Felisha tersadar, menutup mulutnya, pandangannya masih heran ke arah Sander. “Maaf, Felisha. Aku … aku menginginkan kamu, tapi aku nggak mau membangunkanmu,” ujar Sander, dia memperbaiki handuk di pinggangnya yang hampir lepas. Felisha mengernyitkan dahinya, “Apa maksudmu, menginginkan aku tapi nggak mau aku bangun?” tanyanya. Sander yang gugup kali ini, bingung harus menanggapi pertanyaan Felisha. “Lupakan, Felisha,” desahnya. “Sander—” Sander menghela napas panjang, Felisha mungkin memang benar-benar kaku dan awam tentang kehidupan laki-laki sepertinya. “Oh, ya aku tau. Tapi … ya, aku … aku istrimu.” Felisha menggeleng menyadari kekonyolannya yang menyuruh suaminya pergi dari kamar. Sander tertawa kecil, mungkin malam ini bukan waktunya. “Maafkan aku yang sudah mengganggumu.” “A

