Pagi itu, di lantai 12 gedung utama perusahaan Jiwandaru Nusantara terasa jauh dari kata tenang. Langkah sepatu Susan terdengar mondar-mandir di depan ruang direktur utama. Tangan wanita itu tak lepas dari ponsel yang sejak lima belas menit lalu menempel di telinga. Rahangnya tampak mengeras dengan alis yang berkerut, dan bibirnya sesekali terkatup rapat menahan kesal. “Angkat, Pak … please, angkat teleponnya.” Susan bergumam pelan disertai raut frustrasi. Bagaimana tidak, nada sambung telepon terdengar panjang di telinganya. Terhitung itu adalah panggilan keempat pagi itu, tapi tetap tak kunjung mendapat jawaban dari pemilik nomor. Susan akhirnya menyerah dan menurunkan ponselnya. Helaan nafas berat terdengar dari bibirnya, lalu pandangan ia alihkan pada arloji yang ada di pergelang

