Malika menaruh mawar tadi di atas meja, tergeletak begitu saja kemudian masuk ke kamar mandi dan mencuci wajahnya. Untuk dirinya yang tidak ingin disakiti, ternyata awal pernikahan ini sudah sangat membuatnya teriris. Bukan karena dia suka pada Nazmi, tapi karena rasa tidak sangka tentang seorang pria yang penuh kebohongan.
Bohong? Menurutnya tidak, hanya dia saja yang belum tahu bagaimana kehidupan Nazmi sebelum dirinya hadir di sini. Malika menatap dirinya sendiri di cermin. Merasa kasihan, tersenyum sendiri.
"Baiklah, aku mungkin bisa anggap pernikahan ini tidak ada. Aku di sini hanya bayaran, lebih tepatnya pelayan Tuan Nazmi Agam. Aku tidak akan berpikiran bahwa aku istrinya, ciih! Terlalu sombong bila mengakui status itu, nyatanya aku juga tidak sudi punya suami sepertinya."
Tidak lama kemudian, Farrel menghubungi Malika, pria itu tidak ingin menjawabnya. "Mereka sama saja! Aku kira abangnya bisa lebih baik, nyatanya justru lebih tidak manusiawi. Aku tidak akan menjawab panggilan darimu, Farrel!" gerutunya sambil menatap layar ponsel.
Setelah dua jam kemudian.Seseorang mengetuk pintu kamar Malika, wanita yang sedang membaca buku itu pun langsung bergerak membukanya. Nazmi ada di hadapan dengan posisi setengah menunduk.
"Aku mau pergi, kau kalau mau makan, makan saja sendiri. Apa yang ada di dapur, kau bisa makan."
"Mmh," angguknya menunduk.
Wanita yang bersamanya tadi tersenyum melihat ke arah Malika. "Jangan kau kira setelah menikahinya, kau bisa menguasai Nazmiku," sahutnya dari jauh.
Malika diam saja. "Hati-hati di jalan, Bang!" ucapnya pelan pada pria yang masih berdiri di sampingnya.
"Ya, terima kasih."
Malika melihat pria itu berpaling dan dirangkul oleh wanita tersebut. Memang saat dia melihat Nazmi berdua dengan wanita itu tadi, mereka masih pakai baju. Mungkin baru berniat dan melakukan pemanasan, tapi Malika malah pulang, tetap saja pikirannya menganggap kalau mereka akan melakukan lebih dari itu.
Malika keluar dari kamar setelah beberapa menit kemudian, berjalan menuju dapur. Membuka kulkas dan melihat isinya. Saat tadi dia membereskan rumah, di dapur tidak ada apa-apa. Kini sudah ada beberapa bahan makanan yang bisa digunakannya sebagai perlengkapan memasak.
Setelah selesai, Malika makan di ruang tv. Begitu ingat kalau sofa itu baru dipakai oleh mereka, wanita itu cepat-cepat pindah kemudian mencari siaran yang sesuai dengan keinginannya.
Panggilan masuk ke ponselnya, dari supervisor kafe tempatnya bekerja. Pria itu marah-marah karena Malika tidak masuk kerja tanpa alasan.
"Kau bosan kerja, huh?!'
"Maaf, Pak. Maaf, aku akui aku salah."
"Kau masih mau kerja atau tidak?"
"Masih, Pak! Aku mau kerja."
"Besok, kalau mau tidak masuk, aku akan memecatmu!"
Panggilan itu berakhir secara sepihak. wajah Malika mengernyit kaget, mendengar suara pria yang selama ini tidak pernah marah membuatnya bingung. "Seram juga dia marah, aku kira dia tidak bisa marah." Malika menaruh ponselnya lagi ke atas meja dan melanjutkan makannya.
Beberapa jam kemudian, Malika yang tertidur pulas setelah makan, tiba-tiba terbangun mendengar suara mobil masuk ke halaman rumahnya. Tadi ketika Malika kembali dari rumah sakit, mobil itu tidak ada makanya tidak menyangka kalau di rumah ada orang.
Ting tong!
Nazmi membunyikan bel, Malika segera membukanya dan melihat pria itu berdiri dengan wajah cemberut. Tanpa menyapanya, Nazmi langsung masuk sampai ke kamar.
Malika ingin bicara padanya, minta izin kerja mulai besok. Namun, melihat ekspresinya tidak enak, Malika mengurungkannya sesaat selama 10 menit. Malika mengetuk pintu kamar sambil membawa teh untuknya.
Tok. Tok.
"Bang, sudah tidur?" tanyanya.
Nazmi mendengarnya dari dalam kamar. Pria itu masih duduk di kursi sambil melihat ponselnya. Mendengar suara Malika memanggil, kepalanya hanya menggeser sedikit ke arah pintu.
"Mau apa dia? Minta jatah?" tanyanya.
Nazmi melangkah lemah, membuka pintu dan bersandar di dinding. Pria itu melihat wanita yang kini menjadi istrinya itu datang membawakan teh.
"Bang, aku buat teh untukmu. Sekalian juga aku ingin minta izin kerja besok."
Nazmi tersenyum dalam hati. Dugaannya salah, pria itu menggerakkan lidahnya ke pipi kanan. "Sudah kubilang, kau tidak perlu minta izin. Kau hanya harus sudah pulang jam 6 sore."
"Mmh, boleh aku tahu, sebenarnya tugasku di sini saat malam hanya membuatku makanan saja kan? Pagi juga sarapan kan?" tanyanya polos.
"Apa kau mau lebih?" tanya Nazmi menyipitkan mata.
Malika menggerakkan tangannya. "Ahaha, tidak itu saja. Setidaknya aku harus bisa memastikan agar tidak salah."
"Yah, kalau aku mau, kau juga jangan marah. Bukannya kau istriku?" tanya Nazmi.
Malika menelan ludah. "Ini teh Abang, aku mau tidur dulu," jawabnya melenceng dari pertanyaan suaminya.
Nazmi mengambilnya kemudian melihat Malika lari ketakutan. Pria itu sontak tersenyum dan membawa masuk teh yang diberikannya.
Nazmi duduk, menatap teh itu juga semua ruangan yang kirim sudah bersih. Bahkan di meja yang saat ini ada di depannya tidak ada debu sedikit pun. Sedikit demi sedikit, teh itu pun dia minum. Matanya terbelalak, aroma teh itu mengandung bunga mawar.
"Bunga dari mana?" tanyanya bingung.
Sekilas dia mengingat kalau saat Malika pulang, ditangannya ada bunga mawar. Spontan Nazmi merasa tidak enak hati pada Malika karena melihat hal yang tidak seharusnya dilihat.
"Aah, sudahlah! Dia juga tahu kalau pernikahan ini hanya sementara. Dikontrak juga tertera bahwa aku tidak akan mencintainya."
Nazmi mengabaikan keinginan hatinya untuk menjelaskan tentang wanita yang bersamanya tadi. Tidak berapa lama kemudian papanya menghubungi, Nazmi menjawabnya dengan malas.
"Hmm, ya Pa?"
"Besok kau harus ke rumah. Pertunanganmu tidak boleh ditunda. Dia adalah wanita kaya raya yang bisa membuat bisnis kita semakin sukses."
"Oke, aku akan datang."
"Kita akan bicarakan masalah acaranya, mamamu juga akan ikut memilihkan tempat serta makanan yang akan dipesan."
Nazmi tersenyum miring. "Ya, aku datang."
Panggilan diputus oleh Nazmi, membuat papanya terkejut dan geleng kepala. "Anak itu, keterlaluan sekali! Berani-beraninya menyambut teleponku dengan sangat dingin."
Istrinya menanyakan informasi lebih pada suaminya. "Dia mau datang?"
"Mau, tapi sikapnya sangat tidak sopan. Berbeda sekali dengan Farrel."
"Hmm, sabar. Mama kan sudah bilang kalau perusahaan itu tidak perlu diberikan pada Nazmi, lebih baik pada Farrel."
Pria itu masih ingin Nazmi yang mengurusnya karena dia tidak percaya pada potensi Farrel. Meski selama ini Nazmi tidak menjalani perusahaan miliknya, tetapi papanya yakin kalau Nazmi bisa hanya saja keras hati dan ingin menjalani hobinya tanpa memikirkan masa depan.
*
Malika yang baru saja membersihkan tubuh sebelum tidur, sedang duduk di depan cermin. Mengambil beberapa skincare rutin malamnya kemudian mengoles lembut ke wajah. Pelembab bibir beraroma stroberi dioleskan dan terakhir dia menyemprotkan parfum.
"Habis?" katanya sambil merasakan percikannya sudah tidak ada lagi. Malika membuang botolnya ke tong kemudian mengambil lotion tubuh saja sebagai pengganti parfum.
Malika sangat suka mempersiapkan diri dengan keharuman yang bisa membuatnya tertidur nyenyak. Masih merasa kurang harum, akhirnya parfum bayi yang ada di tasnya menjadi pilihan terakhir untuk dipakai.
"Dah, siap! Saatnya tidur!
Malika berjalan menuju tempat tidur, begitu kaki kanannya naik, pintu kamarnya diketuk seseorang.
"Eeh, siapa itu? Nazmi? Mau apa dia?" Malika mengerutkan muka seperti jeruk purut. Kaki yang sudah berada di atas, diturunkannya dan berjalan takut-takut membuka pintu.
Celah yang terbuka hanya sedikit, cukup untuk kepala dan bahu kirinya saja. Malika bertatapan dengan Nazmi.
"Keluarlah, aku ingin bicara."
"Mmh, iya, Bang."
Malika mengikutinya sampai ke sofa, duduk di sampingnya sesuatu arahan Nazmi. Malika mengambil bantal dan menaruhnya di pangkuan, menunggu pria itu berbicara.
Kening berlipat Nazmi perlahan rapi karena menghirup aroma parfum bayi dan lotion yang dipakainya. Menenangkan.
"Besok, kau akan aku ajak ke rumah orang tuaku."
"Huh?! jam berapa?"
"Siang."
"Si-siang?"
"Iya, kenapa?"
"Aku kerja, Bang."
Nazmi menghela nafas. "Aku menikahimu karena aku menolak perjodohan dari keluargaku," jelasnya.