“Ayo, menikah.”
“Apa kamu mau menerima lamaran saya?”
Dua kalimat itu terus menggaung di kepala Achiera. Dia menghela napas sambil mengusap wajah. Kemudian, dia mengetuk-ngetuk meja dengan telunjuk sambil mengangguk-anggukan kepala. Begitu terus sampai beberapa waktu. Layar komputer yang masih menyala menunjukkan banyak huruf K yang berderet.
Hal seperti ini belum pernah terjadi dalam hidup Achiera. Dia memang merasa tidak nyaman dengan permintaan Nila. Namun, sekarang dia semakin gelisah karena tawaran yang diberikan oleh Keenan. Terus terang, dia tidak ingin mempercayai ucapan Keenan yang terasa tidak nyata. Sayangnya, dia selalu terbayang wajah Keenan saat mengatakan semua itu.
Jika dipikirkan lagi, Keenan memang sangat tampan. Wajahnya yang terbiasa tanpa ekspresi sama sekali tidak bisa menyembunyikan kenyataan itu. Meski terkenal selalu mengutamakan pekerjaan, dia masih tergolong ramah saat menegur karyawan yang bersalah. Dia bukan tipe bos berdarah dingin dan kejam. Sejujurnya, Achiera banyak belajar dari pria itu.
“Ya, ampun! Aku mikir apa, sih?”
Kedua tangan Achiera mengusap wajah berkali-kali. Dia mencoba menghilangkan bayangan Keenan yang menawarkan bantuan berupa pernikahan. Merasa sangat terganggu, dia kembali menatap layar komputer. Matanya membelalak saat melihat apa yang tertulis di sana. Di antara banyak huruf K, ada satu nama yang tengah mengganggu pikirannya.
Takut-takut, Achiera memeriksa sekeliling. Beruntung dia memiliki ruangan terpisah dari ketiga bawahannya. Meskipun itu hanya terpisah dengan kaca transparan. Dia melirik semua staf yang sedang sibuk bekerja. Bisa-bisanya dia menulis nama Keenan di layar komputer. Untung saja tidak ada yang menyadari hal itu.
Khawatir ada yang mengetahui, Achiera segera menghapus semua huruf yang ditulis saat pikirannya kacau. Seharusnya dia tidak memikirkan semua omong kosong Keenan. Biar bagaimana pun, dia tidak bisa membiarkan sang bos menikahinya. Bukan apa-apa. Kalau itu sampai terjadi, mungkin dia tidak akan merasa nyaman bekerja di kantor. Padahal dia masih menginginkan pekerjaannya saat ini.
“Baiklah, Achiera. Lupakan ucapan bosmu dan mulai bekerja dengan baik seperti biasa.”
“Memangnya Pak Keenan bilang apa?”
Mendengar suara itu, Achiera berdiri dengan cepat. Dia memutar tubuh dan tersenyum melihat Mellly yang melongok ke layar komputer. Wanita itu melirik keadaan. Dalam hati, dia bersyukur karena sudah menghapus nama Keenan. Kalau Melly sampai tahu, dia tidak tahu harus bagaimana menjelaskan. Masalah ini tidak sesederhana itu, bukan?
Gelagat Achiera membuat Melly mengerutkan kening. Dia masih berusaha melihat apa yang tertulis di layar komputer yang berusaha ditutupi oleh sang sahabat. Meski bekerja di divisi berbeda, mereka masih dalam satu perusahaan. Jadi, bekerja sama dalam menyelesaikan pekerjaan bukanlah hal yang tabu.
“Kenapa kamu ke sini?”
“Eh, Neng. Ini sudah lewat jam makan siang. Aku tadi nyari kamu, tapi enggak ketemu. Dari mana saja? Kenapa jam segini masih kerja?”
Pandangan Achiera beralih pada para stafnya yang masih menatap layar komputer. Jika diperhatikan lagi, sudah ada makanan di dekat mereka. Mungkin mereka malas keluar kantor karena sedang hujan, jadi memilih untuk pesan antar. Lalu, untuk apa Melly ada di sini? Dia kembali menoleh pada sahabatnya itu.
“Kenapa malah ngelamun? Kamu benaran ditegur sama Pak Keenan?” Wajah Melly berubah cerah saat dia duduk di depan Achiera.
“Berharap banget aku ditegur sama Pak Keenan. Kamu itu temanku atau musuhku?”
“Habis kamu selalu ngelakuian semua hal dengan baik. Aku penasaran saja, gimana kalau suatu hari kamu benaran buat kesalahan dan ditegur. Pak Keenan itu memang cukup baik waktu negur kita. Tapi, tetap saja, tuntutannya terlalu tinggi.”
“Aku ingat kamu pernah bilang kalau Pak Keenan bos yang baik. Lagi pula, aku kerja di sini juga gara-gara kamu, kan? Kamu bilang lingkungan di kantor ini baik banget.”
“Ya, kalau dibedakan sama kantor lama kamu memang iya. Di sini para karyawannya cinta damai. Jadi, enggak ada ceritanya menjebak teman sendiri buat keuntungan pribadi.”
Perkataan Melly membuat Achiera tersenyum. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi menjelaskan pada sang sahabat kalau masalah di perusahaan sebelumnya hanya salah paham. Walaupun pada akhirnya memang dirugikan, dia tidak mau menyalahkan siapa-siapa. Toh, sekarang dia sudah mendapatakan pekerjaan yang lebih baik.
Helaan napas lolos dari mulut Achiera saat melihat Melly yang mulai beraksi. Dia bertopang dagu sambil memperhatikan Melly yang mengambil sebuah pena dari tempat pensil di dekat komputer. Dengan gerakan cepat, dia memasukan pena ke tempat semula. Mengambilnya lagi. Memasukkan lagi. Begitu terus sampai berulang kali.
Bukannya tidak pernah menegur kebiasaan aneh Melly saat berada di kantornya. Achiera bahkan sudah pernah mengusir Melly karena hal ini. Entah apa gunanya melakukan hal sama beruang kali. Dan itu tidak ada manfaatnya sama sekali. Bukankah Melly hanya menyia-nyiakan waktu? Kenapa dia tidak melakukan itu di ruangannya sendiri?
“Mau sampai kapan kamu keluar masukin pena kayak gitu?” Gerakan Melly berhenti. Dia meletakkan pena dengan hati-hati, lalu menoleh pada Achiera sambil meringis.
“Seru saja ngelakuin ini di ruangan kamu. Soalnya pena kamu banyak.”
“Pena itu punya mata pena berbeda kalau kamu mau periksa. Itu punya kegunaan sendiri-sendiri,” jelas Achiera sambil menunjuk tempat pensilnya dengan dagu.
“Aku tahu. Kamu selalu teliti dalam berbagai hal. Bahkan dalam urusan alat tulis kayak gini.”
“Itu bakal bantu aku bekerja dengan baik,” ujar Achiera. “Kamu ngapain ke sini?”
“Ah, iya. Kata Hani, kamu sibuk banget hari ini. Sampai-sampai lupa makan siang. Jadi, aku berbaik hati beliin kamu martabak manis. Rasa stroberi.” Melly menunjuk bungkusan yang ada di meja. Achiera tidak tahu sejak kapan makanan itu ada di sana.
“Wah, makasih, Teman. Kamu memang yang terbaik. Makasih, ya,” kata Achiera. Dia mulai menikmati makan siangnya. Melly tersenyum bangga mendengar sanjungan itu.
“Tapi kayaknya kamu sudah selesai kerja. Kenapa malah bengong? Bukannya keluar buat cari makan siang?” Melly menyipitkan mata. “Pak Keenan sebenarnya ngomong apa?”
Pertanyaan Melly tidak langsung dijawab oleh wanita berambut panjang. Dia belum tahu bagaimana cara mengatakan hal itu tanpa membuatnya salah paham. Melly orang yang cenderung penasaran. Bukannya tidak percaya. Achiera hanya tidak ingin repot saat ditanyai ini itu. Padahal dia tidak melakukan sesuatu yang salah.
Sikap diam Achiera menggelitik rasa penasaran Melly. Dia bertopang dagu, lalu mendekatkan wajahnya. Matanya mulai memperhatikan sang sahabat yang kini tampak menghindari tatapannya. Sudah bisa dipastikan kalau ada yang disembunyikan. Achiera paling buruk saat diminta berbohong. Semua akan ketahuan ketika dia menatap mata sahabatnya itu. Dia jadi semakin penasaran.
“Pak Keenan enggak nembak kamu, kan?”
“Apaan, sih?” Achiera menutup mulut Melly dengan tangannya. “Bisa enggak ngomongnya pelan saja? Gimana kalau ada yang dengar, terus salah paham?”
Melly menyingkirkan tangan Achiera, lalu tertawa tanpa suara. Dia bisa melihat dengan jelas bagaimana merahnya wajah Achiera sekarang. Wanita itu mengedip-ngedipkan mata. Senyumnya sungguh membuat Achiera ingin memberikan sebuah pukulan. Achiera tidak suka berada di posisi yang tidak mengenakan begini.
Semua gara-gara Keenan. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia merasa bersalah. Padahal dia tidak melanggar aturan atau hukum. Dia hanya terjebak dalam kejadian tidak mengenakan yang melibatkan sang bos. Kenyataan itu membuatnya mengembuskan napas dengan kasar. Mungkin sebaiknya dia menghindari Keenan agar tidak terpengaruh.
“Jadi, Pak Keenan benaran nembak kamu?” ulang Melly dengan antusias.
“Menurut kamu itu mungkin?” Wajah Melly berubah muram saat menyadari jika hal itu nyaris mustahil. Seperti kalian mengharapkan orang yang buta, tiba-tiba bisa melihat. Butuh sebuah keajaiban untuk mewujudkannya.
“Jadi, ada apa dengan Pak Keenan?” Achiera menunduk lemah. “Nah, kan. Aku tahu kalau ada yang enggak beres sama kamu dan Pak Keenan. Kamu enggak mungkin sedepresi ini kalau ini berhubungan sama kerjaan. Iya, kan?”
“Kamu makin pintar menilah keadaan,” ujar Achiera tanpa bermaksud untuk mengangkat kepala. “Kayaknya aku lagi bernasib buruk.”
“Coba ceritakan sama aku. Kalau kamu kayak gini, aku bakal semakin penasaran.” Achiera mengdongak. “Apa yang terjadi sebenarnya?”
“Apa kamu tahu kalau Pak Keenan itu bos yang gila?”
“Dia memang sedikit keras, tapi enggak cukup kejam sampai kamu harus nyebut dia gila, kan? Dia suka banget nolong orang lain tanpa pamrih. Apa kamu enggak keterlaluan?”
“Kamu bahkan bela dia sebelum aku cerita.”
“Oke, oke. Aku salah. Sekarang kamu cerita. Aku bakal dengarin dengan penuh perhatian.”
“Kemarin waktu aku ke atap, aku ...”
Baik Achiera maupun Melly mendengkus saat mendengar ketukan pintu. Mereka menoleh bersamaan dan mengucapkan kata masuk. Seorang gadis muda berambut sebahu muncul. Dia tersenyum dan bermaksud menyampaikan tujuan. Namun, begitu melihat pandangan dua wanita di depannya, dia meringis sambil mengusap tengkuk.
“Apa ... sebaiknya saya keluar dulu?” tanya Hani, salah satu staf Achiera.
“Masih berani bertanya?” Melly melotot pada Hani yang mundur selangkah.
“Tidak usah dengarkan dia, Han. Ada apa?”
“Begini, Bu. Maaf jika saya mengganggu. Tapi Pak Bayu baru saja menelepon. Katanya Pak Keenan memanggil Ibu ke kantornya.”
“Ah, baiklah. Terima kasih.” Hani mengangguk, lalu cepat-cepat keluar sebelum Melly mengeluarkan kalimat panjangnya. “Tunggu dulu. Dia tadi bilang apa?”
Tangan Achiera menepuk kening saat melihat Melly yang tersenyum miring. Dia sampai tidak menyadari pesan yang disampaikan oleh Hani. Sekarang, hatinya mulai menciut. Niat untuk menghindar sepertinya tidak akan bisa dilakukan. Biar bagaimana pun, Keenan adalah bosnya. Mana mungkin dia bisa menjauhi Keenan.
“Pasti ada yang enggak beres. Jadi, kamu mau nemui Pak Keenan atau enggak?”
“Itu ... apa aku bisa minta kamu buat gantiin aku?”
“Kamu pikir aku mau jadi umpan? Aku tahu ada yang aneh di sini. Sebaiknya kamu cepat pergi dan segera kasih tahu aku setelah pulang kerja.”
Tidak ada yang bisa Achiera lakukan selain mengangguk. Dia menatap Melly yang berjalan keluar dari ruangan. Wanita cantik meletakkan kepala di meja. Entah apa tujuan Keenan memanggilnya kali ini. Yang pasti tidak mungkin berhubungan dengan pekerjaan. Sudah bisa dipastikan Keenan akan membahas masalah kemarin lagi.
Pikiran Achiera dipenuhi dengan berbagai dugaan. Dia baru memejamkan mata saat pintu ruangannya kembali diketuk. Dengan malas, dia mengangkat kepala dan mempersilakan si pengetuk masuk. Lagi-lagi Hani. Stafnya itu sempat memperhatikan sebelum mendekat.
“Ada apa lagi, Han?”
“Itu, Bu. Pak Bayu menelepon lagi. Katanya Bu Chichi ...”
“Saya tahu. Saya akan menemui Pak Keenan sekarang.”
“Maaf, Bu. Apa kami melakukan kesalahan?” Achiera memperhatikan Hani yang memainkan kuku. “Apa ada masalah dengan laporan yang kami buat?”
“Kamu sedang meragukan pekerjaan saya?”
“Tidak, Bu. Bukan begitu. Saya bertanya bukan karena meragukan kemampuan Ibu. Saya hanya merasa khawatir karena Ibu dipanggil tanpa alasan yang jelas.”
“Pak Bayu tidak mengatakan apa alasan Pak Keenan memanggil saya?” Achiera mengangguk mengerti saat melihat gelengan kepala Hani. “Tidak masalah. Saya akan tahu saat sudah berhadapan dengan Pak Keenan. Kembalilah bekerja.”
Achiera menggerakkan tangan untuk meminta Hani keluar. Dia menghela napas, lalu merapikan baju. Setelah merasa cukup tenang, dia mulai melangkah. Tidak ada gunanya menghindar. Kalau memang harus terlibat dengan Keenan, dia akan menghadapinya. Dia selalu percaya pada kemampuannya. Kali ini juga begitu.
Sayangnya, saat lift terbuka, Achiera sudah gemetar terlebih dahulu. Dia mengintip suasana di sekitar kantor Keenan. Sepi. Dia memegang d**a sambil mengatur napas. Tidak cukup dengan itu, dia mulai mondar-mandir di dalam lift. Sadar tindakannya akan merugikan orang lain, dia segera keluar. Meski begitu, dia tetap diam di depan lift yang tertutup.
Kantor Keenan menjadi bayangan horor bagi Achiera. Setelah pembicaraan mereka kemarin, dia memikirkan banyak hal. Dia baru saja akan melangkah saat melihat Bayu muncul sambil tersenyum lebar. firasatnya tidak enak. Mungkinkah dia memang memasuki wilayah yang berbahaya? Apa yang akan Keenan lakukan padanya?
“Pak Keenan sudah menunggu. Silakan masuk.”
“Baik. Saya akan segera masuk.” Lebih cepat tahu lebih baik. Dia ingin tahu, apa yang sebenarnya ada di otak Keenan sampai memanggilnya seperti ini.