-Permintaan Maaf-

1091 Words
Waktu baru menunjukkan pukul 10 pagi. Dengan mata sembabnya, Nasya pulang ke rumah. Mulanya, ia tidak menyadari bahwa mobil Edwin masih terparkir rapi di garasi. Nasya baru menyadari hal itu ketika ia memasuki rumah. Sebab, pintu tidak dikunci. “Apa-apaan sih Edwin ini? Pintu sampai nggak dikunci!” kesal Nasya. “Datang-datang sudah ngomel aja,” tegur Edwin yang sedang duduk di sofa ruang tamu. “Loh? Lo nggak ke kantor?” tanya Nasya. Kemudian, ia duduk di samping Edwin. “Lo nggak lihat kalau gue lagi kerja nih?” tanya Edwin kembali. Sembari ia menunjukkan layar ipad-nya. “Perasaan, pertanyaan gue bukan itu tadi,” gumam Nasya. Edwin bergegas meletakkan ipadnya ke atas meja yang ada di hadapannya – ketika ia baru menyadari mata Nasya yang sembab itu. “Lo kenapa? Habis nangisin apa?” tanyanya seraya meraih tangan Nasya. “Yakali gue jujur sama manusia ini kalau gue habis nangisin mantan gue itu!” batin Nasya. “Heh! Malah melamun!” tegur Edwin. “Tadi Papa telfon gue,” ucap Nasya. “Lo dimarahin Papa lagi?” tanya Edwin yang masih setia menggenggam tangan Nasya. Nasya menggeleng, kemudian ia mengatakan seluruh percakapan dirinya dengan Papanya di telfon beberapa jam yang lalu. “Maaf ya, Ed. Gue sudah beprasangka buruk ke elo,” sesal Nasya. “Masa cuman karena itu lo nangis sampai sembab gini matanya?” tanya Edwin. Seolah dirinya tidak percaya dengan apa yang dijelaskan Nasya. “Yasudah kalau lo nggak percaya! Awas lo kualat sama yang lebih muda!” kesal Nasya. Kemudian, ia menarik tangannya dari genggaman Edwin, dan melipatnya di depan d**a. “Diterima ataupun enggak permintaan maaf gue tadi, yang penting gue sudah minta maaf!” ujarnya lagi. Kemudian, Nasya pun beranjak dari tempat duduknya, lalu ia pun berjalan menuju kamarnya. Edwin hanya bisa tersenyum tipis sembari terus menatap punggung Nasya yang semakin menjauh dari dirinya. “Apapun itu, gue akan tetap setia sama lo, Na.” *** Nasya tersentak, tanpa ia sadari ia tertidur sejak satu jam yang lalu. Mulanya, gadis ini menatapi sekitarnya. Ia merasa ada yang aneh di sana. Hingga pandangannya terhenti pada satu titik di mana ada Edwin yang sedang duduk santai di meja komputernya. “Lo ngapain di meja gue?!” tanya Nasya dengan sedikit bentakan. Edwin nampak kaget, sebab tempat ia duduk, membelakangi tempat tidur Nasya. “Pinjem komputer lo,” singkat Edwin. Kemudian, ia melanjutkan kegiatannya. “Kayak nggak punya ruang kerja sendiri juga!” gerutu Nasya sembari ia beranjak dari tempat tidur. “Mau ke mana lagi lo?” tanya Edwin sembari menatap sinis ke arah Nasya. “Kenapa? Lo mau ikut?” tanya Nasya kembali. “Ditanya baik-baik juga,” ucap Edwin. Nasya tidak menyahuti ucapan Edwin lagi. Ia malah berlari kecil menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar tidur itu juga. Tidak lama kemudian, Nasya keluar. “Lo mau makan apa, Ed?” tanyanya. “Terserah sih. Yang penting masakan lo,” sahut Edwin. “Seriusan terserah gue ini?” tanya Nasya untuk memastikan. Edwin mengangguk untuk meyakinkan Nasya. “Gue bikinin kura-kura goreng lo mau?” tanya Nasya lagi. “Kayak yang bisa aja masak kura-kura,” sahut Edwin. “Sana lah. Gue lagi meeting ini,” usirnya. Rupanya, sejak tadi Edwin sedang meeting melalui zoom. Nasya yang berjalan menuruni anak tangga sembari memainkan ponselnya, ia dibuat terhenti ketika ia mendapati notifikasi direct mesengger di sosial medianya. Nama pengirim yang tertera di sana adalah nama yang membuatnya menangis sepagi tadi. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Nasya memberanikan diri untuk membuka isi direct mesengger itu. Tarikan napas yang dalam ia lakukan, sepersekian detik setelah ia membaca isi pesan itu. “Cuman nanyain kabar, ‘kan? Lo bisa lihat sendiri melalui postingan gue. Nampak bahagia nggak setelah lo tinggalkan? Lo bisa lihat, karena gue nggak pernah privasi akun gue,” lirih Nasya. Nasya melanjutkan langkahnya, tanpa membalas pesan itu. Ia memilih untuk mengabaikannya meskipun ia merasa ada yang mengganjal perasaannya saat ini. Gadis itu meletakkan ponselnya dengan asal di atas meja di ruang keluarga. Ia sengaja meninggalkan benda persegi panjang itu di sana agar tidak mengganggu masaknya siang ini. Nasya hanya memasak hidangan sederhana. Ayam goreng dan sup ayam yang ia tahu bahwa itu adalah menu kesukaan Edwin. “Ingat, Nasya! Sekarang lo sudah punya Edwin! Suami lo!” Satu jam berlalu. Nasya kembali ke kamarnya untuk memanggil Edwin. Sebab, masakannya sudah siap untuk disantap. “Kenapa, Na?” tanya Edwin yang sudah berdiri di depan pintu kamar mereka. “Mau panggil elo,” jawab Nasya. “Masakannya sudah siap,” ujarnya lagi. “Ketahuan kok. Harumnya sampai kamar tadi. Makanya gue buru-buru keluar,” sahut Edwin. Edwin pun berjalan terlebih dahulu. Diikuti oleh Nasya di belakangnya. “Setelah makan, gue ke kantor. Kayaknya malam baru pulang,” ucap Edwin. “Perlu bantuan gue nggak?” tawar Nasya. “Gue cuman meeting sama karyawan dan ada pertemuan sama klien malam ini. Bukan kerjaan berat,” sahut Edwin. “Kalau gue pulangnya lambat, lo tidur aja duluan. Gue bawa kunci nanti,” ujarnya. “Kapan ya gue pernah nungguin elo kalau lo pulang malam?” tanya Nasya. “Siapa tahu lo mau nungguin gue gitu,” sahut Edwin sembari tersenyum miring. Sebelum sampai ke meja makan, Nasya terlebih dahulu mengambil ponselnya di tempat ia meletakkan tadi. Ketika ia menyalakan layarnya, ia dikejutkan dengan pesan yang dikirim oleh orangtua Edwin padanya. “Ed!” panggil Nasya. “Apa?” heran Edwin yang melihat Nasya seperti terkejut ketika melihat ponselnya sendiri itu. “Lo minta sama Mama lo untuk carikan maid, ya?!” tanya Nasya. “Nggak ada,” jawab Edwin apa adanya. Nasya menyerahkan ponselnya pada Edwin, agar Edwin bisa membaca sendiri, isi pesan dari Mamanya. “Mungkin Mama tahu kalau gue kadang bisa lembur di kantor. Makanya nyari maid biar ada yang temani elo di rumah,” ucap Edwin dengan santai. “Nggak gini juga, Ed! Gue nggak ada bilang setuju. Tapi, Mama sudah bilang kalau maid-nya bakalan datang besok pagi,” protes Nasya. "Memangnya lo tega batalinnya? Gimana kalau ternyata orang yang mau kerja ini adalah tulang punggung keluarganya? Lo tega hancurin harapan orang lain?" tanya Edwin bertubi-tubi. "Lo sih ngomongnya gitu! Padahal maksud gue bukan begitu, Ed," sahut Nasya. "Mending lo makan, Na. Keburu dingin nanti makanannya," Edwin mengalihkan pembicaraan. "Gue mau nanya sesuatu sama lo, apa boleh?" tanya Nasya. "Sambil makan, ya?" sahut Edwin sembari menyodorkan sesendok nasi ke depan mulut Nasya. Tanpa Nasya sadari, ia membuka mulutnya dan menerima suapan dari Edwin. "Mau nanya apa, Cantik?" tanya Edwin sembari tersenyum puas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD