Bab 4: Jodoh

1795 Words
“Apa kamu benar-benar tidak mau menikah?” “Bukan tidak mau menikah, Nek. Tapi belum mau menikah. Aku akan segera mengenalkan calon istriku begitu kami siap. Bagaimana?” “Kamu sudah punya wanita yang kamu sukai, kan?” “Coba Nenek tebak.” Keenan tidak akan pernah melupakan bagaimana Wajah Marwa yang berubah cerah saat itu. Senyum sang nenek membuatnya kehilangan akal. Seharusnya dia tidak gegabah saat membahas mengenai pernikahan. Setelah membuat Marwa bahagia, mana mungkin dia tega memberi tahu yang sebenarnya terjadi. Tidak pernah ada wanita dalam kamus kehidupan Keenan. Pernikahan orang tuanya membuat pria itu takut untuk menerima cinta. Dia bahkan bersumpah tidak akan pernah menikahi wanita mana pun. Sayangnya, dia tidak bisa mengabaikan perasaan Marwa yang menginginkan momen tersebut. Pria berjas hitam menghela napas. Dia melempar pandangan keluar jendela. Hari sudah cukup sore. Jam kerja juga sudah usai beberapa waktu lalu. Di saat seperti ini, dia membutuhkan sebuah ketenangan. Setelah memejamkan mata sejenak, dia beranjak dari duduknya dan berniat untuk pergi ke tempat yang bisa menenangkan pikiran. Beberapa karyawan menyapa Keenan saat dia melintas. Seperti biasa, dia hanya menoleh sebentar untuk sekadar menghargai mereka. Dia bahkan tidak perlu repot membalas senyuman. Baru saja akan menekan tombol lift, dia melihat Achiera berjalan ke arah tangga menuju atap. Keningnya mengerut. Merasa penasaran, Keenan mengikuti Achiera. Dia ingin tahu apa yang dilakukan oleh wanita itu. Sekalian memastikan apa dia mempunyai peluang untuk mendapatkan perhatian dari sang manajer keuangan. Dia berjalan perlahan agar Achiera tidak menyadari ada yang mengikuti. Namun, sepertinya Achiera memang tidak memperhatikan sekeliling. Dia hanya berjalan lurus tanpa menoleh atau memastikan keadaan. Sesampainya di atap, Keenan hanya melihat Achiera yang diam. Dia hendak menyapa saat Achiera justru berbicara. Awalnya, dia berpikir kalau dia sudah ketahuan. Siapa sangka ternyata Achiera hanya berbicara pada papan billiboard di seberang gedung. Sekarang dia merasa sedang menguntit seseorang. Ini sangat memalukan. Semoga dia tidak ketahuan. Niat awal Keenan hanya akan menjadi pendengar. Akan tetapi, saat tahu Achiera sedang mencemaskan pernikahan, dia muncul begitu saja. Tidak sampai di sana. Dia bahkan mengajak wanita itu menikah tanpa berpikir panjang. Yang dia pikirkan saat itu adalah dia harus memanfaatkan momen berharga. “Saya bilang, ayo, kita menikah,” ujar Keenan dengan serius. Achiera menatapnya tak berkedip. Dia melihat ke kanan kiri, lalu mengerjap. “Bapak pandai sekali bercanda. Maaf kalau saya mengganggu. Saya pikir tidak ada orang di sini. Jadi, saya mengatakan omong kosong.” “Jadi, kamu tidak mau menikah dengan saya?” Kedua mata Achiera membesar. Dia menatap Keenan tanpa kedip. Kemudian, saat menyadari siapa yang sedang ditatapnya, dia mengalihkan perhatian dengan cepat. Wanita itu mencoba menenangkan jantungnya yang berpacu dengan cepat karena ucapan sang bos. Jika ada yang mendengar, pasti akan salah paham, bukan? “Saya rasa, ucapan Bapak sedikit berlebihan. Bagaimana jika sampai ada yang mendengar? Mereka mungkin akan berpikir saya menolak lamaran Bapak?” “Bukankah kamu memang menolak lamaran saya?” “Kapan Bapak melamar saya?” Achiera balik bertanya. “Bukankah saya tadi sudah mengajak kamu menikah? Itu sama saja dengan lamaran, kan?” Ucapan Keenan tidak masuk akal. Achiera merasa kalau bosnya itu sedang mempermainkannya. Mana bisa ajakan menikah tiba-tiba disamakan dengan lamaran. Lagi pula, mereka tidak begitu dekat sampai Keenan bercanda mengenai pernikahan. Lalu, apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini? Sudut mata Achiera melirik Keenan yang masih menatapnya. Dia langsung berpaling saat tahu Keenan tidak mengalihkan pandangan. Hari ini begitu sial. Dia berpikir bisa menenangkan diri dari tekanan pernikahan yang diberikan oleh sang bibi. Namun, dia justru dikejutkan dengan kemunculan Keenan yang mengajaknya menikah. “Bapak sepertinya tidak begitu tahu konsep lamaran,” ujar Achiera sambil tersenyum. Dia mencoba memperbaiki keadaan yang kacau. “Apa kamu mau dibuatkan sebuah lamaran khusus? Saya bisa melakukannya.” Sekarang, Achiera benar-benar menghadapi Keenan dengan tatapan yang sulit dipahami. Dia tidak habis pikir dengan pria yang ada di depannya itu. Jika bukan karena Keenan adalah bosnya, dia pasti sudah membuat perhitungan. Bagaimana bisa seseorang menggoda dengan menawarkan pernikahan seperti itu? Dilihat dari sisi mana pun, Keenan bukan orang yang sembarangan mengatakan sesuatu. Meski dingin dan jarang berbicara dengan orang lain, dia sosok yang sangat bertanggung jawab atas ucapannya. Achiera tidak bisa menyimpulkan sikap Keenan sore ini. Mungkinkah dia salah menilai Keenan selama ini? Apa Keenan sebenarnya pria yang tidak tahu diri? “Jangan salah paham. Saya berkata begitu karena berpikir kamu tidak menyukai cara saya mengajak kamu menikah. Wanita biasanya menyukai acara lamaran yang resmi. Saya bisa mempersiapkannya jika kamu menginginkannya.” “Tunggu dulu. Bapak benar-benar mau melamar saya?” “Tentu saja. Apa saya terlihat bercanda sekarang?” Mulut Achiera terkunci. Dia tidak berani menjawab pertanyaan itu. “Saya tidak bercanda, Achiera. Saya benar-benar ingin menikahi kamu. Bagaimana? Apa kamu akan menerima saya jika saya melamar dengan resmi.” Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Achiera. Dia hanya diam sambil memandang wajah tampan atasannya yang terus membicarakan masalah lamaran resmi. Ini pertama kalinya dia tidak tahu harus bersikap seperti apa. Kecerdasannya mendadak hilang tak bersisa. Dia tidak bisa memikirkan apa pun. “Achiera,” panggil Keenan sambil menekan kedua pundak Achiera. “Iya. Apa yang Bapak katakan?” “Kamu tidak mendengarkan saya?” tanya Keenan dengan wajah mengeras. Achiera mengerjap. Tepat saat dia menyadari ada sesuatu yang salah. Kedua tangan Keenan yang berada di bahunya membuat Achiera menutup mulut. Dia ingin berteriak, tetapi takut ada yang mendengar. Jadi, dia melirik tangan itu dan Keenan secara bergantian. Sengaja memberi kode pada sang bos untuk menurunkannya. Namun, karena Keenan tak kunjung merespons, dia terpaksa menyingkirkannya sendiri. “Maaf. Saya tidak sadar sudah melakukan itu,” ujar Keenan. Achiera mengangguk mengerti sambil mencoba tersenyum sopan. “Jadi, bagaimana?” Keenan kembali mendesak. “Bagaimana apanya, Pak?” Achiera meringis saat Keenan mengembuskan napas. “Maaf. Pikiran saya sedang sangat kacau, jadi saya tidak begitu fokus.” “I see. Kamu biasanya sangat cerdas. Saya masih membahas mengenai lamaran resmi. Apa kamu mau menerima lamaran saya?” “Kita tidak sedang menjalin hubungan, apa maksud Bapak dengan lamaran?” “Kamu dan saya sama-sama ingin menikah, bukankah akan bagus kalau kita menyelesaikan permasalahan dengan pernikahan?” Kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh Keenan mulai dicerna baik-baik oleh Achiera. Pikirannya yang sudah kembali normal kini memahami kondisi mereka. Dia meneliti Keenan yang terus saja menatapnya. Bagaimana bisa seorang pria memberikan tatapan mengerikan begitu saat melamar? Apa karena Keenan masih menganggap Achiera sebagai karyawannya? Dia menghadapi wanita itu seolah Achiera sudah melakukan kesalahan dan harus segera diperbaiki. Dia berdiri di sana hanya demi menunggu Achiera selesai memperbaiki pekerjaan. Perasaan macam apa ini? Achiera merasa semakin tertekan. “Bapak ingin menikah? Dengan saya?” Keenan tidak segera menjawab. Dia malah menatap Achiera sambil menyilangkan kedua tangannya. “Apa Bapak juga didesak untuk menikah?” “Juga?” ulang Keenan. “Sepertinya kita berada di posisi yang sama. Bagaimana? Mau saling membantu dengan menerima tawaran saya?” “Kenapa saya harus menerima tawaran Bapak?” Keenan mengusap dagu. “Karena kamu butuh calon suami dan kamu belum memilikinya.” “Benarkah? Sepertinya pendengaran Bapak sangat baik.” “Tentu saja.” Keenan maju selangkah. “Pikirkan baik-baik. Saya