Bab 13: Kesepakatan

1877 Words
“Seminggu lagi? Apa itu tidak terlalu cepat? Saya juga perlu mengenalkan Bapak pada bibi dan kakak saya, kan?” “Tentu saja. Saya bisa datang ke rumah kamu kapan saja,” ujar Keenan serius. Tatapan Keenan yang menunjukkan ketegasan membuat hati Achiera berdebar. Kenapa sekarang dia gampang terpengaruh dengan ekspresi sang bos? Dia mencoba menenangkan diri. Pasti karena sebelum ini dia jarang sekali melihat sisi lain dari seorang Keenan. Dulu, dia hanya menganggap Keenan sebagai atasan. Lain dengan sekarang. Dengan status barunya, Achiera mendadak menjadi calon istri Keenan. Perubahan besar ini sudah pasti membawa dampak tersendiri baginya. Dia semakin penasaran sosok seperti apakah yang akan mendampingi hari-harinya ke depan itu. Di matanya, Keenan mulai memiliki kharisma yang sulit dijelaskan hanya dengan kata-kata. Segala hal mengenai Keenan seakan menarik bagi Achiera. Cara duduknya yang sangat santai. Cara menatapnya yang penuh kehati-hatian. Cara tersenyumnya yang terkadang bisa melelehkan jiwa. Bahkan cara bicaranya yang bisa membius orang-orang di sekitar. Semua menjadi sesuatu yang ingin Achiera lihat. “Apa yang kamu lamunkan?” Keenan mengibas-ngibaskan tangan di wajah Achiera. wanita itu membelalalk. Sejak kapan bosnya berada begitu dekat dengannya? Kapan Keenan berpindah duduk ke sampingnya? “Ah, saya hanya masih belum bisa percaya dengan hal ini. Apa ... sungguh tidak masalah jika kita menyembunyikan pernikahan untuk sementara?” “Saya mengerti kalau banyak yang kamu pikirkan mengenai hubungan kita setelah menikah. Jadi, saya tidak ingin memberikan beban yang lebih berat pada kamu. Saya pikir, merahasiakan pernikahan untuk sementara bukan hal yang sulit.” “Bagaimana dengan keluarga Bapak? Apa mereka akan setuju?” “Sebelum itu, bukankah kamu lebih baik memikirkan mengenai keluarga kamu.” “Maksud Bapak?” tanya Achiera dengan kening berkerut. “Apa bibi dan kakakmu tidak masalah jika kita melakukan itu? Maksud saya menyembunyikan pernikahan kita? Apa mereka tidak akan keberatan?” “Saya rasa tidak. Bibi hanya ingin saya menikah. Jadi, mau diumumkan atau disembunyikan, tidak menjadi masalah. Saya akan meyakinkan mereka.” Keenan mangut-mangut. Dia menyandarkan tubuhnya di sofa sambil memperhatikan Achiera yang menggerak-gerakkan tangan selama berbicara. Cara yang digunakan Achiera itu seperti sedang melakukan sebuah presentasi. Namun anehnya, dia malah merasa terhibur dengan ekspresi Achiera yang penuh semangat saat mengatakan semua hal. Siapa sangka kalau akhirnya Keenan berhasil membujuk Achiera secepat ini. Dia pikir, wanita itu benar-benar ingin menunggu selama satu bulan. Sejujurnya, dia juga tidak ingin terburu-buru seperti ini. akan tetapi, setelah mengobrol dengan sang nenek kemarin, dia memikirkan banyak hal. Sepertinya lebih baik dia mempercepat pernikahan. “Kalau begitu, bagaimana dengan kita saling mengenal dulu?” “Apa?” Kening Achiera mengerut lagi. “Kita akan menikah. Tentu saja kita harus mengenal satu sama lain, bukan?” Achiera mengerjap, lalu mengangguk. “Saya rsa kita perlu membiasakan diri bersama. Bagaimana kalau kita makan malam malam ini?” “Makan malam?” ulang Achiera. Dia masih belum bisa mempercayai pendengarannya. “Saya tidak begitu yakin. Bagaimana kalau ada yang melihat Bapak dan saya ...” “Kita bisa berhati-hati.” Keenan menegakkan badan. Achiera yang merasa posisi mereka terlalu depak menggeser duduk. “Dan sebaiknya kamu memikirkan panggilan lain untuk saya,” ujar Keenan. Telunjuknya mengacung tepat di depan wajak Achiera. “Panggilan lain untuk Bapak?” “Kamu tidak berencana memanggil calon suami kamu dengan sebutan bapak, bukan?” Benar juga. Tidak ada istri yang memanggil suaminya dengan sebutan bapak. Lalu, panggilan apakah yang harus Achiera gunakan? Bang? Mas? Aa? Kakak? Atau apa? Dia tidak bisa menentukan itu. Apa sebaiknya dia meminta saran pada Keenan. Dia tidak memiliki pengalaman dalam hal ini. Mungkin akan lebih baik jika dia mendengar pendapat sang bos. Sedikit ragu, Achiera melirik Keenan yang tengah memeriksa telepon selularnya. Dia berdeham untuk mendapat perhatian pria itu. Berhasil. Keenan menoleh padanya dengan wajah datar seperti biasa. Sesaat, dia meluakan niatnya memanggil Keenan begitu mendapat tatapan khas pria itu. Tiba-tiba otaknya menjadi kosong. “Ada yang mau kamu tanyakan?” Suara Keenan menyadarkan Achiera dari alam lamunan. “Itu ... sebenarnya saya tidak tahu harus memanggil Bapak dengan sebutan apa? Apa ... Bapak mempunyai saran atau pendapat?” Pertanyaan itu membuat Keenan berpikir. Dia menatap lurus ke depan sambil mengerutkan kening. Beberapa kali, dia mengangguk-anggukan kepala, lalu menggeleng. Perubahan sikapnya itu menarik perhatian Achiera. Diam-diam, Achiera tersenyum setelah memalingkan wajahnya sedikit. Dia tidak mengira kalau Keenan bisa berekspresi menggemaskan begitu. Benar-benar tidak bisa dipercaya. Selanjutnya, Achiera melirik Keenan beberapa kali. Pria itu masih belum bisa memberikan jawaban yang dia inginkan. Bahkan Keenan juga butuh waktu lama untuk membuat keputusan. Wajar, bukan, kalau Achiera juga merasa berat untuk memutuskan? Tentu saja. Sebuah panggilan bisa berarti besar dalam kehidupan kita. Benar, bukan? Begitu melihat Keenan kembali menegakkan badan, Achiera langsung berpaling cepat. Dia berusaha menutupi kenyataan jika tengah memperhatikan pria itu. Kalau Keenan sampai tahu, bukankah ini akan menjadi hal yang memalukan? Dia tetap berada di posisi itu karena Keenan tidak kunjung mengatakan apa pun. Kenapa Keenan diam saja? “Sejujurnya saya tidak keberatan dengan panggilan apa saja.” Achiera menoleh setelah Keenan buka suara. “Menurutmu apa panggilan yang cocok untuk saya sebagai suami?” “Saya ... tidak yakin. Karena itu saya bertanya pada Bapak.” “Bagaimana biasanya kamu memanggil pacar kamu dulu?” Kedua mata Achiera membelalak. “Saya ... belum pernah berpacaran sebelumnya.” “Apa? Bagaimana mungkin?” Keenan berdeham saat Achiera menatapnya. “Kita ... sama dalam hal ini. Saya juga belum pernah berpacaran.” “Benarkah? Pria seperti Bapak belum pernah berpacaran?” “Apa maksud kamu dengan pria seperti saya?” “Itu ... maksud saya, Bapak memiliki banyak kelebihan. Pasti banyak wanita yang tertarik pada Bapak. Bapak bisa dengan mudah menemukan pasangan.” “Tapi selama ini saya tidak merasa memerlukan pasangan. Jadi, saya tidak pernah memikirkan tentang pacaran atau hubungan lainnya.” Cukup mengesankan. Achiera tidak tahu kalau sang bos juga penyendiri seperti biasa. Padahal Keenan seperti memiliki semua hal. Kenapa dia tidak tertarik dengan sebuah hubungan? Pastinya keadaannya tidak bisa disamakan dengan Achiera yang selalu fokus melakukan segala sesuatu demi bibi dan kakaknya. Terlalu banyak hal yang Achiera harus capai untuk membahagiakan bibi dan kakaknya sampai tidak sempat memikirkan cinta. Baginya, sebuah hubungan hanya akan mempertumit keadaan. Dia tidak mau menyeret orang lain merasakan beban yang dipikulnya. Jadi, dia memutuskan untuk menolak semua pria yang pernah mendekati. “Jadi, sebaiknya saya menggunakan panggilan apa?” gumam Achiera, lebih kepada diri sendiri karena suaranya sangat pelan. Meski begitu, Keenan masih bisa mendengar. Pria itu tersenyum melihatnya berpikir serius mengenai hal ini. “Bagaimana dengan Kakak?” “Kamu pikir saya kakak kelas kamu?” “Kenapa? Beberapa orang memanggil suaminya dengan sebutan itu.” “Tapi itu terdengar menggelikan. Ganti panggilan lain.” Achiera mengetuk-ngetukkan telunjuk di dagu sambil mendogak ke langit-langit ruangan. Dia menghela napas beberapa kali seraya memejamkan mata. Kenapa menentukan panggilan saja sesulit ini? Dia benar-benar membutuhkan pertolongan seseorang. Bagaimana ini? Bagaimana dia harus memutuskan hal ini dengan baik? Melihat Achiera yang tamaknya belum menemukan panggilan yang cocok, Keenan menghela napas. Keenan mulai bertanya-tanya apa dia terlalu membebani Achiera. tidak. Hanya sebuah panggilan. Ini tidak serumit itu. Lantas, kenapa butuh waktu lama untuk memutuskan. Toh, dia tidak keberatan dengan panggilan apa pun kecuali kakak. “Mas Keenan.” Telepon genggam yang ada di tangan Keenan nyaris terjatuh saat mendengar panggilan itu. Untungnya dia bergegas menyelamatkan benda pipih yang sempat tergelincir dari tangan. Dia menoleh pada Achiera yang kini tersenyum kaku. Sungguh. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa mendapat sebuatan mas dari Achiera. “Apa ... terdengar norak?” tanya Achiera ragu setelah melihat ekspresi Keenan. “Saya hanya merasa jika panggilan mas cukup umum. Jadi, saya memutuskan untuk memilihnya. Bagaimana menurut Bapak? Apa itu terdengar baik?” “Itu ... cukup baik dibandingkan dengan kakak,” kata Keenan sambil mengangguk-anggukan kepala. “Pilih saja panggilan itu. Bagaimana dengan panggilan untuk kamu?” “Panggilan untuk saya?” Keenan mengangguk. “Saya rasa memanggil nama saya seperti biasa tidak masalah.” “Benarkah? Apa tidak masalah saya memanggil kamu Achiera, bukan Chichi?” “Apa?” Bagaimana bisa Keenan tahu kalau semua orang memanggil Achiera “Chichi”? Achiera pikir, dia bukan orang yang memperhatikan hal remeh seperti itu. Lagi pula, panggilan itu memang kerap terdengar di tempat ini. Bukankah wajar jika Keenan juga bisa mengetahuiya? Dia berpikir terlalu banyak. “Saya ... selalu mendengar Bayu memanggil kamu Chichi. Jadi, saya merasa kalau itu pasti nama panggilan kamu. Kalau kamu keberatan saya memanggil kamu Achiera, saya bisa ...” “Tidak masalah. Achiera juga nama saya. Jadi, Bapak bisa memanggil saya dengan sebutan itu. Lagi pula, Bapak sudah terbiasa menggunakannya.” “Baiklah. Kalau mau tidak keberatan, saya akan tetap memanggi kamu Achiera.” Achiera mengangguk sambil tersenyum lebar. Perasaan Achiera tidak terlalu tertekan seperti saat pertama datang. Dia sekarang lebih santai karena Keenan mulai membuatnya nyaman. Rasanya cukup menyenangkan berbicara dengan Keenan dengan suasana ini. Dia menoleh pada Keenan yang kebetulan juga sedang menatapnya. Terlambat untuk menghindar. Mereka saling pandang untuk beberapa waktu. Tidak begitu lama karena Achiera berpaling terlebih dulu. Suasana kantor yang sepi membuatnya bisa mendengar jarum jam yang berputar dari waktu ke waktu. Dia mencoba mengalihkan perhatian pada lemari yang ada di pojok ruangan. Banyaknya piala dan piagam pernghargaan di sana membuat wanita itu kagum. Bagi Achiera, Keenan memiliki banyak keunggulan yang sulit digambarkan. Keenan pantas disebut sebagai orang jenius di berbagai bidang. Dari yang Achiera dengar, sang bos sangat berprestasi sampai mendapat tawaran dari berbagai perusahaan besar. Namun, pria itu memilih untuk mendirikan perusahaannya sendiri. Bahkan orang tua Keenan tidak bisa meyakinkannya. Achiera jadi teringat sesuatu. Keenan pernah berkata jika hubungan sang bos dengan orang tuanya tidak baik. Sekarang, Achiera mengkhawatirkan hal lain. Apa dia akan menghadapi mertua yang sulit? Bagaimana ini? Perlukah dia menanyakan hal ini pada Keenan? “Apa ... saya perlu berhadapan dengan mertua yang ...” “Tidak perlu,” potong Keenan cepat. “Saya sudah pernah bilang, hubungan saya dengan orang tua tidak begitu baik. Abaikan saja mereka. Kamu hanya perlu mengenal nenek saya.” “Tapi, mereka tetap orang tua Bapak. Apa saya benar-benar tidak perlu mengenal mereka?” “Saya rasa mungkin nenek saya akan melakukan itu. Tapi jangan memikirkan orang tua saya secara berlebihan. Mereka tidak memiliki hak untuk mengatur saya setelah menelantarkan saya,” kata Keenan tajam. Sepertinya Achiera harus menghentikan pembahan mengenai ini. Keenan terlihat keberatan. “Maaf. Saya tidak bermaksud kasar atau apa. Tapi hubungan kami memang tidak begitu baik.” Keenan berhenti sebentar. “Yang saya maksudkan adalah kamu tidak perlu memikirkan cara untuk menyenangkan mereka.” “Baiklah. Saya mengerti. Saya tidak akan mencampuri urusan pribadi Bapak.” Keenan mengangguk setuju. Dia memang tidak terlalu suka membahas mengenai orang tuanya dengan orang lain, termasuk Achiera. Wanita itu hanya perlu tahu nama dan wajah mereka. Tidak perlu sampai memberi tahu bagaimana latar belakang keluarga mereka yang hancur. Keenan tidak berniat membongkar luka lama. “Jangan lupa janji makan malam kita. Bagaimana kalau saya datang ke rumah kamu untuk menjemput sekalian mengenalkan diri secara resmi?” “Itu ... bukan ide bagus. Lebih baik bertemu di temat yang sudah ditentukan.” “Baiklah kalau kamu berkata begitu. Saya akan mengirimkan lokasinya sebentar lagi.” Begitulah keduanya saling setuju. Keenan dan Achiera masih belum tahu jika perjalanan kisah mereka baru saja dimulai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD