Bab 12: Lari

1827 Words
“Terima kasih untuk bantuannya, Pak. Saya benar-benar lupa membawa dompet saya.” “Tidak masalah. Lagi pula, saya kebetulan ada di sana. Mana mungkin saya membiarkan karyawan saya mempermalukan dirinya sendiri,” ujar Keenan sambil menahan senyum. Mendengar nada sindiran dari sang bos, Achiera melirik dengan tatapan tajam. Hanya sedetik. Karena pada detik selanjutnya dia sadar siapa yang dia hadapi. Lebih baik dia tidak memperpanjang masalah dan langsung berpisah sekarang. Kalau sampai Falisha melihat kehadiran Keenan, pasti dia akan diberi banyak pertanyaan. Omong-omong soal Falisha, Achiera mulai mengedarkan pandang keluar toko yang hanya terhalang kaca. Sosok sang kakak belum terlihat. Dia berpaling pada Keenan yang memandanginya sambil menutup mulut. Pria itu pasti menertawakan kecerobohannya. Kenapa dia bisa bertemu dengan Keenan dalam keadaan seperti ini? Biasanya dia selalu berhati-hati setiap kali akan pergi. Bisa-bisanya mempermalukan diri di depan Keenan. Achiera sungguh tidak menduga akan ada kejadian seperti ini. Jadi, agar tidak mengulangi kesalahan, dia harus pergi secepatnya dari sini. Kalau tidak, dia mungkin akan melakukan hal konyol lainnya. Sungguh! Dia bukan orang yang sembrono sebelum ini. “Baiklah. Saya akan mentransfer uangnya ke rekening Bapak.” “Tidak perlu,” kata Keenan cepat. Achiera berdeham. “Tidak bisa begitu, Pak. Saya harus menggantinya karena baju itu hadiah untuk kakak saya. Mana bisa saya menggunakan uang Bapak.” “Maksud saya, kamu harus mengembalikan uang itu secara tunai.” Kepala Achiera terangkat. “Apa?” ujarnya sambil menatap Keenan tak mengerti. “Saya bilang, bayar utang kamu secara tunai. Besok di kantor saya.” Kalimat yang diucapkan oleh Keenan membuat Achiera mematung. Saat tersadar, pria itu sudah tidak ada di hadapannya. Dia membalikkan tubuh begitu melihat ketukan di kaca. Falisha tersenyum lebar sambil menunjukkan jus stroberi di tangan kanannya. Dia berniat membalas senyum sang kakak ketika menyadari keberadaan Keenan di belakang Falisha. Kedua mata Achiera langsung beralih kepada Keenan yang melambai sambil memainkan sebelah mata. Namun, dia berpaling secepat kilat begitu menyadari sang kakak masih ada di depannya. Bagaimana bisa Keenan menggodanya seperti itu? Untung saja Falisha tidak memergoki keisengan Keenan padanya. Dengan cepat, Achiera berjalan keluar toko dan menghampiri Falisha. Dia menyapu tempat parkiran. Tidak ada lagi sosok Keenan. Mungkin bosnya itu sudah pulang. Sejujurnya, dia penasaran kenapa akhir-akhir ini dia jadi sering bertemu secara kebetulan dengan Keenan. Padahal sebelumnya mereka jarang, bahkan nyaris tidak berbicara. “Cari siapa?” tanya Falisha sambil menyodorkan jus stroberi pada Achiera. “Bukan siapa-siapa. Tadi sepertinya lihat teman. Tapi mungkin aku yang salah lihat.” Falisha ikut memperhatikan sekeliling. Dia tidak mengenal satu pun orang yang melintas. “Teman kantor?”  Pertanyaan itu membuat Achiera menoleh cepat. “Apa?” “Kamu ... melihat teman sekantor kamu atau teman sekolah?” “Oh, itu ...” Achiera meringis, lalu berdeham. “Teman kantor. Tapi sepertinya bukan.” “O, ya? Bukannya kamu sangat cepat menghafal wajah seseorang?” Sekali lagi, Achiera terdiam. Apa yang dikatakan Falisha membuatnya memejamkan mata. Kalau dia meneruskan, mungkin sang kakak bisa mengetahui kebohongannya. Apa yang sebaiknya dia lakukan sekarang? Mana bisa dia memberi tahu kalau sedang mencari Keenan. Bagaimana kalau Falisha malah salah paham? “Benarkah? Mungkin karena belakangan ini banyak pekerjaan. Jadi, konsentrasiku terbagi. Aku jadi kurang fokus dan lingung.” “Nah, itu malah semakin aneh. Kamu bukan orang yang mudah terpengaruh dengan keadaan sekeliling. Sekacau apa pun lingkunganmu, kamu tidak pernah tidak konsentrasi atau linglung.” Falisha maju selangkah dan membuat Achiera mundur. “Sepertinya Kakak tahu penyebabnya,” ucap Falisha sambil menyipitkan mata. “Memangnya apa yang bisa buat aku seperti ini kalau bukan pekerjaan yang banyak?” “Pasti karena pria itu, kan?” “Apa?!” Suara Achiera terlalu keras sampai menarik perhatian beberapa orang yang lewat. Mereka berhenti sesaat dan memandang ke arahnya. Ketika merasa tidak ada yang perlu khawatirkan, mereka kembali berjalan. Achiera sendiri tidak menyangka kalau akan bereaksi seheboh ini. Bukankah sikapnya justru bisa membuat Falisha curiga? Meski sempat ragu untuk mendongak dan melihat sang kakak, Achiera tetap melakukan itu. Dia tersenyum kikuk saat melihat Falisha yang menyilangkan tangan di depan d**a sambil memperhatikannya. Sulit sekali menutupi hal seperti ini dari penglihatan Falisha. Kakaknya itu seakan tahu semua isi kepalanya. Walau begitu, Achiera bersyukur karena Falisha tidak pernah menyadari sifat asli sang ibu. Andai sang kakak tahu, dia pasti akan sangat sedih. Achiera tidak akan mampu berada di antara keduanya. Lebih baik dia sedikit menderita. Asal bisa melihat Falisha terus tersenyum penuh kebahagiaan di hadapannya. “Ya, ampun, Chi. Sepertinya kamu benar-benar jatuh cinta,” ujar Falisha. Dia lantas tertawa. “Apa yang Kakak bicarakan? Aku bukan orang yang akan linglung saat sedang jatuh cinta.” “Benarkah? Tapi kamu memang seperti orang linglung, Chi. Jangan-jangan ...” Falisha kembali mengamati sekeliling. “orang yang kamu cari adalah pria itu,” bisiknya dengan suara rendah tepat di telinga Achiera. Kedua mata Achiera membesar. “Apa yang Kakak bicarakan? Aku tidak memahaminya sama sekali.” Mana mungkin perkataan Falisha tidak benar. Kalaupun Achiera tengah mencari sosok Keenan, mereka bukan sepasang kekasih. Tidak ada istilah cinta di antara mereka. Jadi, tidak mungkin dia menjadi linglung karena sedang jatuh cinta. Falisha benar-benar keterlaluan. Bisa-bisanya dia membuat Achiera semakin berdebar. “Tidak apa-apa. Apa salahnya jujur pada Kakak? Lagi pula, Kakak tidak keberatan kalau kamu memang mau menikah duluan.” “Kakak,” rengek Achiera sambil mengerucutkan bibir. “Bagaimana dengan Kakak? Kakak sedang dekat dengan seseorang?” “Tidak. Bukankah Kakak sudah bilang kalau mau fokus bekerja? Kakak bahkan belum pernah membayangkan akan berhubungan dengan seorang pria. Apa lagi menikah. Itu sesuatu yang sangat berat. Sepertinya Kakak belum siap untuk terlibat dengan keadaan yang penuh emosi semacam cinta.” “Kakak harus mulai memikirkan ini. Tahun ini Kakak sudah dua puluh sembilan tahun, kan?” “Kenapa bawa-bawa umur? Merasa hebat karena kamu dapat pacar duluan?” Achiera tidak menjawab. Dia hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Falisha. Sepertinya ada yang tidak benar. Kenapa Falisha sangat percaya kalau dia sudah memiliki kekasih? Dalam beberapa hal, Falisha memang tidak memahami dirinya. Entah karena pura-pura tidak tahu atau memang tidak mau tahu. Akan tetapi, sikap Falisha yang selalu membela dan perhatian membuat Achiera tidak bisa berprasangka buruk. Mungkin itu adalah kekurangan Falisha. Entahlah. Achiera tidak mau memikirkannya. Dia hanya ingin kehidupan yang tentram. Selama nyaman berada di dekat Falisha, dia akan terus mendampingi sang kakak. Keadaan semakin sulit dikendalikan. Semua karena Keenan yang tiba-tiba hadir dalam hidup Achiera. Setelah pria itu menyampaikan lamaran, dia semakin banyak menutupi sesuatu. Meski tidak berniat berbohong, dia tetap merasa tidak nyaman. Padahal dia tidak mau merusak hubungannya dengan Falisha karena hal ini. *** Temui saya di kantor sekarang!!! Kepala Achiera langsung berdenyut-denyut. Dia memijat pelipis sambil memejamkan mata. Tidak cukupkah pria itu menimbulkan masalah kemarin? Sekarang Keenan bahkan memanggilnya ke kantor. Dia menghela napas, mencoba menenangkan diri. Kali ini, apa yang ingin dibicarakan oleh Keenan. Setelah tenang, Achiera beranjak dari duduk dan berjalan menuju pintu. Dia membuka pintu sedikit untuk melihat keadaan. Seperti biasa, bawahannya bekerja dengan tekun. Tiba-tiba dia kembali berdebar. Dia mengatur napasnya sebelum benar-benar keluar dari ruangan. “Ibu mau keluar? Bukankah Ibu tidak punya jadwal siang ini?” “Saya akan menemui Pak Keenan sebentar. Sepertinya ada yang tidak beres.” Semua orang berhenti bekerja dan menatap Achiera yang tengah berdiri. Ini terlihat canggung sekali. Kenapa dia harus jujur begitu? Sekarang, mereka pasti akan mulai curiga. Sebagai seorang menejer, dia belum pernah sekalipun melakukan kesalahan sampai harus mendapat teguran langsung dari Keenan. Jika keadaannya begini, semua bawahan Achiera akan mengira dia melakukan kesalahan untuk pertama kalinya. Menyebalkan. Dia memerhatikan semua mata yang memandangnya dan tersenyum samar. Bagaimana dia harus meyakinkah mereka bahwa tidak ada yang salah? “Tenang saja. Kita tidak melakukan kesalahan. Lanjutkan saja pekerjaan kalian.” “Lalu, kenapa Pak Keenan meminta Ibu ke kantornya?” Achiera mengangkat bahu tak acuh. Dia tidak berbohong. Dia juga tidak tahu apa alasan Keenan memangginya. “Saya pergi. Jangan sampai ini memengaruhi pekerjaan kalian. Saya akan menyelesaikan urusan saya dengan Pak Keenan secepatnya.” Tanpa perlu menunggu respons para bawahannya, Achiera melangkah dengan cepat. Sekali lagi, karena Keenan, dia berada di posisi yang sulit. Apa Keenan perlu melakukan ini padanya? Tidak bisakah pria itu mengajaknya bertemu di luar kantor? Bertemu di tempat kerja hanya akan membuatnya merasa tidak nyaman. Di sepanjang jalan ke kantor Keenan, Achiera terus berdoa semoga tidak ada yang salah. Tentu saja. Dia adalah Achiera. Mana mungkin dia membuat kesalahan sampai perlu dipanggil begini oleh sang bos. Jantungnya semakin berdebar saat sudah berada di depan pintu kantor Keenan. Dia menoleh ke sekitar. Sepi. Kantor Keenan memang berada di lantai paling atas. Hanya ada ruangan bos dan rapat di lantai itu. Jadi, bisa dibilang suasananya sangat tenang. Ini karena Keenan menyukai ketenangan saat sedang bekerja. Jadi, dia sengaja mendesain tempat kerjanya sebaik mungkin agar tidak terganggu dengan karyawan lain. “Kamu akan terus menunggu di depan pintu?” Achiera berbalik begitu merasakan suara Keenan yang sangat dekat di belakangnya. Benar saja. Pria itu sudah berdiri di depannya sekarang. Dia kembali menoleh untuk memeriksa keadaan. Tetap sepi seperti tadi. Dia bisa mengembuskan napas. “Ayo, masuk.” Keenan membuka pintu kantornya dan masuk. Achiera mengikuti tanpa mengatakan apa pun. “Duduk.” “Jadi, kali ini apa yang akan Bapak bicarakan?” tanya Achiera setelah duduk menghadap Keenan. Pria itu tersenyum. “Hanya ingin menagih utang kamu.” Keenan mengulurkan tangan pada Achiera. “Utang? Utang apa maksud Bapak? Saya bukan ...” Kemudian, kejadin di toko baju kemarin mengingatkan Achiera. Dia ingin sekali memukul kepalanya sekarang. Bagaimana bisa dia melupakan sesuatu sepenting itu? Padahal dia sudah menyiapkannya sejak kemarin. Dia meneliti dirinya sendiri. Karena tidak memikirkan hal ini saat Keenan memanggil, dia bahkan meninggalkan uanganya di tas di ruangannya. Kenapa Keenan tidak langsung mengatakan saat mengirim pesan? Apa dia akan meminta Achiera turun untuk mengambil uang itu? Achiera tidak merasa begitu. Sepertinya Keenan hanya mencari alasan untuk membuatnya datang kemari. Namun, untuk apa Keenan melakukan itu padanya? “Maaf, Pak. Dompet saya tertinggal di kantor. Saya akan mengambil ...” “Tidak perlu. Kita akan membicarakan hal lain.” Achiera mengerutkan kening. Apa ini? Apa akan berhubungan dengan pernikahan? “Membicarakan hal lain?” ulang Achiera. Dia menahan napas sebentar saat Keenan memandanginya tanpa kedip. Dadanya terasa sesak. “Bisakah kamu memberi keputusan lebih cepat mengenai pernikahan itu?” “Apa? Apa maksud Bapak? Bukankah kita sepakat untuk menunggu satu bulan?” “Sepertinya saya tidak bisa menunggu selama itu. Bagaimana? Bisakah kamu menjawab lamaran saya lebih awal?” Achiera membeku. “Itu ... apa saya boleh mengajukan permintaan kecil?” “Tentu saja. katakan. Apa yang kamu inginkan?” “Setelah menikah nanti, bisakah kita merahasiakan pernikahan kita?” Tidak ada reaksi dari Keenan. Pria itu hanya menatapnya tanpa kedip. “Saya perlu waktu untuk mempersiapkan diri menghadapi teman sekantor. Jadi ...” “Baiklah. Saya setuju.” Achiera tidak menyangka kalau Keenan akan setuju semudah ini. “Kita akan bertemu Nenek seminggu lagi,” tambah Keenan. Achiera membeku di tempat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD