Nasya kembali masuk ke dalam bar. Bukan untuk kembali duduk. Melainkan untuk mengambil tasnya.
“Loh! Mau ke mana lo?” heran Ryuka ketika melihat Nasya bergegas menarik tasnya.
“Bokap gue hampir ngamuk pas tahu gue jam segini masih nongkrong!” jawab Nasya dengan nada kesal.
“Lo bilang nggak kalau lo baru keluar?” tanya Sheren.
“Bilang,” jawab Nasya lagi.
“Terus, respon Bokap lo apa?” tanya Marcel.
“Pulang! Sudah bersuami juga! Masih saja kelayapan!” Nasya mempraktikkan nada bicara Papanya saat di telfon tadi. “Gue duluan ya! Keburu ditelfon lagi nanti," pamitnya.
Nasya pun bergegas berjalan keluar dari bar itu. Ia benar-benar pulang sekarang. Dengan raut wajahnya yang nampak sekali bahwa ia sangat kesal.
Bukan hanya karena sang Papa memarahinya. Tetapi juga karena ia berpikir bahwa Edwin lah yang sudah mengadu.
“Awas aja lo, Edwin!” kesal Nasya sembari memukul setir mobilnya.
Tidak lama kemudian, Nasya tiba di rumah. Keheningan yang ia rasakan di sana. Bahkan, lampu-lampu sudah dimatikan oleh Edwin. Hanya tersisa cahaya temaram yang membuat Nasya melangkah dengan pelan agar tidak tersandung.
“Kolot banget jadi manusia. Baru juga jam 11 malam. Sudah tidur aja,” gumam Nasya sebelum ia masuk ke dalam kamar.
Setibanya di kamar, Nasya tidak menemukan adanya Edwin. Malahan, ia menemukan ruangan itu terang-benderang. Yang mana, biasanya Edwin selalu tidur dengan keadaan semua lampu dimatikan.
“Ke mana pula orang itu?” gumam Nasya lagi.
Mulanya, Nasya tidak menghiraukan hal itu. Namun, setelah ia selesai berganti pakaian dan membersihkan diri. Ia mulai kepikiran. Perihal ke mana perginya Edwin. Padahal, Nasya dengan jelas melihat adanya mobil Edwin di garasi tadi.
Nasya pun keluar dari kamar dengan membawa tumblr kosong yang memang biasanya selalu ada di kamar untuk berjaga kalau-kalau ia haus di malam hari.
“Kalau Edwin nanyain ‘kan gue jadi punya alasan,” batin Nasya.
Ketika Nasya memasuki dapur, ia dikejutkan dengan keberadaan Edwin yang sedang menyeduh kopi di sana.
“Jam segini malah bikin kopi, ya,” tegur Nasya.
“Kapan lo pulang?” tanya Edwin.
Mendengar pertanyaan itu, Nasya teringat akan kekesalannya tadi. “Jangan sok nggak tahu deh!” kesalnya.
“Nggak tahu apa?” tanya Edwin yang nampak keheranan dengan sikap Nasya yang mendadak kesal padanya.
“Pasti elo ‘kan yang ngadu ke Papa gue kalau gue kelayapan malam-malam?” tanya Nasya.
“Gue aja dari tadi di ruang kerja, Sya. Ada urusan kantor yang harus gue selesaikan,” sahut Edwin.
“Bohong aja lo! Dasar tua!” kesal Nasya. Kemudian, ia meninggalkan tumblr miliknya di atas meja makan. Bahkan, ia tidak sempat mengisi benda itu.
“Pasti ini kerjaan Papanya sendiri yang mata-matain anaknya. Ujung-ujungnya ngambek ke gue,” gumam Edwin.
***
Nasya dengan sengaja pergi dari rumah pagi-pagi sekali. Bahkan, sebelum Edwin bangun, ia sudah dengan pakaian rapinya menuju kedai kopi miliknya sendiri.
Sejak masih kuliah, Nasya memang sudah meminta kepada kedua orangtuanya untuk membukakan kedai kopi. Setelah lulus, ia sudah memiliki dua cabang kedai kopi dan 1 kedai pusat. Yang berarti, ia sudah memiliki tiga kedai kopi sekarang.
Yang artinya, jika pergi diam-diam begini, maka Edwin akan bingung ke mana ia akan menghampiri Nasya.
“Untung aja manusia itu kalau alarm-nya belum bunyi, dia nggak akan bangun,” gerutu Nasya. Sesaat setelah ia tiba di kedai kopinya.
Hanya beberapa saat setelah Nasya setelah prepare. Ponsel yang sedari tadi ia letakkan di atas meja kasir pun berdering. Menandakan sebuah panggilan masuk di sana.
Nasya melihat sang Papa lah yang menelfonnya. Ia bergegas menerima sambungan telfon itu.
“Kenapa, Pa? Pagi-pagi Papa nelfon aku.”
“Soal semalam, Papa lupa bilang sesuatu sama kamu.”
“Bilang apa?”
“Papa mau tebak dulu. Pasti, semalam kamu mengira kalau Edwin yang ngadu ke Papa kalau kamu jalan-jalan sama teman kamu malam-malam, ‘kan?”
“Siapa lagi yang ngadu kalau bukan dia, Pa?”
“Ada anak buah Papa yang lihat kamu di sana. Yang memang, Papa pesani kalau lihat kamu keluyuran sendiri, segera laporan ke Papa.”
“Kenapa harus segitunya banget sih, Pa? Lagian, kami menikah belum ada sebulan. Aku masih harus beradaptasi. Aku pergi semalam pun karena sejak pesta pernikahan, aku nggak ada kumpul sama mereka.”
“Setidaknya kamu tahu waktu, Nak. Kamu sudah bersuami. Nggak baik dilihat orang kelayapan hampir tengah malam gitu.”
“Aku pergi lambat juga karena ditahan-tahan sama Edwin. Nggak dibolehin pergi aku sama dia, Pa. Kalau nggak pergi diam-diam, nggak akan pergi semalam.”
“Tuh! Parah banget ya kamu! Sudah dilarang sama suaminya. Malah pergi diam-diam!”
“Kok Papa malah marahin aku sih? Ah sudahlah! Memang Papa nggak sayang aku lagi!”
Dengan kesalnya, Nasya memutuskan sambungan telfon itu secara sepihak.
Di satu sisi, ia merasa bersalah karena sudah menuduh Edwin dengan hal yang ternyata Papanya sendiri lah pelakunya.
Di sisi lain, ia berbalik kesal kepada Papanya sendiri karena sebegitunya mengawasi dirinya.
Saking kesalnya, Nasya sampai melempar kanebo yang sedari tadi masih berada di tangannya.
“Wih! Pagi buta begini sudah prengat-prengut aja wajah lo,” ujar Sheren yang baru saja memasuki kedai.
“Ngapain lo ke sini?” tanya Nasya, tanpa memudarkan raut wajah kesalnya.
“Kan kantor gue lewatin tempat lo ini, Na,” sahut Sheren. “Lo sendiri kenapa tumbenan jam segini sudah di sini?” tanyanya.
“Gue lagi hindarin Edwin,” sahut Nasya. “Lo kalau mau kopi, bikin sendiri, ya. Gue males bikinin,” sambungnya mengalihkan pembicaraan.
“Tapi , lo sambil cerita, ya?” pinta Sheren.
Nasya mengangguk, kemudian ia mulai menceritakan kesalahpahamannya kepada suaminya semalam.
“Kayaknya lo memang harus dengerin apa kata Bokap lo, Na,” ucap Sheren. “Jangan kebanyakan keluyuran. Takutnya, lo nggak sengaja ketemu sama Zayn,” sambungnya.
“Maksud lo?!” tanya Nasya yang terbelalak kaget ketika ia mendengar nama itu disebut oleh Sheren.
“Jujur aja, gue masih penasaran dengan Zayn setelah dia mendadak pergi dan putusin hubungan sama lo. Empat tahun ini, gue punya second account sosial media untuk ikutin sosial media dia. Kemarin, dia update story kalau dia baru landing di bandara sini,” ungkap Sheren panjang lebar.
Sheren juga menunjukkan kepada Nasya hasil jepretan layar yang kemarin ia ambil.
“Semuanya adalah masa lalu, Na. Jangan lo pikirkan lagi. Toh, sekarang lo sudah punya Edwin, ‘kan?” Sheren menenangkan.
Namun hal itu tidak mampu untuk menahan tangisan Nasya. Ada perasaan yang mendadak hadir menyesakkan dadanya. Perasaan yang bahkan, ia sendiri pun bingung kenapa hadir kembali setelah hampir 6 tahun berlalu.
“Sudah, Na. Jangan lo ingat-ingat lagi kenangan nggak berguna itu,” ucap Sheren. “Gue juga lakukan ini untuk cari tahu ke mana aja dia pergi selama ini,” sambungnya. “Meskipun, sampai detik ini pun gue masih heran. Hal apa yang membuat lo sebegini susahnya move on dari Zayn,” batinnya.