Bab 17.

1225 Words

Karena tak kunjung mendapat jawaban, Susan akhirnya memberanikan diri untuk memasuki kamar luas itu. Langkahnya dibuat pelan, nyaris tak bersuara—bukan hanya untuk menghindari pecahan keramik vas bunga yang berserakan di lantai, tetapi juga agar tidak semakin mengusik ketenangan semu yang menyelimuti Shaka. Begitu sampai di hadapan pria itu, Susan tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Penampilan Shaka benar-benar jauh dari kata rapi. Rambutnya acak-acakan, kemeja hitam yang dikenakannya—yang jelas masih sama seperti dua hari lalu—masih melekat di tubuhnya, dengan seluruh kancing terbuka tanpa peduli. Pandangan mata Shaka kosong menatap ke depan, seperti tubuh yang kehilangan jiwanya. Kantung mata hitam pekat menghiasi kedua matanya, sementara wajahnya tampak kuyu, jelas menunjukkan k

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD