Sudah sepuluh menit berlalu, tetapi Keenan dan Achiera hanya saling pandang dalam diam. Tidak seorang pun dari keduanya yang berniat untuk memulai pembicaraan. Achiera tidak tahu keberaniannya datang dari mana. Begitu memasuki kantor Keenan dan melihat pria itu duduk di sofa, dia merasa jika hari ini akan ada hal besar yang terjadi.
Bukan tanpa alasan Achiera bersikap seberani ini. Jika memandang Keenan sebagai atasan, tentu dia tidak mampu menghadapi tatapan pria itu. Sayangnya, dia merasa kalau apa pun yang akan Keenan sampaikan tidak berhubungan dengan pekerjaan sama sekali. Jadi, dia tidak perlu bersikap formal seperti seorang karyawan, bukan?
Kenyataan jika sekarang Achiera sedang berada di dalam kantor Keenan tidak mengubah pandangan wanita berambut panjang. Dia tetap berusaha duduk dengan nyaman, meski dalam hatinya sudah muncul berbagai pertanyaan. Kalau dia boleh menebak, pertemuan mereka kali ini masih berhubungan dengan masalah lamaran Keenan kemarin.
“Apa kalian akan tetap diam begitu?” Bayu akhirnya bersuara.
Menjadi pajangan di antara dua orang yang saling menatap membuatnya tidak tahan lagi. Sejujurnya, dia ingin menggebrak meja atau melembar semua map yang ada di meja Keenan. Hanya saja, Keenan tidak akan memaafkannya jika itu sampai terjadi. Sebagai ganti, dia bertanya dengan suara yang cukup keras.
Cukup ampuh. Sekarang, baik Achiera maupun Keenan beralih menatap Bayu. Pastinya bukan pandangan yang menyenangkan. Keenan dengan tatapan tajam seolah berkata kamu cari masalah dan Achiera yang sudah siap protes karena merasa terganggu. Tidak mau terlibat lebih jauh, Bayu beranjak dari duduk sambil meringis.
“Sebaiknya aku pergi. Kak Keenan, bicarakan baik-baik dengan Achiera, ya,” ujar Bayu, lalu memutar tubuh dengan cepat.
“Untuk apa aku tadi duduk di sana? Seharusnya sejak awal aku tidak mengganggu,” gumam Bayu begitu sudah keluar ruangan. Dia berhenti sebentar di depan pintu yang tertutup, lalu menghela napas. “Apa kakakku yang kaku itu bisa menyelesaikan permasalahan mereka? Ah, terserah mereka saja. Mereka juga sudah sama-sama dewasa.”
Bayu mengusap wajahnya kasar, lalu kembali melanjutkan langkah. Niat untuk membantu Keenan menguap saat mengingat bagaimana sang kakak menatapnya dengan tajam. Dia ingin memberi pelajaran pada Keenan. Salah siapa malah menyia-nyiakan keberadaannya.
Di dalam ruangan, masih belum ada pembicaraan. Achiera dan Keenan memang tidak saling tatap lagi. Namun, mereka juga belum mulai mengobrol. Achiera melirik Keenan yang menikmati kopi sambil memejamkan mata. Dia tetap diam karena mengira Keenan akan berbicara. Bukankah pria itu memanggil untuk membicarakan sesuatu?
Kenapa sekarang Keenan bersikap seakan Achiera yang harus membuka perbincangan. Sesuatu yang sangat aneh mengingat ini merupakan ruangan Keenan. Achiera mengusap permukaan sofa untuk mengalihkan perhatian dari tangannya yang bergetar cukup hebat. Dia mencoba menutupi kedua kakinya yang bergerak gelisah.
Bukan hal mudah karena Achiera duduk di hadapan Keenan. Jika pria itu cukup jeli, dia pasti mengetahui apa yang dipikirkan olehnya. Dia menunggu inisiatif dari sang bos. Biar bagaimana pun, Keenan yang mengajak bertemu
“Kamu sudah memutuskan untuk menjawab lamaran saya?” Achiera menoleh sebentar sebelum kemudian berpaling lagi. Keenan berbicara seakan benar-benar ingin melamarnya.
“Bukankah ini baru satu hari? Apa harus secepat ini? Saya bahkan belum betul-betul memikirkannya. Tidak bisakah kita tidak membicarakan masalah lamaran dulu?”
“Bagaimana jika satu bulan?” Achiera menelengkan kepala.
“Maksud Bapak, Bapak memberi saya waktu satu bulan untuk memikirkan masalah ini?”
“Begitulah yang saya katakan. Bagaimana? Cukup untuk berpikir, bukan?” Keenan tersenyum puas saat melihat Achiera mengangguk setuju.
“Saya boleh bertanya?”
“Tentu saja. Tanyakan apa saja yang mengganggu pikiran kamu.”
“Kenapa Bapak memilih saya sebagai calon istri? Saya hanya pegawai biasa. Jika mau, Bapak bisa mendapatkan wanita yang lebih baik.”
Kata-kata yang diucapkan oleh Achiera membuat Keenan mangut-mangut. Dia mengubah posisi duduk dan menghadap Achiera dengan sempurna. Caranya memandangi wanita itu bisa membuat siapa pun salah sangka. Achiera bahkan harus menyembunyikan wajah dengan berpaling karena Keenan terus melihat ke arahnya.
“Bukankah saya sudah mengatakannya? Itu karena kita memiliki masalah yang sama.”
“Apa tidak ada alasan lain?” Keenan berpikir beberapa saat, lalu menatap Achiera.
“Karena kamu terlihat seperti wanita yang baik. Kamu juga cukup cerdas dan sangat bertanggung jawab pada pekerjaan.”
Apa yang sebenarnya Achiera harapkan? Untuk apa dia menanyakan hal semacam ini pada Keenan? Bukankah mereka hanya akan menjalani pernikahan palsu? Itu pun jika dia setuju. Dia masih belum bisa memutuskan harus memberikan jawaban apa. Atau dia harus berpegang pada pendapat awalnya? Bahwa Keenan adalah bosnya dan akan sulit jika melibatkan pria itu di dalam kehidupan pribadi?
Sedikit ragu, Achiera memperhatikan Keenan yang tengah melihat layar telepon genggamnya. Sesekali, pria itu menggerakan tangannya di atas layar. Dia menghela napas. Keenan memang selalu serius seperti ini. Bisakah dia menerima sikap Keenan yang terkesan dingin dan tidak suka memberikan perhatian?
Meski hanya pernikahan palsu, Achiera setidaknya juga ingin mendapatkan pria baik. Bukan berarti Keenan tidak baik. Hanya saja Keenan jauh dari karakter pria yang dia sukai. Dia lebih menyukai pria yang hangat dan humoris. Dengan begitu, dia tidak akan merasa bingung saat harus mengobrol.
“Bapak lebih mirip mencari pegawai dari pada calon istri.”
“Kenapa? Bukankah seorang istri harus memiliki kemampuan itu. Bagaimana dengan kamu? Apa menurut kamu, saya calon suami yang baik?” Achiera tertegun. Dia tidak menyangka jika Keenan akan melemparkan pertanyaan seperti itu padanya.
“Bagi saya, Bapak justru terlalu sempurna. Makanya saya tidak yakin dengan ucapan Bapak.” Achiera menggeser duduknya. “Bagi Bapak, apa arti pernikahan?”
“Itu ... saya juga tidak yakin. Tapi saya pasti akan bertanggung jawab pada istri saya kelak.”
“Bukankah jika ... saya katakan jika,” ujar Achiera menegaskan. “kita menikah. Itu berarti ini hanya pernikahan palsu? Bapak tidak keberatan dengan itu?”
“Tidak ada pernikahan palsu. Saya sungguh mengganggap serius pernikahan ini. Maksud saya, saya akan memenuhi tugas sebagai suami. Tentu saja saya tidak akan melakukan hal-hal di luar batas tanpa izin dari istri saya. Dalam hal ini kamu. Karena kita menikah demi permintaan orang lain, mungkin akan sedikit sulit saat bersama. Tapi saya tidak pernah berpikir jika hubungan ini palsu.”
“Maksud Bapak?”
“Kita akan menjalani pernikahan dengan baik. Melakukan pendekatan sewajarnya dan tetap memiliki batasan. Saya ingin menegaskan satu hal. Karena sama-sama menginginkan pernikahan, kita harus bekerja sama dengan baik.”
“Bapak ingin saya juga menjalani peran sebagai istri dengan baik?”
“Tentu saja. Bukankah banyak pasangan yang menikah tanpa cinta, tapi tetap bahagia karena saling menghormati? Saya rasa, kita juga bisa melakukan itu.”
Semua ucapan Keenan terdengar masuk akal. Achiera memang sangat terdesak oleh waktu. Jika dia tidak cepat-cepat memutuskan, entah apa yang akan dilakukan oleh Nila. Walaupun begitu, dia juga tidak bisa menerima Keenan dengan mudah. Dia menoleh pada Keenan yang ternyata tengah tersenyum. Sekejap, dia merasa bahwa bosnya itu sangat menawan.
Mendadak muncul bayangan Keenan mengulurkan tangan padanya di hari pernikahan. Pria itu juga tersenyum dengan cara yang sama seperti saat ini. Lalu, dia menyadari kesalahannya. Dia menggeleng keras dan berusaha membuang semua pikiran yang memenuhi kepala. Bagaimana bisa dia terpesona hanya dengan senyuman singkat Keenan?
Untuk mengalihkan perhatian, Achiera mulai memandangi kantor Keenan. Sebelumnya, dia tidak begitu memperhatikan karena sedang bekerja. Dia baru sadar kalau kantor ini sangat rapi. Ada beberapa penghargaan yang didapat perusahaan di sebuah lemari. Yang membuat dia penasaran, tidak ada foto keluarga di sana.
Mungkin memasang sebuah foto pribadi terdengar tidak sesuai. Achiera melirik meja kerja Keenan. Dia juga tidak menemukan figura di sana. Mungkinkah Keenan tidak menyukai hal-hal seperti itu? Achiera mengangguk-angguk. Dia juga berpendapat jika memamerkan foto bukan gaya seorang Keenan.
“Tapi, apa alasan Bapak menikah sebenarnya?” Keenan menatapnya dengan kening berkerut. “Ah, Bapak sudah tahu kalau saya ingin menikah karena didesak oleh Bibi. Tapi apa alasan Bapak melakukan ini?”
“Karena nenek saya menginginkan pernikahan saya.”
“Nenek?” ulang Achiera. “Tampaknya Bapak sangat menyayangi nenek Bapak.”
“Dia satu-satunya orang yang peduli dengan saya. Tentu saja saya sangat menyayanginya.”
“Bagaimana dengan orang tua ...”
“Kamu sekarang lebih berani? Apa karena sudah mempertimbangkan mengenai lamaran?”
“Itu ... aku ...”
Bukankah tadi keduanya sedang berdiskusi. Kenapa Keenan tiba-tiba mengubah arah pembicaraan. Melihat perubahan sikapnya, Achiera hanya diam. Wanita itu bertanya-tanya apa yang membuatnya berubah begitu membicarakan masalah orang tua. Mungkinkah hubungannya dengan mereka tidak begitu baik?
Kepala Achiera menggeleng keras. Kenapa dia harus memikirkan kehidupan pribadi Keenan saat ini? dia hanya penasaran karena Keenan sepertinya tidak menyukai topik pembicaraan ini. Karena Keenan masih belum mau berbagi, sebaiknya dia tidak mendesak. Lagi pula, mereka belum tentu menikah.
“Kenapa kamu mau bersedia menikah hanya karena bibi kamu?”
“Karena Bibi adalah segalanya. Sejak kecil saya sudah kehilangan orang tua. Bibi Nila yang menjaga saya sampai saat ini. Dia hanya ingin saya menikah secepatnya.”
“Kenapa? Dia tidak suka pada kamu?” Keenan berdeham saat melihat wajah Achiera yang tiba-tiba mendung. “Saya tidak bermaksud berkata seperti itu. Hanya saja, kamu sepertinya bukan tipe wanita yang suka diperintah. Ya, kecuali orang itu memang sangat memengaruhi hidup kamu. Misalnya saja bibi kamu.”
“Sebenarnya saya mengerti kenapa Bibi meminta saya menikah. Ini semua demi kakak sepupu saya. Jika saya tidak segera menikah, kakak akan menjadi perawan tua.”
“Apa? Kenapa kamu harus bertanggung jawab untuk itu?”
“Karena kakak saya sangat baik. Dia tidak akan mau menikah sebelum saya menikah. Jadi, Bibi khawatir dan meminta saya untuk menikah.”
“Bukankah itu sedikit tidak adil?” Achiera menggeleng.
“Tidak, Pak. Bibi dan Kakak sudah banyak melakukan hal untuk saya. Jika saya bisa mengabulkan keinginan mereka, bukankah itu sesuatu yang baik?”
“Jadi, kamu memutuskan untuk menikah meskipun belum memiliki calon suami?”
“Ya ... begitulah.”
“Sejujurnya, hubungan saya dan orang tua saya tidak begitu baik. Kami jarang sekali berbicara. Saya lebih sering bersama dengan Nenek. Nenek melakukan apa saja untuk membuat saya merasakan kehangatan keluarga. Jadi, saat Nenek meminta saya menikah, tanpa berpikir panjang saya setuju.”
Keenan mengatakan itu dengan pandangan menerawang. Dia menatap langit-langit kantor yang putih bersih dan tetap berada di posisi yang sama dalam beberapa waktu. Pria itu terlihat kesepian di mata Achiera. Tampaknya mereka memiliki dunia yang sama. Ya, walaupun Keenan sedikit beruntung karena sang nenek menyayanginya.
Berbeda dengan Nila yang tidak pernah menunjukkan kasih sayang meski Achiera sudah melakukan semua hal dengan baik. Betapa baiknya jika ada orang yang juga menyayanginya dengan tulus. Selain Falisha dan Melly. Terkadang dia membayangkan sebuah keluarga utuh yang bahagia. Dia sempat berharap bisa menikah dengan pria yang dicintainya. Namun, tampaknya itu juga tidak akan terjadi.
“Tampaknya Bapak memang sangat menyayangi nenek Bapak.” Keenan duduk dengan tegak, lalu tersenyum pada Achiera.
Senyum Keenan entah bagaimana bisa membuat hati Achiera berdesir. Dia berpaling untuk menyembunyikan rasa panas yang mulai menjalari wajahnya. Kedua mata wanita itu sempat terpejam sesaat. Bagaimana bisa dia berdebar begini? Akan tetapi, senyum langka Keenan sungguh mampu meluluhkan apa pun. Pria itu begitu berkharisma.
Di depan Achiera, Keenan memperhatikan. Keenan tidak pernah tahu kalau Achiera memiliki sisi yang manis seperti itu. Cara Achiera memegangi kedua pipi sambil menyembunyikan wajah membuatnya merasakan sensasi lain. Dia meraba dadanya yang mengirimkan sinyal aneh. Ada apa dengannya? Kenapa Achiera tiba-tiba begitu menarik perhatian?