akan menunggu keputusanmu. Tapi kamu harus tahu kalau saya tidak mau menunggu lama. Sama seperti kamu, saya juga didesak dengan waktu. Saya juga harus menikah secepatnya.” Usai berkata begitu, Keenan pergi. Dia meninggalkan Achiera yang terbengong di tempat. Belum pernah ada pria yang bersikap seberani ini pada Achiera. Wanita itu masih menatap punggung Keenan sampai menghilang di balik pintu. Dia memutar tubuh dan kembali menghadap ke papan billiboard. “Sepertinya dia merasa hebat karena dia bosku,” ujar Achiera pelan. Dia tidak mau ketahuan lagi oleh Keenan. Bagaimana kalau pria itu masih mengintainya dari suatu tempat. “Di sini tidak ada kamera, kan?” Pandangan Achiera mengelilingi atap. Dia tidak menemukan ada tanda-tanda terpasangnya kamera pengawas. Sepertinya dia terlalu khawatir karena Keenan yang bersikap aneh hari ini. Meski begitu, dia tidak bisa melupakan perkataan pria itu. Dia bisa mengingat dengan jelas semua ucapan Keenan tadi. “Aku pasti sudah gila. Kenapa aku tidak memeriksa sekeliling sebelum mengatakan hal-hal konyol. Benar-benar memalukan.” Di tempat lain, Keenan tersenyum penuh kemenangan. Dia bisa menjamin jika Achiera akan menerima tawaran. Meski dia sendiri tidak yakin akan butuh berapa lama untuk membuat wanita itu menyetujui usulannya. Melihat bagaimana Achiera menanggapi, dia percaya bahwa kali ini bisa memenuhi permintaan sang nenek. “Mendapatkan kabar baik?” Keenan menoleh. Bayu muncul dari dalam lift yang baru saja akan dia masuki. Pria itu tersenyum lebar. “Ikut aku ke kantor. Ada yang perlu kita bicarakan.” “Benarkah? Masalah pekerjaan atau masalah pribadi?” Bayu cepat-cepat melangkah mengikuti Keenan yang berjalan cepat. “Sepertinya sangat mendesak.” “Tentu saja. Ini mengenai lamaranku pada Achiera.” Langkah Keenan terhenti saat merasa Bayu tidak mengikuti. Dia menoleh dan mendapati sang asisten yang terdiam di tempat. Tatapan Bayu yang kosong membuatnya menepuk kening. Memangnya apa yang dia katakan sangat mengejutkan sampai Bayu terlihat syok begitu? Dia akan lebih terkejut saat mengetahui semuanya. “Bayu, cepat!” “Ah, baik, Pak.” Setengah berlari, Bayu menyusul Keenan yang berjalan semakin cepat. Dia terus melirik sang kakak yang tidak mengatakan apa pun lagi. Saat sudah sampai di ruangan Keenan, mereka duduk di sofa. Bayu menatap Keenan yang sepertinya masih ragu ingin mengatakan apa. Dia menghela napas, lalu menatap Bayu dengan wajah serius. “Aku sudah melamar Achiera.” “Apa? Secepat ini? Bukankah aku sudah bilang kalau Kakak perlu tahap-tahap tertentu untuk melakukan pendekatan dengan wanita.” “Aku harus bergerak cepat sebelum terlambat, bukan?” “Iya. Tapi lamaran tiba-tiba mungkin akan terdengar aneh. Dia pasti menolak, kan?” “Dia memang menolak pada ...” “Nah, kan. Kenapa Kakak jadi tidak sabaran begini. Bukankah Kakak selalu mendahulukan akal sehat dari pada emosi yang menggebu-gebu?” “Siapa yang emosi menggebu-gebu? Awalnya dia memang menolakku. Tapi sepertinya kali ini akan berhasil. Aku rasa dia masih ragu karena tiba-tiba bosnya melamar.” “Itu sudah pasti. Apa dia mengatakan akan mempertimbangkan lamaranmu.” “Bisa dibilang begitu. Bagaimana pun, dia mungkin akan menerimaku.” Pandangan Keenan melayang pada wajah ragu Achiera. Sepertinya wanita itu memang cukup syok dengan tindakannya tadi. Dia belum pernah melihat Achiera terpojok begitu. Achiera selalu bisa menjawab pertanyaan yang dia ajukan setiap kali mereka rapat atau diskusi. Melihat Achiera sampai linglung begitu cukup menyenangkan. Senyum di wajah Keenan semakin lebar saat membayangkan tingkah lucu Achiera. Lalu, dia menyadari sesuatu. Sejak kapan dia suka memikirkan wanita seperti ini. Dia menoleh pada Bayu yang menatapnya penuh selidik. “Ada apa antara Kakak dan Achiera?” Keenan mendorong kening Bayu yang terlalu dekat. “Jangan mengatakan omong kosong. Tidak ada apa-apa di antara kami.” Bayu ingin bertanya lagi, tetapi Keenan sudah sibuk dengan telepon genggamnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD