Bab 10

1156 Words
Setelah selesai membersihkan rumah yang sangat berdebu itu, Malika segera ke rumah sakit menggunakan angkutan umum. Dia memijat leher serta bahunya karena merasa pegal. “Keterlaluan! Itu rumah atau gua yang sudah ditinggal ratusan tahun? Benar-benar dia tidak pernah di sini apa ya?” gerutu Malika. Semua debu yang ada di rumah itu sangat tebal. Malika sangat capek membersihkannya. Butuh 5 kali mengepel dan 6 kali menyapu supaya semuanya kembali normal. Bahkan perabotannya juga menyita waktu untuk membersihkan semua. Sekarang sudah pukul setengah tiga. Hanya punya waktu singkat mengunjungi omanya. Malika berharap omanya bisa sehat dengan cepat. Malika tertidur di angkutan umum karena lelah sekali. sesampainya di terminal yang lokasinya paling dekat dengan rumah sakit, Malika terbangun kemudian segera turun. Sesampainya di rumah sakit. Malika melihat kakek dan sahabatnya ada di sana. “Opa, bagaimana keadaan oma?” tanyanya. “Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Malika, kemari!” pinta sang kakek. “Ada apa, Opa?” “Dari mana kau dapat semua uang itu?” tanya pria tersebut. “Opa, sudah jangan dipikirkan. Yang penting oma bisa selamat.” “Opa harus tahu kau dapat itu dari mana?” Malika melirik sahabatnya, Tia sendiri hanya bisa mengerutkan bibirnya. “Opa jangan marah ya,” jawab Malika. “Kenapa harus marah?” “Aku sudah menikah.” “Menikah?! Sama siapa?” “Sama seorang pria yang aku sukai. Dia mau membantuku membayar biaya oma, asalkan kami menikah,” jawabnya bohong. “Opa tidak percaya! Selama ini kau tidak pernah berpacaran. Opa tahu, kau ke mana-mana dengan Tia.” Sahabatnya pun membela Malika. “Opa, yang dibilang Malika benar. Dia punya pacar, tetapi belum sempat mengenalkannya ke Opa karena sibuk mengurus Oma.” “Hmm.” Pria itu menghela nafas. “Kenapa kau tidak memberitahukanku?” “Bukannya Opa harus menunggu Oma operasi? Tidak mungkin aku meminta Opa datang ke pernikahanku. Opa tenang saja, aku dan suamiku akan menjalani rumah tangga ini dengan baik.” “Opa mau bertemu dengannya, di mana dia?” “Ada, tapi dia sekarang sedang sibuk. Aku janji akan membawanya menemui Opa.” Malika tersenyum, supaya meyakinkan pada kakeknya kalau dia baik-baik saja. Suster keluar dari ruang khusus dan memanggil kakeknya. Segera Malika bertanya mengenai keadaan neneknya, perawat bilang omanya sudah siuman dan memanggil nama suaminya. Berhubung hanya satu orang saja yang boleh masuk, maka Malika belum bisa menjenguknya. Malika duduk di samping Tia. “Siput! Kau yakin ini jalannya?” tanya Tia. “Keong, aku baik-baik saja. Dia orang baik.” “Kenapa dia harus menikah dengan syarat seperti itu? kenapa mencari wanita yang mau dibayar?” “Keong, ada banyak cara yang ditempuh untuk melakukan sesuatu, termasuk menikah. Dia adalah tipe pria yang sulit mendapatkan wanita mungkin.” “Hah, kau ini baru kenal dia sehari sudah punya banyak informasi tentang dia? pasti kau mengarang cerita.” Malika tersenyum. “Aku akan baik-baik saja. terima kasih sudah menjaga oma dan opaku. Semoga mereka bisa segera pulang biar aku tenang.” “Jadi kau tinggal bersama pria itu mulai sekarang? Apa kau tidak merasa aneh? Dia asing, lho!” Malika tersenyum simpul kecil. “Iya, dia asing. Tapi sekarang dia adalah suamiku.” “Kalau kau kenapa-kenapa, harus segera hubungi polisi.” “Iya, Keong! terima kasih banyak ya!” Tia memeluk sahabatnya yang merasa senang secara palsu. Tia tahu kalau Malika sesungguhnya tidak sebahagia itu. Saat melihat jarinya, dia tidak melihat ada cincin di sana. “Kenapa dia tidak membelikanmu cincin?” “Hahaha, aku tidak mau.” “Aneh.” “Tidak aneh, aku yang tidak mau.” Padahal sesuai isi perjanjian sebelum menikah, memang ada poin yang menyatakan bahwa tidak ada cincin kawin karena Nazmi tidak mau orang lain tahu kalau dia sudah menikah. Setelah melihat jam tangan, ternyata sudah pukul setengah 4. Malika harus pulang. Pamit pada kakek dan sahabatnya. "Kau harus menyuruhnya menemui aku, Malika!" "Iya, Opa! Aku akan minta dia menemui Opa." Malika memeluk opanya. "Kabari aku bisa terjadi sesuatu, Tia harus istirahat, Opa bisa jaga sendiri dulu malam ini?" tanyanya. "Bisa! Aku sudah menyuruhnya pulang, tapi Tia ingin di sini." Malika tersenyum lebar. "Iya, makanya aku minta dia untuk pulang dulu." Malika merangkul sahabatnya. "Pulang saja sekarang, aku bisa menjaga nenekmu," sahutnya sedikit kesal. "Opa marah karena aku menikah diam-diam?" "Jelas! keluargamu tinggal kami saja, tetapi kau malah menyisihkan kami." "Tidak, Opa. Aku butuh uang cepat, dia bisa berikan dengan syarat menikah." "Kau jual dirimu sendiri namanya," sahut pria itu. Malika terdiam, memang tidak ada bedanya. Malah kalau dalam kategori menjual, itu terlalu murah untuk setahun. Akhirnya mereka berdua pamit dan jalan bersama ke tempat parkir.. Tia berniat mengantar Malika sampai ke rumah. Tia ingin tahu rumah tempat tinggalnya sekarang. Begitu tiba di rumah Nazmi, Tia terbengong. "Wah, dia tinggal di sini?" tanya kagum pada rumah yang punya halaman luas. "Iya, tapi dia biasanya tidak tinggal di sini. Dia merantau ke sana ke mari." "Hmm, jadi sekarang tetap begitu?" "Enggak juga, dia bahkan ada rencana mau pindah." "Aaah, Siput! Jadi kau mau pindah?" rengek Tia. Malika memeluknya. "Aku melakukan ini demi kebaikan oma. Utangku padamu akan aku lunasi. Aku bayar setengah dulu ya," katanya. "Nanti aja, Siput. Aku masih belum butuh uangnya." Malika menggeleng. Setengahnya cukup untuk pegangan aku selama di samping pria itu. Aku akan mencari kerja lagi untuk melunasinya." "Malika, apa kau tidak dinafkahi? Apa ini seperti sebuah permainan belaka?" tanya Tia. Malika tersenyum, menghibur temannya dan tidak akan mengatakan isi kontrak itu padanya. "Aku kerja sebagai tambahan melunasi utangmu, Keong." "Andai utangmu membuat sulit, aku bisa anggap lunas." "Tidak Tia. Kau tidak boleh berkata seperti itu. Aku bisa melunasinya, tenang saja." Tia tersenyum padanya. "Kau masih menutupi sesuatu dariku, kuharap kau mengatakannya padaku." Malika tertawa kecil, "Ada-ada saja, kau terlalu banyak berkhayal. Kau mau mampir?" "Lain kali saja, aku mengantuk." "Terima kasih atas jasamu menjaga oma dan opa." "Mereka juga keluargaku." Malika turun setelah mengambil tasnya. Lambaian tangan ringan menyertai kepergian Tia dari rumah itu. Malika merogoh kunci dan segera membuka pintu pagar, lalu menguncinya lagi. Malika melihat ada beberapa bunga mawar yang sedang mekar, cantik sekali. Dia petik untuk hiasan meja. Malika masuk ke dalam rumah dan menyalahkan lampu. Betapa terkejutnya Malika melihat orang yang ada di kursi panjang ruang tamu. Dalam kondisi gelap, Dia tidak melihat siapa-siapa, tetapi saat penerangan dinyalakan, sangat jelas di depan matanya Nazmi sedang bermain dengan seorang wanita. Malika menunduk, melanjutkan perjalanan sampai ke kamarnya. Tangan yang menggenggam tangkai mawar itu pun tertusuk duri, tapi Malika tidak merasakan sakit sama sekali sebab hal yang dilihatnya jauh lebih mengejutkan dan membuat sok sampai ke ubun-ubun. Nazmi melihat wanita itu masuk dan menatap ke arahnya, tetapi dia tidak menggubrisnya dan menikmati masa kebersamaannya dengan kekasihnya. Malika berdiri di balik pintu kamar, terdiam, terbodoh dan membatu. Ini hari pernikahannya, belum pun berlalu 24 jam, tetapi dia malah melihat suaminya berdua dengan wanita lain. Malika melihat tangannya berdarah, seolah mati rasa saraf yang ada di sana, tidak sakit sama sekali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD