“Kamu tidak perlu melakukan semua ini, Chi,” ujar Falisha saat Achiera menyeretnya ke sebuah toko baju.
Mendapat protes seperti itu, Achiera menggeleng berkali-kali. Dia terus mendorong sang kakak untuk memasuki toko. Akhirnya, dengan semua usaha, dia bisa menang. Dengan pandangan penuh peringatan, Falisha melotot padanya. Tidak akan berhasil karena dia tahu kalau Falisha tidak akan pernah marah.
“Kenapa? Hanya Kakak yang boleh membelikanku sesuatu? Sekarang aku juga sudah bekerja. Jadi, biarkan aku memberikan sedikit hadiah untuk kakakku tercinta ini.”
Tangan Achiera masih menarik Falisha yang diam di salah satu sudut toko. Tempat yang dia pilih cukup ramai siang ini. Tentu saja. Ini toko yang sangat terkenal. Selain karena menjual barang yang menarik, pelayanannya juga baik. Achiera sudah menjadi salah satu pelanggan terbaik di sini. Bisa dibilang, dia cocok sekali dengan produk yang dijual.
Karena sang kakak tidak kunjung beranjak dari tempat, Achiera kembali mengerahkan kemampuannya untuk menarik Falisha. Saat Falisha tetap bertahan, dia mengerucutkan bibir. Kalau semua usahanya tidak berhasil, maka dia tidak punya pilihan lain selain mengeluarkan jurus andalan. Dia menoleh ke kanan kiri sejenak.
“Aku tahu kalau aku tidak bisa membelikan Kakak sesuatu yang sangat mahal. Tapi aku benar-benar ingin membelikan hadiah untuk Kakak.”
Sudut mata Achiera melirik Falisha yang mulai termakan jebakan. Dia tetap menuduk saat sang kakak memperhatikan sekeliling. Beberapa orang memperhatikan mereka. Achiera bisa mendengar Falisha menghela napas. Senyumnya perlahan mengembang. Rencananya akan segera berhasil. Tunggu saja sebentar lagi.
“Baiklah. Kakak akan menerima hadiah dari kamu,” ujar Falisha menoleh. Achiera mengangkat wajah dan menatapnya dengan mata berbinar.
“Benarkah?”
“Lihatlah wajahmu itu. Kakak tahu kalau kamu tidak benar-benar marah.”
“Tapi jurus ini selalu ampuh untuk membujuk Kakak. Iya, kan?” Falisha tertawa pelan. Dia mengusap rambut Achiera dengan sengaja dan membuat sang adik menggembungkan pipi.
“Kakak tahu, kan, kalau aku tidak suka ada orang yang memberantakkan rambutku?” Falisha mendekatkan mulutnya ke telinga Achiera.
“Karera itulah Kakak melakukannya,” bisik Falisha. Achiera menatapnya dengan bibir mengerucut. Kakaknya pasti ingin membalas perlakuan tadi.
“Ya, sudahlah. Sekarang Kakak pilih bajunya.”
“Satu saja, kan?” Falisha mengangkat bahu saat Achiera mendelik.
“Apa maksud Kakak dengan satu? Setidaknya pilih tiga atau empat.”
“Ini bahkan bukan ulang tahun Kakak. Kenapa kamu memberikan hadiah? Lagi pula, Kakak masih punya baju yang lain.”
Perkataan Falisha membuat Achiera menghela napas. Achiera juga sering sekali mendapatkan hadiah dari sang kakak meski tidak sedang ada momen tertentu seperti ulang tahun. Falisha membelikan banyak barang yang selalu dia sukai. Kakaknya itu seakan mengerti hal-hal yang dia inginkan.
Kebaikan demi kebaikan yang diberikan Falisha sejak dulu tidak akan pernah bisa tergantikan. Achiera sangat tahu itu. seberapa keras dia berusaha, Falisha selalu memberinya lebih. Baginya, Falisha seperti cahaya yang menerangi jalan. Jika bukan karena kakaknya, dia mungkin sudah lama meninggalkan rumah sang bibi.
“Apa harus menunggu sampai ulang tahun Kakak untuk memberi hadiah?”
“Kakak hanya merasa, kamu seharusnya menyimpan uang itu untukmu. Sudah berapa kali Kakak bilang, jangan terbebani dengan sesuatu yang tidak perlu.”
Bagaimana mungkin. Setiap kali Falisha membelikan sesuatu, Nila selalu saja sewot. Sang bibi akan menyindir Achiera saat ada kesempatan. Tentu saja ketika Falisha tidak menyadarinya. Jadi, sejak saat itu, dia bertekad untuk membalas semua kebaikan Falisha. Jika kakaknya menghadiahi sesuatu, dia juga akan melakukan hal yang sama.
Butuh usaha keras agar bisa menghentikan mulut Nila untuk mengatakan sesuatu yang menyakitkan. Dia banyak berkorban demi bisa memenuhi harapan sang bibi. Terkadang, dia merasa lelah dan ingin berhenti. Namun, ketika Falisha pulang dari kerja dengan membawa makanan kesukaannya sambil tersenyum, semua duka seakan lenyap.
“Aku tahu. Kakak akan menceramahiku di sini?” Falisha tersenyum.
“Baiklah. Kakak akan mulai memilih baju.” Falisha mengamati baju-baju yang ada di dekatnya. “Kenapa kamu tidak membantu Kakak memilih?”
“Kakak lupa kalau aku memiliki selera fashion yang buruk.”
“Kalau begitu lupakan saja. Kamu hanya tidak percaya diri. Padahal kamu cocok mengenakan apa saja. Tapi, ya ... untungnya kamu punya Kakak dan Melly yang bisa memberikan saran mengenai fashion. Entah apa yang terjadi setelah kamu menikah. Kakak rasa, kamu juga harus memilih suami yang andal dalam hal ini.”
Falisha mengatakan semua itu tanpa melihat Achiera yang kini terpaku. Suami yang andal? Seketika, bayangan Keenan memenuhi kepala. Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh sang kakak, Achiera baru menyadari sesuatu. Selama ini, Keenan selalu rapi dan menggunakan barang-barang bermerek. Untuk urusan fashion, tampaknya Keenan sangat berpengalaman dan bisa diandalkan.
Sadar jika sudah melewati batas, Achiera menggelengkan kepala. Dia mengamati sekeliling untuk menghapus semua jejak Keenan yang masih ada. Matanya membesar saat dia justru melihat sang bos tak jauh darinya. Kenapa Keenan harus ada di sini juga? Dia berharap mereka tidak akan saling bertemu.
“Kamu kenapa, Chi?”
“Hah? Apa?” Achiera cepat-cepat mengalihkan pandangan. “Kakak bilang apa?”
“Kakak tidak bilang apa-apa. Kamu ini kenapa? Jangan melamun di tempat ramai. Sudah berapa kali Kakak bilang itu padamu?” Achiera hanya meringis. “Rapikan rambutmu.”
Benar juga. Achiera segera merapikan rambutya yang sempat berantakan karena ulah Falisha. Untungnya tidak terlalu memalukan. Siang ini dia sengaja mengingat rambut menjadi satu. Terlalu panas untuk mengurainya. Lagi pula, toko yang dia kunjungi dengan Falisha tidak begitu jauh dari rumah. Jadi, tidak perlu berdandan heboh.
“Kakak, kalau aku menikah lebih dulu, apa Kakak keberatan?” Pertanyaan itu membuat Falisha membalikkan tubuh dengan cepat.
“Kamu sudah dilamar?”
“Kakak,” protes Achiera saat Falisha terlalu bersemangat. Falisha menutup mulut agar tawanya tidak meledak. Dia memperhatikan Achiera yang menekuk wajah.
“Habis kamu tiba-tiba bicara soal pernikahan. Kakak, kan, jadi terkejut.”
“Benar juga. Aku bahkan belum mengenalkan pada Kakak dan Bibi,” gumam Achiera tanpa sadar. Dia berdeham saat menyadari situasi akan berubah. Senyum Falisha membuatnya meringis. Hari ini tidak akan mudah untuk dijalani.
“Jadi, kamu benar-benar sudah memiliki seseorang?” tanya Falisha memastikan.
“Itu ... kami ...” Achiera sungguh tidak tahu bagaimana harus menjelaskan pada Falisha. Dia juga belum menyetujui tawaran Keenan. Kenapa dia tadi malah memancing Falisha?
“Kapan kamu akan mengenalkan dia pada Kakak dan Ibu?”
“Itu ...” Achiera menatap Falisha penuh rasa bersalah. “Sebentar lagi. Sekarang, aku masih belum siap untuk membawanya ke rumah.”
“Kenapa?” Falisha balas menatap sang adik. “Bukankah dia sudah melamar kamu?”
“Sebenarnya itu bukan lamaran. Hanya saja ...” Achiera berhenti. Dia mengerucutkan bibir saat sadar sudah masuk ke dalam jebakan Falisha. “Kakak sengaja, kan?”
Kedua tangan Falisha menyilang di depan d**a. Dia memperhatikan Achiera yang bergerak gelisah di depannya. Sudah jelas ada yang disembunyikan oleh sang adik. Meski begitu, dia tidak akan memaksa jika Achiera belum mau berbagi. Dia selalu menghormati apa pun yang diputuskan oleh adiknya tersebut.
Hanya saja, mengenai pendamping hidup, Falisha ingin membantu. Bukan ingin ikut campur atau apa. Memastikan calon pasangan adik kita baik bukanlah sesuatu yang salah. Begitulah yang Falisha pikirkan. Namun, melihat bagaimana wajah Achiera yang memerah, dia tahu kalau pria itu memang spesial di mata sang adik.
“Ah, jadi pria itu sudah melamarmu? Sudah sejauh itu dan kamu masih belum mengenalkan dia pada kami? Bukannya itu sedikit keterlaluan?”
“Aku juga merasa ini terlalu cepat. Kami belum setahun saling kenal dan dia tiba-tiba melamar. Aku juga bingung bagaimana membicarakan hal ini pada Kakak dan Bibi.”
“Apa kamu bilang? Kamu sudah mengenalnya selama itu dan masih tetap diam?”
“Kakak, kami memang sudah cukup lama saling kenal. Tapi, kami baru dekat belakangan ini. Hanya saja, kami memang serius.”
Rasanya Achiera ingin sekali menjahit mulut besar yang terus membual itu. Untuk apa dia mengatakan hal semacam itu? ya, ampun. Dia pasti kerasukan sampai bisa memiliki keberanian sebesar itu. Bagaimana bisa dia melakukan kesalahan begitu? Seharusnya dia tidak membicarakan masalah ini sebelum semua jelas.
Mestinya Achiera menyelesaikan permasalahan dengan Keenan dulu. Bukannya malah menambahnya. Dia sudah cukup lelah memikirkan jawaban untuk pria itu. Sekarang bebannya bertambah karena kecerobohan. Kenapa dia kehilangan kecerdasannya di saat seperti ini? Selalu saja begitu.
“Kakak tidak mau ikut campur soal pasangan kamu, Chi. Asal kamu bahagia, Kakak akan mendukung. Ya, tentu saja, dia harus orang yang baik.”
“Terima kasih sudah mengerti, Kak.” Falisha mengangguk sambil tersenyum.
“Tapi sebaiknya kamu segera mengenalkan dia pada kami. Setidaknya kami harus melihat pria itu dulu, kan? Jangan lama-lama,” tambah Falisha.
“Baik, Kak. Aku akan segera membicarakan hal ini dengannya.”
“Apa Kakak bahkan tidak boleh tahu siapa namanya?”
“Itu ... sebaiknya tidak.” Achiera berdeham. Bagaimana bisa dia mengenalkan Keenan di saat Falisha tahu siapa bosnya.
“Oke. Tidak masalah. Kami hanya harus bersabar sebentar lagi.” Falisha menyerahkan tiga baju pada Achiera. “Itu saja. Kakak keluar dulu, ya. Mau beli minuman. Panas banget dan pengin yang segar-segar. Kamu mau jus stroberi?”
“Mau, dong.”
“Kakak keluar dulu kalau begitu.” Achiera mengangguk. Dia memperhatikan tiga potong baju yang diserahkan oleh Falisha.
Senyum wanita berambut panjang mengembang. Dia berniat menuju ke kasir saat menangkap sosok yang dikenalnya mendekat. Sedikit khawatir, dia memperhatikan Falisha. Untung saja sang kakak sudah keluar dari toko. Sekarang, apa lagi yang diinginkan oleh Keenan? Kenapa pria itu bisa berada di tempat ini?
“Jadi, saya akan segera dikenalkan?” Kening Achiera mengerut mendengar pertanyaan itu. “Bukankah kamu tadi sedang membahas saya dengan kakak kamu?”
“Apa?”
Haruskah ketahuan Keenan saat Achiera bercerita. Wanita itu merasa wajahnya sangat panas. Dia berpaling sambil memejamkan mata dan mulai mengingat-ingat apa yang dikatakannya tadi. Semoga saja dia tidak mengatakan hal buruk yang bisa membuat Keenan salah paham. Ya, ampun! Dia benar-benar tidak berani mengangkat kepala sekarang.
Tingkah Achiera lagi-lagi membuat Keenan tersenyum. Dia tidak mengatakan apa-apa sampai Achiera berhasil menenangkan diri. Kalau terus menggoda wanita itu, dia mungkin akan berada dalam bahaya.
“Bukankah kamu sedang membicarakan saya tadi? Atau ... ada pria lain yang juga melamar kamu? Siapa? Apa saya mengenal dia?” Achiera menghela napas.
“Sepertinya ini bukan saat yang tepat. Banyak orang di sini. Sebaiknya kita tidak membicarakan urusan pribadi di muka umum.”
“Setuju. Bagaimana kalau makan siang bersama?”
“Kakak saya masih di sekitar sini. Sebaiknya kita makan lain kali. Saya permisi.”
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Achiera berjalan cepat menuju kasir. Dia ikut mengante dengan beberapa pembeli. Di belakangnya, Keenan ikut berbaris. Pikiran wanita itu sungguh tidak tenang. Dia berharap semoga sang kakak tidak masuk lagi dan bertemu dengan Keenan. Saat ini waktunya belum tepat.
Begitu tiba giliran membayar, Achiera membuka tas. Matanya membola saat tidak menemukan dompetnya. Dengan wajah tegang, dia memeriksa dengan teliti. Bagaimana bisa dia seceroboh itu? Bagaimana ini? Dia tidak mungkin mengembalikan baju yang sudah diilih oleh Falisha. Jadi, hanya ada satu cara agar bisa selamat.
Keenan tersenyum miring saat Achiera membalikkan badan sambil mengangkat baju yang ada di tangannya. Mengerti dengan situasi, dia segera maju.
“Berapa totalnya?” Keenan menyerahkan belanjaannya dan Achiera. Sang kasir menyebutkan angka dan dia membayar. Beres.
“Kamu punya utang pada saya. Sebaiknya pikirkan cara untuk membalas. Tentu saja maksud saya bukan masalah uangnya, tapi mengenai harga diri kamu,” bisik Keenan setelah keluar dari antrean. Achiera menunduk lesu. Dia berjalan gontai mendahului Keenan yang tertawa.