Dunia Susan seolah berhenti sepersekian detik. Nafasnya tertahan. Ia melirik Shaka—pria itu sedang fokus memerhatikan presentasi pihak Arwana Group dengan sesekali mengangguk kecil, seolah semuanya baik-baik saja. Padahal kenyataannya tidak. Susan menelan ludah kelat. Ini bukan pesan yang bisa ditunda. Ia memiringkan tubuh sedikit ke arah Shaka, mencondongkan kepala, lalu berbisik pelan. “Pak ….” Bisikan itu membuat Shaka menoleh. Susan menatapnya dengan sorot serius. Tanpa basa-basi, ia segera menunjukkan pesan dari Hera, yang langsung dibaca oleh Shaka. Wajah pria itu menegang setelah membaca pesan tersebut. “Drop?” ulangnya lirih, nyaris tak bersuara. Susan langsung mengangguk mengiyakan. Untuk pertama kalinya sejak meeting dimulai, raut profesional yang sejak tadi berusaha di

