bc

Belenggu Rasa

book_age16+
0
FOLLOW
1K
READ
contract marriage
HE
age gap
fated
opposites attract
second chance
friends to lovers
arranged marriage
kickass heroine
boss
drama
sweet
bxg
city
office/work place
polygamy
like
intro-logo
Blurb

Akibat putus cinta di bangku SMA, Nasya sulit untuk membuka hati lagi. Bahkan, kesendiriannya berlanjut hingga ia lulus kuliah. Orangtua Nasya tak ingin anak gadisnya itu terus menyendiri. Hingga mereka pun mencarikan seorang lelaki untuknya. Bukan hanya sekadar pendekatan saja. Nasya dipaksa langsung menikah dengan lelaki pilihan orangtuanya. Tidak hanya Nasya yang tersiksa. Edwin, lelaki berusia 30 tahun ini merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Nasya. Ia dipaksa menerima perjodohan antar keluarga dengan dalih bisnis. Rupanya, waktu menumbuhkan perasaan Edwin kepada Nasya. Namun nyatanya, perasaan Nasya masih terbelenggu kepada Zayn, mantan kekasihnya yang membuat dirinya hampir tak percaya akan cinta lagi. Akankah Edwin mampu meluluhkan Nasya?Ataukah Nasya selamanya akan terbelenggu pada cinta lamanya? Lantas, kenangan apa yang diciptakan Zayn hingga membuat Nasya hampir tidak percaya akan cinta lagi?

chap-preview
Free preview
-Prolog-
“Lo mau ke mana lagi?” pertanyaan itu keluar dari mulut seorang lelaki bertubuh jangkung, berusia 27 tahun yang sedang duduk di sofa ruang tengah rumah berlantai 2 miliknya. Ia bernama Edwin. “Bukan urusan lo kali,” sahut di penerima pertanyaan. Nasya namanya. Gadis yang baru saja selesai menuruni anak tangga dengan menenteng sebuah kunci mobil di tangannya. “Lo nggak lihat ini sudah jam berapa?” tanya Edwin lagi. Dengan nada dingin, tanpa menatap Nasya sedikitpun. Dengan nada kesal, Nasya bertanya kembali kepada lelaki itu, “Memangnya gue buta?!” Dengan gerakan yang tenang, Edwin meletakkan ponsel yang sedari tadi menjadi pusat tatapannya. Ia pun berjalan menuju pintu utama. Ditariknya kunci dari pintu itu lalu ia berjalan melewati Nasya. “Gue mau ketemu sama teman-teman gue loh, Ed!” ucap Nasya, masih dengan nada kesalnya. “Kayak nggak ada hari lain aja,” sahut Edwin dengan nada santai dan terus melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya. “Bukannya kita sudah sepakat, ya?” tanya Nasya sembari menatap punggung Edwin yang terus saja melangkah itu. “Kalau kita nggak akan mengganggu privasi masing-masing walaupun sudah menikah, Ed!” ucapnya dengan nada nyaring. Nyatanya, meskipun Nasya sudah berteriak, Edwin tidak menggubrisnya. “Edwin!” teriak Nasya lagi. Sembari berharap kalau lelaki itu mendengarkannya. Namun nyatanya, Edwin benar-benar tidak menggubrisnya. Nasya yang kesal pun, ia berjalan menuju sofa yang tadi diduduki oleh Edwin. Kemudian, ia menghempaskan tubuhnya di sana. Nasya mengabari teman-temannya melalui chat bahwa malam ini ia benar-benar tidak bisa untuk berkumpul. Helaan napas yang panjang pun berhasil lolos dari mulut Nasya – sesaat setelah ia mengabari teman-temannya itu. Senyuman Nasya seketika mengembang dengan sempurna. Tatkala ia mendapati ponsel milik Edwin masih berada di meja yang terletak tepat di hadapannya. “Gue umpetin HP lo ini baru tahu rasa,” ucap Nasya dengan nada pelan. Sembari ia menarik benda persegi panjang itu. Ketika Nasya hendak menyembunyikan ponsel milik Edwin itu, sang pemiliknya pun datang dan langsung melayangkan tatapan tajam ke arah Nasya. “Apa?!” tanya Nasya dengan nada ketus. “Lo kemanain HP gue?” tanya Edwin. “Mana gue tahu!” jawab Nasya. “Jangan bohong deh! Gue tadi tinggalin di sini ya!” kesal Edwin. “Lo ‘kan sudah tua, siapa tahu lo lupa narohnya,” sahut Nasya dengan santai. “Seriusan ini, Na. Kerjaan gue belum selesai,” ucap Edwin sembari menggeledah bantal-bantal yang ada di sofa. “Mau gue bantuin nyari nggak?” tanya Nasya sembari menatap Edwin yang nampak sudah frustasi. “Pasti lo mau ngajuin syarat,” sahut Edwin. “Gue bisa nyari sendiri kalau gitu!” sambungnya. “Belum apa-apa, sudah negative thinking aja sama gue,” sinis Nasya. Kemudian, ia berjalan meninggalkan Edwin yang sibuk menggeledah seisi ruang tamu itu untuk menemukan ponselnya. Sembari tersenyum penuh kemenangan, Nasya berjalan menuju lantai 2 rumah itu. Yang mana, di sana hanya ada 1 kamar yang mau tidak mau harus ditempati bersama oleh sepasang suami-istri itu. Setibanya di kamar, Nasya meletakkan ponsel milik Edwin ke atas nakas samping tempat tidur. Bertepatan dengan itu, ponsel milik Edwin berdering, menandakan sebuah panggilan masuk di sana. Nasya buru-buru keluar dari kamar dan berdiri di ujung anak tangga paling atas. “HP kamu bunyi tuh, Ed! Ada yang nelfon!” teriak Nasya. “Loh? Di mana?!” tanya Edwin sembari bergegas menaiki anak tangga. “Di kamar tuh!” jawab Nasya. Edwin bergegas masuk ke kamar. Tanpa ia sadari, kunci pintu utama sudah ada di tangan Nasya. Kapan Nasya mengambil alih itu? Tentu saja ketika Nasya masuk ke kamar. Karena, Edwin meletakkan kunci itu di atas nakas. Tepat di mana Nasya meletakkan ponsel milik suaminya itu. Nasya bergegas ke lantai 1, ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia langsung keluar dari rumah, menyalakan mesin mobil swift berwarna merah muda miliknya, kemudian ia melajukan mobilnya itu. “Benar-benar seribu akal perempuan satu itu,” gumam Edwin ketika ia mendengar suara mobil meninggalkan pekarangan rumah. Yang pasti, dirinya tahu siapa pemiliknya. “Awas aja lo nanti,” sambungnya. *** “Cel, gue salah lihat nggak sih?” “Iya, ya? Bukannya dia tadi bilang di grup chat kalau nggak bisa datang?” “Jangankan heran lagi. Anak itu pasti punya cara biar bisa keluar rumah.” Perbincangan itu diciptakan oleh 3 orang sahabat Nasya yang terkejut ketika melihat Nasya memasuki bar tempat mereka berjanji untuk berjumpa. Ia adalah, Marcel, Ryuka, dan Sheren. “Kenapa dengan ekspresi itu? Kayak kaget lihat Kuntilanak aja,” heran Nasya sesaat setelah dirinya duduk di samping Marcel. “Lo kabur dari rumah, Na?” tanya Ryuka. Gadis tomboy yang duduk di seberang Nasya. “Sejak kapan juga Nasya bisa kabur dari rumah?” timpal Sheren, gadis yang memiliki penampilan terbalik dengan Ryuka. “Gue nggak kabur, Guys! Gue cuman pergi diam-diam aja,” sahut Nasya. “Lagaknya mulai pintar nih perempuan satu,” gerutu Marcel sembari menyodorkan segelas jus jeruk ke hadapan Nasya. “Jangan pelit dong, Cel! Sementang lo yang punya bar ini. Gue cuman kebagian jus jeruk!” kesal Nasya. “Bukannya apa-apa, Na. Gue lebih takut kena marahin Bokap lo dibandingkan kena cut off sama lo,” sahut Marcel. Meskipun protes, Nasya tetap menyambut gelas yang disodorkan oleh Marcel. Ia meminumnya sedikit sebelum meletakkannya di atas meja hadapannya. “Gimana caranya lo kabur, Na?” Ryuka melayangkan pertanyaan lagi. “Nggak perlu kalian tahu. Nanti kalian tiru lagi,” ledek Nasya. “Jangan macam-macam lo, Na. Baru juga seminggu nikah,” tegur Sheren. “Ingat, ya! Gue nikah sama manusia satu itu bukan karena cinta. Tapi karena dijodohin sama orangtua gue!” kesal Nasya. “Makanya, Na. Jangan kelamaan jomblo. Akhirnya kena jodohin, ‘kan?” ledek Marcel. “Lagian, move on dari Pulu-Pulu aja kayak move on dari artis Korea kesukaan lo aja, Na,” timpal Sheren. “Kalian nggak akan tahu gimana rasanya kalau kalian nggak merasakannya sendiri,” sahut Nasya. “Jangan serius dong, Na. Kami cuman mau hibur elo,” cucap Ryuka. “Lagian, ya. Kalaupun ujung-ujungnya gue bakalan diceraikan sama Edwin. Gue kayaknya nggak akan sepatah hati waktu dia putusin gue deh,” ucap Nasya. “Heh! Kalian ada bikin perjanjian cerai? Kayak di film-film itu?!” tanya Sheren seraya membelalakkan matanya – menatap tajam ke arah Nasya. “Makanya kalau gue ngomong tuh disimak!” kesal Nasya. “Kan tadi gue bilang ‘kalaupun’. Artinya kalau-kalau hal itu terjadi suatu saat nanti,” ujarnya. “Tapi, menurut gue kalian berdua tuh mirip, Na. Katanya ‘kan kalau mirip itu jodoh, ya?” ucap Marcel. Baru saja Nasya hendak menyahut ucapan Marcel, ponselnya yang sedari tadi ia letakkan di dalam tasnya kini berdering tanda sebuah panggilan masuk di sana. Nasya bergegas mengeluarkan benda itu dari dalam tasnya. Ia yang semula mengira itu adalah panggilan dari Edwin, rupanya ia salah. Panggilan itu dilakukan oleh Papanya. “Papa gue nelfon!” ucap Nasya dengan nada panik. “Gue keluar dulu!” sambungnya sebelum bergegas keluar dari bar itu.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.7K
bc

TERNODA

read
201.6K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
3.6K
bc

Kali kedua

read
221.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.2K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.6K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook