Sudah hampir satu bulan Felisha tinggal di rumah orang tua Sander yang berada di Jakarta, sebuah rumah yang cukup besar dan mewah, tapi lumayan jauh dari kampus tempatnya bekerja. Felisha mengerti apa yang baru saja dialami keluarga Sander, telah kehilangan seorang yang menjadi panutan keluarga besar. Belum lagi kerabat yang mulai menyinggung peninggalan Juan, sebagian dari mereka sudah mulai menanyakan. “Belum empat puluh hari, paman-pamanmu sudah mulai resah nanyain profit perusahaan juga harta-harta papamu,” ujar Rosna, mama Sander. Wanita keturunan Dayak itu tampak menahan geram dan sedih. “Biarkan saja, Ma. Kita serahkan saja semua data harta milik papa ke mereka. Biar mereka saja yang mengurusnya.” “Tidak begitu, Sander. Kamu yang berhak mewarisi semua harta papamu.” “Jika ada p

