Bab 10: Calon untuk Nenek

1703 Words
“Apa penjualnya pindah ke luar kota?” sindir Marwa saat melihat sang cucu muncul. Mendapat sindiran seperti itu, Keenan justru tersenyum lebar. Dia mendatangi Marwa dan menepuk pundak sang nenek dari belakang. Hanya dengan senyuman manis yang jarang terlihat di wajah tampan cucunya, Marwa sudah luluh. Keenan meletakkan sebuah kotak yang langsung membuat mata Marwa berbinar-binar. Tanpa berkomentar lagi, Marwa membuka kotak tersebut dan menikmati isinya dalam diam. Dia seakan lupa jika Keenan sudah duduk, menontonnya dengan bertopang dagu. Wanita sepuh itu melirik cucunya sebentar sebelum kembali memakan potongan kedua. Namun, dia tidak mengatakan apa-apa. “Kenapa Nenek harus menyukai terang bulan di taman itu? Nenek tahu, kan, kalau tamannya lumayan jauh dari rumah. Padahal ada kedai terkenal di dekat sini yang menjual ini.” Telunjuk Keenan mengarah pada kotak terang bulan yang terbuka. “Kamu mengeluh sekarang? Kalau tidak ikhlas, lebih baik bawa pulang saja ke apartemen kamu.” Marwa meletakkan kembali sepotong terang bulan yang ada di tangannya. “Kenapa Nenek sekarang lebih susah diajak bercanda?” Keenan memajukan tubuhnya dan sengaja memandangi sang nenek dari jarak yang cukup dekat. Setiap mata Keenan dan Marwa bertemu, wanita sepuh itu berusaha menghindar. Dia terus melakukan itu sampai beberapa saat. Namun, pada akhirnya dia meledakkan tawa yang sudah lama ditahan. Entah bagaimana Keenan selalu bisa membuat suasana buruk hatinya menjadi lebih baik. Mungkin karena Keenan sangat dekat dengannya. Mata tua Marwa meneliti setiap jengkal tubuh cucunya yang tampan. Mengingat bagaimana Keenan hidup selama ini membuatnya sedikit bersedih. Dia tidak mengerti kenapa anak dan menantunya bisa mengabaikan putra mereka. Jujur saja, kesibukan mereka sangat luar biasa sampai lupa memiliki tanggung jawab lain pada keluarga. Sudah berulang kali Marwa menegur, tetapi hasilnya tetap sama. Mungkin kedua orang tua Keenan akan sadar beberapa hari, lalu kembali lupa. Jadi, Marwa tidak pernah lagi membicarakan hal ini pada mereka. Lebih baik dia merawat Keenan yang sekarang tengah tersenyum lebar padanya. “Kenapa lama sekali?” protes Marwa. “Bukan karena kamu lupa jalannya, kan?” “Tadi Keenan ketemu sama rekan kerja, Nek. Jadi, kami mengobrol sebentar.” Pikiran Keenan melayang pada wajah Achiera. Gadis itu memang rekan kerjanya, bukan? mereka tadi juga sempat mengobrol meski hanya sebentar. Itu artinya apa yang dia katakan ada Marwa bukan suatu kebohongan. Dia  menatap sang nenek yang menghela napas. Sepertinya akan ada ceramah panjang lagi. Jika Keenan boleh menebak, apa pun yang akan dikatakan Marwa tidak jauh-jauh dari masalah pernikahan dan calon istri. Belakangan ini, sang nenek memang selalu membahas hal ini dengannya. Seakan ingin semakin menyiksa batin pria itu, Marwa mendesak untuk memperkenalkan seorang wanita dengan wajah berseri-seri. Mana bisa Keenan menolak kalau sudah begitu. Wajah ceria Marwa ketika membicarakan topik ini membuatnya tidak tega menyela atau protes. Sang nenek tidak pernah menuntut sebelumnya. Dia sedikit terkejut saat mendengar kemauan Marwa mengenai pernikahannya. “Kenapa kamu selalu bertemu dengan rekan kerja di mana-mana? Apa pikiranmu itu hanya bisa digunakan untuk memikirkan pekerjaan? Kalau kamu terus begini, bagaimana bisa kamu menikah? Mana ada wanita yang menyukai kepribadianmu yang dingin.” “Nenek tidak tahu seberapa banyak wanita yang pernah mengejar Keenan? Keenan hanya belum ingin menjalin hubungan yang serius.” “Terus saja mencari alasan. Nenek rasa Nenek tidak akan pernah bisa bertemu dengan calon istrimu. Malang sekali nasib Nenek.” Marwa sudah mengeluarkan jurus andalan untuk meluluhkan Keenan. Pria itu menghela napas. “Bukankah Keenan sudah bilang kalau akan mengenalkannya nanti?” “Kamu hanya asal bicara. Kamu belum punya calon istri, kan?” “Nenek tidak percaya pada cucu Nenek sendiri?” Marwa memperhatikan Keenan yang mengangkat alisnya. “Kamu ... sungguh akan membawa wanita itu pada Nenek?” “Tentu saja. Tapi ... dia belum siap untuk pertemuan resmi dengan keluarga.” “Kenapa? Apa dia masih terlalu muda untuk menikah? Sudah berapa lama kalian berhubungan? Apa kalian saling menyukai?” “Satu-satu, Nek. bukankah Nenek terlalu bersemangat karena wanita itu?” “Tentu saja. Dia kan menjadi wanita pertama yang akan memasuki hidup kamu. Nenek tidak mungkin bisa bersabar lebih lama. kamu harus cepat-cepat meyakinkan dia. Jadi, jawab semua pertanyaan yang Nenek ajukan tadi.” “Baiklah. Keenan jawab satu persatu, ya. Umur kami hanya terpaut satu tahu, jadi Nenek tidak perlu khawatir Keenan mengencani anak di bawah umur.” Marwa tertawa kecil. “Sejujurnya kami sudah mengenal hampir setahun, tapi mulai serius belakangan ini. Dia memang pernah mengatakan ingin menikah. Tapi saat Keenan melamar, dia masih belum siap. Keenan rasa dia masih meragukan beberapa hal ...” “Aduh! Kali ini apa kesalahan Keenan? Kenapa Nenek memukul lengan Keenan lagi?” Keenan mengusap lengan kanannya yang dipukul cukup keras oleh sang nenek. ”Kamu pasti melakukannya tanpa memperhatikan waktu dan keromantisan. Apa kamu memberinya cincin atau bunga saat melamar?” Giliran Keenan yang terdiam. Bagaimana bisa dia memikirkan hal itu? Dia hanya kebetulan ada di sana dan mendengar keinginan Achiera untuk menikah. Jadi, dia refleks mengajukan lamaran begitu saja. Dia bahkan tidak memikirkan bunga ataupun cincin. Lagi pula, sepertinya Achiera bukan wanita yang menyukai keromantisan dalam hubungan. Memikirkan semua itu, Keenan menjadi semakin bingung. Seharusnya dia tidak perlu seperti ini, bukan? Lagi pula, momen romantis hanya diperuntukan bagi pasangan yang saling mencintai. Bukan pasangan yang saling membutuhkan seperti dia dan Achiera. Atau dia memang harus melakukannya untuk menyentuh hati Achiera? “Dari wajahmu saja, Nenek sudah tahu jawabannya.” “Hari itu terlalu mendadak, Nek. Keenan juga tidak sempat menyiapkan apa-apa. Lagi pula, dia bukan wanita yang suka sesuatu yang romantis begitu.” “Semua wanita mempunyai sisi keromantisan sendiri. Seberapa cueknya mereka, terkadang mereka ingin diperlakukan istimewa sesekali. Kamu benar-benar tidak tahu apa pun.” Marwa menggeser duduknya. Dia menatap serius Keenan. “Jadi, apa kalian saling suka?” “Tentu saja,” jawab Keenan cepat. Entah apa yang membuatnya mengatakan hal itu tanpa berpikir panjang. Biar bagaimana pun, dia dan Achiera memang saling suka. Setidaknya dalam hal yang berhubungan dengan pekerjaan. “Wah! Kamu menjawab dengan sangat cepat. Sepetinya dia wanita yang sangat istimewa.” “Sepertinya memang begitu,” ujar Keenan dengan setengah menerawang. “Lalu, apa yang membuatnya belum siap bertemu dengan Nenek? Bukankah kamu bilang kalau kalian menjalani hubungan yang serius belakangan ini?” “Keenan memang bilang begitu. Masalahnya adalah ...” “Orang tuanya tidak setuju dia berhubungan denganmu?” “Bukan, Nek. Dia yatim piatu sejak kecil. Sekarang dia tinggal dengan bibi dan sepupunya.” Mendengar hal itu membuat Marwa mengangguk-angguk mengerti. Sepertinya ini hanya masalah kepercayaan diri sang wanita. Mungkinkah wanita yang dipilih Keenan berasal dari kalangan bawah? Sejujurnya, dia tidak mempermasalahan. Dia bukan orang kolot yang hanya melihat seseorang berdasarkan status sosial. “Apa dia belum siap karena merasa tidak pantas bersamamu?” “Bisa dibilang begitu. Tapi alasan yang sebenarnya adalah ...” Keenan berdeham. “dia salah satu karyawan Keenan. Jadi ...” “Hebat sekali, Keenan. Kamu bahkan menjalin hubungan dengan karyawan? Nenek tidak bisa membayangkan hal ini. Kamu tidak memaksanya dengan kekuasaanmu, kan?” “Tentu saja tidak, Nek. Kami murni dekat karena saling membutuhkan. Maksud Keenan, sebenarnya kami cukup mirip dalam beberapa hal. Karena sering bertemu dan mengobrol sesekali, kami jadi dekat dan ... ya, begitulah. Itu terjadi begitu saja.” “Kamu tidak sedang mengarang cerita, kan?” Keenan tertawa. “Nenek akan terkejut saat aku berhasil membawanya ke sini. Dia memiliki wajah yang imut. Dia juga karyawan terbaik di perusahaan kami. Dia juga sangat ramah pada semua orang. Nenek pasti menyukainya. Tunggu saja.” “Baiklah. Nenek akan mempercayaimu kali ini.” Tangan Marwa kembali mengambil sepotong terang bulan dan menikmatinya. Keenan tersenyum melihat binar bahagia di kedua mata sang nenek. Dalam hati, dia berdoa agar Achiera tidak mengecewakannya. Entah apa yang tengah merasukinya samai dia mengatakan semua itu. Dia pasti terlalu bersikeras. Ya, walaupun yang dikatakannya benar. benar dalam artian yang mungkin saja berbeda dengan pemikiran Marwa. Namun, dia sudah mengatakan apa adanya. Secara garis besar, tidak ada yang salah dengan perkataannya. Dia hanya sediki mendramatisir karena Marwa menyukai hal-hal yang menakjubkan. “Bagaimana rupanya? Apa kamu punya fotonya?” “Jangan harap untuk mendapatkannya.” Keenan memasang wajah serius. “Keenan minta Nenek tidak akan menemuinya diam-diam dan membuatnya terkejut. Masalah ini, biarkan Keenan yang menyelesaikannya. Keenan tidak mau membuatnya sepertis sedang didesak.” “Baiklah. Nenek akan bersabar. Mungkin dia akan menjauhimu saat tahu Nenek menguntitnya. Iya, kan?” Keenan tersenyum. “Sepetinya kamu sangat menyukai wanita. kamu selalu tersenyum lebar saat membicarakannya.” “Itu ... bukankah Keenan biasanya juga begini? Nenek berlebihan.” Keenan memutar tubuh agar Marwa tidak bisa melihat wajahnya yang memerah. Bagaimana dia bisa gugup hanya karena sang nenek menggodanya begitu. Dia menghela napas dan mencoa menormalkan penamilan. Jika Marwa samai tahu keadaannya dan Achiera, mungkin tidak akan ada momen seperti ini. Semantara di samping pria itu, Marwa terus memperhatikan. Dia tahu ada yang tidak beres dengan cucunya. Keenan belum pernah tersipu hanya karena wanita. Tampaknya dia harus mengakui jika wanita itu sangat hebat. Bahkan bisa mengubah Keenan yang sekeras batu. Pasti tidak mudah menghadapi sikap Keenan. Jika bertemu dengan wanita itu, Marwa berjanji dalam hati akan mendukung sang calon cucu menantu. Dia akan membuatnya merasakan kebahagian. Meski Keenan juga tidak mendapat kasih sayang orang tua, setidaknya pria itu memilikinya sebagai nenek. Dia mulai bertanya-tanya apa sang wanita hidup baik dengan keluarga bibinya. “Apa wanita itu baik padanya?” “Tentu saja, Nek. Terutama kakaknya. Dia sangat memanjakan Achi ...” Keenan menutup mulutnya. Nyaris saja dia menyebutkan nama Achiera. “Sepertinya itu nama gadis itu, kan? Achi?” “Sudahlah. Keenan mau istirahat. Sudah malam. Besok Keenan ada rapat penting.” “Apa kamu sedang melarikan diri?” tanya Marwa saat Keenan beranjak. “Bukan. Keenan memang harus rapat besok. Keenan pulang dulu.” “Bukannya kamu mau menginap malam ini?” “Sebaiknya tidak. Ada beberapa pekerjaan yang masih harus Keenan selesaikan malam ini. Keenan tidak mau mengganggu Nenek.” “Bilang saja kalau kamu takut ditanya-tanya sama Nenek. Padahal Nenek sangat penasaran.” “Nenek akan segera bertemu dengannya. Bersabarlah sebentar lagi. Baiklah. Keenan pergi dulu. Malam Nenek tersayang. Assalamualaikum.” Pandangan Marwa memperhatikan setiap langkah Keenan yang menjauh. Dia ikut bahagia melihat Keenan yang sudah bisa membuka hati pada wanita. “Semoga kamu bahagia.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD