Bab 9: Canggung

1861 Words
“Buat kamu,” ujar Keenan sambil menyodorkan sekotak terang bulan kesukaan Achiera. Dia bahkan membelikan jus stroberi untuk wanita itu. Achiera yang tengah duduk di sebuah bangku mendongak. Dia menatap kedua tangan Keenan yang memegang makanan dan minuman kesukaannya itu. Kemudian, dia beralih pada Keenan yang kini tersenyum. Karena merasa dia tidak sanggup melihat pesona sang bos, dia memalingkan wajah setelah menerima pemberian Keenan. Jujur saja, setelah mengantar anak korban pemukulan oleh ayahnya sendiri tadi, Achiera sudah mau berpisah. Namun, karena Keenan memintanya untuk duduk sebentar, dia menurut. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Keenan akan membelikan hal-hal seperti ini. Dia pikir, Keenan akan pergi setelah menyelesaikan tugasnya mengembalikan anak itu. Melihat Keenan yang justru duduk di dekatnya membuat Achiera semakin bingung. Dia menggeser posisi agar tidak terlalu dekat dengan bosnya. Jika sampai ada yang melihat, bisa berbahaya. Dia juga bertanya-tanya kenapa Melly tidak menghubunginya padahal mereka sudah berpisah cukup lama. Ke mana sabahatnya itu pergi? “Terima kasih. Bapak tidak perlu repot begini.” Mulut Achiera gatal sekali ingin bertanya bagaimana Keenan tahu makanan dan minuman kesukaannya. Apakah Keenan membelikan karena benar-benar tahu atau hanya sebuah kebetulan. Keenan bahkan tidak mengatakan apa-apa saat memberikan keduanya. Namun, semua kalimat berhenti di tenggorokan. Pandangan wanita berbaju biru memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di dekatnya. Setidaknya Achiera tidak perlu duduk dalam suasana sepi dan hanya berduaan dengan Keenan. Untung saja rumah anak itu ada di dekat taman, jadi tidak perlu bingung mencari. Sang anak tidak mengizinkan mereka masuk karena alasan pribadi. Tidak ada yang bisa Achiera dan Keenan lakukan selain menuruti. “Makanlah. Kalau sudah dingin tidak akan enak lagi,” kata Keenan. Dia membuka kotak yang Achiera letakkan di antara mereka. “Saya ....” Kedua mata Achiera menutup saat menghidu aroma stroberi yang menguar dari kotak yang terbuka. Senyumnya mengembang begitu saja. Dia bahkan tidak menyadari jika Keenan tengah memperhatikan sambil tersenyum lebar. Ketika menoleh dan mendapati keadaan itu, dia terpaku. Hanya beberapa saat karena dia langsung berpaling. Suasana macam apa ini sebenarnya? Achiera belum pernah merasa secanggung ini saat bersama dengan seseorang. Entah karena pembicaraannya dan Keenan mengenai pernikahan atau ada alasan lain. Dia sungguh tidak mengerti. Yang pasti, sekarang jantungnya bisa meledak kapan pun tanpa peringatan karena berdebar terlalu keras. “Tidak usah pedulikan saya.” “Bapak ... tidak suka terang bulan?” Achiera mencoba mencairkan suasana sambil mengambil satu potong terang bulan stroberi. Dia berniat untuk menikmati meski masih belum berhasil menormalkan detak jantungnya yang melaju cepat. “Saya ...” Keenan melirik Achiera yang hampir memasukan terang bulan ke dalam mulut. Dia berpaling dengan cepat saat melihat mata Achiera yang membesar. “Saya tidak suka makanan manis. Kamu makan saja.” “Ba-baiklah.” Agar terhindar dari masalah yang tidak diperlukan, Achiera menyerongkan badan. Dia memakan terang bulannya tanpa mengatakan apa-apa. Matanya memejamkan saat membayangkan tatapan Keenan tadi. Apa dia terlihat jelek saat membuka mulut? Kenapa juga Keenan menoleh saat dia mau memasukan makanan? Memalukan. Di samping sang wanita, Keenan menutup mulut agar tawanya tidak meledak. Dia menggigit bibir bawahnya saat merasa tidak mampu menyembunyikan senyuman. Jika Achiera sampai melihat, pasti akan merasa malu. Tadi, dia bisa melihat wajah Achiera yang memerah saat ketahuan akan memakan terang bulan. Kenapa harus malu saat akan memakan sesuatu? Keenan tidak memahami hal ini. Bukankah semua orang akan membuka mulut dengan lebar ketika makan? Penasaran dengan apa yang dipikirkan oleh Achiera, dia melirik dari sudut matanya. Wanita itu masih menikmati makanannya. Jadi, sebaiknya dia tidak mengganggu. “Kamu ke taman sendirian?” tanya Keenan begitu Achiera selesai memakan sepotong terang bulan. Dia kembali melirik Achiera yang meminum jus stroberi. “Tidak. Saya datang bersama Melly.” Achiera menoleh pada Keenan yang menatap lurus ke depan. “Bagaimana dengan Bapak? Bapak ke taman dengan ....” “Ah. Saya ke taman karena nenek saya minta dibelikan terang bulan. Kebetulan nenek saya hanya menyukai terang bulan yang ada di taman ini. Jadi, saya ke sini.” Kepala Achiera mengangguk-angguk. Dia memperhatikan wajah Keenan yang terlihat dari samping. Bahkan dari sudut pandang ini pun, sang bos tampak luar biasa. Seakan Keenan memang tercipta untuk menebarkan kekaguman. Wanita itu penasaran sudah berapa banyak orang yang terpesona oleh ketampanan Keenan. Begitu Keenan menoleh, Achiera cepat-cepat mengalihkan perhatian. Dia pura-pura merapikan rambutnya yang malam ini diurai seperti biasa. Jemarinya menyelipkan anak rambut yang menghalang di wajah. Kenapa dia harus merasa sangat canggung begini? Tidak bisakah dia menggunakan otak cerdasnya di saat seperti ini? Sebuah nada pesan masuk membuat Achiera tersadar. Dia mengerutkan kening saat melihat nama pengirimnya, Melly. Tanpa menoleh, dia membuka pesan itu. Matanya membesar saat melihat gambar yang dikirimkan oleh sang sahabat. Matanya mencari-cari Melly, tetapi tidak ketemu. Bagaimana Melly bisa mengambil gambarnya dengan Keenan? “Ada masalah?” Achiera mendongak. Dia menutup pesan dari Melly, lalu tersenyum sambil menggeleng. Mana mungkin dia mengatakan yang sebenarnya pada Keenan. Dia berdeham. “Apa anak itu akan baik-baik saja?” Dia mencoba mengalihkan pembicaraan “Kamu tenang saja. Saya sudah meninggalkan kartu nama. Saya juga meyakinkan anak itu agar mau menghubungi saya saat membutuhkan bantuan.” Achiera mengangguk lega. Keadaan kembali sunyi. Achiera menghela napas. Dia ingin melirik Keenan, tetapi terlalu takut. Jadi, dia hanya menunduk dan memandangi rumput hijau di bawah kakinya. “Sepertinya saya harus pergi. Saya khawatir kalau Melly akan khawatir. Dia baru saja mengirim pesan pada saya.” “Benarkah? Baiklah. Kita berpisah di sini.” Achiera berdiri dengan terburu-buru. “Saya permisi, Pak. Selamat malam.” Setelah melihat senyum Keenan dan balasan salamnya, Achiera pergi tanpa menoleh. Dia takut jika melihat pria itu lagi, jantungnya akan kembali menggila. Kakinya bahkan melangkah terlalu cepat untuk seorang Achiera. Langkahnya terhenti saat seseorang menarik tangannya. Dia nyaris berteriak jika saja tidak menyadari lebih awal. “Bisa enggak, jangan ngagetin orang?” protes Achiera. Melly terkikik. “Aku pikir kamu bakal lama di sana. Gimana rasanya kencan sama Pak Bos?” Tawa Melly semakin keras begitu melihat wajah frustrasi. “Eh, kamu tadi kayaknya makan terang bulan.” Achiera menepuk kening saat mengingat terang bulan dan jus stroberi yang sudah diminumnya setengah. Sayang sekali dia meninggalkan keduanya di tempat Keenan. Sudah terlambat untuk kembali. Achiera tidak memiliki cukup keberanian menghadapi Keenan dua kali malam ini. Lagi pula, itu hanya makanan. Kenapa dia begitu kesal begini? Kenapa juga Keenan tidak mengingatkan mengenai hal ini? Apa pria itu tidak benar-benar ingin memberinya terang bulan? Benarkah begitu? Tidak masuk akal. Keenan sepertinya bukan tipe pria yang akan mengambil apa yang telah diberikan pada orang lain. Mungkin dia tidak memperhatikan sekeliling sehingga tidak menyadari kalau makanan itu tertinggal. Entahlah. Achiera tidak mau memikirkan pertemuannya dengan Keenan barusan. “Aku tinggal di sana.” “Kenapa? Pak Keenan enggak beliin itu buat kamu?” Achiera menatap tajam Melly. “Kenapa kamu penasaran banget? Bukannya kamu sudah lihat semuanya?” “Iya. Aku bakal dapat uang banyak kalau berita ini sampai tersebar.” Achiera mengacungkan telunjuk tepat di depan wajah Melly dengan ekspresi serius. “Kamu juga tahu aku bukan orang kayak gitu, kan? Aku ini setia kawan.” “Sebaiknya gitu. Aku enggak mau jadi gosip satu kantor.” “Jadi, apa yang kalian omongin?” “Enggak ada. Cuma ngomongin soal anak yang kami tolong tadi.” “Anak yang kalian tolong?” ulang Melly. “Iya. Tadi waktu ke kamar mandi, aku lihat anak yang dipukuli ayahnya. Aku nolong dia, tapi ternyata ayahnya lumayan serem. Aku hampir dipukul. Untung saja ada Pak Keenan yang datang nolong aku.” “Wah! Jadi, kamu diselamatkan sama calon suami, nih, ceritanya?” “Sudahlah. Enggak usah bikin gosip. Dia bukan calon suamiku.” “Kalimat yang kamu pakai salah. Harusnya kamu bilang dia belum jadi calon suamiku. Soalnya kamu belum setuju mau menikah sama dia.” “Kamu enggak bakal berhenti?” “Achiera.” Hanya ada satu orang yang memangginya dengan nama itu, Keenan. Karena terkejut, Achiera nyaris menabrak Melly yang berdiri di depannya. Dia mengerjap berkali-kali untuk memastikan penglihatan setelah berbalik. Pria yang ada di hadapannya memang Keenan. Sesaat, senyum Keenan membiusnya. Dia tidak bisa bergerak sama sekali. Melly yang kini ada di belakang Achiera, menggeser tubuhnya agar bisa melihat sang bos lebih jelas. Dia menganggukan kepala saat Keenan berpaling padanya. Sebuah kantong plastik yang dibawa Keenan membuat wanita itu mengerut. Dia lantas menoleh pada Achiera yang hanya diam. Kenapa keadaan ini membuatnya jadi serba salah? “Kamu meninggalkan makanan dan minuman kamu,” ujar Keenan. Dia mengulurkan kantong plastik putih yang ada di tangan kanannya. “Itu ...” Achiera menerima kantong itu dengan perasaan ragu. Dia sempat melirik Melly yang mengangguk sambil mengedip-ngedipkan mata. “Terima kasih. Bapak sebenarnya tidak perlu mencari saya hanya karena ini.” “Ini milik kamu. Tentu saja saya harus mengembalikan pada kamu.” Achiera tersenyum canggung mendengar perkataan Keenan. Hanya seperti itu. Keenan memperhatikan dua wania yang berada di depannya tanpa berniat mengatakan apa pun. Anehnya, dia sama sekali belum ingin beranjak saat melihat Achiera yang menunduk. Dia berdiri diam tanpa melakukan apa-apa. Dia mau berada di sana sebentar lagi sebelum benar-benar meninggalkan taman. Itu saja. Sementara itu, Melly yang tidak tahan dengan suasana di sekitarnya, menyenggol Achiera. Keenan bahkan hanya berdiri sambil memainkan telepon genggamnya sekarang. Melly menunjuk sang bos dengan mata. Achiera tahu apa ada dalam pikiran sahabatnya, tetapi memecah kesunyian dengan Keenan bukanlah hal mudah. “Sepertinya saya sudah cukup lama di sini,” kata Keenan saat Achiera bersiap membuka suara. Dia kembali menutup mulutnya yang sudah setengah terbuka. “Baiklah, Pak. Terima kasih untuk malam ini,” balas Achiera. “Tidak masalah. Saya permisi.” Keenan bergegas pergi tanpa perlu repot menunggu persetujuan kedua wanita yang terbengong karena kepergiannya. “Benar-benar Pak Keenan. Cuek seperti biasanya,” celetuk Melly. “Memang apa yang kamu harapkan? Dia berubah ramah gitu?” “Setidaknya di depan kamu, dia harus berusaha ramah, kan?” Dengan gerakan cepat, Achiera membalikkan badan untuk menghadap sang sahabat. Sayangnya, Melly malah memperhatikan sosok Keenan yang mulai menjauh. Senyum yang menghiasi bibir Melly membuat Achiera menghela napas. Terkadang pikiran fantasi Melly sangat berlebihan dan itu mengganggunya. “Kenapa dia harus ramah sama aku?” protes Achiera, tidak mengerti maksud sang kawan. “Bukannya dia harus bersikap baik sama kamu? Dia itu butuh bantuan kamu.” “Kami saling butuh bantuan kalau kamu lupa konsepnya,” ujar Achiera mengingatkan. Melly menghela napas, lalu duduk di bangku terdekat. Dia memperhatikan keramaian taman yang semakin padat. Melihat Achiera hanya berdiri, dia menarik sahabatnya itu agar ikut duduk bersama. “Sejujurnya, kalian itu sangat mirip.” Perkataan Melly sedikit tidak masuk akal bagi Achiera. “Maksud kamu aku sama Pak Keenan?” Melly mengangguk penuh keyakinan. “Mana mungkin. Aku enggak dingin kayak dia.” “Maksudku kalian sebenarnya sama-sama sudah memilih, tapi enggak mau saling ngalah.” Melly menggertakkan gigi saat Achiera justru mengerutkan kening. “Yang aku maksud adalah soal pernikahan kalian. Kalian sudah saling setuju. Sejak awal dia sudah milih kamu.” “Itu karena dia dengar omong kosongku di atap dan merasa situasi kami sama. Jadi, dia nawarin pernikahan sama aku.” Melly menggeleng berkali-kali. “Salah. Dia milih kamu bukan karena itu. Tapi karena sejak berencana menikah, kamu sudah jadi sasarannya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD