**a, tatapannya masih terfokus pada sosok anak kecil yang tingginya saja hanya sebatas dadanya, sosok yang seharusnya tidak menggangu acara kesenangannya sebelum dia benar-benar kesal dan menghancurkan tempat ini. "Apa yang Lo mau?" "Pertarungan." "Apa untungnya buat gue?" "Aku akan memberi apa saja yang kau inginkan jika kau bisa menang melawanku." Jawab Dino dengan nada penuh penekanan. "Uang, kekuasaan dan segala hal yang kau butuhkan." Erix terdiam sejenak, semua hal yang disebutkan oleh Dino sama sekali tidak membuat dirinya tertarik, justru dia malah mendapat sebuah ide dari kejadian ini. "Memangnya Lo siapa? Seolah Lo adalah orang yang berpengaruh di tempat ini." "Aku?" Tanya Dino dengan kerutan di keningnya. "Memang kau tidak melihatku ketika kau menghancurkan ruang pertemuan para eksekutif?" Tanyanya lagi. "Nggak, gue mana sempet ngeliat orang-orang di sana, yang gue butuhin itu informasi, bukan anak kecil macam Lo." Dino menatap tak percaya kearah Erix, lalu setelahnya dia melangkah mendekat dengan tatapan memincing tajam. "Bagaimana kalau kau bisa menang melawanku, aku akan memberitahu mu di mana para orge ditahan?" Pancing Dino santai, sepeti yang Erix katakan, dia hanya membutuhkan informasi bukan? Jadi mungkin dengan hal ini dia bisa memancing Erix untuk segera bertarung melawannya. "Nggak tertarik, gue udah punya informasi di mana keberadaan mereka." Langkah di terhenti seketika, entah kenapa dia merasa jika Erix tidak terpengaruh sekalipun oleh energi sihir yang dia keluarkan, seolah apa yang dia keluarkan bukanlah masalah yang berarti untuk Erix. Padahal energi sihir dan tekanan yang dia ciptakan mampu membuat puluhan ribu prajurit ketahuan karenanya. "Bagaimana jika aku menambah taruhannya." "Makasih gue nggak tert-" "Aku akan membebaskan para orge ketika kau bisa mengalahkan ku." Erix mengatupkan kedua bibirnya lalu menoleh kearah bocah itu cepat. Dia terdiam sejenak, seolah mencerna kata-kata yang diucapkan oleh bocah di hadapannya. "Kasih gue bukti kalo omongan Lo bener adanya." "Aku tidak bisa memberi bukti, tapi mungkin gadis perawat di sana bisa memberitahu siapa aku sebenarnya." Secepat itu juga Erix menoleh dan menatap Fairy yang masih tertunduk takut di sana, jelas saja tekanan yang dipancarkan oleh Dino benar-benar membuat dia tak bisa berkutik ditempatnya. "Fairy, apa Lo tau, siapa sebenarnya bocah kecil nakal itu?" Tanya Erix pelan. "Di-dia adalah tuan muda Dino, salah satu dari anggota eksekutif dan memiliki kedudukan yang cukup tinggi di sana...." Erix langsung terkejut ketika mendengar ucapan itu. Astaga siapa sangka dia akan seberuntung ini. Padahal dia sudah sudah payah menyuruh pemimpin elf untuk mencari informasi tentang para orge, tapi sekarang, dia malah kedatangan tamu yang sepertinya berkaitan dengan para orge yang di tahan. "Wah, jadi apa yang Lo katakan beneran adanya?" Tanya Erix yang masih tak percaya pada kebenaran itu, dia melangkahkan kakinya kedepan, lalu mendekat kearah Dino sembari menatap tubuh bocah di hadapannya itu. "Siapa sangka, padahal gue udah pusing tujuh keliling karena nyari cara untuk ngebebasin para orge itu, tapi Lo sendiri malah datang dan menawarkan sesuatu yang gue butuhkan." "Jadi?" "Asal sesuai janji yang Lo katakan." "Tenang saja aku akan menepati janjiku asal kau bisa mengalahkan ku." "Nggak masalah asal Lo nggak nangis aja setelah kalah nanti." "Apa kau pikir akan bisa menang dengan mudah?" "Kita liat aja nanti." Balas Erix dengan santai, dia terlihat seperti meremehkan sosok Dino dihadapannya, tanpa dia tahu jika Dino adalah sosok anak yang memiliki kekuatan luar biasa di sana. "Jadi di mana kita akan bertarung?" "Yang jelas bukan di tempat ini, aku tidak ingin merusak bangunan ini dan membuat pekerjaan ku semakin banyak nantinya." "Nggak masalah gue akan ikut kemanapun tempatnya." Dino tersenyum tipis melihat reaksi yang diberikan oleh Erix, bahkan dia sedikit heran kenapa Erix sama sekali tidak terpengaruh oleh tekanan yang dia berikan, padahal para eksekutif saja sedikit dibuat kerepotan ketika dia mengeluarkan energi sihirnya dan menciptakan tekanan yang kuat seperti itu, tapi Erix, pria ini Deah memiliki kekuatan yang luar biasa hingga tidak terpengaruh sedikitpun oleh tekanan yang dia keluarkan di sana. "Kita akan pergi ke arena untuk melakukan pertarungan." "Tentu saja, gue nggak masalah di manapun tempatnya." Dino menyeringai tipis, seperti yang dia bayangkan, jika pria ini sangat muda untuk dipancing. Dan sekarang, dia sendiri merasa tidak sabar untuk melawan sosok di hadapannya ini. Dengan senyum yang masih mengambang di sana, dia beranjak pergi dengan pergerakan yang sangat cepat, bahkan pergerakan itu sama sekali tak bisa ditebak oleh Erix. "Ck, malah main petak umpet! Bikin males aja" Desis Erix tajam. Hak semacam iti bukanlah masalah untuk Erix, selama dia masih bisa merasakan energi sihir dari bocah tadi, dia bisa mengikuti dan menggunakan skill teleportasi sesuka hatinya. Dan sepertinya apa yang dilakukan oleh Dino hanyalah untuk menguji kekuatan yang dimilikinya. Bukan masalah bagi Erix. Apa yang diinginkan oleh anak itu akan diikuti oleh Erix. Sedikit melakukan permainan sebelum ke acara inti adalah sebuah kesenangan tersendiri, mungkin mereka akan bersenang-senang setelah ini. Dan Erix bisa menguji kekuatan baru yang baru saja dia dapatkan setelah kesadarannya. Karena setelah sadar dari pingsan, dia merasa kekuatan di dalam dirinya seolah meluap-luap, bahkan tubuhnya terasa sangat ringan karena kekuatan itu. Dan sekarang dia ingin membuktikan secara langsung, sampai mana dirinya berkembang? Karena jika dilihat dari sistem, dia sudah baik level dua kali lipat dari level yang sebelumnya, dan Skill yang dia miliki juga sudah berevolusi menjadi beberapa skill yang belum pernah dia gunakan. Mungkin dia akan melakukan uji coba terhadap skill yang baru berevolusi di sana. Siapa sangka dia akan mendapat keberuntungan seperti ini, sekali dayung dua pulau terlampaui. Sekali melakukan uji coba, dia juga bisa membebaskan para orge itu dan menepati janjinya yang sudah dia ucapkan sebelumnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD